Efan hanya menggelengkan kepalanya ketika Sinta dan Kevin keluar dan ruangannya sementara Dirga masih saja bersembunyi di kursi belakang. “Keluar, Dir. Udah nggak ada Sinta lagi,” ucap Efan memberitahukan jika memang adik dari atasannya sudah pergi dari ruangannya. Dirga pun mengendap-endap seperti orang yang habis mencuri akhirnya Dirga bisa bernapas lega setelah adiknya pergi dari tempat itu. “Akhirnya pergi juga tuh anak,” ucap Dirga yang merasa lega Ketika tahu jika adiknya sudah pergi Dirga pun menjatuhkan diri di atas sofa dan setelah itu menutup matanya perlahan seolah ingin tidur. Efan yang melihat hal tersebut tidak tinggal diam. “Dir, bangun … jangan tidur di sini, tempat lo aja,” ucap Efan meminta agar atasannya itu tidak tidur di ruangannya, Dirga pun langsung membuka matanya dan menatap sinis ke arah Efan yang sudah menganggap dirinya itu. Baru saja ingin tidur tapi sudah diganggu dulu oleh Efan. “Iya, iya, gue bangun … mau tidur bentar doang pelit banget lo,” protes Dirga dan langsung pergi dari ruangan temannya itu, akhirnya setelah Dirga pergi Efan pun melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. Baru beberapa menit ia focus ponselnya sudah berdering menandakan ada panggilan masuk. “Cintya tumben banget nelpon jam segini,” gumam Efan yang heran saat melihat nomor kekasihnya menelpon dirinya. Pria itu langsung mengangkat panggilan tersebut. “Halo, Yang kenapa?” “Kamu ngasih nomor aku ke anak kecil, Hah!” Efan kaget Ketika mendengar kekasihnya marah-marah. Ia baru ingat tadi jika ia memberikan nomor Cintya pada Sinta. Agar gadis itu pergi dari tempatnya. Ia tak menyangka jia Cintya akan marah dengan apa yang ia lakukan. Padahal dirinya hanya ingin memberikan teman untuk menghabiskan harta ayahnya saja. “A-anu … Sayang jadi ….” “Makasih ya, Sayang. Dia orangnya asyik banget di ajak belanjanya, masa baru belanja aja langsung habis 2M sama aku tadi,” Efan kaget dengan apa yang baru saja ia dengar tadi, ternyata Sinta dan Cintya itu satu server, ia kira kekasihnya akan memarahi dirinya hanya karena ia memberikan nomor pada orang lain yang ia tidak kenal. “Iya, Sayang sama-sama. Ya udah kamu lanjutin aja belanjanya aku lagi kerja soalnya,” Tut tut tut Efan langsung memutuskan panggilan tersebut secara sepihak, ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya nanti jika harus menikah dengan Cintya. Mungkin gajinya tidak cukup untuk hanya untuk jajan Cintya saja. Lalu bagaimana cara ia memberi nafkah pada Cintya nantinya. “Bisa-bisa gue nanti bangkrut kalo punya istri modelan dia,” Efan sedang membayangkan jika dirinya sudah sah menjadi suami dan istri. Dirga yang sudah keluar dari ruangan Efan langsung Kembali ke ruangannya dan masuk ke kamar yang biasa ia pakai untuk istirahat. Ia tidur beberapa jam di ruangan tersebut. Baru merasakan tidur kira-kira setengah jam ada suara ketukan pintu yang mengganggu pendengarannya. Ia tahu siapa yang memanggil dirinya, siapa lagi yang tahu ruangan tersebut ada kamar rahasianya selain dirinya dan juga Intan. “Mas Dirga bangun! Kamu pasti tidur ya,” Intan mencoba memanggil suaminya dari luar, tak lama kemudian Dirga membuka pintu tersebut sambil menguap, Intan datang sendirian tanpa membawa Vikram membuat Dirga menjadi bingung. “Tumben banget kamu ke sini sendirian? Vikram mana, Sayang?” tanya Dirga lalu pria itu langsung keluar dari ruangan tersebut.Sementara Intan datang-datang wajahnya sudah di tekuk, mungkin ada yang membuat perasaannya menjadi buru. “Kamu kenapa,Sayang. Kok dateng-dateng cemberut gitu?” tanya Dirga sambil duduk di samping istrinya, pria itu mencoba menenangkan Intan agar tidur cemberut lagi. “Aku pengen banget mana di restoran jepang, Yang,” keluh Intan, awalnya ia ingin pergi sendirian tapi entah mengapa suasana hatinya menjadi berubah, ia malah ingin suaminya menjadi koki di rumah makan jepang tersebut. “Iya, kamu kan tinggal beli aja, Yang. Kan ada uang aku kan?” tanya Dirga merasa ada yang tidak beres dengan istrinya, kenapa tidak langsung beli saja, kenapa harus datang ke kantornya. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Intan? “Aku mau kamu jadi kokinya!” ucap Intan meminta agar Dirga menjadi koki makanan jepang membuat pria itu menjadi terheran-heran, karena ia sama sekali tidak ada bakat di bidang masakan. “Tapi, Sayang. Aku ….” Dirga merasa ragu yang apa yang diinginkan oleh istrinya kenapa harus mendadak seperti itu, ia benar-benar tidak tahu memasak makanan Jepang. “Ih … Tuh kan, kamu nolak ….” Intan menjadi sedih dengan penolakan dari Dirga, pria itu pun bingung sebenarnya apa yang harus ia lakukan. “I-ya deh, iya sayang. Ayo kita pergi ke restoran yang kamu mau itu,” ucap Dirga langsung mengiyakan apa yang diingikan oleh Intan, ia tidak mungkin membiarkan istrinya sedih lagi. Sudah cukup ia pergi dulu sekarang ia tidak ingin membuat Intan jadi sedih. Akhirnya Dirga dan Intan pun pergi kesalah satu restoran Jepang ternama yang tak jauh dari kantor Dirga. Demi menuruti semua kemauan dari Intan, Dirga pun meminta pada koki restoran tersebut untuk mengizinkannya memasak di tempat itu. Dengan alasan jika istrinya sedang mengidam karena hamil, sebenarnya itu hanya akal-akalan dirinya saja agar diizinkan menjadi koki sementara. Di ajari oleh ahlinya Dirga pun memasak makan Jepang kesukaan istrinya yaitu sushi. Saat Intan sedang menunggu Dirga, selesai memasak makanan yang ia minta, tak sengaja ia melihat Vivi dan juga Bara sedang di restoran yang sama dengan dirinya. Lalu Intan pun datang mendekati meja keduanya. Sekang Vivi sudah berstatus janda karena Dirga dan juga Vivi sudah resmi bercerai beberapa bulan yang lalu, jadi Intan sudah tidak takut lagi jika Vivi akan merebut suaminya toh sekarang Vivi sudah mendapatkan Bara yang lebih baik dari pada suaminya. “Eh ada Vivi dan Bara, Gimana kabar kalian?” sapa Intan ikut bergabung dengan keduanya, Vivi dan Bara menyambut kedatangan istri Dirga itu dengan senang. “Alhamdulillah, baik, Mbak Intan. Gimana kabar kamu?” tanya Vivi pada Intan, walaupun awal pertemuan keduanya saling membenci karena Vivi menikah dengan Dirga. Tetapi saat ia mengetahui jika bayi yang dikandung itu bukan anak dari suaminya membuat Intan tidak membenci Vivi lagi. “Baik juga kok, kebetulan banget ya, ketemu kalian di sini,” ucap Intan tak menyangka bertemu dengan kedua pasangan yang sedang dimabuk cinta itu. “Iya, Mbak Intan. Aku lagi pengen banget makan sushi mungkin bawaan bayi,” ucap Vivi membuat Intan terdiam ,ia baru menyadari jika dirinya belum datang bulan selama 2 bulan, seketika itu ia berfikir apakah dirinya sedang hamil, jika di fikir-fikir ia sama sekali tidak menyukai makanan Jepang. Dirga yang sudah selesai memasak lalu keluar dari tempat tersebut lalu mencari keberadaan istrinya yang tidak ada di tempat duduk mereka, Dirga panik mencari-cari keberadaan Intan. Lalu ia pun melihat istrinya sedang berbincang dengan dua orang yang ia tidak tahu siapa orang itu saat di dekati ternyata kedua orang itu adalah Bara dan Vivi. “Kalian di sini juga?” tanya Dirga saat mendekati keduanya, mereka pun menoleh dan melihat Dirga dengan pakaian ala chef. Mereka bingung apakah Dirga sudah berhenti dari pekerjaan dan sekarang sedang beralih profesi sebagai chef? “Kok Bang Dirga pake baju itu?” ucap Vivi yang heran bahkan Wanita itu ingin sekali tertawa kala melihat Dirga berpakaian seperti itu, Bara pun memberi kode agar tunangannya itu tidak tertawa. “Lucu kan, aku lho yang minta Mas Dirga buat pakai baju kaya gitu,” ucap Intan yang merasa senang dengan pakaian yang dipakai oleh Dirga. Bahkan Dirga merasa malu dengan pakaian sekarang. “Hmmm … Yang. Makanan udah jadi mending kamu balik lagi ke kursi kamu sekarang,” pinta Dirga agar istrinya tidak mengganggu dua orang yang dinner Bersama itu. Dirga pun membawa istrinya ke tempat duduknya Kembali. “Maaf ya, Sudah mengganggu,” Dirga pun pergi Kembali ke tempat duduknya karena tidak ingin istrinya mengacaukan Vivi dan Bara. Bara hanya tersenyum dengan tingkah lucu dua pasangan itu. Vivi yang melihat Bara jarang tersenyum pun memperhatikan Bara terus. “Kamu kenapa ngeliatin, Mas kaya gitu deh?” tanya Bara yang merasa heran pada tunangannya yang melihatnya seperti itu. “Nggak papa, Mas Bara itu ganteng banget kalo senyum, sayangnya Mas Bara kurang senyum,” jawab Vivi yang membuat pria itu merasa malu, baru kali ini Vivi mengatakan hal semanis itu. “Hmmm … Senyum Mas itu cukup buat kamu aja, Sayang. Kalo Mas. Murah senyum banyak yang naksir nanti kamu cemburu lagi,” ucap Bara menggoda Vivi membuat Wanita itu mencubit perut Bara sampai membuat pria itu kesakitan. “Aw … Sakit sayang.” Perih rasanya setelah Vivi mencubit perutnya begitu, Untung saja sayang jika tidak mungkin pria itu sudah marah dengan Vivi saat itu juga. “Mas Bara nggak boleh genit sama cewek lain,” pinta Vivi yang membuat pria itu menjadi gemas dengan apa yang dikatakan oleh Vivi. Ternyata lucu juga jika Vivi sedang ngambek seperti itu. “Kamu ini bikin gemes, Mas aja,” jawab Bara sambil mencubit hidung mancung Vivi dengan lembutnya. Tak lama kemudian makan yang mereka pesan pun datang. “Silahkan dimakan,” pelayan itu meletakan beberapa makanan meja Bara dan Vivi dan kemudian pelayan itu pun pergi dari tempat mereka. Sementara Dirga sedang sibuk menyuapi Intan, Wanita itu tidak mau makan jika tidak dari tangan Dirga, membuat pria itu menjadi kewalahan. “Mas buruan … A ….” Ucap Intan sambil menganga meminta di suapkan oleh suaminya Dirga pun menyuapi istrinya perlahan-lahan, Intan makan dengan lahapnya. Setelah selesai makan, Akhirnya keduanya pun pulang ke rumah, Dirga yang masih ada pekerjaan di kantornya hanya mengantarkan istrinya saja pulang lalu ia Kembali lagi ke kantornya. Baru ingin masuk ia tak sengaja melihat Efan hendak keluar dari kantor. “Hayo lo mau ke mana?” tanya Dirga mengagetkan Efan dan caranya pun berhasil pria kaget Ketika Dirga ada di belakangnya. Padahal ia sudah berusaha untuk tidak ketahuan oleh Egan. Tapi malah bertemu dengan Dirga. Memang hari ini adalah hari sialnya. “Dir, gue mau keluar aja bentar ya,” pinta Efan agar temannya itu mengizinkan dirinya untuk tidak memintanya Kembali ke kantor. Ia sangat ingin bertemu dengan Cintya kekasihnya. “Dengan satu syarat lo ngomong gue lo mau kemana?” tanya Dirga yang penasaran mau kemana temannya itu sampai seperti itu mau keluar dari kantor padahal ia tahu kerjaan Efan menumpuk di ruangannya. “Gue mau ketemu saya yayang gue, Dir.” Jawabnya dengan jujur, Dirga hanya menahan tawanya Ketika dengar apa yang dikatakan oleh kembaran Egan itu. Bisa-bisanya di usianya yang sudah mulai tua pria itu seperti orang yang baru saja berpacaran. “Lah. Kok lo malah ketawa sih, di izinin nggak nih gue?” tanya Efan yang tidak sabar mendapatkan izin dari temannya. Dirga hanya mengangguk mengizinkan Efan keluar sebentar. Efan langsung buru-buru pergi dari tempat itu sebelum temannya berubah pikiran. Sementara Dirga melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kantor. Sesampai di depan rumah Cintya, pria itu langsung dibukakan pintu oleh pelayan rumah besar tersebut, mereka sudah mengenal Efan karena pria itu adalah kekasih dari Cintya sementara Naka yang dulu disukai oleh Cintya entah kemana pria itu berada sekarang. Sejak kejadian pria itu mabuk dan tak sengaja mencium bibir Cintya, membuat Naka tidak bisa dihubungi dan hilang begitu saja, tapi Efan tak Cintya tak memperdulikan hal tersebut. “Bi, Non Cintya mana?” tanya Efan pada Wanita paruh baya itu. “Non Cintya sedang di kolam renang Bersama dengan teman barunya,” jawab pelayan Cintya, ia itu bingung teman baru? Siapa teman baru kekasihnya. Jangan bilang seorang pria, maka Efan tak segan-segan akan mengusir pria itu keluar dari rumah tersebut. Sesampai di lokasi yang di beritahukan pelayan Cintya. Efan terkejut melihat Sinta sedang bersantai berenang Bersama dengan kekasihnya, ia kira mereka hanya berbelanja saja ternyata mereka juga menghabiskan waktu Bersama di rumah besar tersebut. “Kak Efan! Halo ….” Sapa Sinta sambil melambaikan tangannya ke arah Efan, sementara Cintya yang melihat kekasihnya sudah datang wanita itu langsung mendekati Efan. “Kok kamu ke sini nggak bilang-bilang?” tanya Cintya yang tak mengira bahwa temannya akan datang ke rumahnya. “Aku mau ketemu sama kamu, udah lama kan kita nggak ketemu,” ucap Efan yang sangat merindukan kekasihnya padahal mereka hanya belum bertemu 2 hari saja. “Kamu ini bucin banget sih, Fan.” Jawab Cintya dengan malasnya, lalu Wanita itu mengajak kekasih ke tepi kolam renang, tanpa dugaan Efan, Wanita itu langsung mendorong tubuh Efan masuk ke dalam kolam berenang membuat pria itu menjadi kaget dengan apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu. “Kok kamu dorong aku , Yang. Aku kan nanti balik lagi ke kantor,” keluhnya bisa-bisanya Cintya mendorong dirinya ke dalam kolam sedangkan dirinya harus Kembali lagi ke kantor, ia tidak mungkin ke kantor dengan kondisi baju yang basah seperti itu. “Yaelah, Yang. Kamu tinggal beli baju baru aja nanti,” jawab Cintya menyepelekan hal tersebut, maklum ya, nama juga orang kaya jadi tidak khawatir jika harus menghabiskan uang hanya untuk membeli baju saja.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
anjay enak
18/06
0Bagus banget
28/12
0belum habis baca
26/12
0Lihat Semua