logo text

Bab 53 Perihal Ketupat Sayur

Sudah satu bulan Dilara hidup bersama Rayjen. Berbagi suka maupun duka bersama. Namun, tidak selamanya Rayjen berada di rumah atau memanjakannya. Ia sadar diri bagaimana posisinya.
Dilara menatap hamparan halaman belakang. Seharusnya hari minggu, ia habiskan lari pagi atau mengajar anak-anak jalanan guna menghilangkan kejenuhan di rumah. Akan tetapi, sekarang, rasanya begitu malas. Enggan melakukan aktivitas apa pun. Memasak untuk sarapannya sendiri saja rasanya malas.
"Satu bulan. Entah kapan pernikahan ini masih berlanjut," gumam Dilara.
Ingatannya tertuju pada satu minggu yang lalu, pada saat syukuran atas kesembuhan Keenan di rumah Yati. Wajah tampan itu kini tertutupi beberapa bekas luka, kemungkinan luka yang didapat dari pecahan kaca. Bukan ingatan mengenai wajah Keenan, melainkan ucapan tak mengenakkan yang didengar dari ibu mertua sendiri.
"Bisa-bisanya Ray memilih gadis begajulan itu jadi istri keduanya. Pasti gadis bekas dipakai si berandal anaknya si Dista."
Rasanya seperti ada siraman air panas ke ulu hatinya. Merasa direndahkan, tetapi Dilara tak mampu melawan. Ia sadar akan posisinya sebagai siapa. Hanya seorang gadis yatim piatu yang tak memiliki keluarga. Hidupnya pun bergantung pada Keenan dulu.
"Rupanya kamu di sini."
Lamunan itu buyar seketika. Dilara menoleh ke samping kanan di mana Rayjen berdiri dengan menenteng kantung plastik putih. Dilara menyeka buliran bening yang sempat terjatuh dengan cepat.
"Kenapa enggak ngucapin salam?" tanya Dilara mengulas senyum kecil. Beringsut menyamping memberi ruang untuk Rayjen duduk. Keduanya duduk di kursi panjang, Rayjen membuka kantung plastik tersebut yang berisi ketupat sayur.
Dilara mengulas senyum semringah melihat sebungkus ketupat sayur yang tengah Rayjen tuangkan ke dalam mangkuk. Jujur saja, dari semalam ia ingin sekali memakan itu. Akan tetapi, ia tak dapat makanan tersebut.
"Aku sudah mengucapkan salam sedari tadi. Kamunya saja yang tidak dengar," ucap Rayjen sembari menyodorkan mangkuk tersebut untuk Dilara.
Wajah Dilara berbinar bahagia. Ia menerima semangkuk ketupat sayur, mencicipi secara perlahan.
"Maaf, aku enggak dengar," kata Dilara sesudah mencicipi kuah ketupat sayur tersebut.
"Habiskan." Rayjen mengulas senyum kecil melihat Dilara begitu lahap memakan ketupat sayur itu.
Pandangan Rayjen masih tertuju pada Dilara. Memperhatikan sang istri makan. Lalu menyampirkan anak rambut yang mengganggu Dilara makan.
Semangkuk ketupat sayur pemberian Rayjen habis dimakan sendiri oleh Dilara. Bahkan, ia lupa menawari laki-laki itu. Sesudah meneguk air putih yang dibawa oleh Rayjen tadi, tatapan keduanya saling bertemu. Terkunci satu sama lain.
Satu bulan ialah waktu yang sebentar bagi Dilara mengenal sosok Rayjen. Begitu juga sebaliknya. Keduanya sama-sama sudah menerima, melupakan masa lalu. Kini berfokus pada masa sekarang juga masa yang akan datang nanti.
Dilara merasakan kenyamanan pada Rayjen. Rasa aman dan hangat pun selalu ia dapatkan kala laki-laki itu sedang memeluknya. Perlakuan bak ratu Dilara dapatkan, senang diperlakulan seperti itu. Namun, lagi-lagi ... Dilara mesti sadar diri akan posisinya sebagai istri kedua.
Hak sebagai istri terbatas, berbeda dengan istri pertama. Akan tetapi, ia selalu mengucapkan kata syukur karena mendapatkan seseorang yang mampu mengerti dan memahami perasaannya.
"Hei, kenapa melamun?" tanya Rayjen membuyarkan berbagai lamunan yang ada di kepala Dilara.
Dilara menatap lekat Rayjen, senyum tipis terbingkai di wajah. Mustahil, bila ia memiliki rasa pada Rayjen. Ia cuma kagum dengan sikap lembut dan penuh perhatian dari laki-laki itu.
"Makasih ketupat sayurnya." Senyum tulus terbingkai di wajah Dilara.
"Sama-sama. Maaf tidak mengabarimu kemarin kalau menginap di rumah Nova," ucap Rayjen. Dari nada bicaranya, ia tampak menyesal. Memang kemarin Rayjen tak pulang ke rumah, hingga membuat Dilara kesusahan meminta tolong belikan makanan yang diinginkan.
"Enggak apa-apa. Mbak Nova juga 'kan masih butuh, Mas, di sini. Jadi wajarlah dia meminta kamu untuk menginap. Bagaimana dengan pengobatan dan kontrol Mbak Nova?" Dilara mengalihkan pembicaraan. Sehabis subuh tadi, ia mendapatkan pesan whatsapp dari Rayjen bahwa ia akan mampir ke rumah setelah mengantar Nova ke rumah sakit.
"Berjalan baik. Dia juga mesti selalu meminum obat dan vitaminnya. Agar penyakitkan tidak kambuh lagi," jelas Rayjen.
