Sungguh, berbagai memori masa silam kini berputar di kepala. Membuat rasa sakit kian menyelimuti. Dista memegangi kepala, berusaha menggali setengah ingatan yabg hilang. Sementara di ruang tamu, suasana mendadak mencekam. Berbagai tatapan tajam dilayangkan, saling menatap penuh permusuhan. Kilatan amarah terpatri di balik mata masing-masing. Amarah itu bisa lepas kendali kapan saja. Otak Keenan buntu, ia melirik pada Gemilang serta Kailos. Tatapan keduanya tampak tak biasa, seolah memiliki dendam pribadi. Membuat berbagai pertanyaan berputat di kepala. Ingin menanyakan langsung pada mereka, tetapi rasa gengsi kini lebih mendominasi dirinya. "Putra Aryandi," gumam Kailos sembari mengulas senyum miring. Gemilang tak merasa terancam sama sekali. Bahkan ia malah menatap berani pada Kailos. Ekor mata melirik pada Keenan yang berdiri di belakang sambil berusaha memahami situasi sekarang. Gemilang menyamping, menatap sekilas pada Dista. Lalu menepuk tangan dengan pelan, tak lupa juga seulas senyum smirk menghias wajah. Kerutan di dahi Keenan semakin berkerut, masih tidak paham maksud dari kata-kata Gemilang. "Saya bersyukur, karena dipertemukan dengan 2 orang pembunuh," ucap Gemilang, nada bicara terdengar penuh dengan penekanan. "Pertama seorang ayah membunuh karyawannya sendiri. Kedua anaknya, yang membunuh kekasihnya sendiri." Sontak saja kerutan di dahi mengedur. Keenan menatap Gemilang dengan keinginan tahu. Kemudian, menatap pada sang papa yang tampak begitu tenang. "Enggak usah bertele-tele. Langsung pada intinya, maksud lo apa?!" Nada bicara Keenan naik satu oktaf, matanya memerah menyiratkan ia lelah menahan emosi dalam diri. "Bokap lo pernah ngebunuh karyawannya sendiri. Orang yang dibunuh ialah bokap gue sendiri," ujar Gemilang dengan lirih diakhir kalimat. Bagaikan di sambar petir di siang bolong. Keenan menatap tak percaya pada Kailos serta Gemilang. Membunuh? Perasaan ia sama sekali belum pernah mendengar kasus tersebut. Terlebih lagi ia tak terlalu dekat dengan sang papa sedari umur delapan tahun. "Percuma berbicara tanpa bukti," sahut Kailos dengan tampang tenangnya. Sorot matanya tertuju pada Dista yang tengah duduk sambil memegangi kepala. "Bukti?" Gemilang tertawa. Bahkan saat ia memasuki masa putih abu, ia sudah mengumpulkan bukti mencari tahu kematian sang ayah. "Saya memiliki bukti, bahkan bukti tersebut sangat kuat. Bisa saja menghancurkan karir serta kehormatan keluarga Anda." Dengan angkuhnya Gemilang memberitahu bahwa ia memiliki bukti, bahkan lebih dari satu bukti. "Penjahat tetap penjahat, dia enggak akan mengaku kalo buat salah," cibir Gemilang. "Maksud lo ... si tua bangka---" "Anak durhaka! Kurang ajar! Berani sekali kamu mrnyebutku si tua bangka?" Suara Kailos menggelegar di sudut ruang tamu. Sontak saja membuat Dista terkelonjak terkejut menatap ke arah depan. Matanya sembap oleh air mata. Menangis mengingat separuh ingatannya kembali, meski masih terlihat buram. "Lo enggak tahu apa aja kebusukan bokap lo sendiri? Dia itu kejam, sama kejamnya ke lo." Lagi-lagi kalimat yang dilontarkan oleh Gemilang mampu membuat Keenan emosi. Susah payah Keenan mengendalikan emosinya sendiri. Jika sekarang ia melampiaskan amarahnya, maka masalah tidak akan pernah selesai. Masih ada yang perlu dibereskan. "The point!" bentak Keenan. Jemarinya mengepal guna meredakan emosi dalam diri. "Dia pembunuh bokap gue, Aryandi. Dan merebut ibu gue, ibu yang ninggalin gue sejak kecil. Dia lebih milih tinggal sama laki-laki kejam dan bajingan kayak dia. Enggak lama kemudian lo dikandung sama nyokap gue, benih dari si bajingan itu. Enggak salah sih, bibit unggul. Lo sama dia sama-sama bajingan!" Suara tamparan terdengar cukup keras. Pipi Gemilang terayun ke kanan, sudut bibir robek akibat tamparan tersebut. Seulas senyum smirk kembali menghias wajah. Menatap menantang pada Keenan si pelaku menampar itu. "Kenapa? Kaget? Bukannya ini yang mau lo denger?" Bukannya melerai, Kailos malah menjadi penonton melihat pertengkaran dua anak muda di depannya. Sangat disayangkan bila dilerai tanpa ada aksi saling memukul satu sama lain. "Bahkan saat lo masih dalam kandungan, si bajingan Kailos sering memasukkan obat Benzodiazepin yaitu obat anti kegelisahan, efek Efek samping obat ini bisa mempengaruhi memori jangka pendek maupun panjang. Sebelumnya nyokap lo sempat mengalami kecelakaan yang menyebabkan adanya benturan di kepala membuat setengah ingatannya hilang. Tapi itu malah dimanfaatin sama Kailos supaya nyokap lo lupa sama masa lalunya." Keenan tak berkedip sama sekali mendengat penjelasan dari Gemilang. Ia menatap pada sang mama yang tengah duduk sambil memegangi kepala, mungkin sedang menahan rasa sakit. "Lo tahu dari mana?" tanya Keenan begitu pelan. "Masa remaja gue udah direnggut secara paksa. Gue harus kerja demi bisa memenuhi kebutuhan hidup serta mencari tahu kebenaran dari kematian ayah gue. Dan mencari tahu keberadaan ibu gue. Kebenaran itu gue dapat dari salah satu orang terpercaya dalam keluarga lo." Senyum miring ia berikan untuk Kailos. Kailos langsung menegakkan badan menatap tak percaya pada Gemilang. Sungguh, anak yang luar biasa berani menantangi dirinya. Ia berjalan menghampiri, berdiri dengan arogan di hadapan Gemilang. "Tidak ada gunanya memberitahu kebenaran," tutur Kailos. "Salah besar! Masih untung dia memberitahu kebenaran dari kelakuan busukmu, Kailos!" Suara Yati menggema di ruang tamu. Membuat semua atensi tertuju ke arah pintu, di mana Yati tengah berdiri dengan dua anak buah Kailos yang tadinya berdiri di sudut sisi kiri dan kanan pintu. "Kau anak tidak tahu diri. Dari semua harta warisan, yang sepenuhnya mendapatkan banyak yaitu dirimu. Dan kau juga merampas hak waris anakmu sendiri." Yati begitu murka, berjalan menghampiri Dista yang sedang kesakitan. Tangan keriputnya terulur menyentuh kepala Dista, mengulas senyum kecil menenangkankan. Kemudian, menatap pada ketiga laki-laki yang ada di satu ruangan yang sama. Niat hati ingin menjenguk, malah dikejutkan dengan pertengkaran ketiga laki-laki itu yang membahas soal masa lalu. "Dulu, Mama tidak percaya sama kamu ingin menikahi Dista. Laki-laki berengsek seperti dirimu tidak akan pernah berubah. Salah apa aku padamu, Ka? Sampai kamu berbuat senekat ini bahkan begitu buruk!" Yati menatap sendu pada Kailos. Merasa gagal mendidik seorang anak laki-lakinya. Kailos tampak masa bodoh, menatap sinis pada ibunya sendiri. "Fedrik dan Aryandi, itu masalahnya hingga membuat saya terasingkan." Keenan mengerti sekarang, mengapa sang papa begitu temperamen, kasar, dan sering main tangan. Ternyata ada luka yang didapat dari masa kecilnya. Akan tetapi, mengapa kelakuan laki-laki harus berujung pada dirinya? "Saya meminta maaf sama kamu tentang kematian Aryandi. Sungguh, saya tidak tahu bahwa Aryandi itu suami Dista," ucap Yati seraya menatap pada Gemilang. "Maaf? Dulu ke mana saja? Bukankah kalian mengatakan bahwa kasus tersebut hanya kecelakaan?" Gemilang tertawa miris, di saat dirinya mati-matian mengatakan bahwa kematian sang ayah itu ada kejanggalan. "Sungguh aku merasa jijik melihat drama dari keluargamu," papar Gemilang mengulas senyum mengejek. Lalu beranjak pergi keluar dari rumah penuh dengan drama itu. Keenan ingin mengejar, karena ada satu masalah yang beluk tereselesaikan. Kata Gemilang ia juga seorang pembunuh, tetapi ia tak merasa pernah menyakiti seseorang. Namun, ingatannya malah tertuju pada Hanara. Atau mungkin maksud Gemilang ialah penyebab meninggalkan Hanara ada sangkut-pautnya dengan Keenan? Maka iya, Keenan perlu penjelasan dan memberitahu pada Ajil tentang masalah ini. Namun, keinginan ingin mengejar Gemilang tertunda. Sang papa malah mencegahnya dengan menarik tangan secara kasar dan paksa. Mau tak mau Keenan tetap tinggal, mengawasi gerak-gerik Kailos di sini. "Sialan! Satu jengkal lagi gue bakalan tahu penyebab kematian Hanara, apa dia meninggal karena putus asa gara-gara gue enggak mau bantu dia dan bertanggung jawab menggantikan Alze?" Keenan membatin.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
luar biasa
31/05
0sangat memuaskan
21/01
0bagus
07/01
0Lihat Semua