"Kamu enggak apa-apa, Keen?" Dista bertanya seraya menatap khawatir pada Keenan. Pasalnya sedari tadi, laki-laki itu hanya diam tanpa mengatakan apa pun. Bahkan suapan yang diberikan oleh Dista malah ditolak. Kepulangan Rayjen dan Dilara membuat Keenan menjadi melamun. Pikiran Keenan berkecamuk. Menyusun beberapa puzzle yang ia lewatkan selama ini. Dari mulai ancaman, diasingkan di kampus, pertengkaran dengan sang papa, hingga tertembak sampai masuk rumah sakit. Keenan mencoba mengingat kembali siapa yang tidak menyukainya selama ini. Namun, pikirannya selalu tertuju pada Kailos juga ibu tirinya. Ah, tetapi mustahil kalau Kailos ingin melihat Keenan mati. "Keen, temanmu datang." Tepukan di bahu menyadarkan Keenan kembali ke dunia nyata. Ia menoleh menatap sang ibu, lalu beralih menatap ke depan di mana Gemilang tengah berdiri sembari memegang buket buah. "Gimana keadaan lo?" tanya Gemilang dengan seulas senyum tipis. Ia berjalan ke sisi samping kanan, menaruh buket buah di atas nakas. Alis Keenan berkerut, bingung harus merespons bagaimana. Entah siapa yang memberitahu bahwa ia sedang di rumah sakit. "Gue baik. Alze enggak ikut?" Sorot mata Keenan tertuju ke arah pintu, mencari sosok Alze yang biasanya selalu mengekor ke mana pun Gemilang pergi. "Perusahaan bapaknya bangkrut. Kemungkinan dia pindah ke Malang. Itu sih terakhir kali gue denger," dalih Gemilang. Padahal yang membuat perusahaan keluarga Alze bangkrut ialah dirinya. Bersyukur karena pintar dalam bermain trading saham. Keenan hanya mengangguk mengiakan. Entah mengapa sorot matanya selalu tertuju pada wajah Gemilang, sudut bibir laki-laki itu tertarik ke atas tanpa sadar. "Kenapa lo lihatin gue sampe segitunya?" tanya Gemilang merasa tak nyaman akan tatapan tajam dari Keenan. Keenan membuang muka. Pikirannya kembali tertuju pada siluet wajah orang yang tak sengaja ia lihat di rooftop seberang apartemennya. Perawakannya hampir sama dengan Gemilang. "Ini nyokap lo?" tanya Gemilang menatap lurus pada manik mata Dista. Dista menanggapinya dengan seulas senyum kecil. Menutupi rasa aneh yang bergejolak dalam diri kala menatap wajah Gemilang. Merasa tak asing dengan wajah itu, tetapi ia lupa pernah bertemu di mana. "Iya. Ma, ini Gemilang, temen Keenan." Keenan memperkenalkan keduanya. Keenan memperhatikan Gemilang yang sedari tadi menatap Dista dengan tatapan penuh arti. Ia merasa bahwa Gemilang seakan sudah mengenal sang ibu. "Cepet sembuh, ya, Keen. Lo perlu sembuh, agar bisa menghadapi berbagai masalah dalam hidup," ujar Gemilang mengulas senyum penuh arti. Membuat alis Keenan mengernyit dengan bingung. Setelah mengucapkan kalimat itu, Gemilang pamit pulang. Ia perlu rencana lain agar bisa melenyapkan orang yang pernah menyakiti adiknya dulu. "Keen, Mama ngerasa kayak yang kenal sama dia," ucap Dista memecahkan jeda yang sempat tercipta di antara keduanya. Keenan bergeming. Ia juga merasa begitu, dari tatapan Gemilang saja ia peka. Bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh laki-laki itu. Kalau boleh jujur satu-satunya orang yang kalem dan misterius di antara ia dan Alze yaitu Gemilang. Sementara Alze akan terus terang bila tak menyukai seseorang, sedangkan Gemilang berbeda. Itu yang Keenan lihat dan teliti selama berteman dengan mereka. Namun, satu hal yang mengusik pikiran Keenan sekarang ialah kalimat terlontar dari Gemilang. Tidak mengerti maksud dari 'berbagai masalah' ia menjadi curiga dengan sifat Gemilang sekarang. Sorot mata Keenan tertuju pada Dista yang tengah melamun. Seulas senyum kecil terbingkai di wajah, ia menarik tangan wanita tercinta untuk digenggam. Membuat Dista menoleh menatap lekat wajah sang putra. "Jangan melamun, Ma. Selama Keenan sakit, enggak ada orang yang nyakitin Mama, 'kan?" Binar teduh itu begitu