Tak lama dokter pun keluar, ia langsung mendekati Vivi selaku keluarga dari Algifari. Untuk memberitahukan kondisi dari Al. "Dok, bagaimana kondisi suami saya?" tanya Vivi yang khawatir dengan kondisi Al suaminya. Ia sangat ketakutan sekali. Karena kepala suaminya lagi terasa sakit lagi. "Apakah dia mengalami amnesia?" tanya dokter tersebut pada Vivi. wanita itu langsung menelan ludahnya karena apa yang ditanyakan oleh dokter tersebut, ia tidak tahu harus mengatakan apa apakah ia harus jujur atau harus berbohong. "I-iya, Dok" Jawab Vivi dengan terbata-bata. ia tahu harus bagaimana lagi. "Sepertinya suami Anda sebentar lagi akan mengingat semua ingatannya kembali," jawab Dokter itu membuat Vivi seketika menjadi lemas. padahal Wanita itu berharap jika Al tidak ingat lagi dengan masa lalu. "Dok, sebenarnya suami saya punya kenangan buruk di masa lalunya, apakah bisa membuatnya tidak mengingat kenang buruk itu?" tanya Vivi mencoba mencari alasan agar dokter memberitahukan cara agar dokter bisa membuat Al tidak mengingat hal tersebut. "Karena ini penyakit amnesia karena kecelakaan sepertinya tidak ada cara untuk menghilangkan ingatannya," jawab dokter itu, sebenarnya dokter merasa curiga kenapa istrinya ingin suaminya tidak mengingat kenangan di masa lalunya, bukankah akan membuat istrinya menjadi kesulitan. "Baiklah, Dok." jawab Vivi yang merasa pasrah dengan apa yang akan terjadi nantinya. Tetapi ia masih berharap Al tidak mengingat apapun. "Kalau begitu saya permisi dulu," dokter itu berpamitan pada Vivi. Setelah itu Vivi masuk ke dalam ruangan tersebut dimana suaminya sedang terbaring di ranjang pasien.Lalu Vivi duduk di tepi ranjang sambil memegangi tangan suaminya. "Bang, maafin aku, Tapi aku sangat mencintai kamu," gumam Vivi sambil mencium tangan suaminya. Vivi tidak ingin kehilangan suaminya. Walaupun ia tidak tahu siapa sebenarnya Al. ia hanya mencintai pria itu apa adanya tidak ada niatan jahat yang lain.Wanita itu tertidur menunggu suaminya terbangun.
Di kediaman Intan, wanita itu sedang sibuk memasak di dapur sesekali mengawasi anaknya yang sedang bermain. selesai memasak ia langsung mendekati anaknya. Ia membelai kepala anaknya dan langsung mencium kening anaknya sebagai tanya rasa sayang. saat itu ia merasakan ada yang aneh dengan suhu tubuh Vikram. "Ya Allah, kamu demam, Nak." ucap Intan yang cemas wanita itu langsung mengambil alat tes suhu badan dan langsung mengecek suhu Vikram benar aja anaknya suhu tubuhnya sedang naik. Intan buru-buru bersiap untuk pergi ke rumah sakit, setelah siap ia langsung keluar dari rumah. Ternyata Kevin baru saja datang sambil membawa beberapa mainan untuk Vikram tetapi saat melihat kakaknya panik Kevin langsung mendekati Intan.
"Kak ada apa?" tanya Kevin yang khawatir melihat kakaknya yang panik sama seperti kemarin. "Ini Vikram demam, Vin. tolong antar kakak ke rumah sakit yang dekat sini ya," Pinta Intan, Kevin pun langsung bergegas pergi bersama dengan Intan ke mobil. Mobil itu pun langsung melaju dengan kecepatan yang sedang. Sesampainya di rumah sakit, Intan langsung ke IGD agar anaknya bisa langsung ditangani. "Sus tolong anak saya demam," ucap Intan minta agar suster itu menangani anaknya, beberapa perawat langsung bertindak dan mengecek kondisi Vikram. Sementara Kevin menunggu di luar ruang tunggu. Menunggu dokter selesai memeriksakan Vikram. Tak lama kemudian Intan keluar dari ruangan tersebut bersama dengan dokter yang menangani Vikram. "Kak, gimana kondisi Vikram?" tanya Kevin dengan khawatirnya pada keponakannya itu. "Vikram dehidrasi, Vin," jawabnya dengan lemah, Intan tak menyangka jika dirinya kurang memperhatikan kondisi anaknya hingga membuat anaknya menjadi dehidrasi seperti itu. "Untung saja, anak ibu cepat di bawa ke rumah sakit," jawab Dokter tersebut. "Iya, Dok. terima kasih sudah menangani anak saya," Intan banyak berterima kasih pada dokter tersebut karena sudah mau menangani anaknya yang sakit. "Sama-sama, Bu. kalau begitu saya permisi dulu," pamit dokter tersebut, suster yang bertugas di kamar Vikram pun langsung keluar setelah memberikan obat dan infus pada anak laki-laki itu. Suster tersebut mendekati Intan dan Kevin yang sedang duduk. Suster itu sangat suka dengan anak yang Bernama Vikram itu karena anak itu terlihat tampan sekali. "Bu, anaknya ganteng banget mirip sama pasien di kamar melati no 5," ungkap suster tersebut memberitahukan jika ada seseorang yang mempunyai wajah yang mirip dengan Vikram. "A-apa? mirip dengan siapa, Sus?" Intan menjadi penasaran dengan apa yang dikatakan oleh suster tersebut. setahu Intan bahkan wajah Vikram sangat mirip dengan ayahnya. "Iya, Bu. mungkin orang-orang akan mengira kalau mereka ayah dan anak," jawabnya lagi. hal itu membuat jiwa penasaran Intan semakin kuat. "Bisa saya melihat pasien tersebut?" pinta Intan diantarkan ke kamar pasien yang disebut mirip dengan anaknya itu. "Ibu penasaran juga ya, yu saya antar," ajak suster tersebut. lalu Intan pun mengikuti suster tersebut sebelum Intan melangkah lebih jauh. Kevin mencoba menghalangi kakaknya agar tidak ikut dengan suster tersebut. "Kak, jangan!" Kevin mencoba menghalangi kakaknya, Tetapi Intan malah melepaskan tangan adiknya agar tidak menghalanginya. "Vin kakak cuma liat aja bentar," jawab Intan yang seolah memohon pada adiknya agar tidak menghalanginya kali ini. ia sangat ingin bertemu dengan Dirga. Jika memang itu suaminya maka ia akan memeluk tubuh Dirga yang ia rindukan selama ini.
"Tapi jangan lama-lama ya," pinta Kevin agar Intan tidak lama-lama pergi. Intan pun mengangguki apa yang di minta oleh adiknya. Lalu wanita itu melanjutkan langkahnya mengikuti suster ke kamar yang mereka tuju sekarang. Sesampai di depan kamar itu, Suster itu memberitahukan jika kamar itu adalah kamar seseorang yang mirip dengan Vikram. "Ini kamarnya, Bu. tolong tetap tenang ya bu soalnya pasien tersebut sedang dalam perawatan." ucap suster tersebut. "Memangnya pasien itu sakit apa?"tanya Intan penasaran ingin mengetahui apa yang diderita oleh pasien tersebut. "Dia mengalami amnesia, Bu." jawabnya memberitahukan penyakit yang diderita oleh pria itu.
Deg
Hal tersebut membuat Intan menjadi kaget, apakah mungkin Dirga hilang ingatan sampai tak ingat dengan dirinya dan juga tak ingat jika dirinya sedang mengandung anak mereka. Ternyata keputusannya kembali ke tanah air tidak salah, sedikit demi sedikit ia bisa mencari keberadaan suaminya. yang selama ini ayah mertuanya selalu menutup-nutupi keberadaan Dirga. Ceklek. Perlahan Intan membuka pintu tersebut untuk melihat pria yang ada di ruangan itu, tetapi yang ia lihat hanyalah seorang wanita yang sedang membereskan tempat tidur. "Maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya Vivi yang bingung saat melihat seorang wanita tiba-tiba masuk ke kamar pasien suaminya. "Sepertinya saya salah kamar, Mbak. maaf." Intan beralasan bahwa dirinya salah kamar tidak mungkin ia mengatakan hal yang sejujurnya pada wanita tersebut. "Kalau begitu saya permisi dulu," Intan pun berpamitan pergi dari tempat tersebut. saat ia ingin menutup pintu seseorang keluar dari dalam kamar mandi. "Mas Dirga?" gumam Intan saat melihat wajah suaminya. Intan menghentikan Langkah kaki, niatnya untuk menutup Kembali pintu tersebut menjadi urung kala melihat seorang pria yang mirip dengan Dirga. "Bang Al sudah selesai ke kamar mandi?" tanya wanita tersebut pada suaminya, Intan kira mereka adalah adik kakaknya. Saat Vivi dan Al melihat Intan berdiri di depan pintu Al pun heran dengan kedatangan wanita itu. "Dek, dia siapa?" tanya Al yang penasaran dengan wanita tersebut. Vivi langsung menoleh ke arah Intan. "Oh dia salah masuk kamar, Bang." jawab Vivi. yang membuat Intan bingung Dirga sama sekali tidak mengenalnya. apakah benar jika Dirga mengalami hilang ingatan.
"Maaf, Mbak. apa dia Kakak mbak?" tanya Intan dengan penasarannya menanyakan status antara Dirga dan wanita itu. Vivi langsung tersenyum karena banyak sekali orang yang mengira bahwa dirinya dan juga Al adalah adik kakak, padahal mereka adalah suami istri.
"Bukan, Mbak. dia suaminya saya, memang panggilan kita kaya adik kakak jadi orang-orang kita adik kakak," jawab Vivi. membuat Intan menjadi kaget. Kenapa Dirga menikah lagi dengan wanita lain. ia kira suaminya itu akan menyusulnya tapi kenapa ia bisa menikah dengan wanita lain. Intan langsung pergi dari tempat itu, tanpa berpamitan terlebih dahulu membuat Vivi dan Al menjadi bingung kenapa wanita itu tiba-tiba pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padanya. "Dia kenapa langsung pergi gitu, Dek?" tanya di Al yang heran dengan sikap wanita yang salah masuk kamar tadi. "Aku juga nggak tahu, Bang." jawab Vivi yang juga sama-sama heran, mereka pun tak memperdulikan hal tersebut. Intan kembali lagi ke tempat dimana Kevin sedang duduk, Intan menghapus air matanya karena tak ingin adiknya melihat dirinya menangis. "Gimana kak?" tanya Kevin saat melihat kakaknya datang. Intan hanya menggelengkan kepalanya mengatakan bahwa pria itu bukan Dirga. Ia tidak mungkin mengatakan hal tersebut pada Kevin, Ia harus mencari tahu sendiri apakah pria itu suaminya atau bukan. "Dia bukan kak Dirga, Vin." jawab Intan dengan memasang wajah kecewa. Kevin mencoba menenangkan kakaknya. lalu membawa kakaknya duduk. "Minum dulu,Kak." Kevin memberikan Intan sebotol air minum. wanita itu langsung meminumnya. "Vin. Vikram gimana?" Intan menanyakan kondisi anaknya pada Kevin. Gara-gara ia harus melihat seorang pria yang mirip dengan Dirga hingga ia melupakan anaknya yang sedang di rawat di rumah sakit. "Tadi aku liat dia masih tidur," jawab Kevin memberitahukan kondisi dari keponakannya. "Vin, kakak pulang dulu ya, ambil baju-baju untuk menginap kamu tolong jaga Vikram dulu ya," pinta Intan yang langsung di angguki oleh Kevin. Intan pun berjalan keluar untuk mengambil mobilnya dan langsung pergi dari rumah sakit tersebut. Wanita itu mengemudikan mobilnya perlahan sambil memikirkan kenapa Dirga bisa melupakan dirinya. Apakah benar pria itu Dirga, atau hanya mirip saja dengan suaminya. Intan harus memastikan hal tersebut jangan sampai, ia salah menyangka orang, hal tersebut akan melukai perasaan istrinya nanti.
Sementara anak buah Herman sedang ada di rumah sakit mengawasi Dirga yang sedang di rawat di rumah sakit, Bram meminta bantuan anak buah lainnya untuk menyamar sebagai perawat untuk mengambil beberapa sampel DNA dan juga darah apakah cocok dengan DNA atasannya. Dan juga ia sedang mencari informasi tentang pria yang sedang di rawat di rumah sakit, itu Riwayat penyakit yang dialami oleh pria yang Bernama Al. Seorang perawat Wanita mendatangi Bram, dan memberikan sebuah amplop coklat, yang isinya adalah hasil dari tes DNA yang diminta oleh Bram. Pria itu langsung membukanya setelah mengetahui siapa pria yang Bernama Al itu, Bram langsung menggambarkannya pada Herman atasannya. Akhirnya setelah pencarian selama 2 tahun ia pun berhasil menemukan Dirga, walaupun kondisi pria tersebut dalam keadaan hilang ingatan. Bram mengambil ponselnya dan menelpon Herman, ia menunggu beberapa detik dan tak lama kemudian Herman mengangkat panggilan tersebut. “Halo, Pak.” “….” “Hasilnya ternyata pria itu adalah Dirga, anak kandung bapak.” “….” “Baik,Pak. Akan saya laksanakan,” Setelah mendapatkan perintah dari Herman, Bram langsung menutup panggilan tersebut, ia pun harus mengawasi Dirga, selama di rumah sakit ini. Ia pun harus mencari cara agar bisa menyembuhkan Dirga dari hilang ingatannya itu, agar Dirga bisa berkumpul lagi dengan istri dan anaknya. Saat Bram akan pergi dari tempat tersebut, tiba-tiba ia tak sengaja bertabrakan dengan Vivi, dan membuat berkas yang di pegang oleh Bram menjadi berantakan, Vivi pun langsung memunguti berkas tersebut dan tak sengaja melihat isi dari berkas itu. “SINI!” ucap Bram dengan kasarnya merebut berkas yang berserakan tadi, ia tahu jika Wanita itu adalah istri dari Dirga, tetapi ia juga tahu Wanita itu tak sebaik yang ia kira, ia sengaja menyembunyikan Dirga, agar pria itu bis menjadi suaminya. “K-kamu siapa? Kenapa kamu bisa mengenal, suami saya?” Vivi bertanya langsung pada Bram, tetapi pria itu tak memperdulikan pertanyaan dari Vivi, ia langsung meninggalkan Vivi yang berada di tempat tersebut. “Dasar pria kasar dan tidak punya sopan santun,” oceh Vivi Ketika pertanyaanya diabaikan oleh pria tersebut, Vivi berpikir pasti pria itu ada hubungannya dengan masa lalu suaminya, dan pria itu sedang mengawasi Al, ia pun harus berhati-hati dengan pria tadi. Herman yang sudah mengetahui keberadaan anaknya dan kondisi anaknya sekarang ia merasa lega, walaupun sekarang Dirga tidak mengingat apa-apa, yang terpenting anaknya sekarang masih hidup. Yang pria itu khawatirkan tentang Intan, bagaimana cara agar Herman bisa menjelaskan bahwa Dirga sedang lupa ingatan, dan Wanita yang dinikahi Dirga sebenarnya Wanita yang Jahat . Ia harus memerintahkan anak buahnya untuk menculik Dirga bagaimana pun caranya agar Dirga bisa menjalani pengobatan, ia tidak peduli dengan Wanita yang sekarang menjadi istri Dirga. Bilang perlu ia harus menyingkirkan Wanita itu, karena Wanita itu adalah penghalang Dirga agar sembuh. Sambil memegang foto Vivi, Herman bertekad akan menghancurkan Wanita tersebut sama seperti Vivi manipulasi Dirga, agar tidak ingat dengan masa lalunya. “Akan saya hancurkan hidup kamu Wanita bodoh!” gumam Herman seraya menatap foto Vivi dengan rasa benci. Tok Tok “Masuk!” Herman memerintahkan pelayan rumah tersebut untuk masuk ke ruangan kerjanya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
anjay enak
18/06
0Bagus banget
28/12
0belum habis baca
26/12
0Lihat Semua