“Serius Ayah nggak usah bercanda, ya kali Bunda hamil lagi.” Protesnya yang mengira ayahnya bercanda. yang benar saja usianya sudah 22 tahun sedangkan Kevin sudah 17 tahun masih harus punya adik kecil lagi. Lucu sekali. “Ngapain juga ayah bercanda, Intan.” Ucapnya dengan serius, itu memang bukan candaan teteapi kenyataan walaupun usianya sudah bukan muda lagi tetapi ia masih sanggup membuat anak lagi bersama dengan istrinya. “Aku kira Kevin yang bakal jadi anak bungsu.” Balasnya seraya melirik Kevin adiknya yang sedang diam memandang bunda mereka. “Apaan sih kak, lo tuh ngomong mulu.” Ketus Kevin pada kakak perempuannya, memang Intan senang sekali menggoda adiknya laki-lakinya. “Makannya lo nggak usah sok manja lagi sama ayah bunda, lo bakal rasain kaya gue gimana jadi seorang kakak.” Jelasnya menakut-nakuti Kevin, tetapi namanya Kevin tidak ingin terlalu menanggapi apa yang dikatakan oleh kakaknya itu. “Sudah sudah jangan berisik, ini di rumah sakit bukan di rumah kita,” ucap Bambang memperingati kedua anaknya yang sudah mulai tak terkendalikan itu. “Siapa juga yang bilang kalo ini kuburan.” Gumam Intan dalam hatinya kesal karena dilerai oleh ayahnya. “Ya udah kalau begitu,Kevin balik lagi ke sekolah dan kamu Intan juga balik ke kampus.” Perintah bambang pada kedua anaknya. “T-tapi Ayah....” kompak Kenvin dan Intan mengatakan hal yang sama. Walaupun mereka sering bertengkar tetapi untuk masalah protes mereka akan kompak satu sama lain. “Tapi apa?” tanya Bambang kenapa dua anaknya yang protes dengan perintahnya. “Aku udah izin tadi sama wali kelas aku.” Jawab Kevin terlebih dahulu, ia tak ingin harus kembali lagi ke sekolahan. Sudah izin malah balik lagi. Kan malu jadinya, lebih baik sekalian tidak masukkan. “Iyah Ayah, aku juga tadi udah nitip absen sama Rebeca. Masa suruh balik lagi.” Sambung Intan setelah Kevin selesai berbicara. Sedangkan ayahnya hanya berpikir sambil menatap istrinya, seharusnya hari ini bambang pun kerja tetapi ia harus menemani istrinya di rumah sakit beberapa hari ini. Bambang pun menghela nafas panjang setelah mendengar perkataan dari kedua anaknya yang tidak ingin kembali lagi ke sekolah dan ke kampus. “Ya sudah kalau begitu kalian pulang saja dulu, dan ambilkan beberapa baju bunda dan ayah di lemari.” Perintah Bambang pada kedua anaknya untuk pulang terlebih dahulu ke rumah. “Terus nanti yang balik lagi ke sini siapa Ayah?” tanya Intan pada ayahnya. Tentu saja ia tidak mau harus capek bulak-balik ke rumah sakit dan rumah. “Kevin nanti yang ke sini.” Jawabnya. Menunjuk anak laki-lakinya, jika ia meminta Intan yang menunggu. Anaknya yang perempuan tidak bisa terlalu di andalkan. Ia khawatir jika harus minta Intan menjaga di rumah sakit takut terjadi apa-apa. “Yes!” gumam Intan yang merasa menang dari adiknya, ia tidak harus menginap di rumah sakit. Ia tahu sekali rasanya menginap di rumah sakit itu tidak enak. dan juga bagi dirinya rumah sakit itu tempat menyeramkan. “Lah, Kok aku sih, Yah?” protes Kevin pada ayahnya yang memintanya kembali lagi ke rumah sakit. Sebenarnya ia tidak mau karena sudah memiliki janji dengan seorang wanita. Tapi sepertinya ia harus membatalkan janji tersebut karena harus menunggu bundanya di rumah sakit. “Kamu kan tahu kakak kamu itu cewek, kalau suruh nginep atau beli apa-apa takutnya nanti ada yang gangguin kakak kamu Kevin.” Jelasnya pada anaknya itu. itu lah alasannya mengapa ia meminta Kevin yang kembali lagi. “Tuh dengarin kata Ayah, gue itu cewek nanti kalo gue keluar malem-malem buat beli sesuatu ada yang gangguin gue gimana dong?” ucap Intan merasa menang karena ayahnya lebih membela dirinya di bandingkan dengan Kevin. “Emang lo mau gue kenapa-kenapa?” sambungnya lagi bertanya pada adiknya. dengan terpaksa Kevin pun harus menuruti apa yang dikatakan oleh ayahnya. “Iyah iyah kak, gue yang ke sini lagi, lo nggak usah lebay gitu deh.” Jawabnya malas terhadap kakaknya. Kakaknya memang suka berlebihan jika sudah mendapatkan pembelaan dari orangtuanya. “Sudah sudah ... kalian sekarang pulang dulu, bunda biar Ayah yang jaga.” Ucap Bambang memerintahkan kedua anaknya pulang. “Yaudah Ayah aku pamit pulang dulu,” ucap Intan berpamitan dan keluar dari ruang inap bundanya, setelah wanita itu keluar Kevin pun langsung menyusulnya. Bambang hanya mengelengkan kepalanya melihat kelakukan kedua anaknya yang begitu membuat dirinya pusing. Padahal ia hanya memiliki dua anak saja, apalagi banyak bisa-bisa kurus kerempek kaya priplek gara-gara mikirin anak. “Tunggu Kak!” teriak Kevin dari kejauhan saat kakaknya Intan sudah berjalan cukup jauh darinya. “Apaan sih lo Kevin, teriak-teriak di rumah sakit. Malu tahu!” ketus Intan pada adiknya yang sudah menyusul dirinya. Orang-orang di sekeliling mereka memperhatikan mereka berdua karena suara teriakan Kevin tadi. “Lagian kakak main pergi gitu aja, nggak nungguin aku.” Rengek pria 17 tahun itu pada kakaknya. Sungguh tega sekali kakaknya terhadap dirinya. “Lebay banget lo.” Jawabnya dengan singkat. Ia pun melanjutkan langkahnya menuju ke parkiran dimana mobilnya terparkir. Sedangkan Kevin hanya mengekori kakaknya dari belakang. Mereka pun langsung masuk ke mobil milik Intan, namun setelah Kevin masuk wanita itu hanya terdiam sesaat. Kenapa Kevin ikut masuk bukannya dia bawa motor? Pikir Intan. “Lo ngapain masuk ke sini Kepin?” tanya Intan pada adiknya yang sudah duduk di sebelahnya. “Aku mau nebeng sama kakak.” Jawabnya santai sambil memainkan ponselnya. “Lah bukannya lo tadi bawa motor ke sekolah, terus sekarang motor lo dimana?” “Oh. Motor aku masih ada di sekolahan tadi aku tinggal.” Jawabnya dengan santai, padahal yang sebenarnya motornya dipinjam oleh temannya yang bolos dari sekolahan. “Kalau gitu kita ke sekolahan lo ambil motor.” Pinta Intan pada adiknya. “Nggak usah, Kak. aku udah minta sama temen aku, pulang sekolah suruh anterin motor ke rumah.” Tolak cowok berseragam putih abu-abu itu pada kakaknya. “Hmmm ribet banget sih lo ... yaudah deh.” ketusnya pada adiknya itu, ia sudah malas bertanya terlalu banyak pada Adiknya. ia tidak ingin terlalu kepo dengan apa yang dilakukan oleh Kevin. Mobil yang di tumpangi mereka berdua pun keluar dari halaman rumah sakit dan pergi menuju ke rumah mereka. Di dalam mobil mereka berdua hanya terdiam saja, tidak ada yang bertanya satu sama lain. Padahal dulu mereka itu sangat dekat, karena Kevin sudah mulai dewasa sedangkan Intan yang sering mengatur adiknya itu membuat mereka sering ribut dan saling menyalahkan itu yang membuat kedua kakak beradik itu tidak dekat seperti dulu lagi. Sesampai di rumah mereka pun turun dari mobil tersebut, Kevin langsung naik ke lantai dua untuk masuk ke kamarnya sedangkan Intan ke kamar orang tuanya untuk mengambil baju ganti untuk ayah dan bundanya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
anjay enak
18/06
0Bagus banget
28/12
0belum habis baca
26/12
0Lihat Semua