kentara dari balik manik mata Keenan. Laki-laki pemarah yang akan luluh bila melihat orang yang dicintainya terluka. "Enggak ada yang nyakitin Mama. Tapi kayaknya yang tersakiti di sini itu kamu, Keen," ujar Dista dengan senyum getir. Ingatan perpisahan antara Keenan dan Dilara terlintas. "Keenan baik-baik saja, Ma." "Mulutmu berkata baik-baik saja. Tapi hatimu? Dia hancur bukan? Melihat Dilara menjadi milik orang lain." Tangan Dista membelai anak rambut Keenan. Sudah lama ia tidak mengelus atau memberi beberapa nasihat pada sang putra. "Kalo kamu sudah tahu Dilara milik orang lain sekarang. Kamu harus bertanggung jawab dengan ucapanmu tadi. Yaitu melepaskan dia, jangan ganggu dia lagi. Apa lagi mencoba membalaskan rasa sakitmu itu. Jangan seperti laki-laki jahat." Suara Dista terdengar parau. Ia mengatakan sesuai dengan kenyataan masa lalunya dulu. Hidup bersama Kailos si laki-laki jahat. Keenan bungkam. Padahal jauh dari dasar hatinya, ia memang akan membalaskan rasa sakitnya. Merebut kembali Dilara dari Rayjen. Akan tetapi, sepertinya ia harus mengubur keinginan tersebut demi sang ibu. "Keenan akan dengarkan omongan Mama. Lihat Mama di sini, ada di samping Keen. Keen sudah bahagia. Jangan sedih dan pergi lagi, ya, Ma," ungkap Keenan melirih. *** Dilara tampak termenung di sofa ruang tamu. Masih tidak percaya bahwa Keenan bisa mengatakan ucapan permintaan maaf sekaligus ungkapan rasa cinta. Ia memejamkan mata, mencoba mengikhlaskan dan menerima Rayjen sekarang. Kini hidup barunya sudah dimulai, menjadi seorang istri kedua. Ia tak yakin kalau pernikahan dengan Rayjen akan berjalan lama. Mengingat Rayjen dan Nova saling mencintai. Dilara harus bisa menguatkan hati, apabila ia memiliki anak dari Rayjen dan laki-laki itu berniat menceraikannya. "Masih memikirkan ucapan Keenan?" Suara bariton penuh kelembutan itu menyapa. Suara yang tak asing lagi bagi Dilara. Ia menatap Rayjen yang tengah duduk di samping. "Enggak," balas Dilara pendek. "Matamu mengatakan hal sebaliknya." Rayjen terkekeh, mengerti rasanya berada di posisi Dilara sekarang. "Enggak apa-apa. Wajar saja, dia cinta pertamamu. Butuh waktu lama untuk mengikhlas dan melupakannya," imbuh Rayjen dengan bijak. Dilara mengembuskan napas pelan. Memandang lurus ke depan. "Melupakan cinta pertama memang tak mudah, malah bertambah amat sakit." Dilara menatap Rayjen dengan penuh arti, mengulas senyum kecil pada laki-laki itu. "Apabila melupakan membuatku merasa sakit hati ... lebih baik, aku memilih untuk mengingatnya agar rasa kesakitan itu terasa tak begitu menyakitkan. Terutama berusaha mengenang kisah yang pernah kami jalani dulu," lanjut Dilara, tanpa sadar buliran bening jatuh dengan sendirinya. Rayjen menatap lekat wajah Dilara. Tangannya menangkup wajah sang istri, menyeka buliran bening tersebut dengan ibu jari. Senyum menguatkan terbingkai di wajah. "Jika menurutmu itu baik, lakukanlah. Jangan membebani dirimu." Rayjen melepaskan tangkupan tersebut. Berusaha menetralisir perasaan aneh dalam benak. "Aku akan menjenguk Nova." Lama saling diam, Rayjen membuka suara. Menoleh menatap Dilara sejenak, lalu kembali membuang muka ke arah lain. "Aku rasa, aku enggak akan pulang. Jadi, jangan memberatkan dirimu untuk masak. Kunci pintu sebelum tidur." Dilara paham. Nova pasti membutuhkan Rayjen, pasti wanita itu khawatir dengan keadaan suaminya yang tengah dipinjam. Hal tersebut membuat Dilara tertawa miris, seperti ada sesuatu yang menggelitik dalam perut. "Pergilah. Dia pasti membutuhkanmu. Jangan memikirkanku, aku baik-baik saja," ucap Dilara dengan tenang. Meski hatinya hancur. Wanita mana yang mau dijadikan kedua bahkan diduakan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
luar biasa
31/05
0sangat memuaskan
21/01
0bagus
07/01
0Lihat Semua