Keenan memandang tubuh Kailos yang terbaring dengan perban di kepala serta tangan. Ada rasa kasihan juga iba saat melihat orang yang paling dihormati malah terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Elusan di tangan kiri membuat Keenan menoleh samping mendapati Dilara tengah mengulas senyum menguatkan. "Jangan khawatir, Keen. Bukankah, kata Gemilang tadi. Papamu akan sadar besok?" Keenan hanya menanggapi dengan senyum tipis. Masih belum mempercayai kalau Gemilang telah membantu sang papa sampai di rumah sakit. Ia berjalan keluar dari ruangan sang papa, diikuti oleh Dilara dari belakang. Keduanya duduk di taman rumah sakit. Menatap orang yang sedang berlalu-lalang, anak kecil bermain, dan panti jompo yang tengah menikmati udara segar. Sibuk dengan pemikiran masing-masing. Rasa canggung masih menyelimuti benak Keenan, begitu juga dengan Dilara. Dilara merasa takut goyah dengan perasaannya sendiri. Ia sudah mulai bisa melupakan Keenan secara perlahan. Namun, apabila keduanya kembali dipertemukan. Maka perasaan tersebut bisa goyah kapan saja. Padahal hati Dilara sudah lelah, tidak ingin mengharapkan sesuatu yang berlebihan. Takut kalau peristiwa di masa lalu malah kembali terulang di masa depan. "Kalo seandainya Tuhan menjodohkan kita, lo maunya gimana, Ra?" Pertanyaan Keenan memecahkan keheningan yang tercipta. Mulut Dilara mengatup. Tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila mereka berjodoh. Apakah sikap kasar Keenan masih kentara atau sudah sedikit berkurang? Dilara takut kalau suatu saat mereka berjodoh, yang ada dalam hubungan keduanya hanyalah penderitaan saja. "Tapi kayaknya mustahil, ya," kelakar Keenan sembari terkekeh. Padahal tidak ada yang lucu sama sekali dalam pembicaraan mereka. Sorot mata Dilara tertuju pada seorang wanita paruh baya tengah mendongengkan seorang anak perempuan berusia sekitaran lima tahun. Tanpa sadar, tangannya mengelus perut rata di mana ada kehidupan di dalam rahimnya. Seulas senyum tipis terbingkai bila mengingat sejauh mana ia melangkah hingga mendapatkan hidup yang layak bersama Rayjen. Keenan yang sedari tadi memperhatikan Dilara hanya mengulas senyum kecut. Kalimat sang mama terngiang di kepala, bahwa ia tidak boleh lagi mengharapkan Dilara. Apalagi sampai merebut kebahagiaan wanita itu. Biarkan Dilara memilih jalannya sendiri. Namun, jauh dari lubuk hati Keenan paling dalam, ia masih belum bisa merelakan. Mulut mungkin mengatakan 'ikhlas' dan yakin bisa melepas, tetapi tidak dengan hati. Hati masih menginginkan wanita itu. Setelah Hanara pergi, hanya Dilara yang mampu menggantikan goresan nama di hati Keenan. Wanita itu juga yang sudah membuat Keenan merasakan sakitnya kehilangan dan patah hati berulang kali. Keenan salut pada Rayjen, bisa merebut Dilara darinya. Terlebih lagi, mengikat dengan janji suci pernikahan. Andai saja dulu, Keenan bisa mengendalikan emosinya. Mungkin sampai saat ini, ia akan memiliki Dilara seutuhnya. Ah, mau bagaimana lagi? Toh, jalannya sudah seperti ini. Mustahil Keenan menginginkan ekspetasi tersebut. "Keen, dulu ... saat masih bersama. Kamu tidak pernah mau mengajakku bertemu dengan ayahmu. Bahkan aku tidak tahu-menahu mengenai keluargamu." Dilara berucap, mengalihkan topik pembicaraan yang dibawa oleh Keenan. Keenan mengembuskan napas panjang. Seakan-akan sedang memikul beban berat dalam hidup. Sejujurnya ia ingin berbagi cerita pada Dilara. Hanya saja, ia membutuhkan waktu yang tepat untuk memulai cerita itu. Nyatanya mereka keburu berpisah. "Karena bokap gue enggak suka lihat lo. Dia punya ambisi buat ngejodohin gue sama Carlisa. Ambisi dia di latar belakang keluarga hingga harta. Inget, pas lo hampir di tampar sama dia?" Keenan memandang ke depan, binar sendu kini terpatri di balik manik matanya. "Dia sudah tahu tentang hubungan kita. Dia juga sering banget ngawasin gue di kampus. Soal keluarga?" Keenan tertawa sumbang. Bahkan lupa apa itu 'keluarga', merasa mustahil bisa berkeluarga nantinya. Takut tidak bisa menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan sebagai kepala keluarga yang baik untuk anak-istrinya nanti. Akan tetapi, siapa yang mau menerima Keenan? Siapa yang mau menerima apa adanya tanpa melihat harta? Kalau soal jodoh, sepertinya masih abu-abu dalam kehidupan Keenan. Ia tidak mau memusingkan soal itu, selagi sang ibu masih ada di sisinya. Keenan mendongak kala merasakan kehangatan dalam genggaman tangannya. "Aku mengerti, Keen. Kamu terlalu banyak memakan luka, 'kan? Terlebih lagi kamu selalu dipaksa oleh papamu agar menjadi anak berbakti, pintar, dan kebanggan, bukan? Dan mamamu hampir gila karena papamu? Aku tidak memaksa kamu buat bercerita, hanya saja. Dulu aku merasa kecewa, padahal kamu memiliki aku sebagai tempat kamu bersandar. Sedangkan kamu malah memilih memendam daripada berbagi sama aku." Dilara mengeratkan genggaman tangan pada Keenan. Menatap penuh arti pada laki-laki, berusaha menenangkan. Keenan membalas genggaman tangan tersebut. Sudut bibir tertarik ke atas membentuk senyuman kecil. Mengapa harua seperti ini? Keinginan untuk memiliki malah semakin menggebu dalam benak. "Makasih banyak, sudah mau ngertiin gue." Keenan melepaskan tangan tersebut. Mengubah posisi duduk menjadi tidak bersandar di kepala kursi. Membuang tatapan ke arah lain demi menghindari kontak mata dengan Dilara. "Apa ada yang bakalan terima gue apa adanya? Dan sanggup menghadapi sifat gue?" Lama terjeda, Keenan mengajukan pertanyaan yang masih membingungkan bagi hatinya. Tidak yakin ada seseorang yang mau menariknya keluar dari kubangan keterpurukan dan luka masa lalu. Sekalinya ada, orang itu malah pergi meninggalkan untuk selama-lamanya. Dilara menepuk pelan bahu Keenan. Mengembuskan napas kasar sembari menatap ke arah depan. "Jodoh sudah ada yang mengatur. Kita hanya perlu memperbaiki akhlak dan memantaskan diri." Keenan bergeming. Rasanya kalau membahas soal perasaan tidak akan pernah selesai. Dari setiap pembicaraan yang dirundingkan selalu terkesan menyakitkan. "Soal kematian Alze, kamu tahu penyebabnya?" Dilara bertanya, berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia merasa bahwa Keenan merasa tak nyaman dengan obrolan mereka yang tadi. "Tahu, ada sangkut-pautnya sama gue. Bahkan polisi malah ngecurigain gue, karena dalam panggilan telepon Alze itu kontak terakhir yang dihubungi yaitu gue. Sampe mereka masang beginian." Keenan menunjukkan gelang gps ke hadapan Dilara. Gelang yang berguna memantau dan melacak keberadaannya dari kantor polisi. Dilara memegang tangan Keenan untuk lebih jelas melihat gelang tersebut. Lalu kembali menurunkan tangan Keenan. "Kok bisa?" Dilara masih belum mengerti. "Iya, karena rekaman CCTV hotel itu menyorot dua laki-laki. Satu sudah ketahuan, yang satu bertudung. Mereka mengira itu gue. Soalnya kematian Alze menyebutkan nama Hanara salah satu mantan gue," ucap Keenan menjelaskan sembari menatap Dilara dengan tatapan yang sulit diartikan. "H--hanara?" Sungguh, baru kali ini Dilara mendengar Keenan mengucapkan nama sang mantan kekasih. "Jadi, kematian Alze juga terhubung sama Hanara?" "Lo tahu hubungan pertemanan gue, Alze, dan Gemilang itu cuma formalitas. Dulu kita dipertemukan melalui organisasi di kampus. Cuma gue yang terlibat konflik sama Alze, demi menutupi dari publik. Gue sama dia seakan-akan enggak terjadi apa-apa." Keenan menjelaskan, percuma juga kalau ia kembali menyembunyikan. Dilara mengerti sekarang. Mengapa Keenan enggan mengakui hubungan mereka kepada publik, kemungkinan saja laki-laki itu takut terjadi konflik lagi dalam pertemanannya. "Kamu sama H--hanara pacaran diam-diam?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Dilara. "Iya, sama kayak lo. Tapi Hanara terlalu baik dan bisa jatuh ke dalam pelukan Alze. Maka dari itu gue enggak suka lo dideketin sama laki-laki lain di kampus." Dilara mengangguk mengerti. Pantas saja kalau Keenan sering marah melihat ia diusili oleh Alze. Ternyata kedua laki-laki itu sempat terlibat cinta segitiga. "Gue enggak suka pengkhianatan, Ra. Apalagi dibohongi." *** Sad banget, sih, kalo kebanyakan tipo:( Jangan lupa dukungannya:(
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
luar biasa
31/05
0sangat memuaskan
21/01
0bagus
07/01
0Lihat Semua