Wurakenya tertangkap? Apakah dia Pak Romi? Aku abaikan nada tak bersahabat dari dua orang wanita paruh baya ini. Aku tidak sabar untuk mengetahui siapa gerangan yang dibicarakan oleh mereka. Karenanya, aku tinggalkan membalikkan badan, lalu melangkah dengan tergesa-gesa menuju rumah Kepala Desa. Beberapa puluh meter sebelum mencapai pekarangan rumah Pak Kepala Desa, aku menahan langkah. Sepi, tidak ada siapapun di sana. Apakah ibu-ibu tadi sengaja membohongi aku? Sayang sekali, sepertinya aku semakin tidak mendapatkan tempat di kampung ini. Lalu, hanya berselang sekian menit, tiba-tiba pula jantungku berdebar-debar tak karuan. Oh, firasat apa lagi ini? Pikiran ini semakin bertambah buruk. Segera saja aku berjalan pulang menuju rumah. "Rania! Woy, keluar kau!" Oh, apakah firasatnya karena hal ini? Dari jarak sekian puluh meter sebelum pekarangan, tiba-tiba saja pula aku dikejutkan dengan adanya sekumpulan laki-laki dewasa, yang kesemua mereka memegang aneka senjata tajam, tengah mengepung rumah kami sambil berteriak-teriak menyebut nama Rania. Ada apa dengan mereka? "Woy, Rania! Cepat keluar!" O, tidak! Dari gelagatnya, mereka tengah mengincar Rania. Bergegas pulalah aku menghambur, menghampiri warga yang berjejalan di depan rumah kami ini. "Ada apa ini? Kenapa kalian teriak-teriak di sini? Kalian punya urusan apa dengan Rania?" Pertanyaan yang aku laungkan, berhasil memalingkan mereka dari menatap pintu rumah kami, menjadi menatapku. "Bagus! Kamu sudah ada di sini rupanya." Itu suara si Bari'u. Aku memutar wajah searah dengan datangnya suara. Lagi-lagi si jawara kampung ini. Bersamaan dengan itu, tampak Bari'u beringsut maju, lalu berhenti tepat di hadapanku. "Suruh si Rania keluar! Pak Kepala Desa mau bicara sama dia!" Suara bariton Bari'u sekonyong-konyong hendak mengintimidasi aku. "Hey, Bari'u!" Aku membalasnya. "Tau adat sedikit, kamu! Kalau kamu punya niat baik, saya akan layani. Tapi kalau kamu datang bawa hukum rimba di sini, ayo! Saya, Baryno Dhempa akan mengajari kamu bagaimana hukum rimba yang sebenarnya." Disamping mata yang menyalang tajam, aku juga sambil menepuk dada kala menyebut nama lengkapku sesaat barusan. "Kamu berani nantangin saya?" ancam Bari'u. Bari'u mendelik, aku balas dengan tatapan yang sama. "Kamu jual, saya beli!" tegasku. Mungkin karena tersinggung dengan tantanganku, Bari'u semakin tersulut emosi. Sang jawara kampung ini sangat jelas sudah hampir meledak, itu bisa dilihat dari urat lehernya yang menegang, tangan yang gemetaran, dan wajah yang memerah padam. Bari'u belum buka suara, aku memancingnya. Sambil tersenyum sinis, kembali aku menyindirnya. "Hey, Bari'u!" kataku, "tembuni kita sama-sama ditanam di tanah ini. Kamu jangan terlalu besar kepala! Orang lain bisa kau gertak-gertak, tapi jangan pernah coba lakukan itu sama saya!" "Kau?!" Bari'u benar-benar telah pun berada di ambang meledak. Keadaan tegang seketika. Orang-orang yang tengah melingkari aku dan Bari'u dalam jarak sekian langkah orang dewasa, pada hening dan tampak seperti menahan napas. Bari'u semakin gemetaran. Mungkin ini buah dari menahan amarah. Itu bisa terlihat dari parang panjang yang ada di tangannya yang ikut bergetar. Sedangkan aku, menyadari keadaan Bari'u yang seperti itu, segera saja aku mundur dua langkah, mengambil jarak ideal untuk melakukan serangan tangan kosong sekiranya Bari'u akan memaksa. Aku tidak peduli dengan parang panjang yang berada di tangan Bari'u, bahkan aneka senjata tajam yang ada dalam genggaman teman-temannya. "Kalian ini pengecut!" sindirku kemudian sembari menatap lekat Bari'u. "Katanya jagoan, tapi untuk menghadapi satu orang perempuan saja, bawa orang satu kampung begini. Jagoan apa banci seperti kalian ini? Fuih!" Aku membuang ludah. Bari'u yang sudah terpancing, langsung meledak. "Bary ... !?" Bari'u memekik lantang, sedangkan aku diam ditempat, membiarkan Bari'u yang tampak mengayun parang, dan sepertinya hendak menyasar leherku. "Hia ... !" pekik Bari'u sambil mengayunkan parangnya. Aku diam di tempat, pasang badan menyambut ayunan parang Bari'u. Ting ... ! Tebasan parang Bari'u hanya menimbulkan bunyi berdenting apabila beradu dengan pundak, beberapa centimeter dari leherku. Aku sempat menyaksikan Bari'u tercengang hingga sepersekian menit atas kejadian diluar nalar ini. Namun, alih-alih keder, Bari'u justru semakin terbakar amarah. "Kurang ajar!" Bari'u lantang memaki sambil kembali mengayunkan parang untuk yang kedua kalinya. "Hia ... !" Kali ini Bari'u mengayunkan parangnya tinggi-tinggi seperti hendak menyasar kepalaku. Akan tetapi, di sini aku tidak lagi tinggal diam. Bersamaan dengan ayunan parang Bari'u, gegas aku maju satu langkah, menginjak salah satu ujung kaki Bari'u, lalu mengunci geraknya. Wush! Suara ayunan parang Bari'u. "Hap!" Bersamaan dengan tebasan Bari'u itu, aku menangkap, lalu merebut parang dari tangan Bari'u sembari memberinya satu tinju siku, menyasar dadanya. Bug! "Kau?" Bari'u mengucap tertahan dengan tatapan tak berkedip. Bari'u tercengang, dengan menggunakan kedua tangan, aku patahkan parangngnya. Ting! Hanya dengan sekali sentakan, aku telah mematahkan parang Bari'u menjadi dua. Aku mematahkan parang milik si Bari'u ini layaknya mematahkan ranting kering. Kemudian, belum sempat Bari'u menguasain diri, secepat itu juga aku rebut, mencengkeram kuat rambut Bari'u, lalu menodongkan patahan parang ke lehernya. "Hey, Bari'u!" kataku dengan menggunakan suara dalam. "Kalau saya mau, sekarang saya bisa saja tusuk lehermu sampai putus! Kamu ini hanya pecundang! Lain kali jangan sok jagoan di depanku, ingat baik-baik itu!" ancamku dengan tatapan menyalang tajam. "Jangan, Bary! Cukup! Cukup!" Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja pula seseorang sudah berada di sampingku. Aku lirik sekilas. Oh, sial! Ternyata dia adalah Yaro Balano. Aku masih sangat menghormati sesepuh yang satu ini. Pun, masih dengan menahan amarah, aku dorong Bari'u, membebaskannya dari cengkeramanku. Wajah Bari'u yang konon katanya adalah jawara di kampung ini, sudah tidak ubahnya bulan kesiangan. Bari'u pucat pasi. Jika dia sadar diri, Bari'u ini seharusnya tahu jika dia bukanlah tandinganku. Selain itu, andai barusan dia tidak melampaui batas, seharusnya dia tidak akan aku permalukan seperti ini. "Ada apa dengan kalian ini?" Yaro Balano memecah konsentrasi kami. "Kenapa kalian mau baku makan begini? Kalian ini bikin malu saja!" cecar Yaro Balano kemudian. "Saya tidak tahu-menahu, Yaro!" ucapku sambil mengalihkan wajah pada Bari'u. "Tanyakan saja sama mereka! Mereka yang duluan," tambahku. "Ada apa ini, Bari'u?" Yaro Balano beralih pada Bari'u. Bari'u bungkam. Tampaknya, kesadaran laki-laki ini belum sepenuhnya pulih. Mungkin dia masih belum bisa percaya jika dia yang terkenal sebagai salah satu jawara yang paling disegani di kampung ini, dapat aku permalukan dengan begitu mudahnya. Sesaat kemudian, Yaro Balano beralih kepada kerumunan orang yang juga tampak hanya diam di tempat, bertanya kepada mereka, apa sebenarnya yang terjadi. Setelah ditekan sedemikian rupa oleh Yaro Balano, Arkam, salah satu dari dua belas orang pria bersenjata tajam ini, pada akhirnya buka suara kenapa mereka datang mengepung rumah kami. Ternyata, semuanya berhubungan dengan kesaktian pak Romi. Mereka mendatangi rumah kami dengan niat untuk mendapatkan keterangan dari Rania, perihal rahasia kesaktian Pak Romi. Ada-ada saja. Apalagi, mereka datang atas inisiatif sendiri, bukan atas permintaan, apalagi perintah dari Pak Kepala Desa sebagaimana pengakuan Bari'u. Sekarang masalahnya sudah jelas. Bari'u yang tidak sabar, telah memprovokasi orang-orang untuk mendapatkan pengakuan dari Rania dengan caranya sendiri. Lalu, pertanyaannya. Sebenarnya ada apa dengan pak Romi? Di mana dia sekarang, dan kesaktian apa yang dimaksud? Selain itu, kenapa orang-orang mencari Rania? Apa hubungannya dengan Rania? Benarkah Rania mengetahui rahasia ilmu hitam yang dimiliki oleh Pak Romi? "Atas nama para Tetua dan diri pribadi, saya mohon maaf atas kejadian ini." Kini Yaro Balano kembali beralih padaku. "Iya, tidak apa-apa, Yaro," sahutku. "Seandainya saya tau begini masalahnya, mungkin saya juga tidak akan bertindak keras. Saya juga minta maaf, Yaro." "Iya, lupakan itu," ucap Yaro Balano juga. "Sekarang, tidak bisakah kamu membantu warga?" "Bantuan apa yang Yaro maksud?" jawabku balas bertanya. "Mungkin kamu keberatan," ujar Yaro Balano. Wajahnya begitu serius. "Iya, sebenarnya saya sendiri pun mau tahu, di mana letak kelemahan Pak Romi?" Waduh! Bagaimana ini? Menjawab pertanyaan Yaro Balano sama saja dengan melukai, bahkan bisa jadi memperpendek umur Rania. Apa yang harus aku lakukan?
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (85)
azzahrazulaika
ceritanya bagus sekali
13/05/2022
0
RadenSumantri
ceritanya bagus sekali👍👍👍
09/05/2022
0
Muhsin Al duffani
saya sangat senang saat baca novel . ceritanya menarik
ceritanya bagus sekali
13/05/2022
0ceritanya bagus sekali👍👍👍
09/05/2022
0saya sangat senang saat baca novel . ceritanya menarik
20/07
0Lihat Semua