Keenan menarik rambut belakang Dilara. Membuat gadis itu meringis menahan sakit. Air mata kembali membasahi pipi tanpa diperintah. Tatapan tajam dan kilatan api kemarahan di balik mata laki-laki itu membuat nyali Dilara meredup. "Gue enggak suka lo nampar gue. Apa gara-gara dosen sialan itu lo makin berani sama gue?" desis Keenan tepat di depan wajah Dilara. Dilara memberontak, mendorong dada bidang Keenan menjauh. Menyeka air mata yang menetes dengan kasar. Keputusan ingin meninggalkan semakin kuat. "Jangan bawa-bawa nama pak Rayjen dalam pertengkaran kita, Keen. Sadar enggak, sih, selama ini kamu enggak pernah hargain aku?" "Ya, aku-akui ... aku memang anak telantar yang ditinggal mati oleh kedua orang tuaku. Kamu puas?!" Dilara melontarkan berbagai unek-unek yang selama ini ditahan. "Sikap kamu yang sekarang menunjukkan bahwa aku memang harus meninggalkan kamu," lanjut Dilara tertawa miris dengan nasib percintaannya. Sontak saja Keenan mendorong kembali tubuh Dilara menghimpit ke dinding. Mencekik leher gadis itu dengan perasaan tak terima. Hanya dirinyalah yang boleh melepaskan Dilara, bukan gadis itu sendiri. Tangan Dilara mencoba melepaskan cengkeraman di leher. Berusaha mengambil oksigen di sekitarnya. Laki-laki itu seperti sedang kerasukan. "Lo sama gue memang benar-benar enggak cocok. Sama-sama lahir dari keluarga yang tak memungkinkan. Nyesel gue pungut lo," ujar Keenan penuh dengan penekanan. Dilara mendorong kembali Keenan dengan sekuat tenaga. Mengatur deru napas dan meraup oksigen di sekitar. Rahangnya terasa nyeri akibat cekikkan tersebut. "Kamu nyesel pungut aku? Aku lebih nyesel menerima kamu sebagai kekasih aku!" Keenan menampar wajah Dilara dengan keras mampu membuat gadis itu tersungkur ke lantai hingga mengenai ujung meja kaca di samping. Rasa perih menjalar di sekitar kening bersamaan dengan darah yang mengalir. "Makin hari lo makin bikin gue emosi," ucap Keenan bertimpuh di hadapan Dilara seraya mencekal dagu gadis itu dengan erat. Dilara melepaskan cekalan tersebut. Menatap sendu pada Keenan. "Keen ... bukan aku yang bikin kamu emosi, tetapi kamunya yang enggak bisa ngertiin aku." Dilara menelan salivanya sendiri, menyeka air mata yang menetes. "Kata kamu kita terlahir dari keluarga yang hancur? Maka mari kita sama-sama menjadi tiang penguat dan saling mengobati." Keenan menarik rambut Dilara kembali. Membuat gadis itu memejamkan mata merasakan nyeri di kulit kepalanya. "Saling mengobati? Luka selama belasan tahun enggak akan bisa diobati!" Keenan melepaskan tarikan di rambut Dilara dengan kasar. "Lo mau kita pisah, hah? Oke! Gue bakalan ngelepas lo. Tapi gue enggak akan ngebiarin lo jadi milik orang lain." Keenan menarik lengan Dilara. Membuat Dilara tersentak sekaligus terpaksa berdiri akibat tarikan tersebut. Keenan menyeret Dilara keluar dari apartemennya. Mampu membuat Dilara tersungkur di lantai. Laki-laki itu kembali ke dalam mengambil barang-barang gadis itu. Kemudian, membuang barang tersebut ke hadapan Dilara. Air mata menetes dengan deras dari pelupuk mata. Hatinya tercabik perih atas perlakuan Keenan. "Gue enggak akan biarin hidup lo tenang!" Setelah mengucapkan kalimat tersebut. Keenan menutup pintu dengan keras mampu menciptakan suara berdebam. Dilara memejamkan mata, dadanya terasa sesak. Kini kisah cintanya bersama Keenan sudah berakhir. Bahkan ia sama sekali belum mendengar laki-laki itu menjelaskan perihal acara tunangan kemarin malam. Dilara mengambil tas besarnya. Berjalan dengan lunglai menjauh dari apartemen Keenan. Jauh di dalam apartemen tersebut, Keenan terjatuh bertimpuh di balik pintu. Air mata jatuh setetes di pelupuk mata laki-laki itu. Bukan ini yang dimau, bukan melihat Dilaranya pergi. Hanya dengan cara berpisahlah yang bisa dilakukan agar menghindari ancaman sang papa. Keenan berat melepaskan Dilara, begitu juga dengan Dilara sendiri. Tetesan di wajah, kini berubah menjadi deras. Keenan menangisi kepegian Dilara. "Gue enggak akan ngelepas lo begitu aja, Ra." *** Langkah Dilara terhenti di sekitar halte bus. Memilih duduk di halte tersebut demi meredakan rasa sakit dan memuaskan dirinya menangis. Berbagai umpatan dan kalimat yang terlontar dari Keenan kembali terngiang-ngiang di kepala. Rasanya begitu sakit melepas begitu saja, karena kesalahpahaman. Sorot matanya tertuju pada kalung di leher. Dengan gerakan cepat, ia menarik kalung tersebut. Memasukkan ke dalam tas besar. Hanya dengan melihatnya saja membuat ia mengingat tentang Keenan. Uluran sapu tangan di depan membuat ia mendongak menatap siapa yang mengulurkan sapu tangan tersebut. Bukan Rayjen yang biasa datang meredakan tangis Dilara, melainkan Alze. Laki-laki blasteran Jerman-Jawa tersebut menghapus sisa air mata di wajah Dilara. Dilara tak berkedip sama sekali melihat tatapan teduh milik Alze. Juga tangan yang bertengger di pipi guna menghapus air mata. "Lo lagi patah hati, lebih baik nangis sepuas lo. Agar lo merasa tenang setelahnya." Suara berat milik Alze menyapa begitu lembut. Tangis yang sempat mereda karena terkejut dengan kehadiran laki-laki itu. Kini kembali terjatuh dengan deras. Alze menarik tubuh Dilara, mendekapnya dengan erat. Dilara menangis dalam pelukan Alze, tepat di dekat perut laki-laki itu. Menumpahkan semua rasa sakit dan sesak dalam benak. Tak memedulikan siapa yang tengah menjadi tempat menumpahkan air matanya. Kini yang dibutuhkan Dilara hanya ketenangan. Setelah merasa membaik, Alze melepaskan dekapan tersebut. Bertimpuh di hadapan gadis itu, menangkup wajah Dilara sekaligus menyeka air mata dengan ibu jarinya. "Gue enggak tahu siapa yang bikin lo patah hati, tapi gue pernah berada di posisi lo." Alze berucap dengan lembut. Tatapan teduh miliknya seakan-akan menghipnotis Dilara. Dilara melihat sisi lain dari Alze, selain si biang bully dan onar di kampus. Niat hati Alze ingin mampir ke apartemen Keenan tertunda saat sorot matanya menemukan Dilara sedang menangis. Tak tega melihat seorang perempuan menangis, Alze segera melipir ke halte bus dan menenangkan gadis itu. "K--kamu ngapain di sini?" Dilara bertanya dengan bingung. Tangannya kembali menyeka air mata yang tersisa. "Gue kebetulan lewat, enggak sengaja ngelihat lo di sini," alibi Alze. "Lo enggak apa-apa, 'kan?" tanya Alze menatap wajah sembab milik Dilara. Dilara menggeleng pelan, berusaha mengulas senyum tipis. "Aku enggak apa-apa, kok. Udah baikkan." Alze mengangguk mengiakan. Tanpa persetujuan menarik tangan Dilara untuk digenggam. Menatap begitu dalam manik mata milik gadis itu, hingga tatapan tersebut saling bertubrukan. "Kalo lo butuh teman curhat, gue siap kok jadi teman lo. Dan gue juga minta maaf, kalo semisalkan dulu sikap gue kurang nyenengin lo sampai lo dikeluarkan dari kampus." Alze mengucapkan kalimat tersebut tulus dari dasar hatinya. Alze benar-benar tertarik pada Dilara, karena mengingatkan ia dengan seseorang. Sikap dan wajah pun hampir sama. Namun, ia harus memastikan terlebih dulu. Apakah Dilara merupakan orang yang ada di masa lalunya atau bukan sama sekali. "Itu bukan salah kamu, Al. Mungkin emang udah jalannya kayak gini, mau dielak juga. Enggak akan bisa." Alze mengulas senyum hangat. Membuat Dilara mengerjapkan mata tak percaya. Terpengarah melihat sosok Alze yang tersenyum. "Jadi, lo maafin gue?" Dilara mengangguk. "Iya, aku udah maafin kamu, kok. Lagi pula kamu enggak ada salah sama aku." *** Jangan lupa vote, share, dan review.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
luar biasa
31/05
0sangat memuaskan
21/01
0bagus
07/01
0Lihat Semua