Intan tak ingin mengingat hal-hal yang kemarin yang membuat dirinya menjadi sedih, ia pun buru-buru memakan sarapannya dari setelah itu berniat untuk pergi dari rumah untuk menemui Dirga. "Ayah, Bunda. aku pergi dulu, ya," pamit Intan sebelum pergi keluar rumah. Bambang yang sedang makan langsung menghentikan aktivitasnya pria itu. "Tan, kamu mau kemana pagi-pagi gini, mau cari kerja?" sindir Bambang karena mengingat Intan dari lulus kuliah belum mendapatkan pekerjaan sama sekali. "Iya, Ayah kok tau sih," jawab Intan yang seolah membenarkan apa yang dikatakan oleh ayahnya. dari pada nanti makin ribet urusannya. ia pun harus mengiyakan apa yang dikatakan ayahnya. "Aku buru-buru, ayah. aku pamit dulu ya," pamit Intan langsung mencium punggung tangan ayah dan Bundanya. ia langsung bergegas pergi ke luar dari rumah itu. Sementara Kevin yang melihat kakaknya pergi ingin menyusulnya juga. Namun Bambang melemparkan tatapan tajam pada dirinya, seakan memberikan kode, Jika ia tidak boleh menyusul Intan. Kevin pun langsung Kembali lagi duduk di tempatnya Kembali. Intan memesan taxi online, menit berlalu taxi yang dipesan oleh Intan pun sampai, wanita itu langsung masuk ke dalam taxi tersebut. “Sesuai aplikasih ya, Mbak?” tanya supir taxi tersebut, Intan pun langsung mengiyakannya, taxi itu melaju menjauh dari tempat itu. Sesampai di depan kantor dimana Dirga bekerja di tempat itu, Intan pun turun dari dalam taxi dan memberikan ongkos pada supir. “Terima kasih, Pak,” ucap Intan setelah itu, gadis itu melangkah perlahan masuk ke dalam kantor, ia sangat kagum dengan perusahaan dimana kekasihnya bekerja, ia tak menyangka perusahaan itu akan sebenar itu. Saat ia sedang berjalan tak sengaja melihat Efan keluar dari lift, wanita itu berniat ingin memanggil Efan tetapi niatnya urung karena Efan terlihat sibuk dan terburu-buru. Pada akhirnya Intan memutuskan bertanya kebagian resepsionis menanyakan di mana ruangan Dirga berada, karena baru pertama kalinya ia datang ke perusahaan tersebut. “Permisi, Mbak. Saya mau bertanya?” “Iya, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya bagian resepsionis pada Intan dengan ramahnya. “Saya ingin bertemu dengan pak Dirga, apakah saya bisa bertemu dengan dia?” jawab Intan yang ingin bertemu dengan Dirga. “Apakah, Mbak. Sudah ada janji dengan pak Dirga, karena kebetulan beliau sedang ada rapat penting hari ini,” jawab Airin petugas resepsionis. Setelah mendengarkan penjelasan dari resepsionis itu, Intan pun mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Dirga, karena takut mengganggu kekasihnya itu. “Belum, Mbak. Yasudah lain kali saja, saya ke sini lagi,” jawab Intan ingin segera pergi dari tempat itu tetapi, Airin mencoba ingin membantu Intan agar bertemu dengan Dirga. “Tunggu, Mbak. Nama mbak siapa ya, biar saya informasikan pada sekretarisnya pak Dirga.” Ucap Airin. Intan pun menyebutkan namanya setelah itu, Airin menginformasikan pada Dila sekretaris dari Dirga. Tak lama kemudian Intan pun diminta untuk pergi ke ruangan Dirga. Di damping oleh Airin. Intan pun mengikuti Airin sampai di depan ruangan kekasihnya. “Silahkan, Mbak. Masuk pak Dirga sudah menunggu,” pinta Airin agar wanita itu masuk ke ruangan atasannya. Intan pun langsung masuk ke ruangan Dirga. Saat ia melangkahkan kakinya ke ruangan yang bernuansa putih hitam itu, terlihat seorang pria sedang berdiri menatap keluar jendela, Intan pun mendekati pria itu dengan perlahan tak ingin mengganggu Dirga. “Kamu tumben ke sini, Sayang?” sambut Dirga langsung menoleh ke arah Intan yang sedang mendekat ke arahnya. Pria itu mengembangkan senyumnya karena senang bisa bertemu dengan Intan di kantornya. “Aku mau bicara hal penting sama kamu,” jawab Intan dengan raut wajah yang serius, Dirga pun langsung merangkul Pundak Intan meminta wanita itu untuk duduk tetapi Intan memberontak. Mencoba melepaskan rangkulan tersebut. “Ihhh … apa sih, Dir. Jangan macem-macem, ini di kantor.” Intan memperingati Dirga untuk tidak berlebihan saat ada di kantor, ia tidak ingin dikira wanita simpanan bos. Terlebih tidak ada yang mengenal dirinya sebagai kekasih Dirga di tempat itu. “Santai, Sayang. Bentar lagi kan, aku bakal jadi suami kamu,” jawab Dirga dengan percaya dirinya. Sementara Intan langsung memutar bola matanya dengan jengah mendengar perkataan dari Dirga. “Apa sih kamu ini, Kepedean banget jadi orang,” ketus Intan, wanita itu pun langsung duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Sementara Dirga duduk terpisah di sofa lainnya. Ia tidak ingin kena marah lagi karena terlalu genit pada kekasihnya sendiri. “Terus kamu mau ngomong hal seserius apa, Sayang?” goda Dirga, tetapi Intan malah menatap dirinya tatapan tajam. Dirga langsung tersebut karena takut pada Intan. “Ini masalah aku, Dir,” wanita itu mulai mencerita apa yang sedang menjadi permasalahan di antara keluarganya sekarang. Dirga pun mulai mendengarkan cerita Intan dengan serius. Tetapi, bukan terlihat serius malah Dirga seperti orang yang sedang melamun, hal itu justru membuat Intan langsung membuat Intan emosi dan melempar Dirga dengan bantal sofa. Bugh. Bantal itu tepat mengenai wajah Dirga, pria itu langsung kaget dengan hal itu, salah apa dirinya sampai membuat Intan menjadi mengamuk seperti itu. Apakah Intan sedang datang bulan hingga membuatnya selalu saja emosi jika melihat dirinya? “Intan? Kok kamu lempar aku pakai bantal sih?” protes Dirga yang mulai terpancing emosi dengan tingkah pacarnya yang tidak jelas itu. Dirga sangat bingung dengan posisinya sekarang terkadang ia sangat bersyukur mendapatkan Intan sebagai kekasihnya. Namun, terkadang ia merasa sangat sial karena Intan sering menunjukkan sikapnya yang sedikit bar-bar itu membuat Dirga menjadi lelah menghadapi Intan. “Kamu dengerin aku nggak sih, Dir? Kenapa kamu malah bengong pas aku lagi mau cerita!” jawab Intan dengan nada marah pada pacarnya. Mendengar penjelasan dari Intan, pria itu langsung merogoh sakunya mengambil ponsel dan menyalakan kamera depan untuk berkaca. “Perasaan nggak ada yang aneh deh sama muka gue,” gumam Dirga sambil berkaca di ponselnya, Intan yang melihat hal tersebut pun bingung. “Kamu lagi ngapain, Hah?” tanya Intan yang tidak mengerti dengan tingkah dari kekasihnya itu, Benar-benar Dirga ini tidak cocok jadi atasannya. Pria itu lebih cocok jadi tukang ojek online saja. Pikir Intan. “Lagi liat monyet ngaca,” jawabnya dengan asal agar tidak membuat Intan menjadi kesal lagi pada dirinya. “Yaudah, Intan. Hayo cerita katanya serius?” tegas Dirga agar Intan langsung to the point tidak banyak bertele-tele. Dua orang itu pun langsung serius, Intan langsung menceritakan permasalahannya. Dirga sungguh tak percaya jika Intan bukan anak kandung dari keluarga Bambang. Pria itu pun bertanya-tanya siapa orang tua dari Intan yang sebenarnya. Kenapa Bambang dan Amira bisa mengadopsi Intan, Dirga pun bertekad untuk mencari keberadaan orangtua kandung Intan agar calon istrinya itu bisa bertemu dengan orang tua kandung. Sambil bercerita Intan meneteskan air mata, Dirga yang tak tahan dengan air mata Intan yang mengalir langsung mengambil tisu mencoba untuk menenangkan Intan. “Sudah, Sayang. Aku janji. Aku bakal cari orangtua kandung kamu sampai dapat,” ucap Dirga sambil mengusap punggung Intan. Intan pun menyandarkan kepalanya ke dada Dirga. Pria itu mengelus-elus kepala Intan agar Intan kuat menerima kenyataan yang ada. “Sabar ya, Sayang. Aku ada di sini buat kamu.” “Dir, aku nggak tahu harus percaya sama siapa lagi, keluarga yang selama ini aku kira keluarga aku, ternyata mereka bukan keluarga aku, aku bener-bener nggak tahu harus percaya sama siapa lagi?” Intan menangis terisak di pelukan Dirga. Pria itu mengeratkan pelukannya mencoba menenangkan Intan yang sedang menangis. Saat mereka berdua sedang berpelukan tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan Dirga tanpa mengetuk pintu ruangan tersebut. Membuat keduanya menjadi kaget. Siapa lagi kalau bukan Efan si pengacau suasana. “HALO EVERYBODY!” teriak Efan sambil memasuki ruangan Dirga, ia kaget saat melihat ada Intan dan Dirga sedang berpelukan di ruangan tersebut. “Eh buset serepet pet pet …. “ Efan kaget sampai membuat pria jangkung itu menjadi latah. Sedangkan Dirga dan juga Intan langsung melepaskan pelukannya dan langsung berjauhan. “Ganggu ae lo, Fan,” Ketus Dirga yang merasa terganggu dengan kehadiran temannya itu, Kenapa Efan selalu datang di waktu yang tidak tepat, kenapa saat dirinya dan Intan sedang menyaman berpelukan. “Aduh maaf yak, apa perlu gue keluar lagi nih?” tawar Efan untuk keluar dari ruangan tersebut. “Nggak usah!” Kompak kedua pasangan itu mengatakan hal bersamaan kepada Efan yang sudah mengganggu momen sedih mereka berdua. “Lagian lo berdua pelukan di kantor, pelukan mah sono di semak-semak,” saran Efan yang sangat menyesatkan itu. Intan hanya mengelengkan kepalanya kerena ucapan dari Efan. “Emang Dirga, Lo apa. Mana mau dia di semak-semak.” Jawab Intan seoleh membela kekasihnya sementara Dirga memaksakan senyumnya. Jika Intan dan Efan bertemu mereka tidak ada beresnya pasti perkataannya aneh-aneh. “Pan, emang lo nggak ada kerjaan apa? Jam segini udah ke ruangan gue aja lo!” “Gue ke sini mau bilang itu kembaran gue udah datang mau di interview sama lo, Dir.” Efan memberitahukan Dirga agar menginterview kembarannya. “Tunggu bentar, suruh ke ruangan interview dulu, ntar gue nyusul,” pintanya. Pria itu langsung merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. “Yang, kamu mau pergi sekarang?” tanya Intan yang sedih Ketika Dirga akan pergi walaupun sebentar. Efan yang masih ada di tempat itu sangat muak dengan sikap manja dari pacar atasaanya itu. “Tan, dia cuma pergi sebentar doang, nggak usah lebay ngapa, Tan.” Ledek Efan yang tidak senang dengan tingkah laku Intan, baru menjadi pacar sudah posesif seperti itu. Apalagi nanti jika sudah menjadi istri dari Dirga, bisa-bisa wanita itu selalu ikut dengan atasannya. “Apaan sih lo, ngoceh aja, Fan. Berisik,” jawab Intan dengan sinis pada Efan, Dirga pun memberi kode pada temannya agar segera pergi dari sana. Ia tidak ingin Intan dan Efan terus-terusan bertengkar tak ada ujungnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
anjay enak
18/06
0Bagus banget
28/12
0belum habis baca
26/12
0Lihat Semua