Atmosfer dalam ruang tamu mendadak mencekam. Keenan mengepal tangan guna meredakan emosinya. Tatapan tajam tertuju pada Gemilang, benar-benar menguji sedang menguji kesabaran Keenan saja. Sementara Dista, ia bersusah payah mengingat siapa siluet wajah dari dalam bayang-bayang yang sering menghantuinya. Membuat ia selalu diliputi oleh rasa bersalah. Gemilang tampak begitu tenang, sepertinya permainan akan kembali dimulai. Ingin melihat sejauh mana Keenan menahan emosinya sendiri. Dengan gerakan cepat, Keenan berdiri. Menghampiri Gemilang sembari menarik kerah jaket yang dipakai oleh Gemilang. Lagi-lagi seulas senyum penuh kepuasan terbingkai di wajah Gemilang. "Ngelihat sikap lo yang kayak gini, gue curiga kalo dalang dari aksi penembakan gue," ucap Keenan mengepalkan tangan di kerah jaket Gemilang. Bukannya merasa takut karena sebentar lagi rahasia akan terbongkar, Gemilang malah tertawa kecil. Lalu melepaskan cekalan tangan Keenan di kerah jaketnya. Berkacak pinggang menatap Keenan dengan sinis. "Gue? Dalangnya? Punya bukti kuat?" Gemilang mengulas senyum meremehkan. Kini tak ada lagi wajah kalem dari sosok Gemilang. Wajah itu terganti dengan seringai licik serta wajah menyebalkan yang pernah dilihat oleh Keenan. "Gue punya bukti. Dugaan gue kuat bahwa kematian Alze ada hubungannya dengan lo," ujar Keenan sembari mengulas senyum sinis menatap pada Gemilang. Gemilang tidak peduli, ia malah melangkah mendekati Dista. Duduk di samping wanita paruh baya itu. Keenan kalah cepat, ia berwaspada dengan apa yang akan dilakukan oleh Gemilang selanjutnya. Tiba-tiba saja pintu rumah tertutup dengan keras. Membuat Keenan dan Dista menoleh ke arah pintu. Seorang laki-laki paruh baya yang dibenci oleh Keenan berjalan masuk dengan santainya. Di belakang laki-laki itu terdapat lima anak buah berbadan kekar dan dua orang lagi berdiri di sisi pintu. Mata Keenan membola terkejut. Perasaan ia belum memberitahu alamat rumah yang baru pada keluarga yang lain, termasuk Fedrik sendiri. Mengapa Kailos bisa tahu alamat rumahnya? Bahkan sampai mengajak anak buahnya. Gemilang mengulas senyum licik melihat raut keterkejutan serta kebencian dari wajah Keenan pada Kailos. Ia menepuk tangan sembari tertawa, seolah-olah yang tengah dilihatnya ialah sebuah drama pertemuan sang anak dan papa. Atensi Keenan kini tertuju pada Gemilang. Lalu tertuju pada Dista yang malah menunduk dalam sembari memegangi kepala. Rasa khawatir menyelimuti benak, Keenan menghampiri. Bertimpuh di hadapan Dista sembari menangkup wajah pucat sang mama. "Aku iri padamu, Dis! Kau begitu licik merebut anakku sendiri!" Nada bicara Kailos naik satu oktaf kala melihat kekhawatiran di balik manik mata Keenan. Ia cemburu dengan kedekatan tersebut, bahkan tidak menyukainya. Dista menatap ke arah sumber suara. Tangan yang tadinya memegangi kepala, kini berbalik menggenggam tangan Keenan. Takut kalau Keenan kembali direbut. "Hei, Keen! Aku iri padamu yang diperebutkan oleh kedua orang tuamu." Gemilang tersenyum mengejek. Ia beranjak dari duduknya, menatap bergantian pada Keenan dan Kailos. "Tidak menyangka saya akan bertemu denganmu di sini, Gemilang," ujar Kailos mengulas senyum sinis pada Gemilang. Dengan santainya, ia berjalan menghampiri Kailos. Tatapan laki-laki itu menajam, tak ada respons takut sama sekali saat berhadapan dengan Kailos. Membuat Keenan mengernyitkan dahi dengan heran. Berbagai pertanyaan random memenuhi kepalanya. "Kalian saling kenal?" Keenan bertanya, menatap bergantian pada dua orang yang tengah saling berhadapan. Entah mengapa hatinya mengatakan bahwa kedatangan Kailos karena ajakan dari Gemilang. "Iya, aku mengenal dia. Laki-laki bajingan yang telah merebut ibuku dari ayah!" Tatapan Gemilang menajam, rasa ingin membalaskan dendam pun kian membara dalam benak. Orang yang telah membuat dirinya seperti yatim piatu kini berdiri di hadapannya. Sejak Dista pergi di usianya yang satu tahun. Gemilang kecil diasuh oleh Aryandi juga Bu Hera---ibu dari Hanara---sampai sang ayah mengembuskan napas terakhir di usia Gemilang dua belas tahun. Ada peristiwa aneh dalam kematian sang ayah, seolah-olah kematiannya memang sudah direncanakan. "Maksud lo apaan, sih? Sumpah, kejadian ini berasa teka-teki buat gue," ucap Keenan yang tak mengerti ke mana arah pembicaraan Gemilang. "Kau memang bodoh, Keen! Ibu yang dia maksud ialah wanita gila yang kau anggap sebagai ibu itu," timpal Kailos dengan tenangnya. "Jangan sebut Ibuku gila!" bentak Keenan begitu murka. *** Dilara merasa senang, karena setiap kali ia menginginkan sesuatu maka Rayjen selalu siap mencarikan apa yang dimau. Namun, yang tak mengenakkannya ialah saat ingin melakukan pekerjaan runah. Rayjen selalu melarang begitu juga dengan Nova. Mereka kompak melarang apa yang tidak boleh Dilara lakukan. Mengingat ia sedang hamil muda rentan dalam keguguran. "Mbak, aku bosan." Sudah kelima kalinya kalimat itu yang terlontar dari mulut Dilara. Memang sedari tadi ia dan Nova sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton TV. Sementara tugas pekerjaan rumah sudah diselesaikan oleh Nova, sebagiannya lagi oleh pembantu. Jika terus berdiam diri tanpa mengerjakan sesuatu, mungkin saja tubuh Dilara akan terasa keram. Sungguh, Dilara tidak terbiasa bermalas-malasan. Apalagi ia ingin sekali memasak, mencuci piring dan pakaian, atau melakukan apa pun itu. Namun, dua orang di rumah malah melarang. "Mau jalan-jalan?" tanya Nova menatap Dilara dengan wajah senang. Dilara menggeleng pelan. Jika sedang hamil, emosi Dilara pun menjadi tak stabil. Bahkan sering kali plan-plin menginginkan sesuatu. "Lalu apa yang kamu inginkan selain jalan-jalan?" Nova mengembuskan napas pelan. Ia dan Rayjen sudah sepakat, bahwa Dilara tidak diizinkan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. "Gimana kalo masak bolu saja, Mbak?" Dilara mengusulkan. Lagi pula sekarang ia sangat menginginkan makan bolu buatannya sendiri. "Bolu, ya?" Dilara mengangguk menunggu persetujuan dari Nova. "Boleh. Lagian aku sudah lama juga enggak buat bolu. Gimana kalo kita bikin bolu kukus oreo?" Dilara langsung bersemangat dan antusias saat Nova mengusulkan bolu apa yang akan dibuat. Sebelum membuat, mereka harus mencari bahan-bahannya terlebih dulu. Keduanya sudah bersiap untuk pergi ke supermarket dengan diantarkan oleh supir pribadi Nova. Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya telah sampai di supermarket. Berbelanja mencari bahan yang diinginkan. "Gimana kalo tambah bikin puding orea, Mbak?" Dilara kembali mengusulkan sembari melihat rak makanan dan memasukkan ke dalam keranjang. Ia menunggu persetujuan dari Nova. "Boleh juga. Eh, tapi bahannya sudah cukup ini." Nova melihat keranjang dorong yang tengah dipegang oleh Dilara. "Bikin lebih saja, Mbak. Nanti kita antar ke rumah nenek sama mama. Kalo masih sisa lebih, ya bagus buat anak-anak yatim," ucap Dilara dengan seulas senyum penuh arti. "Kita kasih ke anak-anak panti yang dekat dengan masjid Al-mukhlis saja. Di sebelahnya, 'kan, panti asuhan," lanjut Dilara. "Kamu tahu tentang panti itu?" tanya Nova, padahal tidak ada yang menyadari keberadaan panti asuhan tersebut. "Tahu. Waktu olahraga pagi sama Mas Rayjen, aku enggak sengaja ngelihat anak-anak main di sana. Terus tanya, deh." Dilara sibuk memilih bahan apa saja yang akan ia beli. "Dan Mbak Nova juga sering mampir ke sana." Sontak saja Nova berbalik menghadap pada Dilara. Ia memang sering mengunjungi panti asuhan tersebut tanpa izin Rayjen. Saking menginginkan seorang anak, membuat Nova mengunjungi anak-anak itu. Jika ia izin, ia takut kalau Rayjen tidak mengizinkannya. "Nanti kita mampir sambil bawa bolu dan puding, ya, Mbak."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
luar biasa
31/05
0sangat memuaskan
21/01
0bagus
07/01
0Lihat Semua