“Huaaaaaaa … pokoknya, gue nggak mau nikah sama dia!” rengek Bey di depan dua sahabatnya. “Tolongin gue, kek, gue nggak mau jadi janda muda, huaaaa …,” Bey benar-benar kelihatan seperti anak kecil yang sedang merengek minta dibelikan. Ia juga menangis sesenggukan, meski tidak ada air mata yang mengalir di kedua matanya. “Bey! Malu, ah! Banyak orang-orang tahu, nggak? Ini kita masih di taman sekolah, Bey! Ngomongnya pelan-pelan,” Joy terus mengingatkan temannya. “Lo, kenapa sih? Kok, tiba-tiba bilang nggak mau nikah? Siapa yang maksa lo nikah, Bey?” “Bestie lo kenapa, Mar? Lagi kesambet setan bocah?” tanya Doni, salah satu teman sekelas mereka, yang tiba-tiba melintas di depan mereka bertiga. “Eh, kalau punya mulut tuh diayak dulu! Biar nggak kasar omongannya!” bentak Marina tidak terima dengan ledekan Doni yang mengarah kepada Bey. “Hahaha, diayak. Lo kira, mulut gue pasir matrial?” sahut Doni semakin meledek. “Menurut lo?!” sahut Marina lagi. Tidak mau kalah. “Udah sono, ah! Pergi-pergi! Ganggu aja lo, kayak dedemit!” usir Marina sambil mendorong badan Doni. “Coba deh, lo jelasin dulu, apa masalahnya! Dari tadi, gue sama Marina bingung, tahu, nggak? Kalau ngomong tuh, harus ada pembukaannya. Jangan tiba-tiba langsung intinya,” jelas Joy dengan kedua tangan yang bergerak ke kiri dan ke kanan. Seperti seorang guru yang tengah menjelaskan pelajaran. “Lo kira mau pidato, Joy?” sahut Marina menimpali. “Berisik, lo!” bentak Joy. “Huaaa … gu-gue … sebenarnya …,” Bey mulai menjelaskan permasalahannya dengan runut. Dari awal sampai akhir. Sementara Joy dan Marina sangat antusias untuk mendengarkan kejadian demi kejadian yang diceritakan oleh Bey. “Jadi, gitu ceritanya, guys, hiksss.” Bey menyudahi ceritanya yang kelewat panjang lebar. “Pokoknya, gue nggak mau nikah sama dia! Titik!” “Rumit juga sih, Bey, permasalahan hidup lo. Kayak sinetron,” ujar Marina menimpali. “Bantuin gue, kek! Kalian kan, sahabat gue. Ya? Bantuin gue, ya. Pleaseeeee.” Bey mulai mengiba. Berharap dua sahabatnya akan membantunya untuk menggagalkan pernikahan yang tidak pernah diimpikan oleh Bey. “Ini masalahnya sulit banget, Bey. Hmmm, pertama, lo emang salah sih! Kenapa pake ngelakuin hal itu ke om-om yang nyelamatin lo? Lo, emang udah sinting, Bey!” ucap Joy kesal. “Ya, gue minta maaf. Gue nggak tahu. Gue khilaf, Joy, hikssss.” Bey membela dirinya. “Posisi gue kan, lagi nggak sadar.” Sambungnya. “Tetep aja lo salah, oncom!” timpal Marina. Ia satu pemikiran dengan Joy. Sama-sama menyalahkan sahabatnya yang sedang terhimpit masalah besar. “Kedua, ini emang udah takdir lo, Bey.” ujar Joy. “What? Takdir? Jadi, maksud lo, takdir gue itu, menikah sama om-om? Gituh?!” Seru Bey agak tertahan. Kedua matanya sudah terbuka lebar. Seakan tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut Joy. “Ummm, maybe,” Joy mengangkat kedua bahunya. “AKHHHH! Gue nggak mau, anjiiirrr!!” Pekik Bey dengan lantang. “Heh! Berisik banget sih, lo! Tenang dikit, bisa, kan?” Marina menyeru untuk mengingatkan Bey yang sudah memekik sangat lantang. “Tenang…tenang! Ya, lo pikir aja, Mar. Kalau lo jadi gue, pas__” “Dih, gue ogah banget jadi lo, Bey! Lagian, kalau gue jadi lo, gue ng__” “Nggak ada yang tahu, kalau semua ini akan terjadi.”Gerutuan Bey dan Marina akhirnya dipatahkan oleh ucapan Joy yang lebih bijak. “Udah gue bilang, kan, ini takdir lo, Bey.” “Ya, tapi, gue nggak mau, Joy! Lo ngerti, nggak, sih?” Sahut Bey tidak mau kalah. “Gue nggak mau nikah sama dia!” “DRT-DRT” Ponsel digenggaman Bey kembali bergetar. Seketika membuat Bey terdiam. Ia menatap tepat layar ponselnya. Lisannya menyebutkan angka demi angka. Sebuah nomor yang tidak ia simpan. Ia mengeryitkan keningnya. Berusaha untuk berpikir keras, nomor siapakah yang sedang berusaha untuk menelponnya. “Siapa, Bey? Mario, lagi?” tanya Marina. Bey menggeleng kuat, dengan wajah kebingungan. “Gue nggak tahu. Nomor iseng kali, ya,” “Angkat aja dulu. Siapa tahu, itu abang lo, Bey.” usul Marina. “Bey anak tunggal, blo’on!” sahut Joy menimpali. “Gue angkat aja, deh. Siapa tahu fans gue,” ucap Bey penuh percaya diri. “GR!” sahut Joy dan Marina bersamaan. “Halo, ini dengan siapa, ya?” tanya Bey dengan penuh hati-hati. “Halo, ini dengan Si Anjir, kan?” ucap seorang lelaki, dengan suara yang tidak asing di telinga Bey. Bey langsung membelalakkan kedua matanya. Dia adalah Frans. “Oh, elo! Lo, ngapain nelpon gue sih, anj__” “Syukurlah. Ini bener Si Anjir.” Sela Frans dengan santai. “Heh, om-om gatel! Nama gue Bebby Alayya! Panggilan gue, Bey! Bukan Si Anjir!” hardik Bey. Sepertinya, darah di dalam tubuh Bey sudah sangat mendidih. Naik sampai ke ubun-ubun. Kedua sahabat Bey hanya tertawa cekikikan melihat Bey yang emosian. “Sekarang, tolong share loc sekolah kamu. Saya segera ke sana!.” titah Frans dengan santai. “Ngapain, anjir? Gue nggak mau lo ke sekolahan gue!” bentak Bey. “Oh, jadi, kamu lupa dengan tanggung jawab kamu? Iya?” tanya Frans. “Yaudah! Gue tepatin! Wait, gue share loc!” Bey langsung menutup panggilan secara sepihak. Bibirnya komat kamit, menggerutu seorang diri. “So, Mario, mau lu taro mana, Bey? hehehe,” ledek Marina. “Berisik, lo!” bentak Bey kesal. Ia sudah mengetik pesan singkat kepada Frans, dan men-share loc sekolahnya. Tak lupa, ia memberikan nama kontak untuk nomor WhatsApp Frans. Peliharaan Gue, adalah nama kontak yang diberikan Bey untuk Frans. “Heh, siapa suruh namain gue Si Anjir!” ucap Bey sendiri. “Gue duluan!” pamit Bey dengan langkah berdebum-debum. *** “Jadi, kita mau ke mana?!” tanya Bey dengan sedikit bentakan. Ia sudah berada di dalam mobil Frans. “Menurut kamu, kita mau ke mana?” ledek Frans. Kali ini, Frans jadi sering meledek Bey. Tatapan Frans fokus ke jalan. “Nyebelin, lo!” pekik Bey dengan suara nyaringnya. “Bisa nggak, nggak usah pake teriak?” Frans menoleh sesaat, dan kembali fokus menyetir. Ia merasa terganggu dengan suara nyaringnya Bey. “BODO AMAT!!!” teriak Bey di dekat telinga Frans. Sekarang, gantian Bey yang menjahili Frans. Ia tersenyum puas, saat Frans menggosok-gosok telinganya yang menjadi korban dari teriakan nyaringnya. Frans melirik tajam ke arah Bey, dan kembali fokus menyetir. “DRT-DRT.” Ponsel Bey bergetar. Ada satu panggilan yang masuk. Dari Mario. “Mario?!” serunya terkejut. Ia baru ingat, kalau seharusnya ia menunggu Mario datang menjemputnya. Bukannya pergi bersama Frans. “Halo, Sayang.” Sapa Bey dengan wajah panik. Mendengar Bey memanggil ‘sayang’ dengan seseorang, membuat Frans langsung menoleh cepat ke arah Bey. “Sayang?” lirihnya. “Kamu di mana, Bey? Sorry ya, telat. Aku baru aja sampe di sekolah kamu,” jelas Mario di ujung telepon. Seketika, terbesit rasa bersalah, karena telah sengaja melupakan janjinya dengan Mario. Namun, ia juga tidak ingin jujur kepada Mario, kalau sebenarnya ia sedang pergi bersama dengan seorang laki-laki. Ia tidak ingin membuat Mario semakin kecewa. “Bey? kamu denger aku, kan?” tanya Mario, memastikan jika sekiranya Bey tidak mendengar suaranya. “Ah, iya! Aku denger ko, Sayang. Maaf ya, Mario, aku udah pulang duluan. Aku dijemput sama papa,” dusta Bey. “Papa?” Frans melirik sesaat, sambil mengulang satu kata terakhir yang diucapkan Bey, dengan wajah kebingungan. Cepat-cepat Bey menjauhkan ponsel dari telinganya, dan langsung memukul bahu Frans. “Diem, bege!” cicit Bey kesal. Kemudian, ia kembali menempelkan ponsel ke telinganya. “Maaf, ya, Mario.” ucap Bey dengan nada lembut. Ia kembali melanjutkan percakapannya dengan Mario via telepon. “Bye, see you sooner!” Bey mengakhiri teleponannya dengan Mario. Ia menyandarkan punggungnya yang sedari tadi tegak. Bey menghela napas panjang, seraya memejamkan kedua matanya. “Jadi, kamu udah punya pacar?” tanya Frans, mencomot topik pembicaraan. Atau, lebih tepatnya ia penasaran dengan kehidupan dari seorang Bey. “Hmmm …,” sahut Bey asal. “Nggak usah sok ngulik kehidupan pribadi gue, ya. Nggak usah. Nggak perlu. Dan, nggak penting buat lo!” tanda Bey yang nyata-nyata tidak mau diganggu oleh Frans. Frans mengangguk, dan kembali fokus menyetir. Sesaat kemudian, ia membelokan stir mobilnya ke sebuah tempat. Sebuah Coffee Shop. Bey membuka kedua matanya, ketika ia merasakan bahwa mobil yang ia tumpangi berhenti. Kedua matanya langsung meliar. Mereka berdua akan menyambangi sebuah coffee shop. Mereka berdua telah duduk sambil menikmati menu minuman mereka masing-masing. Frans dengan hot espresso, dan Bey dengan Ice Cappucino. Hening. Hanya itu yang terjadi di antara mereka berdua. Sampai akhirnya, Frans meletakkan sebuah amplop coklat di atas meja. “Itu apaan?” tanya Bey dengan tatapan sinis. Menatap wajah Frans yang menurutnya sangat menyebalkan. “Silakan dibaca dulu,” ucap Frans santai. Ia kembali menyesap espresso-nya. Bey mulai membuka amplop coklat yang diberikan oleh Frans. Pelan-pelan ia menarik sebuah kertas, dan betapa terkejutnya ia, ketika membaca beberapa kata di awal menarik kertas putih dari dalam amplop coklat tersebut. “Per-perjajian Pernikahan Kontrak?!” Kini, tatapan Bey bergantian. Menatap wajah Frans yang kelihatan sangat santai. Tanpa beban sama sekali.
Perjanjian Pernikahan Kontrak Perjanjian Pernikahan Kontrak ini dibuat dan ditanda tangani dalam keadaan sesadar sadarnya, dan tanpa paksaan dari pihak manapun. Selanjutnya akan disebut sebagai pihak pertama, suami setting-an, yang bernama: Nama Lengkap : Frans Adikara Usia : Dua puluh tujuh tahun tapi masih awet muda Jabatan : Dosen terganteng Bersedia menerima pihak kedua sebagai istri setting-an, yang bernama: Nama Lengkap : Bebby Alayya Usia : Tujuh belas tahun. Panggilannya, Si Anjir Jabatan : Nggak punya kerjaan karena masih SMA Bersedia menjadi istri untuk pihak pertama. Dengan pasal-pasal sebagai berikut: Pasal kesatu : Pihak pertama dan kedua sepakat untuk melangsungkan pernikahan sesuai dengan tanggal yang akan disepakati bersama; Pasal kedua : Pihak pertama dan kedua sepakat untuk tidak membatalkan pernikahan sampai batas waktu yang selanjutnya akan disebutkan; Pasal ketiga : Pihak pertama dan kedua sepakat untuk melakukan perceraian setelah setahun pernikahan mereka; Pasal keempat : Pihak pertama dan kedua sepakat untuk tidak mengekang aktivitas dan kegiatan kedua belah pihak; Pasal kelima : Pihak pertama dan kedua sepakat untuk tidur satu kamar, tetapi beda kasur; Pasal Keenam : Jika salah satu dari kedua belah pihak melanggar kelima pasal yang telah disebutkan, maka harus bersedia menerima apapun hukuman yang diminta oleh pihak yang tidak melanggar perjanjian. Selanjutnya, pihak pertama dan kedua menandatangani isi perjanjian, sebagai bukti kesepakatan bersama. Pihak Pertama, Pihak Kedua, Frans Adikara Bebby Alayya “Lo?!” Bey mencengkram bagian pinggir kertas, sambil menatap sinis Frans. “Officially, I hate you!” ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (660)
RidhoM syarif
sangat bagus
13d
0
Okti rayes
jodoh sudah d atur tuhan tetap semangat untuk apa yg terjadi
sangat bagus
13d
0jodoh sudah d atur tuhan tetap semangat untuk apa yg terjadi
05/06
0mantap
22/04
0Lihat Semua