“Iya, Dirga. Aku mau nikah sama kamu!” Teriak Intan yang membuat Dirga menutup telinganya karena teriakan wanita tersebut. Untung saja, tidak ada orang yang ada di tempat itu, tidak membuat dirinya malu dengan kelakuan dari Intan yang memang tidak mengenal tempat ramai atau sepi. “Jelas nggak, Dir?” tanya Intan memastikan bahwa Dirga mendengar jawaban dari dirinya. Memang Dirga ini sangat tidak mengerti dirinya. Hari ini Intan sedang halangan, membuat dirinya seakan ini marah terus pada orang lain. Dirga pun melepaskan tangannya yang menutupi telingannya, pria itu langsung tersenyum dengan dengan apa yang dikatakan oleh Intan. “Benaran, Tan?” tanya Dirga untuk memastikan sekali lagi bahwa yang ia dengar itu benar, ia takut jika telinganya salah mendengar. “Iya, Dir. Beneran mau gue ulangin lagi?” tawar Intan. Tetapi, Dirga menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin Intan berteriak lagi seperti tadi. Setelah rasanya selesai urusan diantara mereka berdua. Intan langsung bangun duduknya. “Anterin aku pulang, Dir,” Pinta Intan, Dirga pun mengiyakan permintaan dari pacarnya. Ia pun berdiri dan langsung melangkahkan kakinya ke arah mobilnya, Intan pun menyerahkan kunci mobil itu kepada Dirga. Dirga pun langsung masuk dan juga disusul Intan, mereka sudah ada di dalam mobil, Dirga melajukan mobilnya menuju ke rumah Intan. Dengan perlahan, tak lama kemudian mobil itu sampai di depan rumah Intan. Dirga menoleh ke arah Intan, ternyata wanita itu tertidur, pria itu langsung berusaha untuk membangunkan kekasih, tak lama kemudian Intan pun terbangun dari tidurnya. “Udah nyampe ya, Dir.” Ucap Intan menyadari bahwa mereka sudah sampai di rumahnya. Ia pun langsung turun dari mobil, Dirga pun juga turun dari mobil tersebut. “Dir, ngapain kamu turun, Hah?” tanya Intan yang heran saat Dirga turun juga bersama dengan dirinya. “Aku mau pamit sama ayah kamu,” jawab Dirga. “Nggak usah, ihhh … udah kamu langsung pulang aja,” pinta Intan langsung mendorong tubuh Dirga agar masuk Kembali ke dalam mobilnya. Ia tidak ingin Dirga Kembali dihina oleh ayahnya. Dirga memang sangat tidak puas-puasnya dihina oleh Bambang, ia malah ingin bertemu dengan ayah Intan lagi, dasar memang Dirga ini. Sangat menyebalkan sekali. “Iya, aku pulang, Tan.” Ucap Dirga sebelum ia menutup pintu mobilnya, ia pun langsung menutup pintu mobil itu agar Dirga langsung pergi dari depan rumah. “Aku pulang dulu ya, Yang.” Pamit Dirga. “Yaudah sono pulang,” jawab Intan dengan ketusnya, memang Dirga ini susah sekali diminta untuk buru-buru pulang, sampai membuat Intan kewalahan mengusir Dirga dari tempat itu. Sesampai di depan pintu Intan langsung masuk perlahan agar tidak ketahuan oleh ayah dan bunda, saat ia sedang melangkah masuk terdengar suara ayah dan bundanya sedang berdebat. “Ayah seharusnya, tidak boleh begitu?” Amira marah pada Bambang, karena sudah membuat Dirga malu di hadapan keluarga, Amira justru lebih malu karena suaminya mengatakan hal yang buruk pada orang lain. “Lalu ayah harus bagaimana? Walaupun Intan bukan anak kandung kita, setidaknya saat ia keluar dari rumah ini dia harus senang, Bun,” kata Bambang membuat Intan yang mendengar hal tersebut sangat kaget. Bukan anak kandung, jadi selama ini, dirinya bukan anak kandung keluarga Bambang. Intan meneteskan air matanya karena mendengar kebenaran yang ada. Ia sungguh tak menyangka jika ia bukan anak kandung. Pantas saja perlakuan ayahnya berbeda dengan perlakukan terhadap adik-adiknya. “Ayah, jangan bilang seperti itu, Intan itu tetap anak kita, walaupun dia bukan anak yang dilahirkan dari rahim, Bunda.” ungkap Amira yang masih tidak terima menyebut Intan bukan anak kandung mereka. “Sudahlah, Bun. Ayah sedang tidak mau berdebat dengan bunda,” ucap Bambang sambil pergi meninggalkan istrinya sendirian. Sementara Intan masih terdiam di tempat persembunyiannya menunggu bundanya ke kamar. Agar dirinya bisa langsung ke kamar tanpa ketahuan oleh orang rumah. “Jadi aku ini bukan anak kandung mereka,” gumam Intan sangat sedih mendengar kebenaran yang ada tentang dirinya bukan anak kandung keluarganya, lalu Intan anak siapa? Dan siapa orangtuanya? Berbagai pertanyaan yang ada di otak Intan, tentang siapa sebenarnya dirinya dari keluarga mana dirinya, dan kenapa ia bisa diadopsi oleh keluarga Amira. Intan harus mencari tahu semuanya. Setelah Amira masuk ke kamarnya Intan pun langsung buru-buru bergegas ke kamarnya sambil mengusap air matanya yang mengalir di pipinya. Intan menutup rapat-rapat pintu kamarnya, ternyata saat ia memasuki kamar sambil menghapus air mata terlihat oleh Kevin dari kejauhan. Kevin tidak tahu apa yang terjadi di rumah tadi karena ia baru saja datang. “Kak Intan Kenapa lagi?” gumamnya yang bingung melihat kakaknya sedih lagi, ia harap kakaknya belum mengetahui jika Intan bukan anak kandung ayah dan bundanya. Ia ingin sekali merahasiakan hal ini dari kakaknya karena ia tak ingin kehilangan Intan sebagai kakaknya. “Maafin aku, Kak.” ucap Kevin yang merasa menyesal belum bisa mengatakan kebenaran pada kakaknya. Ia sangat sedih jika harus melihat kakaknya kecewa karena keluarganya. Kevin pun masuk ke kamarnya. Tak ingin mengganggu kakaknya yang sedang sedih. Sementara Intan menangis sejadi-jadinya di kamar sampai berteriak tetapi dengan posisi mulut ditutupi dengan bantal agar teriakan tersebut tidak terdengar oleh siapapun. Ia sangat bingung harus memberitahukan hal tersebut kepada siapa, ia tidak tahu lagi harus percaya dengan siapa. Karena ayah dan bundanya sudah membohongi dirinya bertahun-tahun lamanya. Orang yang ia percaya hanyalah Dirga saja. Pria yang sudah dihina oleh ayahnya dan juga pria yang ingin menjadikan sebagai istrinya, ia berniat untuk memberitahukan Dirga. Tetapi tidak sekarang mungkin besok, ia akan memberitahukan semuanya. Tok Tok Suara ketukan pintu membuatnya menghentikan tangisannya, ternyata yang mengetuk pintu itu adalah adiknya Kevin. Wanita itu langsung bergegas untuk membukakan pintu kamarnya. Kevin yang awalnya tak ingin mengganggu kamarnya, tetapi. Ia sangat ingin menenangkan kakaknya agar tak sedih lagi. “Kak, lo kenapa tadi kok gue liat lo nangis?” tanya Kevin dengan penasarannya. Kevin melihat mata kakaknya terlihat sembab seperti habis menangis. “Hmmmm … gue nggak papa kok,” jawab Intan tak ingin memberitahukan apa yang sudah ia ketahui pada adiknya. Padahal Kevin sudah mengetahui hal tersebut, jika saja ia tahu mungkin ia akan marah terhadapan Kevin. “Terus lo kenapa nangis, Kak?” sekali lagi Kevin bertanya, Intan pun langsung mencari alasan agar adiknya tidak mengetahui apa yang baru saja ia ketahui. “Lo ini kepo banget, Vin. Bisa aja gue nangis karena cowok gue atau karena hal yang lain …. “ jawabnya dengan nada marah terhadap adiknya. “Eh buset dah, gue nanya doang Kak. Lo sewot banget jawabnya,” ketus Kevin langsung pergi dari kamar kakaknya dan langsung ke kamarnya. Kevin hanya menggerutui kebodohannya karena sudah kasihan dengan kakaknya yang tidak tahu dikasihani itu. “Dasar nenek lampir, udah dikasihani tapi malah marah-marah nggak jelas gitu,” gerutu Kevin yang merasa Kesal pada kakaknya. Intan langsung menutup pintu kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia mengambil earphone milikinya dan menyambungkannya ke ponsel dan memutar lagu kesayangannya yang sedang viral di tik-tik yang berjudul Angel baby.
I fall in love with the little things Counting the tattoos on your skin Tell me a secret, and baby, I'll keep it And maybe we could play house for the weekend You came out the blue on a rainy night, no lie I'll tell you how I almost died While you're bringing me back to life I just wanna live in this moment forever 'Cause I'm afraid that living couldn't get any better Started giving up on the word "forever" Until you gave up heaven so we could be together You're my angel Angel baby, angel You're my angel, baby Baby, you're my angel Angel baby Setelah selesai mendengarkan lagu tersebut, ia pun langsung mematikan ponselnya dan langsung tidur menunggu besok hari berharap semua itu adalah mimpi. Keesokan harinya, Intan terbangun dari tidurnya, ia bangun dari tempat tidur menatap dirinya yang ada di cermin ternyata matanya sembab karena menangis kemarin. Ternyata semua itu bukan mimpi tapi kenyataan yang harus ia terima. “KAK, BANGUN BURUAN … JANGAN KAYA KEBO LO!” teriak Kevin yang membuat Intan kaget. Wanita itu langsung melangkah ke pintu agar adiknya itu diam. Bugh Intan melemparkan boneka besar ke arah adiknya agar diam ,tetapi yang ia lempar itu ternyata bukan Kevin melainkan Bambang ayahnya sendiri. Setelah mendapatkan lemparan boneka dari Intan Bambang hanya menatap sinis anak wanitanya. “Intan kamu mau sampai kapan tidur, ini sudah jam berapa?” ucap Bambang memberitahukan Intan. Sementara Kevin yang ada di belakang ayahnya hanya menahan tawa, karena kakaknya sudah salah melempar boneka. “Iya, Ayah maafin Intan,” ucap Intan yang merasa tidak enak dengan ayahnya. Bambang pun memberikan boneka tersebut pada anaknya. “Lain kali lihat-lihat siapa yang kamu lempar,” ucap Bambang dengan dingin setelah itu meninggalkan kedua anaknya. Sedangkan Kevin mengejek Intan dengan tingkah konyolnya merasa puas. “Apa lo ….” Ucap Intan dengan perlahan agar tak terdengar oleh Ayah. Kevin pun langsung pergi dari tempat itu sebelum kakaknya semakin mengamuk padanya. Setelah dua orang itu sudah pergi Intan pun masuk ke kamarnya untuk bersiap terlebih dahulu. Selesai mandi dan sudah siap memakai baju, Intan langsung turun dari lantai dua menuju ke meja makan terlihat keluarganya sudah ada di meja makan sedang menikmati makanannya. Tetapi ada yang aneh dengan mereka. Bambang dan Amira saling diam satu sama lain tidak ada yang berbicara, sementara Kevin bingung dengan keduanya apa yang sebenarnya terjadi kenapa mereka saling diam satu sama lain. Intan pun datang duduk di tempat biasanya ia duduk. Dan Intan pun diam juga seperti dua orangtuanya, dan membuat Kevin menjadi curiga pasti ada yang tidak beres dengan mereka. Kevin sama sekali tidak mengetahui apa yang membuat mereka terdiam.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
anjay enak
18/06
0Bagus banget
28/12
0belum habis baca
26/12
0Lihat Semua