logo text

Bab 45 Keenan Kritis

Sesampai di rumah sakit, segera para suster menyuruh pasien dibaringkan di atas brankar. Mendorong sama-sama hingga memasuki ruang IGD. Dilara tak peduli dengan atensi orang-orang rumah sakit yang menatap dirinya dengan penuh tanya.
Gaun pengantinnya bersibak darah Keenan, apalagi wajahnya. Darah tersebut telah mengering. Sungguh, perasaan Dilara terasa tidak baik-baik saja. Semuanya menjadi satu, cemas, khawatir, dan takut kehilangan bertabur satu dalam benak. Bohong kalau Dilara tak peduli pada Keenan.
Fedrik tampak hilir-mudik di depan ruang IGD. Mengkhawatirkan kondisi sang keponakanan kesayangan. Luka yang dialami bukanlah luka kecil, melainkan besar. Dua kali Fedrik mendengarkan suara tembakan dan tepat mengenai sasarannya; Keenan.
Sementara Rayjen, ia sedang diwawancarai oleh pihak kepolisian demi bisa menangkap pelaku penembakan tersebut, karena yang dilihat sudah termasuk ke dalam kasus pembunuhan berencana. Ia juga mengungkapkan bahwa sebelum hari pernikahannya tiba, seseorang mengiriminya pesan ancaman dari email. Saat ingin melacak, alamat email tersebut tidak ditemukan.
Walaupun Rayjen kesal pada Keenan. Akan tetapi, ia juga peduli. Mau bagaimanapun Keenan tetap saudara satu darahnya. Nova dengan setia menggandeng tangan Rayjen, menemani laki-laki itu dalam wawancara. Tak peduli lagi dengan status sembunyi mereka. Toh, Keenan sudah mengatakan yang sebenarnya.
"Ya Allah semoga Keenan baik-baik saja," gumam Dilara. Wajahnya sudah sembab oleh air mata. Yati yang turut ikut ke rumah sakit, mengelus pelan bahu Dilara seraya mengulas senyum kecil sebagai bentuk menguatkan.
"Dok, sepertinya pasien mengalami luka tembak yang cukup parah. Di sini ada dua peluru yang bersarang dalam dadanya. Segera lakukan tindak operasi untuk mengeluarkan peluru tersebut." Salah satu dokter berwajah blasteran Asia-Jawa menyatakan pendapatnya pada dokter tertua, lebih tepatnya pada Dokter Juan.
"Kamu benar Iko. Namun, pasien juga banyak kehabisan darah. Dan letak pelurunya pun berbeda-beda, butuh waktu lama untuk mengeluarkannya." Dokter Juan mulai membuka kain penutup bagian dada Keenan. Darah masih tampak basah di bagian dada sebelah kanan. Ia mulai meneliti, apa yang harus dilakukan terlebih dulu.
"Bagian punggung pun ada. Tolong kamu bersihkan, setelah itu bersiap masuk ke ruang operasi. Saya akan keluar untuk memberitahukan pada pihak keluarganya." Dokter Juan berjalan menuju pintu seraya melepaskn sarung tangan putih yang melekat di jemarinya.
Pintu IGD terbuka, membuat Dilara yang setengah berlamun segera berlari menghampiri sang dokter. Raut wajah sang dokter membuat perasaan was-was dan takut dalam diri Dilara.
"Bagaimana keadaan keponakan saya, Dok?" Fedrik bertanya dengan ragu, sungguh ia benar-benar khawatir dan takut kalau terjadi apa-apa pada Keenan.
"Kondisi pasien kritis. Kini kamu membutuhkan izin dari pihak keluarga untuk membawa pasien ke dalam ruang operasi agar peluru yang menembus dadanya bisa dikeluarkan. Pasien juga membutuhkan donor darah A negatif, barangkali pihak keluarga ada yang memiliki darah sama bisa mendonorkan." Dokter Juan menerima map berwarna merah yang diberikan oleh suster yang sehabis dari administrasi. Lalu memberikannya pada Fedrik.
"Tolong tanda tangani, agar kami bisa menangani pasien secepatnya," ujar Juan, menyodorkan dokumen tersebut bersama dengan pena.
Fedrik bingung. Ia takut terjadi apa-apa pada Keenan dalam operasi itu, karena pada dasarnya 10% orang yang pernah operasi tidak ada yang selamat.
"Tanda tangan, Fed. Mama takut Keenan kenapa-napa kalau tidak segera ditangani," sahut Yati mengusap lengan kekar Fedrik.
Fedrik mengembuskan napas kasar. Memejamkan mata sekilas, lalu menerima pena sekaligus menandatangi surat tersebut.
Dokter Juan segera kembali ke dalam, sedangkan sang suster berjalan ke arah lain lebih tepatnya ruang administrasi. Pintu ruang IGD kembali terbuka, memperlihatkan tubuh lemah Keenan yang dibantu oleh selang pernapasan juga infus.
Kaki Dilara terasa lemas melihat kondisi Keenan. Ia bertimpuh kala brankar tersebut didorong dengan tergesa-gesa oleh tiga orang suster dan dua orang dokter. Dilara tidak kuat, air mata menganak bagaikan sungai di pipi.
Hatinya benar-benar hancur melihat kondisi Keenan. Sementara Fedrik mengikuti ke arah ruang operasi, bahkan ia lupa mengabari Dista. Ia tahu bahwa sang adik ipar sudah sembuh, tak sengaja ia mampir kemarin ke rumah yang ia beli untuk Keenan. Fedrik takut kalau Dista kembali down bila mendengar kabar Keenan.
"La ...!" Yati memanggil, berusaha menarik Dilara agar bangun dari duduknya.
Namun, Dilara tak mendengarkan. Ia masih bergeming, menangis sesegukan menatap lantai rumah sakit. Ingatan kebersamaan dengan Keenan kembali berputar di kepala. Hal itu membuat ulu hatinya tercabik-cabik.
"Ganti baju dulu, yuk. Mbak Sari sudah membawakan baju ganti. Bersihkan wajahmu yang dipenuhi darah Keenan." Yati mengelus lembut bahu Dilara. Memahami bagaimana berada di posisi Dilara.
Mbak Sari yang berada di antara mereka, tanpa sadar menyeka air mata yang terjatuh setetes, ikut merasakan apa yang tengah dirasakan oleh keluarga majikannya.
Dilara menuruti permintaan Yati. Ia berganti baju di toilet rumah sakit ditemani oleh Mbak Sari. Mencuci wajah agar darah yang sudah mengering tersebut bisa memudar.
Sorot matanya memandang pantulan bayangan sendiri di cermin. Buliran bening lolos terjatuh setetes dari pelupuk mata kala siluet wajah arogan Keenan terlintas begitu saja.
"Neng, yang sabar, ya. Semua masalah pasti akan ada jalan keluarnya. Tetap berdoa demi kesembuhan Den Keenan." Mbak Sari memeluk tubuh Dilara. Rasa iba dan kasihan terpatri dari manik matanya.
Dilara histeris kembali dalam pelukan Mbak Sari. Ia benar-benar takut kehilangan Keenan. Bahkan, ia belum rela jika nanti Keenan pergi. Ingin melupakan dan mengenyahkan bayangan laki-laki itu rasanya begitu sulit. Cinta pertama sangat sulit dienyahkan bagi Dilara.
"Mbak, apakah Keenan akan baik-baik saja?"
"Tentu, Neng. Berdoa pada Allah, semoga Den Keenan bisa sembuh dan dipermudahkan segala-galanya," ucap Mbak Sari dengan lembut.
"Aku takut, Mbak," tutur Dilara melirih dengan parau.
***
Sudah dua jam Fedrik menunggu di depan ruang operasi. Namun, sang dokter yang menangani Keenan tak kunjung keluar. Rasa cemas dan serba salah menjadi satu. Ia sudah tahu apa penyebab Rayjen dan Keenan bertengkar dari penjelasan sang ibu.
Yati pun menyesal tak menuruti permintaan Keenan. Ia terlalu fokus memberi perhatiannya pada Rayjen hingga melupakan Keenan.
Di depan ruang operasi, semuanya membisu. Sibuk dengan pemikiran dan rapalan doa keselamatan untuk Keenan.
"K--kakak ipar, bagaimana keadaan anakku?"
Suara lembut seorang wanita paruh baya membuyarkan lamunan semua orang yang ada di depan ruang operasi. Mata Fedrik membulat terkejut, perasaan ia belum memberitahu mengenai kondisi Keenan pada Dista.
Tidak hanya Fedrik yang terkejut dengan kehadiran Dista. Yati lebih terkejut, ia beranjak dari duduk menghampiri Dista. Menangkup wajah cantik sang menantu, wajah itu tetap segar sangat awet muda sekali. Bodoh bila Kailos meninggalkan istri seperti Dista demi wanita lain.
Yati menangis, menangkupkan kedua tangan depan dada pada Dista. Ia benar-benar menyesal, karena tidak memberikan petuah-petuah pada anak keduanya---Kailos.
"Maafkan anakku, Dista. Maafkan juga aku yang melupakanmu selama enam tahun ini," ucap Yati dengan parau. Mbak Sari segera merangkul tubuh Yati, berjaga-jaga agar tubuh renta itu tak merosot jatuh ke lantai. Atau takut penyakit lambung sang nyonya besar, kambuh.
Dista menyeka air matanya. Ia sudah melupakan berbagai ketidakadilan atau masa lalu. Ia sudah bahagia sekarang, bisa kembali normal. Bahkan sembuh dari penyakit mental yang dimiliki.
"Aku sudah memaaafkan, Mama. Tapi tolong katakan padaku, bagaimana keadaan Keenan?" Dista memandang Yati, lalu Fedrik secara bergantian. Keduanya tampak bergeming.
Dilara yang sedari tadi menyimak dan menatap lekat wanita paruh baya itu, yang ia yakini seseorang yang sangat berarti bagi hidup Keenan. Ia beranjak dari duduk. Sontak saja langsung memeluk tubuh Dista dengan erat, menangis pelan dalam pelukan tersebut.
"Dokter belum keluar dari ruang operasi. Katanya ada dua peluru yang bersarang di dada Keenan, mereka menanganinya dengan hati-hati, takut lalai dalam operasi tersebut," ucap Dilara dengan nada tercekat setelah pelukannya terlepas.
Dista menangkup wajah Dilara, menghapus jejak basah di wajah gadis itu. "K--kamu Dilara?"
Dilara mengangguk dengan pelan. Ia sedikit terkejut bahwa Dista mengenali dirinya.
"Kamu orang yang sering sekali Keenan ceritakan padaku. Ya ... walaupun terkadang aku tak mendengarkan dengan serius. Tapi, sekarang ... enggak ada yang bercerita lagi. Aku merasa kehilangan." Dista menangis mengingat bagaimana semangatnya Keenan bila sedang ingin bercerita. Dilara menenangkan seraya mengelus pelan bahu Dista.

Komentar Buku (39)

  • avatar
    BabanganDelia

    luar biasa

    31/05

      0
  • avatar
    bimabima

    sangat memuaskan

    21/01

      0
  • avatar
    M fadli Flow

    bagus

    07/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru