Gemilang tertawa puas dalam ruang pribadinya. Menaikkan kaki ke atas meja sembari memainkan bolpoin dalam jemarinya. Merasa menang karena telah memisahkan Keenan dari keluarga besar Yati. Apalagi mendengar kabar Kailos yang sudah meninggal, benar-benar double rasa bahagia yang tengah didapat. Perlahan-lahan dendam sudah terbalaskan. Tinggal menunggu kehancuran Keenan secara perlahan. Masih belum puas melihat wajah menderita itu. Penderitaan yang didapat oleh Keenan tidak sebanding dengan derita Hanara. Amarah dalam diri bergejolak meminta dilampiaskan. Gemilang menurunkan kaki dengan rasa kesal. Menyapu semua barang yang ada di atas meja hingga terjatuh ke lantai. Menciptakan bunyi pecahan. File-file masa lalu bersama Hanara terlintas. Mati-matian ia berusaha menghalau. Namun, seakan-akan Tuhan tidak mengizinkan ia melupakan semua derita Hanara dan dirinya di masa lalu. Terlebih lagi saat mengingat awal pertama kali Jihan---ibu kandung Hanara---mengulurkan tangan kala sang ayah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Melindungi dan mendekap dirinya kala itu. Gemilang yang malang, hidup sebatang kara ditinggalkan sang ayah dan ibu yang pergi dengan lelaki lain. Kehidupan yang perlahan hancur, kembali terbentuk dengan kehadiran Jihan juga Hanara. Tak lama dari situ, semuanya malah hancur secara perlahan. Tangan Gemilang mengepal guna meredakan amarah dalam diri. Ingatan-ingatan dalam kepala seperti sebuah kaset rusak. Perlahan bagus, makin lama makin rusak memburam. Ketukan di pintu mengejutkan Gemilang. Amarah masih terpatri di balik manik matanya. "Masuk!" Pintu terbuka memperlihatkan seorang lelaki bertubuh tambun memasuki ruangan Gemilang. Lelaki itu memandang ke setiap sudut ruangan yang sangat berantakan. Lalu tatapannya terkunci pada Gemilang. "Ada apa lagi? Bukankah seharusnya kau merasa bahagia telah menghancurkan keluarga ibumu?" Lelaki itu dengan santai duduk di hadapan Gemilang. Gemilang mengembuskan napas pelan. Memijat pelipis guna meredakan rasa pening di kepala. Semakin ingatan itu muncul, maka kepalanya akan terasa pusing. "Belum. Aku belum membuat Keenan menderita. Ini belum seberapa," ucap Gemilang terdengar penuh penekanan. Lelaki tambun itu mengulas senyum tipis. Mengenal bagaimana sifat Gemilang dari laki-laki itu remaja. Keduanya dipertemukan dan saling kenal melalui Jihan. Menjalin hubungan persaudaran, walaupun tak sedarah. Ruhyat---lelaki tambun, yang merupakan kakak dari Jihan sekaligus paman angkat Gemilang---menggeleng pelan dengan dendam tersembunyi dalam diri Gemilang. Ruhyat jugalah yang mengeluarkan Ricky juga Gemilang dari penjara. Ia merasa bahagia dengan ambisi Gemilang menghancurkan keluarga Kailos. Sejujurnya, ia juga memiliki dendam pada Kailos terlebih lagi pada Fedrik. Bukan masalah pribadi, melainkan dalam dunia bisnis dan monopoli perdagangan perusahaan masing-masing. Melalui Gemilang, perlahan ia bisa melihat kehancuran musuhnya sendiri. Apalagi saat mendengar kematian Kailos, senyum miring terbingkai di wajah. Kematian yang disengaja dan kecelakaan yang dibuat-buat. Tidak ada yang mengetahui kejadian sebenarnya di balik kecelakaan Kailos hingga berujung masuk rumah sakit. Mau itu Gemilang atau anak Kailos sendiri. "Apa rencanamu selanjutnya, Lang?" tanya Ruhyat. Ia perlu mengawasi gerak-gerik Gemilang, takut sewaktu-waktu laki-laki muda itu goyah dengan dendamnya sendiri. Apalagi sekarang, Gemilang sudah dipertemukan kembali dengan ibu kandungnya. Gemilang bersandar di kursi kebesarannya. Menatap langit-langit ruang kerja miliknya. Seulas senyum tipis terbingkai di wajah. Ruangan yang ditempati merupakan perusahaan milik keluarga Alze yang jatuh di tangannya. Entah mengapa ia jadi merindukan Alze teman berengseknya yang berani menyentuh Hanara. Rasanya tidak seru sama sekali melihat Alze tumbang dengan cepat, daripada Keenan. Dalam kepalanya, ia sudah menyusun beberapa rencana untuk membuat Keenan kembali menderita. Dimulai dari pendekatan dengan Dista, Yati, dan Rayjen. Lalu menciptakan kesalahpahaman kembali antara Keenan dan Rayjen. Sangat seru melihat dua saudara sepupu itu saling bertengkar. Gemilang jadi ingat pertengkaran Rayjen dan Keenan saat di Kosan yang ia sewa. Keenan yang tak melawan dan Rayjen yang begitu emosi. Jangan lupakan juga tatapan kecewa dari Dista. "Kau selalu sulit ditebak, Lang," ujar Ruhyat sembari mengeluarkan rokok dalam saku jas yang dikenakan. Menyalakan api di ujung puntung rokok tersebut, lalu mengisap menciptakan kepulan asap. Gemilang menatap Ruhyat dengan datar. Untuk masalah pribadi dengan Dista dan keluarga Yati, ia enggan berbagi lagi pada Ruhyat. Ingin melakukan sesuka hati tanpa bantuan dari sang paman lagi. "Keenan ... seru kayaknya kalo gue bikin ibu lo menderita lagi. Misalnya jadi gila," batin Gemilang. Sudut bibirnya mengulas senyum licik, tidak sabar menjalankan rencana yang sudah disusun dengan rapi. *** Keenan mengulas senyum senang melihat Dilara sudah mulai beraktivitas seperti biasa. Seperti memasak sarapan atau beres-beres sesuka wanita itu. Meski ia sudah melarang agar tidak mengerjakan sesuatu yang berat. Akan tetapi, Dilara bersikeras bahwa yang dikerjakannya sama sekali tidak memberatkannya. "Kamu sudah tahu mau melamar pekerjaan di mana?" Dilara yang baru kembali dari halaman belakang, kini ikut duduk di samping Keenan yang tengah fokus mencari loker di koran serta internet. Tadi pagi, sekitar jam delapan. Keenan kembali pulang hanya untuk mengambil barang-barangnya. Dari mulai pakaian hingga dokumen penting untuk melamar pekerjaan. Walaupun kehadirannya tak ditanggapi oleh Dista. Membuat Keenan mengembuskan napas panjang saja melihat sikap dingin dari sang mama. Selanjutnya ia mampir di rumah Rayjen untuk mengambil pakaian Dilara. Tak lupa juga dengan pertengkaran kecil dan sindiran untuk laki-laki itu. Jujur saja, ia masih belum terima apa yang dilakukan Rayjen ke wajahnya. Ditambah dipermalukan di depan orang yang tidak dikenal. Keenan menegakkan tubuh. Menoleh menatap Dilara dengan senyum tipis. Sejak kembali mengambil barang-barang yang diperlukan. Keenan belum menemukan pabrik atau perusahaan yanh sedang membuka lapangan pekerjaan. Walaupun ada, malah sudah terisi. Dilara paham dengan senyum tipis dari wajah laki-laki itu. Ia menepuk pelan bahu laki-laki itu. "Enggak apa-apa. Bersabar, mungkin aja lusa atau nanti kamu akan menemukan lowongan kerja yang kamu mau." Keenan mengangguk. Mengedarkan pandangan ke sudut ruangan. Mencari sosok Ajil yang sama sekali belum keluar dari kamar sejak ia pergi. "Ajil ke mana, Ra?" "Ajil tadi pas kamu izin pergi. Dia juga pergi keluar, dia enggak bilang mau pergi ke mana," ucap Dilara. Keenan mengangguk mengerti. Ia yakin pasti Ajil sedang mendapatkan tugas dari pelanggannya. Tak mau memusingkan, Keenan kembali mengecek internet mencari lowongan kerja lainnya. Sementara Dilara, sibuk melihat-lihat dokumen yang berserakan di atas meja. Pandangan Dilara tertuju pada sebuah kalung berliontin bintang mata satu. Ia kenal betul kalung siapa itu. Kalung yang pernah Keenan kasih kepada dirinya. Ia pikir laki-laki itu sudah membuang saat dirinya memutuskan pergi. "Gue masih simpan, kok. Enggak rela juga buat dibuang," kata Keenan menyadari objek yang sedang diamati oleh Dilara. Tanpa Keenan sadari, sudut bibir Dilara mengulas senyum kecil. Ia mengambil kalung tersebut dan memakainya kembali. Keenan melirik sekilas, mengulas senyum lebar pada Dilara. "Apa maksudnya, nih? Lo nerima gue lagi?" Dilara menggeleng pelan. Ia masih belum bisa menerima Keenan. Masih ada keraguan dalam diri menerima Keenan. "Sayang kalo enggak dipake. Ya sudah lanjut lagi cari lokernya. Aku mau masak makan siang dulu," ucap Dilara sembari beranjak dari duduk meninggalkan Keenan sendiri di ruang tamu. Setidaknya dengan begitu, Dilara perlahan bisa melupa dan tidak larut dalam kesedihan. Tatapan Keenan tertuju pada kaset rekaman dari Alze yang belum sempat didengar. Ia mengambil kaset tersebut, lalu membawa ke dalam kamar bersama laptop miliknya. Memutar kaset tersebut dalam kamar. Takut kalau isi rekaman itu ada sangkut-pautnya dengan Hanara. "Keen, ini gue Alze. Sejujurnya gue mau minta maaf sama lo. Maaf yang sebesar-besarnya karena udah nutupin kelakuan bejat gue. Apalagi kelakuan yang enggak bisa dimaafkan sama lo dan Hanara. Gue nyesel pernah ngelakuin itu sama Hanara. Awalnya gue mau tanggung jawab sama kesalahan yang gue buat pada Hanara, tapi ...." Keenan memejamkan mata merasakan rasa sesak dalam benak. Siluet wajah rapuh dan tak berdaya dari Hanara terlintas. Tepat saat mereka bertengkar hebat hanya karena pengkhianatan yang Hanara lakukan serta kabar kehamilan dari wanita itu. Terlebih lagi, orang yang menghamili Hanara merupakan teman baik di kampus. Menambah rasa sakit hati dan hilangnya respect pada Alze. "Di sini gue ngaku salah, Keen. Dan di sini lo perlu tahu kalo Gemilang ...." Lagi-lagi kalimat yang akan dikatakan oleh Alze menggantung membuat Keenan mengernyitkan dahi saja. Suara pecahan kaca terdengar dari rekaman tersebut. Membuat Keenan menegakkan posisi duduknya. Samar-samar oa mendengar perkelahian dalam rekaman tersebut. Apalagi suara pukulan keras yang sepertinya menimpa kepala. "Enggak usah sok jadi baik. Ungkapin semua kesalahan lo, bodoh! Hanara mati gara-gara lo juga Keenan! Lo mau ngasih tahu Keenan? Kalo gue jahat, hah?!" Mata Keenan membulat, itu suara Gemilang. Jadi, sebelum Alze meninggal. Laki-laki itu terlibat perkelahian dengan Gemilang? Benar-benar membuat Keenan emosi saja. "Keen ...! Musuh sesungguhnya yang lo punya itu Gemilang! Karena dia punya dendam sama bokap lo. Nyokap lo itu merupakan ibu kandung dia dan dia ... Akh!" Sungguh, rasanya benar-benar emosi mendengar pertengkaran dalam rekaman tersebut. "Sialan!" Keenan mematikan rekaman tersebut. Beranjak dari duduk sembari hilir-mudik dalam kamar. Namun, yang dibingungkan mengapa polisi mengatakan bahwa kematian Alze merupakan overdosis obat dengan dosis yang tinggi. Bahkan polisi tidak menemukan luka serius di tubuh Alze. "Sumpah ganjal!"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
luar biasa
31/05
0sangat memuaskan
21/01
0bagus
07/01
0Lihat Semua