Dilara hanya mengangguk mengiakan. Tiba-tiba saja perutnya terasa tak enak. Seperti mual dan ingin muntah. Buru-buru Dilara berlari ke kamar mandi yang dekat dapur, disusul dengan Rayjen yang terkejut sekaligus ikut khawatir.
"La, kamu tidak apa-apa?" Rayjen mengedor pintu kamar mandi. Rasa cemas menyelimuti benak, takut kalau Dilara kenapa-apa.
Jujur saja, Rayjen merasa aneh dengan dirinya sendiri. Tidak paham bagaimana perasaannya sendiri. Ia mulai bisa membandingkan apabila dekat dengan salah satu istrinya. Setiap malam batin dan otaknya berdebat memikirkan kelanjutan pernikahannya mesti bagaimana.
Pintu terbuka, tampak Dilara dengan wajah lesu sekaligus pucat. Membuat rasa cemas Rayjen semakin berlebihan saja. Segera ia membopong tubuh Dilara untuk duduk di kursi meja makan.
Memberikan segelas air putih pada Dilara. Dilara menerima, meneguk hingga sampai setengah. Pandangannya begitu sayu. Padahal tadi, ia begitu bahagia dan baik-baik saja.
"Kamu yakin tidak apa-apa? Wajahmu pucat, La."
Dilara menggeleng kecil sebagai balasannya. Membuat Rayjen makin cemas saja.
"Mending kita ke rumah sakit saja. Siapa tahu kamu malah keracunan ketupat sayur lagi," simpul Rayjen dengan wajah serius tak biasa. Benar-benar sedang dilanda cemas.
"Oh, jadi, kamu ngasih racun ke ketupatnya?" Mata Dilara mendelik tajam pada Rayjen. Menatap curiga pada laki-laki itu.
"Sembarangan! Siapa juga mau ngeracunin kamu. Ayo, ke rumah sakit." Baru saja ingin protes. Rayjen lebih dulu menggendong Dilara dengan gaya bridal style. Berjalan dari dapur sampai di halaman depan di mana mobil Rayjen terparkir.
"Kalo ngerasa kesakitan atau capek, jangan sungkan buat ngomong. Aku ini suamimu sekarang, La," ucap Rayjen setelah melajukan mobil membelah jalanan kota.
Tanpa sadar, seulas senyum kecil terbingkai di wajah Dilara. Hatinya menghangat mendengar ucapan itu. Semoga saja ke depannya kebaikan selalu menyertai rumah tangganya.
***
Keenan senang bisa satu rumah dan hidup kembali seperti semula dengan sang mama. Meskipun Kailos selalu datang mengancam dan mencari masalah. Sang papa sudah mengetahui kesembuhan Dista saat di acara syukurannya di rumah nenek.
Rasanya belum menerima ketidakadilan yang diterima oleh sang mama. Keenan tak dendam pada Kailos serta keluarga besarnya, hanya kecewa lebih mendominasi dalam diri. Kenapa pada saat Dista diperlakukan kasar hingga mentalnya hancur, keluarga besar malah diam tanpa berniat membantu. Saat Keenan bertanya alasanya, semua kompak menjawab, "Kami tidak tahu kalau Kailos menyiksa istrinya. Dan kami tidak berani ikut campur, karena sifat pemarah Kailos begitu berbahaya". Dan Keenan merutuki sifat pemarah itu yang menurun pada dirinya.
"Enggak baik ngelamun." Tepukan di bahu, menyadarkan Keenan kembali pada dunia nyata. Mengulas senyum kecil kala menatap wajah cantik sang mama. Ketenangan ia dapat saat melihat wajah itu.
"Mikirin apa, Keen? Sampe Mama panggil, kok, enggak nyaut?"
Keenan menggeleng kecil. Enggan memberitahu tentang rasa kecewanya pada keluarga besar sang papa. Bila bukan karena kebaikan om Fedrik, ia enggan menerima bantuan berupa rumah dan separuh biaya pengobatan sang ibu dulu.
"Kalo enggak ada yang dipikirin. Nih, cicipi bolu pisang buatan Mama." Dista memperlihatkan beberapa lotong bolu tersebut di atas piring.
Keenan merasa bahagia, karena sang mama mulai aktif kembali beraktivitas. Satu bulan ini, Dista membuka usaha kue bolu dan kue basah lainnya. Katanya, ingin membantu Keenan mencari uang. Mengingat kondisi Keenan masih belum sembuh sepenuhnya.
"Kamu sudah minum obat, Keen? Diminum, nanti kontrol lagi ke dokter. Apa kamu sudah bisa beraktivitas berat atau belum."
Luka tembak itu sangat terlihat jelas di dada serta punggung. Belum lagi dengan wajah penuh luka akibat terkena pecahan kaca. Keenan memegangi luka tersebut, mengulas senyum kecut. Ia akan mencari tahu siapa dalang dari aksi penembakan tersebut. Untuk pelaku penembaknya sudah tertangkap, dua orang preman yang memiliki latar belakang narapidana, dan Antonio si mahasiswa Jawara salah satu kapten basket.
"Mereka enggak mau ngasih tahu siapa dalang di balik pembunuhan berencana ini," batin Keenan.

Komentar Buku (39)

  • avatar
    BabanganDelia

    luar biasa

    31/05

      0
  • avatar
    bimabima

    sangat memuaskan

    21/01

      0
  • avatar
    M fadli Flow

    bagus

    07/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru