logo text

Hujan Yang Salah Waktu

"Kenapa kamu keliatan cemas seperti itu, Bary?" tanya Arini sekonyong-konyong tanpa beban.
Dia masih belum mengerti? O, keterlaluan. Sikap dinginku sontak memanas, tetapi bukan untuk menghangatkan.
"Eh, Arini!" sergahku dengan nada terukur. "Kamu masih tanya lagi, kenapa? Kita ini tinggal di tanah keramat, Arini! Tolong sadari itu. Jangan main-main dengan darah haidmu!"
"Dalam darah yang kamu buang sembarangan itu, ada sebagian dirimu! Kalau kamu kenapa-kenapa karena keteledoranmu itu, bagaimana?" tambahku berapi-api.
"Kamu tidak perlu cemas secara berlebihan begitu, Bary," balas Arini masih dengan nada yang sama. Santai dan tanpa beban.
Keterlaluan!
"Saya tidak mungkin kenapa-kenapa," ucapnya lagi. "Apalagi, andaipun saya kenapa-kenapa, memangnya kenapa? Bukannya kamu ... ah, sudahlah! Saya hargai kepedulianmu, terima kasih. Tapi tidak usah pikirkan itu. Minumlah kopimu, nanti keburu dingin."
"Arini, kamu?"
"Kenapa?" balas Arini sambil menatapku.
Arini menantang? Tenggorokanku seperti tercekat. Aku sudah meledak-ledak, tetapi Arini lagi-lagi sepertinya tidak terpengaruh dengan cercaanku yang cetar membahana.
"Bentar lagi gelap. Minumlah kopinya baru lekas mandi," ujar Arini masih dengan nada ringan sembari berancang-ancang membalikkan badan.
Aku sudah berniat untuk mencegah, tetapi belum sempat berucap apa-apa, Arini sudah kembali mengucap, "Saya tidak tahu untuk apa kepedulianmu ini. Tapi apa pun itu, sekali lagi, terima kasih banyak. Maaf, hanya sebatas itu yang bisa saya berikan."
"Kalau tentang darah haidku, kamu tidak perlu cemas. Saya juga tahu tentang itu. Saya sudah cuci bersih, kok! Tidak ada lagi yang tersisa, jadi tidak perlu risaukan itu."
Aku terdiam. Sial! Aku sudah terlanjur meledak-ledak, tanpa bertanya lebih dulu. Memalukan.
"Saya masuk dulu, ya!" pungkas Arini. "Terima kasih untuk pembalutnya," tambahnya lalu beredar.
"O, Tuhan ...." Aku mendesis pelan. "Dosakah saya yang terlalu mudah curiga?"
Ke esokan paginya, aku mendahului Arini dalam menyambut hari. Saat Arini terjaga, aku bahkan sudah menjerang kayu api di tungku yang tadi kugunakan untuk merebus air.
Bukan hanya itu, aku bahkan sudah menyiapkan satu gelas teh untuk Arini, dan satu gelas kopi untukku.
"Tumben," sapa Arini pelan setara menggumam. Matanya pula, tak berkedip menatapku. Tatapan penuh selidik Arini ini, membuatku sedikit salah tingkah.
"Cuci mukalah, biar kita ngeteh bareng," ucapku coba menutupi rasa grogi.
Pun Arini, beredarlah dia menuju ruang belakang, membasuh wajah di situ.
Sedang Arini membasuh wajah, dari tempat dudukku di ruang makan ini, diam-diam mengawasinya dengan seksama.
Sejatinya, pagi ini aku sengaja bangun lebih awal, tak beranjak ke mana-mana, hanya demi memastikan apakah Arini benar-benar haid, atau hanya pura-pura mengaku datang bulan.
Tadi saat Arini masih terlelap, aku sudah mengecek secara sembunyi-sembunyi bungkusan pembalut wanita yang aku beli kemarin.
Memang ada satu picis yang tidak terlihat, dan mungkin sudah, atau tengah digunakan oleh Arini.
Hanya saja, aku belum akan merasa puas sampai melihat dengan mata kepalaku sendiri pembalut yang digunakan oleh Arini tersebut.
Lewat pembalut wanita tersebut, aku sangat ingin mengetahui secara pasti, bahwa Arini memang sedang haid, yang mana itu maksudnya adalah untuk memastikan bahwa Arini tidak dalam kondisi hamil, tidak sedang mengandung benih dari laki-laki bernama Bara, adik tiriku yang kurang ajar tersebut.
"Maaf saya terlambat bangun," ujar Arini sembari mengambil tempat duduk di hadapanku.

"Tidak apa-apa," sahutku pelan sembari coba memaksakan diri agar bisa tampil tenang.
"Ini untuk saya?" tanya Arini sambil menyentuh gelas berisi teh.
Ngeledek? Aku tahu Arini hanya tengah berbasa-basi, tetapi aku tetap mengangguk. "Iya," ucapku.
"Terima kasih," ujar Arini lagi sambil meraih gelas tehnya.
"Maaf untuk keadaan kita yang tidak sempurna ini," gumamku pelan.
Kali ini, Arini mungkin berpikir, aku tulus dalam berucap. Itu bisa terlihat dari bagaimana dia mengernyit.
"Kenapa pagi-pagi sudah ngomongin itu?"
"Tidak kenapa-kenapa," sahutku masih dengan nada yang sama. Pelan dan seakan-akan penuh beban. "Minumlah!"
Arini tidak akan tahu bahwa sebenarnya aku hanya tengah menyindir kekisruhan pikiranku sendiri.
Pun, minum teh bersama untuk pertama kalinya dalam kebersamaan kami ini pun bermula.
Suasananya begitu canggung. Baik Arini, apalagi aku, kami lebih banyak diam daripada saling bicara.
Arini sibuk dengan pikirannya sendiri yang entah itu apa, sedangkan aku, aku masih penasaran dengan masalah pembalut. Itu terus berlangsung sampai aku tidak tahan lagi kelamaan menunggu, hingga pada akhirnya, aku menyudahi minum kopi, lalu beredar untuk memulai aktivitas.
Sore hari saat hendak membakar sampah, apa yang menjadi pertanyaanku, barulah terjawab dengan sendirinya. Semuanya bermula ketika aku raih tas kresek berisi sampah yang menggantung di dinding dapur.
"Mau dibawa kemana itu?" tanya Arini yang memergokiku meraih tas kresek sampah tersebut.
"Bakar," jawabku singkat.
"Tunggu, tunggu!" cegah Arini sembari tergesa menghampiriku.
Aku menaikkan alis. "Kenapa?" tanyaku.
"Ada anuku di dalam sini," ujar Arini sembari merebut kresek sampah dari tanganku.
Aku membiarkan sembari memperhatikannya.
O, ini rupanya. Benda yang kucari kini sudah terjepit di antara jari tangan Arini.
"Mau dibawa kemana? Biar saya saja!" ucapku.
"Ih, ini mana boleh dibakar?" ujar Arini juga.
"Siapa yang bilang mau dibakar?" Aku coba meluruskan. "Saya mau tanam, kok!"
"O, gitu?" balas Arini yang sudah terlanjur membelakangi aku. "Hum, iya. Tapi biar saya sendiri saja," tambahnya sambil lalu, dan langsung beredar.
Dua minggu kemudian.
Hari ini entah kenapa, Arini ikut ke ladang. Sore hari saat hendak pulang ke kampung, senja yang tadi sempat membiaskan rona damai, tiba-tiba saja menjelma samar lalu lindap dikulum kegelapan.
Gumpalan awan hitam di atas sana pula, kian menambah kesempurnaan kegelapan malam yang datangnya jauh lebih cepat dari seharusnya.
Selain itu, angin yang tiba-tiba berembus dengan begitu kencangnya, memaksa aku untuk bergegas.
"Bary, cepat ke sini ... !"
Gaung teriakan Arini dari gubuk sana, semacam pelecut langkahku. Setengah berlari di antara terpaan angin kencang, aku bergegas menuju gubuk.
"Atapnya terbang," sambut Arini.
"Apa?" desisku sembari mendongak.
"Bagaimana ini, Bary?" Arini begitu panik dengan atap gubuk yang terbuat dari anyaman daun alang-alang ini, yang mana kini beberapa lembar diantaranya, telah raib disapu angin.
Lagi, aku mendongakinya. Sial! Langit-langit gubuk sudah menganga lebar.
Belum sempat berbuat apa-apa, tiba-tiba pula langit memuntahkan air yang disertai dengan angin kencang.
"Ayo! Kita di kolong saja!" ucapku.
"Tapi ...."
"Tidak apa-apa!" potongku. "Ayo cepat!"
Bersamaan dengan itu, tanpa kata, hampir bersamaan aku dan Arini turun untuk bernaung di kolong gubuk.
Di kolong gubuk, Arini meringkuk, mencari titik yang tak terkena air hujan atau percikannya. Cukup sulit, dikarenakan hujan yang kian deras ini leluasa bergerak dari berbagai arah berkat bantuan angin yang berembus kencang.
Sedangkan aku, aku pasrah, merelakan diri kebasahan. aku hanya khawatir gubuk ini akan rubuh lalu menimpa kami. Anginnya benar-benar kencang, hingga gubuk ini sampai bergoyang-goyang.
"Berr ... !" Kurang dari tiga puluh menit, sudah terdengar suara Arini yang menggigil kedinginan.
Mendengar suara menggigil itu, refleks aku menghampiri lalu merangkulnya dengan erat. Aku merangkul Arini dengan sepenuh rasa, sehingga lupa akan sikap tidak peduliku pada Arini selama ini.
"Bertahanlah! Mudah-mudahan hujannya cepat berhenti," bisikku coba menghibur Arini, juga diriku sendiri.
"Saya tidak tahan lagi, Bary," bisik Arini. "Tolong peluk saya lebih kuat lagi," tambahnya.
Sampai di sini, sial! Di antara terpaan hujan yang masih saja disertai angin kencang ini, tiba-tiba wajahku terasa panas. Uar napas dan balasan pelukan Arini ini, seperti menyiratkan sesuatu.
"Bary! Kamu tidak mencintai saya?"
Ouh, kenapa pertanyaan macam ini yang ditanyakan pada momen yang ... entahlah! Akan tetapi, hujan ini datangnya tidak pada waktu yang tepat.

Komentar Buku (85)

  • avatar
    azzahrazulaika

    ceritanya bagus sekali

    13/05/2022

      0
  • avatar
    RadenSumantri

    ceritanya bagus sekali👍👍👍

    09/05/2022

      0
  • avatar
    Muhsin Al duffani

    saya sangat senang saat baca novel . ceritanya menarik

    20/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru