logo text

Bab 65 Anak kandung Herman?

Efan langsung tersenyum dengan apa yang dikatakan oleh pacarannya itu, memang tidak salah dirinya mempunyai kekasih seperti Cintya yang selalu memberikannya apa saja. Efan berharap bisa bekerja di perusahaan ayah Cintya jika mereka menikah.
“Aku sayang sama kamu, Yang!” Teriak Efan. Yang membuat Sinta menjadi muak, apa-apa si Efan itu tidak malu sekali mengatakan hal tersebut padahal ada dirinya juga di tempat itu.
Efan memang sangatlah bucin pria itu tidak mempedulikan apa yang katakana orang lain dirinya, ia hanya menunjukkan pada orang lain bahwa dirinya sangat mencintai Cintya kekasihnya yang sangat kaya raya dan juga baik hati itu.
“Apa sih kamu itu, Yang. Malu tahu diliatin sama Sinta,” ucap Cintya yang merasa malu memiliki kekasih seperti Efan.
Sama seperti Efan, Egan pun sebucin kembarannya. Walaupun pria itu terlihat dingin dari luar nyatanya Egan sangat mencintai Airin walaupun ia jarang menunjukkan pada orang lain jika dirinya sangat mencintai Airin. Malam hari datang, Egan sengaja memberanikan diri untuk datang ke rumah kekasihnya bertemu dengan ayah dari Airin walaupun Wanita itu sudah melarang Egan untuk datang tapi pria tetap saja nekad. Ia ingin memberikan suatu kejutan pada kekasihnya, jika selama ini ia tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya di depan publik maka hari ini waktunya dunia akan tahu jika Airin adalah Wanita yang sangat ia cintai selama ini.
Sesampainya di depan pintu kekasihnya, Egan menyiapkan dirinya untuk bertemu dengan orang tua dari Airin. Ia menghela nafasnya perlahan lalu mengeluarkannya lagi, agar dirinya tidak gugup setelah itu baru lah Egan mengetuk pintu rumah tersebut.
Tok
Tok
Egan menunggu beberapa saat dan kemudian seorang Wanita membukakan pintu untuk Egan ternyata Wanita itu adalah ibu dari Airin. Ternyata kecantikan Airin keturunan dari ibunya, yang juga terlihat masih cantik walaupun usianya sudah menginjak kepala 4.
“Assalamualaikum, Tante. Airin ada?” tanya Egan dengan sopannya pria itu mencium punggung tangan ibu dari kekasihnya.
“Wa’alaikumsalam, Ada. Silahkan masuk,” ucap Rita mempersilahkan pria yang mencari anaknya itu untuk masuk mereka pun masuk dan Rita membawa Egan ke ruang tamu di mana ada ayah dari Airin yaitu Luis. Ayah Airin memang keturunan asal Belanda, dan pindah ke Indonesia saat menikah dengan ibu dari Airin.
“Assalamulaikum, Om.” Sapa Egan mengucapkan salam pada pria yang sedang duduk sofa ruang tamu tersebut.
“Egan, Tante permisi dulu ya, mau panggil Airin dulu,” pamit ibu dari Airin Wanita itu langsung menuju ke kamar anaknya memberitahukan jika kekasihnya datang.
Tok
Tok
“Ai … kamu lagi ngapain sayang, buruan keluar,” pinta Rita agar anaknya keluar dari kamarnya, Airin yang mendengar suara ibunya memanggil langsung membukakan pintu kamarnya ia bingung kenapa ibunya memanggil dirinya.
“Iya, Ma. Kenapa?” tanya Airin sambil menguap sebenarnya dirinya sudah mengantuk karena terlalu Lelah bekerja. Tetapi karena ibunya memanggil dirinya Wanita itu pun langsung keluar dari kamarnya.
“Itu ada pacar kamu datang,” ucap Rita memberitahukan anaknya jika kekasihnya datang, tentu saja. Airin kaget dengan apa yang diucapkan oleh Ibu, Egan memang mengatakan jika dirinya akan pergi ke rumahnya tetapi tidak mengatakan bahwa pria itu akan datang hari ini juga.
“Serius, Ma. Jangan bohong dong,” ia mengira jika ibunya membohongi dirinya, ia sama sekali belum mandi dan masih jelek tidak mungkin ia bertemu dengan Egan dengan kondisi seperti itu.
“Serius, Ai. Itu cowok kamu lagi ngobrol sama Papi kamu,” ucap Rita, Airin langsung melihat ke arah ruang tamu benar saja jika Egan sudah ada di ruang tamu Bersama dengan ayahnya.
“Ma, bentar lagi aku keluar, bilang sama dia tunggu sebentar.” Airin pun langsung menutup pintu kamarnya dan langsung menuju ke kamar mandi hanya untuk sekedar mencuci muka saja agar tak terlihat muka bantalnya.
Sementara Rita langsung menuju ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Egan dan suaminya. Setelah selesai membuatkan minuman ia pun membawa minuman tersebut ke ruang tamu.
“Silahkan diminum, Egan,” Rita mempersilahkan kekasih dari anaknya itu untuk meminum air yang sudah ia buatkan. Egan pun langsung meminum air teh itu. Tak lama kemudian Airin pun datang ke ruang tamu.
“Kak Egan kok nggak bilang-bilang kalo mau datang,” ucap Airin yang sedikit kesal, karena ulah dari pria itu ia tidak bisa bersiap-siap untuk berdandan dulu. Wanita itu pun duduk di sebelah ibunya.
“Om, tujuan saya datang ke sini, ingin mengatakan hal yang penting,” ucap Egan membuat jantung Airin berdegup kencang, entah apa yang ingin pria itu katakan, hingga seserius itu.
“Jadi saya berniat untuk melamar putri bapak,” ucap Egan membuat Airin kaget, ia sama sekali tak menyangka jika pria yang terkenal dingin dan juga jarang menunjukan kasih sayangnya. Tiba-tiba mengatakan jika dirinya ingin serius dengan Airin.
“Apakah kamu serius dengan keputusan kamu?” tanya Luis pada kekasih anaknya itu. Egan pun mengangguk mengiyakan apa yang ditanyakan oleh ayah dari Airin. Ia memang tidak pernah main-main dengan hubungan. Apalagi di usianya yang semakin bertambah itu.
“Baiklah, kita akan merencanakan kapan lamarannya akan berlangsung,” putus Luis menyetujui lamaran tersebut. Rita sangat senang dengan apa yang diucapkan oleh suami. Akhirnya anaknya dapat menemukan tambatan hatinya juga.
“Selamat ya, Airin.” Ucap Rita memberikan selamat pada anaknya karena sudah dipinang oleh kekasihnya. Sementara Wanita yang duduk di sebelah ibunya itu tidak percaya dengan apa yang terjadi. Menurutnya hal tersebut benar-benar diluar dugaannya.
Sementara di kediaman Herman pria itu sudah meminta anak buahnya untuk mencari tahu apakah Vivi itu anak dari dirinya dan juga Dayanti. Jika memang benar berarti anaknya yang selama ini menghilang itu adalah Vivi. Ia harap jika itu benar, dan Dayanti bertemu dengan Vivi itu akan menyembuhkan penyakit istrinya yang sudah diderita bertahun-tahun itu.
Seorang anak buah kepercayaan Herman datang ke ruangan kerja Herman, pria itu tak lain adalah Bram. Ia melangkah menuju ke arah atasannya sambil membawa sebuah surat hasil tes DNA antara Vivi dan juga Dirinya. Dan juga hasil tes DNA Vivi dan istrinya.
“Ini hasil tes DNA, yang bapak minta,” ucap Bram memberikan surat tersebut pada Herman, pria itu pun langsung menerimanya dan meminta Bram untuk keluar dari ruangan tersebut.
“Baiklah, kalau begitu silahkan kamu keluar dulu, nanti akan saya panggil lagi,” ucap Herman dan langsung diangguki oleh Bram pria itu langsung pergi dari ruangan tersebut.
Ia membuka surat hasil tes DNA itu dan hasilnya menyatakan bahwa memang benar Vivi adalah anak biologisnya. Seketika itu Herman menangis karena baru mengetahui kebenaran yang terjadi. Ia sama sekali tidak mengetahui jika anaknya masih hidup sampai sekarang.
"Dayanti, semoga kamu bisa sembuh," gumam Herman yang berharap istri bisa sembuh jika bertemu dengan Vivi anak kandungnya. Herman langsung pergi dari rumahnya menuju ke rumah kediaman Bara di mana anaknya berada sekarang.
Sesampai di rumah kediaman Bara. pria itu langsung meminta pada pelayan rumah tersebut agar bisa bertemu dengan Vivi. tapi pelayan itu malah memanggil Bara terlebih dahulu karena tidak boleh ada orang yang bertemu dengan tunangannya jika tidak izin pada dirinya.
"Ada yang bisa saya bantu, pak Herman?” tanya Bara datang menemui Herman terlebih dahulu tentu saja, ia bingung kenapa ayah dari Dirga itu ingin menemui tunangannya padahal mereka tidak ada hubungan apa-apa menurut Bara.
“Saya ingin bertemu dengan Vivi,” ucap Herman meminta Bara agar mengizinkan dirinya bertemu dengan Vivi tentu saja membuat Bara menjadi curiga dengan Herman.
“Memangnya ada kepentingan apa, Pak Herman ingin bertemu dengan tunangan saya?” tanya Bara yang benar-benar penasaran dengan tujuan Herman bertemu dengan Vivi jika pria itu ingin menyakiti Vivi hanya karena Wanita itu menikah dengan Dirga dulu, ia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi pada Vivi.
Herman pun memberikan surat yang ia terima dari rumah sakit, yaitu hasil tes DNA yang Herman tunjukan pada Bara. Pria itu langsung membuka surat itu dan ia sungguh tak percaya dengan apa yang terjadi. Bagaimana bisa Vivi mempunyai seorang ayah sedangkan Vivi pernah bercerita orang tuanya membuang Vivi di dalam hutan hingga nenek Marni menemukan Vivi dan mengurusnya.
“Tidak mungkin,” Gumam Bara yang tidak percaya dengan yang ia baru saja baca, ia pun harus mendengar penjelasan dari Herman dulu sebelum ia mengatakan semuanya pada Vivi, ia tidak ingin Vivi terluka hanya karena kenyataan yang baru saja ia ketahui.
“Tolong, Anda ceritakan dulu pada saya, jika Anda memang ingin bertemu dengan Vivi,” tegasnya pria itu memberikan Syarat agar Herman menceritakan kejadian sebenarnya yang terjadi pada Vivi. Herman pun akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga. Dan akhirnya Bara pun percaya dengan apa yang dikatakan oleh Herman tetapi Bara meminta agar tidak memberitahukan Vivi terlebih dahulu sebelum Vivi melahirkan bayinya, Ia takut terjadi apa-apa pada Vivi jika Herman mengatakannya Sekarang.
“Baiklah jika kamu meminta saya untuk tidak mengatakannya sekarang, lebih baik saya pamit terlebih dahulu,” ucap Herman berpamitan pada Bara, Bara pun langsung mengangguk dan langsung mengantarkan Herman keluar dari rumahnya.
Setelah kepulangan Herman, Bara langsung menemui Vivi yang sedang asyik menjalani hobi barunya yaitu menulis sebuah novel.
“Vi, kamu sudah makan?” tanya Bara sambil membelai kepala Vivi, Wanita itu langsung mengangguk mengatakan jika dirinya sudah makan. Bara pun tersenyum dan memeluk tubuh Vivi dari belakang.
“Mas Bara, lepasin, nanti kalo ada yang lihat gimana?” ucap Vivi mencoba melepaskan tangan Bara yang melingkar di pinggangnya. Pria itu langsung melepaskan tangannya dan mengubah posisi dengan menghadap Vivi.
“Vi, di rumah ini aku bosnya, jadi tidak akan ada yang mengatakan sesuatu tentang kita,” ucap Bara yang sama sekali tidak memperdulikan penilaian orang lain tentang mereka berdua, Vivi hanya tertawa dengan jawaban dari Bara.
“Udah, ah Mas. Aku mau mandi dulu,” ucap Vivi yang langsung pergi meninggalkan Bara sendiri di kamarnya, mereka memang sudah serumah tetapi kamar mereka berbeda. Bara tidak akan pernah melewati batasnya ia pun harus sadar jika Vivi sekarang sedang mengandung anaknya jadi dia harus menjaga kondisi dari Vivi juga.
Di kediaman rumah Dirga, Dirga sedang memuntahkan makan yang ia makan tadi, entah mengapa perutnya merasa mual, Intan yang mendengar suaminya sedang muntah langsung meminta pengasuh Vikram menggendong Vikram dulu, lalu Wanita itu mencoba membantu suaminya yang sedang muntah. Entah apa yang dimakan oleh Dirga hingga membuatnya seperti itu, padahal di rumah tidak ada yang seperti suaminya sampai muntah-muntah.
“Mas, kamu ini makan apa sih sampai kaya begitu?” tanya Intan sambil memijat tekuk leher suaminya dari belakang sementara Dirga tidak menjawab pertanyaan Intan, ia masih saja muntah-muntah, setelah di bantu Intan barulah Dirga bisa merasa lebih baik daripada tadi.
“Tan, perut aku mual banget entah kenapa tiba-tiba kaya gini,” keluh Dirga pada Intan Wanita itu juga merasa bingung, setelah mengingat hampir 2 bulan ia tidak haid wanita itu langsung mengambil tespek yang ia simpan dan langsung masuk ke kamar mandi.
“Kenapa Intan buru-buru masuk ke kamar mandi?” Dirga merasa bingung kala Intan langsung pergi Ketika dirinya mengeluh tentang sakitnya. Dan tak lama kemudian Wanita itu keluar dengan wajah yang tersenyum entah kenapa dengan Intan.
Suami sedang sakit, Wanita itu malah senyam senyum sendiri hingga membuat Dirga keheranan denga napa yang dilakukan oleh istrinya.
“Kamu kenapa sih, Yang. Kok senyum-senyum gitu?” tanya Dirga yang bingung dengan istrinya, tanpa mengatakan apapun Intan langsung memberikan sebuah benda pada Dirga tak lain adalah tespeck yang ia bawa tadi ke kamar mandi.
Dirga pun melihat dua garis merah yang ada di tespeck tersebut, membuat Dirga tak percaya apakah benar istrinya hamil?
“K-kamu hamil, Tan?” tanya Dirga yang kaget dengan kehamilan dari Intan, Wanita itu hanya mengangguk mengatakan jika dirinya memang hamil.
“Iya, Mas. Aku Hamil,” jelas Intan mengiyakan jika memang dirinya hamil. Seketika itu juga Dirga langsung memeluk tubuh istrinya karena senang dengan kabar yang ia terima.
“Terima kasih, Sayang. Kamu udah kasih hadiah yang tak ternilai harganya untukku,” ucap Dirga yang merasa senang dengan kehamilan dari istrinya Intan. Pria itu langsung bersiap-siap seolah-olah akan pergi, Intan yang melihat suaminya akan pergi menjadi bingung mau pergi kemana suaminya.
“Mas, mau pergi kemana?” tanya Intan yang merasa bingung.
“Ayo kamu juga siap-siap sayang, kita harus lihat kandung kamu,” Pinta Dirga agar istrinya bersiap-siap untuk pergi, Intan tak menyangka jika reaksi Dirga akan seheboh itu. Ia berharap anak yang ia kandung sekarang bisa membuat kebahagian baru untuk dirinya dan keluarganya.
Mereka pun pergi ke rumah sakit kandungan untuk memeriksakan janin Intan, saat mereka sampai ke rumah sakit tak menyangka jika akan bertemu dengan Vivi dan juga Bara di rumah sakit tersebut.
“Vivi ….” Sapa Intan saat melihat Vivi yang sedang ada di rumah sakit itu juga, sementara Dirga dan Bara saling bersalaman satu sama lain.
“Mbak Intan, lagi ngapain ke sini?” tanya Vivi yang bingung bertemu dengan Intan dan Dirga di rumah sakit, apakah mungkin Intan hamil?
“Ini Mbak mau ….” Ucap Intan ingin mengatakan jika dirinya ingin memeriksakan kandungan tetapi di tahan oleh Dirga. Ia tidak ingin Vivi mengetahui kehamilan Intan yang baru ini.
“Itu! Mbak Intan haidnya kurang teratur kata dokter langganan kita suruh periksa ke sini,” ucap Dirga berbohong. Dirga tahu sekarang Vivi sudah berubah tetapi ia tidak ingin mengatakannya terlebih dahulu kepada orang lain.
“Oh gitu,” jawab Vivi yang faham dengan apa yang dikatakan oleh Dirga. Lalu bara pun hanya mengangguk.
“Kalau begitu kita masuk dulu, ya,” Pamit Dirga yang langsung mengajak Intan masuk ke dalam rumah sakit tersebut, Intan bingung kenapa suaminya bersikap seperti itu pada Vivi padahal kan Wanita itu hanya bertanya saja tidak ada maksud yang lain. Setelah menjauh dari Vivi dan Bara baru Intan bertanya tentang sikap dari suaminya yang aneh tadi.
“Mas, Lepasin! Kamu kenapa sih gitu,” keluh Intan yang tidak menyukai sifat dari suaminya, ia takut jika Vivi akan berpikir jika Dirga masih menganggap Wanita itu jahat.
“Tan, Mas nggak mau ngasih tahu orang lain dulu, tentang kehamilan kamu,” jelas Dirga membuat Intan sama sekali tidak paham.
“Emang kenapa, Mas? Mas malu kalo aku hamil lagi gitu?” tanya Intan yang sedikit tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Baru kali ini Dirga bersikap seperti itu padanya. Ia sungguh kecewa dengan sikap Dirga.

Komentar Buku (662)

  • avatar
    08Irzan

    anjay enak

    18/06

      0
  • avatar
    KorompotArianto

    Bagus banget

    28/12

      0
  • avatar
    Aditya NUGRAHA

    belum habis baca

    26/12

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru