logo text

Bab 18 Rasa Canggung

Bab. 18. Rasa canggung
Setelah kami pulang dari toko busana itu, kami langsung pulang ke rumah tuan muda Vano.
Sesampainya kami di rumah, dia menyuruhku untuk segera berbenah.
"Kamu langsung siap-siap aja ya."
"Kita langsung pergi tuan muda?"
"Iya, nanti sekalian saya minta izin ke mama nganterin kamu ke kosan kamu."
"Baik tuan muda. Tapi, saya tidak bawa handuk."
"Udah nanti saya kasih."
"Beneran tuan muda?"
"Iya nanti saya kasih handuk. Kan cuman handuk aja?"
"Iya tuan muda." Padahal segala perkakas dalam tidak ku bawa. Tapi tak apa lah, aku masih bisa memakai yang ini saja.
"Ya sudah sana. Biar sekalian nanti kamu sempat ke salon."
"Loh, kok ke salon lagi tuan muda."
"Emang kamu mau muka kamu pucat-pucat kencan sama laki-laki. Udah buruan deh."
"Iya tuan muda, handuknya."
"Oke, oke sebentar." Tuan muda segera mengambilkan handuk untukku. Aku menunggu dia beberapa menit saja. Akhirnya dia datang membawa sehelai handuk.
"Ini pakai saja." Tuan muda menyodorkan handuk itu pada ku.
"Terimakasih tuan muda."
"Cepat ya. Aku tunggu tiga puluh menit paling lama."
"Iya tuan muda."
Aku segera menuju kamar mandi. Aku tidak menghiraukan apa-apa lagi. Sukmi juga keheranan kenapa aku membawa handuk di tanganku. Dan juga beberapa paper bag belanjaan tadi.
Aku segera masuk, meletakkan paper bag itu di sebuah lemari stainless steel. Saat aku buka ternyata ada handuk juga di dalamnya.
Aku meletakkan paper bag itu ke dalamnya. Kemudian aku membuka pakaian ku. Dan menaruhnya juga di dalam lemari itu.
Aku sudah siap untuk mengguyur tubuhku dengan air segar. Karena mengingat tuan muda hanya memberikan aku waktu hanya tiga puluh menit saja. Aku dengan secepat-cepatnya mandi. Jangan sampai tuan muda menunggu terlalu lama. Tau lah perempuan kalau mandi. Apalagi kalau mau begini ceritanya. Pasti menggosok sana sini takut ada yang kurang bersih.
Aku menggunakan semua perlengkapan mandi yang ada di kamar mandi itu. Baik itu shampoo, sabun, entah apa lagi. Aku pakai saja seperti itu. Karena aku kurang familiar dengan benda-benda itu dan kulihat bagus ya ku pakai.
Tidak terasa akhirnya selesai sudah aku menunaikan mandi ku. Rasanya segar sekali. Aku mengeringkan rambut, dan sekujur tubuh ku dengan handuk yang diberikan oleh tuan muda untukku.
Sangat halus sekali, sehalus tangan tuan muda. Aku membayangkan belaian tangan tuan muda di sekujur tubuhku. Sampai badanku kering aku seperti merasakan belaian tuan muda di setiap sentuhan handuk yang mengenai badanku. Memang berhalusinasi itu enak sekali rasanya.
Aku segera memakai perkakas dalamku. Kemudian memakai baju yang tadi ku pilih untuk ku pakai. Waw.... Rasanya baju itu menyatu sekali dengan diriku. Tapi mungkin hanya perasaanku saja. Kita lihat saja bagaimana reaksi mereka.
Aku memberanikan diri keluar dari kamar mandi. Sebenarnya jantungku masih berdebar-debar, bagaimana jika tuan muda tidak suka. Tapi itu hanya urusan belakang bagiku.
Ketika aku ingin menemui tuan muda tidak sengaja aku ketemu dengan tuan muda sudah menunggu aku di ruang depan.
Dia sepertinya terpesona dengan kecantikan ku, padahal aku hanya gadis desa. Dan juga pembantu rumah tangga mereka.
Aku jadi malu sendiri. Tapi sayangnya, bisa-bisanya aku lupa kalau aku tidak punya sepatu untuk kupakai nanti.
"Hey, kamu cantik sekali. Tapi, sayang sepatumu dimana?" Dia memujiku begitu tulusnya terdengar di telinga ini.
"Eh maaf tuan muda. Aku lupa kalau aku tidak punya sepatu."
"Yah, kenapa kamu nggak bilang tadi."
"Maaf tuan muda."
"Ya sudah tunggu sebentar disini."
"Iya tuan muda." Tuan muda kemudian naik ke lantai atas, sepertinya dia ingin mengambil sesuatu. Aku menebak-nebak mungkin saja itu sepatu bekas milik pacar nya atau apapun itu. Tapi aku jadi merepotkan tuan muda.
Ku tunggu sampai akhirnya tuan muda datang.
"Ini coba kamu pake." Tuan muda menyodorkan sebuah kotak, pasti isinya sudah jelas sepatu.
"Baik tuan muda." Aku menerima kotak sepatu itu, kemudian membuka isinya. Ternyata sepatu dengan hak cukup tinggi. Dan aku hanya memandangi saja.
"Kenapa hanya kamu liat begitu aja?"
"Nggak apa-apa tuan muda."
"Nah terus? Pakek aja udah. Nggak usah dipikirin."
"Bukan itu masalahnya tuan muda."
"Terus?"
"Ini, sepatunya terlalu tinggi tuan muda."
"Udah pakek aja. Nanti kamu juga pasti terbiasa kok. Sekalian latihan."
"Tapi..."
"Udah sini, biar saya yang pakaikan untuk mu."
"Eh, tuan muda nggak usah."
"Sudah sini kaki kamu." Oh my God perasaan apa yang kurasakan ini. Kenapa tiba-tiba orang yang merupakan majikan ku dirumah ini berlutut memakaikan sepatu untukku.
Aku sungguh merasa bangga, dan bersalah juga. Disisi lain aku seorang gadis desa merasakan hal indah seperti ini dari seorang majikan ku sendiri. Disisi lain karena aku seorang bawahan di rumah ini, aku bersalah karena sudah membuat dia seperti itu kepada pembantunya.
"Nah, cocokkan?"
"Iya tuan muda. Terima kasih banyak."
"Eps, tunggu dulu. Ada yang ketinggalan."
Tuan muda melihat tali sepatu itu ada yang tidak terikat. Seketika kami berdua karena saling melihat sepatu itu. Berjongkok dan akhirnya kepala kami saling berpentokan.
"Aw, maaf tuan muda." Aku langsung memegang kepalanya dan mengusapnya.
"Heiss, sakit. Maaf ya. Gapapa, gapapa." Dia menolak tanganku mengusap kepalanya. Mungkin dia malu karena aku mengusap-usap kepala nya.
Aku juga langsung menarik tangan ku dari kepalanya. Sungguh jadi rasa canggung yang ada dalam diriku. Aku dengan segera memperbaiki tali sepatu ku.
Sungguh rasanya menegangkan bisa seperti itu dengan tuan muda. Baru kali ini aku mengusap kepala seorang lelaki dewasa. Apalagi seganteng dia.
Aku malah jadi menundukkan kepala ku saja, karena malu.
"Kam kenapa malah nunduk begitu? Nggak usah malu juga kali."
"Eh, nggak kok tuan muda. Saya cuman nggak enak aja sudah buat kepala tuan muda jadi sakit."
"Nggak kok, cuman kaget aja tadi. Nggak sakit sama sekali. Ya sudah ayo kita pergi."
"Baiklah tuan muda. Tapi, tuan muda sudah izin sama ibu kan?"
"Udah aman. Nanti saya saja yang bilang ke mamah. Udah ayok."
"Baik tuan muda."
Sesampainya di dalam mobil aku bertanya lagi pada tuan muda. "Tuan muda, Reno nggak jadi ikut?"
"Oh, ikut kok. Kayaknya dia udah nunggu didepan itu."
"OOO, oke tuan muda."
"Memangnya kenapa? Kamu ada rasa sama dia ya?"
Aku seketika malu ketika tuan muda mengatakan hal itu kepadaku.
"Nggak kok tuan muda. Tuan muda ada-ada saja deh."
"Cia, ile, santai aja kali. Suka ya suka dong. Nggak usah malu-malu kutu begitu."
"Malu-malu kucing tuan muda. Memangnya ada malu-malu kutu ya?"
"Iya, iya, malu-malu kucing."

Komentar Buku (60)

  • avatar
    TauGk

    bgus cerita ny

    03/02

      0
  • avatar
    RajehSosoh

    sangat seru

    21/12

      1
  • avatar
    RinoAlvine

    aku suka jalan ceritanya😙

    30/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru