logo text

Bab 80 Rayjen Bimbang

Keputusan menceraikan Dilara membuat Rayjen begitu kacau. Perasaan gelisah selalu merasuki dalam benak. Mengerjakan beberapa pekerjaan kantor saja membuat ia tidak bisa fokus. Meeting yang seharusnya diselesaikan hari itu juga mendadak harus mengulang karena ketidak fokusannya.
"Pak, Bapak dengar tidak?"
Tepukan di bahu, membuat Rayjen tersentak sekaligus melihat Ijal---pengacaranya---duduk di samping dengan wajah bertanya heran. Rayjen melirik ke sekitar melihat suasana kafe yang bising. Kembali fokus melihat kertas-kertas yang berada dalam saku map.
"Maaf, saya tidak fokus. Jadi, bagaimana?" Rayjen mencodongkan tubuh, mencari tempat yang agak nyaman.
Ijal mengembuskan napas kasar. Ia sudah mengulang dua kali topik pembicaraan yang dibahas. Namun, Rayjen malah tidak mendengarkan. Sibuk melamun tidak jelas, membuat Ijal kebingungan sendiri untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Soal harta warisan Yati yang dijanjikan, kini sudah turun ke tangan Bapak sendiri. Aset tanah, perusahaan, dan properti perhotelan sekarang sudah menjadi milik Bapak. Harta yang pernah diambil oleh Kailos kini kembali ke tangan Bapak dan Pak Fedrik. Apakah Bapak yakin ingin membagi kembali pada saudara Keenan?"
Rayjen bergeming. Ia memang mengajukan persoalan pembagian harta pada Keenan. Entah mengapa ia merasa bahwa Dilara tidak akan pernah kembali padanya. Ia ingin merelakan sang mantan istri pada Keenan. Akan tetapi, rasanya berat sekali.
"Sebagian, mungkin perusahaan CGM Grup jatuh ke tangan Keenan."
Ijal mengangguk, mencatat apa yang diinginkan oleh kliennya. Sesudahnya, ia mendongak menatap pada Rayjen.
"Soal penceraian dengan nyonya Dilara ... apakah itu terjadi?"
Rayjen semakin bimbang, tetapi keputusannya sudah tepat. Ia akan melepaskan Dilara membiarkan wanita itu sesuka hati di luar sana. Entah ingin kembali pada Keenan atau berhubungan dengan laki-laki lain. Asalkan hak asuh anak yang dikandung oleh wanita itu jatuh ke tangannya.
"Jadi, bukankah suratnya sudah jadi di pengadilan agama? Dan saya hanya mengambil saja, 'kan?"
Ijal mengangguk mengiakan. Memang dua hari yang lalu, Rayjen sempat meminta dibikinkan surat cerai serta meminta memperjuangkan hak asuh anak yang masih belum dilahirkan. Ijal merasa tak yakin bisa memperjuangkannya, terakhir kali kasus yang sama ia perjuangkan malah berakhir gagal.
"Iya, surat penceraianmu sudah ada di pengadilan. Tinggal memerlukan tanda tangan nyonya Dilara."
Setelah selesai menandatangani persetujuan jatuhnya perusahaan CGM Grup di tangan Keenan. Rayjen memilih mengundurkan diri. Ada meeting penting yang sempat ia tunda.
Tanpa Rayjen sadari, seorang wanita sempat menguping pembicaraan dari awal hingga akhir. Ia mengulas senyum smirk mendengar bahwa penceraian itu berlanjut. Senang, karena akan jadi yang pertama juga terakhir salam hidup Rayjen. Ditambah dengan hak asuh seorang anak yang sedang diperjuangkan, impian ingin dipanggil ibu segera terkabul.
"Secara fisik aku memang lemah, tetapi tidak dengan nyaliku. Rasanya tidak rela apabila anak Rayjen memanggil wanita lain dengan sebutan ibu selain diriku," gumam wanita itu dengan seulas senyum liciknya.
***
Keenan bersyukur mendapatkan kabar bahwa bayi yang ditemukan masih memiliki keluarga dan mau membawa pulang kembali bayi tersebut. Kasus tersebut terjadi kesalahpahaman antara pihak keluarga si ibu dan bapak. Pembuangan bayi ke tong sampah karena pihak si bapak bayi tidak mau menerima dan lebih menyingkirkan dengan cara membuang agar terhindar dari tagihan penanggung jawab sebagai kepala keluarga.
Polisi juga sudah menindak lanjuti kelakuan si bapak dari bayi tersebut. Rasa syukur Keenan terbalas dengan rasa bahagia karena sudah mulai bekerja setelah interviu. Sekaligus pemberian seragam security dari pihak perusahaan serta mulai bekerja seperti biasa.
Jam pulang membuat Keenan mampir terlebih dulu di tukang martabak bangka pinggir jalan. Untuk pertama kali ia membeli sesuatu di pinggir jalan. Biasanya ia hanya mengandalkan uang hasil lomba dan jasa pengerjaan tugas untuk membeli makanan secara online atau mampir di resto langganannya.
Kali ini ia ingin belajar menghemat sekaligus mandiri. Mencoba hal-hal sederhana yang sama sekali belum pernah ia rasakan sebelumnya. Apalagi nanti ia mesti merasakan hidup di kontrakan kecil demi bisa menghemat uang bulanan.
"Satu aja Bang martabaknya?" Abang penjual martabak kembali bertanya pada Keenan.
Keenan mengangguk sembari mengulas senyum kecil. "Iya, satu. Rasa cokelat keju, Bang."
Abang penjual martabak mengacungkan jempol tanda siap dengan pesanan Keenan dan Keenan menunggu pesanannya siap duduk di depan gerobak penjual martabak. Menatap lalu-lalang kendaraan roda empat dan dua yang ramai. Kota Jakarta sudah terbiasa dipadati serta ramai di jam menuju malam.
"Tumbenan anak sultan beli martabak di pinggir jalan."
Suara bariton milik Gemilang menyapa indera pendengaran Keenan. Laki-laki yang biasanya kalem kini berubah menyebalkan di hadapan Keenan setelah topeng yang disembunyikan terkuak. Keenan berdecih tidak suka, membuang tatapan ke arah lain seolah-olah tidak menyadari kehadiran Gemilang di sampingnya.
"Cuma anak manja yang mainnya sembunyi-sembunyi," cibir Keenan.
Gemilang mengerti maksud kalimat sindiran absurd dari Keenan. Ia memang sembunyi di tangan Ruhyat, itu juga kalau dirinya sedang berada dalam masalah. Jika tidak, ia enggan sekali main sembunyi-sembunyi. Meski kelakuan jahatnya tidak diketahui sepenuhnya oleh Keenan.
"Cuma orang berengsek yang main enak sama istri orang," balas Gemilang membuat Keenan skakmat.
Keenan tak mengubris. Ia lebih membayar pesanannya dan berjalan menjauh dari tukang martabak tersebut. Muak rasanya melihat wajah Gemilang di sana. Belum lagi kalimat sindiran tentang sang mama.
Untung saja Gemilang tidak mengejar. Keenan mengembuskan napas lega untuk itu. Tenaganya akan terbuang sia-sia kalau menghadapi laki-laki dengan amarah. Lagi pula memang dirinya sedang merasa lelah sehabis bekerja berkeliling PT tempat dirinya bekerja.
Senyum Keenan semakin melebar, tak sabar untuk sampai di rumah bertemu dengan Dilara. Soal laporan yang dibuat oleh Keenan ke kantor polisi sudah terselesaikan atas bantuan Ajil juga. Kini ia hanya akan menjaga bayi besarnya---Dilara---itu juga kalau wanita itu mau menerima.
Ternyata berharap pada seseorang itu menyakitkan, itu yang sering Keenan rasakan. Ia memang masih menaruh harap pada Dilara. Namun, ia enggan memaksa wanita itu agar mau menerima dirinya. Ia hanya akan memaksa pada Tuhan agar bisa menjodohkan dengan Dilara.
"Assalamualaikum, Ra. Aku pulang." Setelah mengetuk pintu sekaligus menutup kembali. Keenan mengedarkan pandangan ke sudut ruangan. Kebetulan pintu rumah Ajil tidak terkunci, membuat ia leluasa masuk setelah mengetuk.
Dilara muncul dari ruang TV dengan wajah sehabis bangun tidur. Menyambut Keenan sembari mengambil tas gendong laki-laki itu. Lalu menaruh di lemari kecil.
"Tumben pulang sehabis isya, lembur?" Dilara bertanya sembari mengikuti langkah Keenan ke arah dapur.
Melihat laki-laki itu mengambil piring sekaligus memindahkan martabak dari dalam kardus ke atas piring. Mata Dilara membulat senang, langsung mencomot sepotong martabak bangka dan memasukkan ke mulut. Rasa cokelat terasa lumer di mulut. Sejujurnya ia sedang menginginkan martabak bangka setelah menonton acara masak-masak di TV.
"Pelan-pelan, dong, makannya. Enggak akan dihabisin ini." Keenan menegur. Seulas semyum lebar terbingkai di wajah.
"Awhbis akwu---"
"Habisin dulu yang di mulut." Keenan memotong ucapan Dilara sembari menggeleng pelan.
Dilara menelan makanannya. Mengelap noda di bibir dengan tangan, lalu menatap Keenan dengan senang.
"Buat aku semua?" tanya Dilara kembali mengunyah potongan martabak tersebut.
"Ajil kasih. Dia ke mana?"
"Emang pesan Ajil enggak masuk ke ponselmu? Dia izin keluar dan menginap, katanya sepupu dia nikah." Dilara menjelaskan, tak lupa dengan kunyahan dalam mulutnya.

Komentar Buku (39)

  • avatar
    BabanganDelia

    luar biasa

    31/05

      0
  • avatar
    bimabima

    sangat memuaskan

    21/01

      0
  • avatar
    M fadli Flow

    bagus

    07/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru