"Saya terima nikahnya, Arini binti Sodiq, dengan mas kawin tersebut, tu--nai!" "Bagaimana, saksi?" "Sah?" "Sah ... !" "Alhamdulillah." Resmi menikahi Arini? Iya, benar. Ini bukan lagi setakat mimpi, tetapi nyata adanya. Namun demikian, bagaimana ceritanya? Satu kata, terlalu rumit untuk dapat diungkapkan dengan kata-kata bagaimana bisa sampai pada tahap ini. Akan tetapi, jika ingin disederhanakan, maka ianya akan kurang lebih seperti sebuah ungkapan dari Negeri Ginseng sana. : Seseorang yang terjatuh dalam kubangan berlumpur, untuk bisa keluar dari kubangan tersebut, mustahil jika tidak menginjakkan kaki pada lumpur itu juga. Aku sangat tahu bahwa Bu Dawiyahlah yang telah dengan sengaja menjatuhkan aku ke dalam kubangan kesulitan ini. Sedangkan yang membebaskan aku, dia adalah Bu Dawiyah juga. Ironi, tetapi begitulah kenyataannya. Di saat tengah terpuruk memikirkan dari mana mendapatkan biaya pernikahan, dan segala sesuatu yang sehubungan dengannya, tiba-tiba Bu Dawiyah hadir bak Dewi Penyelamat. Selain hadir di saat yang tepat, Bu Dawiyah juga tidak ubahnya seseorang yang baru saja usai berbincang secara gaib dengan kekalutan batinku. "Saya bisa kasi pinjam kamu uang untuk biaya pernikahanmu dengan Arini." Begitu kata Bu Dawiyah dua mingguan yang lalu, usai empat orang tetangga memberikan kesaksian, yang entah bagaimana ceritanya, tetapi tahu Arini keluar dari rumah dengan pakaian sobek di sana-sini. Mirisnya lagi, Yaro Nola menyatakan aku bersalah dan wajib menikahi Arini, tanpa lebih dulu bertanya, kenapa Arini bisa seperti itu. Bu Dawiyah hebat! Selain memanfaatkan Bara putranya, dia juga memanfaatkan Arini untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Aku tahu, Bu Dawiyah menginginkan rumah beserta tanah yang tengah mereka tempati saat ini, karena rumah dan tanah itu sebenarnya adalah peninggalan almarhum ayahku. Semuanya sudah terjadi. Aku sudah membubuhkan tanda tangan di atas kertas bermaterai. Jika dalam jangka waktu yang sudah kami sepakati aku tidak bisa melunasi pokok utang beserta bunganya, maka tanah beserta bangunan warisan ayahku tersebut, akan berpindah ke tangan Bu Dawiyah. Sampai di sini, aku menganggap tanah dan rumah sana sudah seutuhnya menjadi milik Bu Dawiyah. Aku tahu, sejak lama dia menginginkannya. "Saya tau, kamu tidak menginginkan adanya pernikahan ini." Arini yang duduk di pinggir katil kayu membuka dialog. Saat ini kami masih menumpang di rumah Pak Saiful, paman Arini. "Kamu bisa langsung menceraikan saya, kalau kamu tidak bisa menerima pernikahan ini." O, Tuhan! Semudah itukah? Tidak tahukah dia bahwa betapa lubang pengorbanan ini sudah menganga lebar? Diam-diam aku memejam untuk kalimat Arini yang satu ini. Aku masih tak menimpali, meskipun sebenarnya ada banyak kata yang menjentik-jentik rongga wicara, meminta dikemukakan. "Tapi kalau kamu berkenan, berikan saya kesempatan. Saya ingin berbakti sama kamu. Tapi kalau kamu keberatan, lupakan saja. Bisa menikah dengan kamu saja, itu sudah cukup bagi saya." "Setidaknya, seandainya saya tiba-tiba mati di hari ini, arwah saya tidak akan gentayangan karena impian saya tentang kamu sudah terwujud." Refleks aku menimpali, "Astaghfirullah! Apa yang kamu bicarakan, Arini?" "Tidak, Bary!" sahut Arini. "Saya hanya sampaikan sesuatu yang saya pikir, sudah sejak dulu saya sampaikan sama kamu. Tapi dugaan saya memang benar. Kamu sudah tidak ingat lagi." Arini masih berkata-kata, sedangkan aku hampir tidak ada sama sekali kalimat yang keluar dari bibirku kecuali terpaksa harus menimpali, jika bukan setakat menyela. Itu terus berlangsung hingga aku mengucap, "Sudahlah. Ini sudah larut malam." Arini pun terdiam. Sedangkan aku yang sejak tadi duduk di lantai, perlahan merebahkan diri, kemudian berusaha untuk segera terlelap. Hingga pada akhirnya, malam pertama kami ini pun terlewatkan dengan begitu saja. Hari berganti "Bary!" panggil Arini di pagi itu. "Kamu mau naik ke kebun, 'kan?" "Iya," sahutku pelan, tak bergairah. "Kenapa?" tambahku masih dengan raut yang sama. Sebenarnya aku sedang tidak ingin menunda langkah. Aku seperti ini, itu sudah sejak tempo hari, saat orang tua-tua mendatangi, dan menjatuhkan putusan bahwa aku harus menikahi Arini. Bahkan, pasca pernikahan, meskipun kami tinggal bersama di rumah yang dipinjamkan pamannya untuk kami, sejak tiga mingguan yang lalu, aku masih seperti ini. Selain enggan menanggapi, aku juga tidak ingin sama sekali menyentuh istri mudaku ini. Sedangkan Arini, sejauh ini dia masih begitu tabah. "Kalau kamu ada uang lebih, tolong singgah belikan saya pembalut. Boleh, ya?" ujar Arini. Mendengar itu, spontan dahiku mengkerut. "Pembalut? Untuk apa?" Wajah Arini sedikit muram, tetapi sepertinya dia berusaha untuk mengaburi keadaan dirinya yang sesungguhnya. Itu bisa dilihat dari bagaimana sedetik kemudian, dia sudah mengutas satu senyum simpul. "Maaf, kalau kamu ada uang saja. Saya sudah kehabisan," balas Arini. "Kalau ndak ada, ndak apa-apa, lupakan," tutupnya sembari membalikkan badan, dan langsung beredar kembali ke dalam rumah. Aku yang sudah berada di luar rumah, hanya sempat menatap sekilas punggung Arini. Hanya sekilas, sebelum akhirnya aku pun ikut membalikkan badan, lalu melanjutkan langkah. "Bukan saya yang minta kamu jadi istri, Arini," gumamku. Pembalut? Apakah itu artinya Arini tidak hamil? Aku sudah berada di jalan raya, saat coba menalar semula ucapan Arini. Kalau Arini masih datang bulan, apakah itu artinya Arini tidak hamil, dan Bara memang berbohong? Aku mulai gamang dengan prasangka yang diam-diam aku tumbuh kembangkan sendiri semenjak kejadian tempo hari. Bahkan, karena prasangka inilah sebenarnya aku enggan menganggap Arini. Bukan hanya enggan, tetapi sebenarnya jijik saat berpikir bahwa Arini sisanya Bara. Mau menikahinya pun, itu sebenarnya tidak lepas dikarenakan aku tidak ingin Arini menanggung beban moral atas rekayasa kejadian yang diciptakan oleh Bu Dawiyah. "Kalau Arini tidak hamil, itu artinya ... tidak, ah, tidak! Saya tidak boleh percaya begitu saja," gumamku mengakhiri terka-terka, lalu buru-buru memacu langkah. Butuh uang. Sebelum ke ladang, aku lebih dulu mampir di rumah Pak Haji Bakri, seorang pengusaha lokal, yang menampung material bahan bangunan untuk diperjualbelikan. Aku yang belakangan ini menjadi pengumpul batu alam, mendatangi rumah Pak Haji Bakri tidak lain adalah untuk meminta harga batu yang aku jual pada beliau. Pekerjaan yang aku lakoni di ketika ini terbilang lumayan berat. Batu pecah serupa split yang aku kumpulkan, perkubiknya cukup, dan bahkan terbilang sangat murah. Jerih payah yang aku dapatkan dari pekerjaannya ini, jika dihitung-hitung sesungguhnya sangat tidak sebanding dengan waktu dan tenaga yang aku keluarkan. Betapa tidak? Untuk mendapatkan satu meter kubik batu pecah, misalnya. Coba dikalkulasikan saja. Pekerjaan ini aku memulainya dengan mencari, lalu mengumpulkan aneka batu gunung yang ada di sekitaran ladang sana. Setelah ditumpuk di satu tempat, dengan menggunakan palu tiga dan lima kiloan, mulailah pula aku memecahkannya hingga seukuran batu koral, atau spilit, yang biasa digunakan untuk mengecor beton, dan sebagainya. Setelah memecahkannya dalam ukuran tertentu tersebut, aku masih harus mengangkutnya dari ladang menuju pinggir jalan raya di kampung, dengan jarak mencapai satu kilometeran. Untuk satu meter kubik batu bangunan siap pakai, dihargai tiga ratus lima puluh ribu rupiah. Sedangkan untuk mendapatkan satu meter kubik batu tersebut, aku butuh lima hingga enam hari kerja. Berat! Akan tetapi, harus bagaimana lagi? Aku butuh penghasilan untuk biaya hidupku dan Arini. "Langsung potong panjar, ya!" Pak Haji Bakri sembari menyodorkan empat lembar uang kertas senilai empat ratus ribu rupiah. Hanya dengan melihat wajahku, dia sekonyong-konyong tahu niat kedatanganku. "Dua kubik, 'kan?" tambahnya. "Iya, tidak apa-apa," sahutku sembari menyambut uang yang ia sodorkan. "Makasih, Ji," tambahnya. Setelah itu, aku pun beredar mencari pembalut wanita untuk aku persembahkan pada Arini, yang sejauh ini masih aku anggap sebagai istri bayangan. HARI sudah berangsur-angsur senja. Sinar matahari tampak mulai pasi. Ianya tinggallah berupa biasnya yang bertengger di pucuk-pucuk pepohonan saat aku lihat Arini, keluar dari pintu belakang rumah dengan segelas kopi hitam di tangan. Dengan rambut basah yang menjuntai, sebenarnya Arini terlihat begitu anggun di senja ini. Akan tetapi, aku masih tidak tertarik dengan pemandangan ini. "Kopinya, Bary!" ujar Arini usai meletakkan nampan berisi segelas kopi di bale-bale. Ini adalah sedikit dari sekian banyak kegiatan Arini dalam upayanya sebagai seorang istri, meskipun dia belum kunjung aku anggap. Mungkin begitu. "Tunggu, Arini!" ujarku sembari meletakkan kampak yang aku gunakan untuk membelah-belah kayu bakar. "Kenapa kamu tidak ambil itu?" Arini yang sudah berada di depan pintu, menjeda langkah, lalu menoleh. Akan tetapi, dia tidak buka suara. "Kenapa kamu tidak ambil ini?" ulangku sembari mengarahkan telunjuk ke kresek hitam yang masih saja tergeletak di bale-bale belakang rumah ini. Arini tampak mengernyit. "Apa itu?" "Lho? Bukannya tadi pagi kamu minta dibelikan ini? Lihat sendiri saja!" "Memangnya apaan, sih?" tanya Arini lagi. Diam-diam aku menyipit. Bersamaan dengan itu, pikiran jelek dalam otakku kembali mengemuka. Dalam hatiku, jangan-jangan Arini ini memang hanya pura-pura datang bulan? "Kamu tidak pakai itukah?" "Pakai apa, sih, maksudnya ini?" ulang Arini sembari beringsut maju beberapa langkah hingga berdiri tepat di samping bale-bale. Pada waktu yang bersamaan, aku juga melakukan hal yang sama, maju ke tas kresek tersebut. "Lihatlah! Di dalam ini ada pesananmu." Aku sambil meraih tas kresek tersebut, lalu menyodorkannya pada Arini. "Kenapa kamu ndak ambil ini? Padahal, dari tadi saya taruh di sini." Arini menyambut tas kresek tersebut, lalu mengintipnya sekilas. "Maaf, saya pikir kamu ndak jadi beli," ujar Arini. Aku terdiam. Ini memang salahku juga yang tidak bilang-bilang. Apalagi, Arini memang begini orangnya. Malas tahu jika bukan miliknya. "Jadi, kamu pakai apa?" tanyaku pelan. Aku penasaran sekaligus ragu. "Maksudnya?" Sekali lagi Arini mengernyit. "Itu ...." Aku sedikit kesulitan menyampaikan ini. "Maksud saya, tentang pembalut itu." "O, itu." Arini tampaknya sudah paham. "Saya pakai kain bekas," akunya malu-malu. "Kain bekas?" "Iya, habis dari tadi malam ndak ada pembalut, sih?" "Astaga, Arini? Berarti ... eh, kamu buang di mana darahnya? Itu pamali dibuang sembarangan. Arini! Cepat ambil kembali mumpung masih terang!" Karena panik, aku sampai lupa dengan sikapku yang selalu dingin pada Arini. Aku khawatir darah haid Arini akan mendatangkan mudharat bagi dirinya sendiri. Kami hidup di tanah yang banyak makhluk astralnya, baik dari bangsa manusia maupun jin. Darah haid itu sama wanginya dengan darah nifas, dan biasanya itu dijadikan sebagai jalan masuk para penganut ilmu hitam. "Kamu buang di mana Arini?" tanyaku lagi. "Kenapa kamu seperti panik begitu?" balas Arini. "Astaga, Arini! Kau ...."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (85)
azzahrazulaika
ceritanya bagus sekali
13/05/2022
0
RadenSumantri
ceritanya bagus sekali👍👍👍
09/05/2022
0
Muhsin Al duffani
saya sangat senang saat baca novel . ceritanya menarik
ceritanya bagus sekali
13/05/2022
0ceritanya bagus sekali👍👍👍
09/05/2022
0saya sangat senang saat baca novel . ceritanya menarik
20/07
0Lihat Semua