Kini Dilara berada di kantor polisi bersama Keenan. Keduanya tengah di interogasi seperti maling saja. Kerap kali sang polisi selalu melontarkan pertanyaan yang membuat Keenan tersulut emosi. "Saya sudah menjelaskan, Pak. Saya tidak minum-minuman yang beralkohol." Dilara melirik pada Keenan, wajah tampan itu tampak frustrasi. Belum lagi berbagai pertanyaan yang memojokan Keenan agar mau mengakui perbuatannya. "Kalau kamu tidak minum, lalu mengapa ada botol alkohol di tempat kamu duduk bersama pacarmu itu." Keenan mengembuskan napas pelan. Melirik ke arah Dilara sekilas, lalu menatap pada jam tangan. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Merasa kasihan karena sudah mencegah gadis itu pulang. Niat hati ingin menghabiskan waktu berdua malah ketangkap polisi gara-gara salah paham. Benar-benar nasib sial yang tak mendukung. "Jika saya minum, seharusnya Bapak sudah mencium bau alkohol dari mulut saya," ucap Keenan apatis. Salah satu polisi berseragam santai datang menghampiri, membisikkan sesuatu pada sang pemberi interogasi. "Baik, kami percaya. Lain kali jangan mencari tempat sepi untuk berpacaran." "Dari tadi kek, Pak." Keenan merasa kesal, bangun dari duduk. Diikuti dengan Dilara. "Maafkan kami, Dik. Kalian berdua dibebaskan." Keenan mengangguk mengiakan. Berpamitan dan bersalaman guna meminta maaf atas kesalahpahaman. Kini keduanya melangkah keluar dari kantor polisi. Sedari tadi Dilara mengulum senyum. Menahan senyum pada saat di ruang interogasi hingga sampai menjauh dari kantor tersebut. "Lo kenapa?" Keenan menyadari sedari tadi bahwa Dilara tengah menahan tawa entah untuk apa. Dilara berhenti melangkah, menggeleng kecil sebagai balasannya. Sungguh, ini merupakan histori bagi Dilara. "Aku mau pulang," ucap Dilara mengalihkan pembicaraan dan benar-benar ingin pulang. Merasa lelah karena seharian berada di luar rumah. "Gue pesan grab dulu," ujar Keenan seraya merogoh saku celana mengambil ponselnya. Dan mulai memencet aplikasi hijau untuk menemukan grab car agar ia bisa menemani Dilara pulang. "Motor kamu ke mana?" Dilara menaikkan alis sebelah, tak biasanya Keenan tak membawa kendaraan. "Lupa bawa," balas Keenan pendek. Dilara akan mencatat tentang peristiwa antara dirinya bersama Keenan malam ini. Di bahwa indahnya langit malam serta berujung diboyong ke kantor polisi dimintai keterangan kejelasan. Benar-benar menggelikan perut Dilara. *** Persiapan pernikahan Dilara dengan Rayjen tinggal menghitung hari lagi. Kini Yati tengah disibukkan oleh pemesanan catering juga undangan para tamu. Dilara yang baru saja keluar kamar mengkerut dahi melihat betapa sibuknya di ruang tamu sana. Seorang wanita paruh baya berambut cokelat kehitaman dengan dress berwarna biru dongker selutut tampak anggun, datang menghampiri. Menatap Dilara dari atas hingga sampai bawah. Dilihat sedemikian lekat membuat Dilara merasa risi. Seperti di pandang sebelah mata. Tak ingin jadi gadis tak tahu etika dan sopan santun, Dilara mencoba mengulas senyum tipis menyapa wanita tersebut. "Oh jadi, kamu perempuan yang dijodohkan oleh ibu mertua saya dengan anak saya?" Catrine---nama ibu dari Rayjen menatap sinis pada Dilara. Merasa bahwa pilihan sang ibu mertua tidaklah cocok. Dilara menggaruk tengkuk leher yang tak gatal, mengulas senyum kikuk pada wanita yang mengaku sebagai ibu dari Rayjen. Masih tampak cantik dan awet muda. "I--iya, Tante. Saya Dilara." Dilara ingin menyalimi tangan Catrine, tetapi Catrine segera menepis tangan perempuan itu dengan kasar. "Tidak sudi aku bersalaman dengan dirimu. Kamu jangan mengira bahwa saya menerima kamu sebagai menantu saya," ketus Catrine. Dilara meringis, sudah menduga bahwa statusnya tidaklah sama dengan status Rayjen yang notabene merupakan anak orang kaya. Tak pantas bersanding. "Hei, Rine! Kamu jangan sembarang ngomong sama menantu saya," sahut Yati menghampiri keduanya. Ia merangkul bahu Dilara, lalu menatap ke arah Catrine. "Lihat ... dia begitu cantik dan sederhana. Jika kamu menyakiti dia, maka kamu akan berurusan dengan diriku," lanjut Yati. Catrine mendengkus kasar. Menghentakan kaki menjauh dari sang ibu mertua dan calon menantunya. Fedrik yang kebetulan mampir bersama sang istri menghampiri sang ibu dengan raut wajah kebingungan melihat wajah ditekuk dari Catrine. "Catrine kenapa, Ma?" Fedrik bertanya, saat sorot matanya bertemu dengan Dilara ... ia mengulas senyum ramah. "Biasalah," kata Yati. "Om." Dilara menyalimi tangan Fedrik dengan takzim. Membuat Fedrik lagi-lagi mengulas senyum penuh arti sekaligus kasihan dengan kehidupan Dilara setelah pernikahan nanti. "Kamu begitu sopan," ujar Fedrik. "Siapa dulu atuh yang milihnya," seloroh Yati. "Pilihan Mama mah enggak pernah salah," balas Fedrik yang diikuti tawa renyah dari Yati. "Nah, kamu sudah bangun. Sarapan dulu, gih." Yati tahu bahwa Dilara baru saja bangun dari tidur, mengingat perempuan itu pulang larut malam bersama Keenan sang cucu yang tak pernah dilihat oleh Yati selama tiga tahun. Semalam ia menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama Keenan setelah Dilara sudah memasuki kamar. Bertukar kabar dan bertanya mengenai kehidupan laki-laki itu. Sungguh, ia merasa menyesal karena tak memperhatikan sang cucunya yang lain selain Rayjen. "Ma, Mama enggak apa-apa?" Fedrik memegang bahu Yati, membuat lamunan mengenai kedekatan dengan Keenan buyar begitu saja. Yati mengulas senyum kecil, menggeleng sebagai balasannya. "Ma, Fedrik mau ke kantor. Mungkin Catrine bakalan di sini buat bantu-bantu," kata Fedrik mulai berpamitam pada sang ibu. Lalu pada Dilara sebagai mengakhiri pertemuan pertama mereka. *** Keenan berjalan menelusuri lorong rumah sakit. Ia mendapat panggilan dari dokter Gibran yang menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit membicarakan kondisi kesehatan sang mama. Berharap bahwa kabar yang dinantikan ialah kabar baik. Langkah Keenan berhenti tatkala sorot matanya tak sengaja tertuju ke depan sana, tepat di ruangan dokter Rianti istri dari dokter Gibran. Dengan cepat ia bersembunyi di balik dinding saat merasa bahwa laki-laki yang menjadi sasaran objeknya melirik ke tempat ia berdiri. "Rayjen? Ngapain tuh dosen di rumah sakit? Sama cewek lagi," gumam Keenan. Rasa penasaran menyeruak dalam benak. Ia mengintip ke arah objek yang dituju. Keluar dari persembunyian kala Rayjen dan wanita di sampingnya sudah memasuki ruangan dokter Rianti. Tak ingin menanggung rasa penasaran. Keenan menghampiri ruangan tersebut. Keberutungan kini berpihak padanya, karena pintu ruangan tersebut tak tertutup dengan rapat. Ia bisa leluasa menguping pembicaraan Rayjen bersama sang dokter. "Jadi, bagaimana dengan kondisi istri saya, Dok? "Is--istri?" Keenan terkejut mendengar sebutan istri yang terlontar dari mulut Rayjen. Apalagi ditambah dengan rangkulan di bahu wanita itu. "Bukannya tuh orang calon suami Dilara?" Sungguh, berbagai pertanyaan kini bersarang dalam otak serta batin Keenan. Berbagai kalimat yang didengar dari Rayjen serta dokter membuat jantung dan hatinya tak bisa terkontrol. Benar-benar mengejutkan. Merasa sudah lama menguping, Keenan beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut menuju ruangan dokter Gibran. "Pengecut! Gue enggak akan biarin Dilara nikah sama lo. Sudah punya istri, masih aja mau nikahin pacar orang," gerutu Keenan sepanjang jalan, membuat ia menjadi atensi orang-orang sekitar.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
luar biasa
31/05
0sangat memuaskan
21/01
0bagus
07/01
0Lihat Semua