logo text

Pak Romi Kembali?

Rania boleh saja berkilah, tetapi rentetan peristiwa yang tersimpan rapi dalam diamku, semakin ke sini semakin sukar untuk aku jinakkan.
Benar, demi memuliakan Rania, sebagai seorang suami, adalah kewajibanku untuk menutup rapat banyak rahasia tentang Rania.
Akan tetapi, ini sampai kapan? Apalagi, ini menyangkut keselamatan dan kenyamanan banyak orang.
Ya, Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Lama bermenung, kembali aku menjiwai mata pancing yang kini berada dalam genggamanku. Lalu, tidak berapa lama kemudian, cobalah pula aku menggelindingkan ingatan, jauh hingga ke beberapa gundukan ingatan.
"Ya, Tuhan ... kenapa harus kamu orangnya, Rania?" batinku.
Tanpa sadar, luapan pilu ini telah pun menjelma bulir bening yang menggantung di kelopak mata.
Ingatanku terus menggelinding. Hingga, tertumpu pada kejadian di malam meninggalnya putra kami, di dua setengah tahunan silam.
Sebenarnya, sejak malam di mana aku mendapati Rania di bawah pohon Lapi, di sekitar sumur umum kala itu, aku sudah menduga kuat kalau Rania adalah salah seorang penganut Wurake.
Kala itu, sebenarnya aku tidak percaya dengan pengakuan Rania yang katanya tengah mencari Mangga di malam buta tersebut.
Masa' iya Rania meninggalkan bayinya yang masih memerah, malam hari, seorang diri di rumah, hanya untuk mencari Mangga? Apalagi, di sekitar sumur umum yang berada di ujung desa dalam hutan kecil tersebut, tidak ada satu pohon Mangga pun yang tumbuh di sana. Alasan Rania di malam itu adalah alasan yang sungguh tidak masuk akal.
Selain itu juga, sorot mata menyala Rania di pagi hari bertepatan dengan hari meninggalnya bayi kami, dari situ kian mengukuhkan dugaanku, kalau Rania adalah seorang Wurake. Hanya saja, ketika itu aku belum punya cukup bukti untuk menyatakan dugaan tersebut.
Akan tetapi, sekarang, selain luka robek di bibir, yang mana dalam hematku Rania seolah coba menutupinya, ditambah lagi dengan jejak darah di jendela, serta mata pancing yang aku dapatkan di tumpukan kayu bakar ini, masih mungkinkah Rania sanggup mengelak?
Lalu, coba pulalah aku menghubung-hubungkan Rania dengan kematian bayi kami.
Ya, Tuhan, apakah Rania juga pelakunya? Benarkah Rania tega memangsa bayinya? Kenapa?
Gamang, apa yang harus aku lakukan?
Sungguh berat rasanya jika harus membalas kepada seseorang yang menjadi bagian dari hidup sendiri.
Sungguh, apa yang harus dikukan? Haruskah mendiamkannya dan pura-pura tidak tahu?
Jika terbukti Rania adalah pelakunya, sanggupkah aku membalas istri sendiri?
***
Hari berganti.
Kehidupan kami setelah kejadian ini.
Meskipun harus berjibaku melawan gejolak sendiri, tetapi entah kenapa, setiap kali aku menatap Rania dan Rofik, hati ini senantiasa berdesir iba.
Dalam kesempatan lain, aku coba merenungkan hal lain, tentang bagaimana cara mengatasi kondisi ini. Banyak hal coba aku pertimbangkan. Akan tetapi, semakin aku kaji, semakin pula aku kembali pada satu kalimat yang sama, yakni, berpura-pura baik-baik saja di hadapan Rania.
Empat hari kemudian, bertepatan dengan haul malam ke-tujuh pasca meninggalnya pak Rozak.
Awal malam, beberapa saat setelah waktu salat isya, di tengah kesibukan pihak keluarga almarhum Pak Rozak dalam mempersiapkan pengajian di rumah almarhum, tiba-tiba saja seorang warga datang menyampaikan berita yang cukup mengejutkan.
"Pak Romi, pak Romi!" Datang-datang, dengan napas tersengal-sengal orang ini langsung menyebut nama pak Romi.
Kami yang tengah berada di rumah kedukaan ini, terang saja terheran-heran dengan laku dan intonasi si pembawa berita ini.
"Pak Romi? Pak Romi siapa yang kamu maksud?" tanya seseorang yang duduk di samping pintu utama rumah.
Seperti sebelumnya, sang pembawa berita ini kembali mengucapkan kalimat yang mengundang tanya. Ia hanya menyebut nama pak Romi sebanyak dua kali, menatapku sekilas, lalu diam.
Mungkin karena mendapati itu, Pak Rajab, salah seorang putra almarhum Pak Rozak, yang memperhatikan dari pintu tengah, mengucap, "Fatah! Tolong duduk dulu!"
Fatah, laki-laki yang membawa laporan ini pun akhirnya duduk di samping pintu utama.
Setelahnya, Pak Rajab kembali mengucap, "Ada apa, Fatah?"
Lagi-lagi si Fatah ini melempar pandang ke arahku. Sampai di sini, aku mulai merasa bahwa si Fatah ini ragu karena ada aku di sini. Sesaat setelahnya, aku pun coba menambahkan.
"Tidak apa-apa, ngomong saja," ucapku.
Fatah tak menimpaliku. Ia justru kembali melempar lirik ke arah Pak Rajab.
"Kenapa, Fatah? Kenapa kamu lihatin terus si Bary?" tanya Pak Rajab.
Fatah tak menjawab, Pak Rajab menambahkan, "Ndak apa-apa! Bary ndak makan orang, kok!"
"Ha ha ha!" Kompak beberapa di antara kami langsung tertawa-tawa.
Fatah belum kunjung memperinci kalimatnya. Sampai di sini, aku yang merasa diri sebagai penyebab bungkamnya Fatah, pada akhirnya memutuskan untuk mohon pamit pada Pak Rajab. Aku berdalih, akan keluar sebentar untuk beli rokok. Pak Rajab mengiyakan. Aku pun keluar dari rumah.
Tiba di jalan raya, aku langsung berjalan menuju rumah. Karenanya, aku tak lagi mengikuti jalannya pengajian.
Sampai di sini, semakin nyata adanya, orang-orang di desa ini, semakin meragukan aku.
Pak Romi? Pak Romi siapa yang dimaksud si Fatah? Sejenak memikirkannya, aku merasa sudah mengetahui siapa Pak Romi yang dimaksud. Gegas aku pulang ke rumah.
Setibaku di rumah, tanpa mengetuk pintu atau sekadar bersalam terlebih dahulu, aku langsung menuju kamar. Ada Rania di sini yang tengah rebahan menyamping, menghadap dinding, membelakangi pintu.
Di hadapan Rania, tampak Rofik yang tengah berbaring.
Aku yang berniat untuk meraih keris yang aku selipkan di bawah tikar, tepat di mana Rania berbaring, mau tidak mau harus menunda niat.
Beberapa menit hanya diam mematung, aku mulai gelisah. Karena niatku ingin memastikan pak Romi mana satu yang dimaksudkan oleh si Fatah, pada akhirnya aku putuskan untuk mengusik ketenangan Rania.
"Rania," panggilku dengan nada yang terukur. Rania bergeming, aku mengulang dengan nada yang sedikit lebih tinggi. "Rania! Kamu sudah tidur?"
Barulah Rania menoleh. "Kamu sudah pulang? Maaf saya tidak dengar," ujar Rania juga.
"Iya, ndak apa-apa," sahutku.
"Tolong jagain Rofik sebentar, ya, biar saya siapkan makan," ujar Rania lagi.
"Tidak usah!" tampikku Saya sudah ... iya, saya memang sudah lapar," ucapku.
Aku hampir saja keceplosan. Sedangkan Rania, ia mengernyit. Aku menghampirinya.
"Tolong jaga Rofik sebentar, biar saya siapa makan," ucap Rania. Aku mengangguk. Sesaat setelah itu, Rania pun beredar.
Sekeluarnya Rania, buru-buru aku mencari keberadaan kerisku. Aku melakukannya dengan hati-hati sebab di sini, aku tidak ingin mengusik ketenangan tidur Rofik.
"Kok, tidak ada, ya?" gumamku lesu.

Aku sudah menggeser bantal, sudah pula menyingkap tikar tempat di mana aku menyelipkan keris tersebut. Akan tetapi aku tidak menemukannya.
"Apa saya salah taruh, ya?" gumamku lagi.
"Cari apa?" Tiba-tiba Rania sudah berdiri di belakangku.
"Um ... tidak! Saya hanya baikin posisi bantal," kilahku.
Rania mengernyit kecil. Namun, ia tidak lagi menyinggung soal apa yang aku gumamkan barusan. Sesaat setelahnya, Rania mempersilakan. "Makannya sudah siap," katanya.
"Oh, iya, makasih," sahutku, lalu beredar menuju ruang dapur.
Sekira lima menit kemudian.
"Kok, belum makan?"
"I-iya, sebentar." Aku sedikit terkejut dengan kehadiran Rania yang tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Rania lagi.
"Kamu sudah makan?" Aku balik bertanya.
"Makanlah! Saya masih kenyang," sahut Rania.
"Beras kita sudah habis lagikah?" tanyaku lagi.
"Masih ada sedikit, sih, sebenarnya. Tapi adanya hanya untuk buburnya Rofik besok pagi," terang Rania.
Aku terdiam. Nasi yang tersedia ini adanya hanya satu porsi kecil. Sampai di sini, aku mulai ragu jika Rania sudah makan.
"Yuk, makan sama-sama."
"Ndak, itu buat kamu saja. Tadi sore, saya sudah makan," tepis Rania.
"Ayolah! Tidak apa-apa, ini pasti cukup kalau kita bagi dua," ucapku. "Apalagi, wanita menyusui itu, 'kan tidak boleh tahan lapar."
Rania bersikeras menolak, sedangkan aku terus saja juga memaksa. Rania mengalah, kami pun berbagi nasi yang hanya beberapa suap saja.
Untungnya, saat tiba di ruang dapur ini barusan tadi, aku hanya duduk diam sembari memikirkan bagaimana caranya untuk pergi mencari tahu apa yang terjadi di luar sana. Jika tidak, mungkin Rania akan kelaparan di malam ini.
"Maafkan saya, Rania," ucapku beberapa saat seusai makan.
Rania menatapku. "Kenapa kamu tiba-tiba ngomong begitu?"
"Iya, Rania," jawabku. "Maafkan saya. Sampai detik ini, saya belum bisa membahagiakan kalian."
"Jangan ngomong seperti itu, Bary. Pamali," balas Rania. "Apalagi, bagi saya, kamu bisa terima saya apa adanya saja, itu sudah lebih dari segalanya. Saya sudah cerita, 'kan, saya ini hanya seorang yatim-piatu sejak kecil?"
"Iya, tapi ...."
"Ssst ... !" Sekali lagi Rania menyela ucapanku. "Saya ini banyak utang sama kamu, Bary. Jadi, apa lagi yang harus saya tuntut?"
Kali ini, aku tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Rania. "Utang, maksudnya?"
"Kamu sudah rela tinggalkan kampungmu, keluargamu, hanya demi hidup bersama saya, apakah itu bukan sebuah pengorbanan?" jawab Rania.
Aku terdiam. Rania ada benarnya, tetapi aku juga hanya sebatang kara.
"Oh, ya," ucap Rania lagi. "Tadi di pengajian sana, tidak ada orang cerita-cerita apakah, gitu?"
Kali ini aku menjawab dengan mengulang pertanyaannya. "Cerita? Maksudnya?"
"Ya, siapa tahu saja ada informasi baru gitu? Kampung kita ini, 'kan selalu ada yang baru," tambah Rania.
Aku tidak tahu apa maksud dari ucapan Rania. "Tidak ada," sahutku pendek.
"Hum gitu, ya?" sambung Rania. "Oh, ya, Bary, seandainya pamanku tiba-tiba muncul di kampung ini, menurutmu bagaimana?"
"Paman? Paman yang mana satu?"
"Ya, om Romilah, Bary! Memangnya, saya masih punya paman yang lain, ya?"
Kenapa Rania tiba-tiba menyinggung Pak Romi?

Komentar Buku (85)

  • avatar
    azzahrazulaika

    ceritanya bagus sekali

    13/05/2022

      0
  • avatar
    RadenSumantri

    ceritanya bagus sekali👍👍👍

    09/05/2022

      0
  • avatar
    Muhsin Al duffani

    saya sangat senang saat baca novel . ceritanya menarik

    20/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru