logo text

Pertikaian yang Tidak Dapat Dihindarkan

Zayed menatap tajam Alam yang naik pitam luar biasa. Pria paruh baya itu benar-benar geram dengan ulah putranya. Merasa dipermainkan dan dibohongi mentah-mentah.
“Ya! Aku dan Daniela masih bersama.” Senyum tercetak di sudut bibir tipis miliknya. “Foto itu diambil kemarin, setelah kami periksa ke dokter kandungan.”
Daging pipi Alam terangkat ke atas mendengar perkataan Zayed. “Daniela hamil?”
Tanpa ragu Zayed mengangguk. “Aku yang berhasil bikin dia hamil, bukan Julian, kesayangan Papa itu.”
“Apa hubungannya dengan Julian?”
Pria itu mendengkus keras, sehingga terdengar oleh Alam. “Papa pikir aku nggak tahu kalian bersekongkol halangi perusahaan Daniela?” Zayed menyeringai.
“Hati-hati satu kapal dengan pria licik seperti Julian, Pa.” Zayed maju satu langkah, kemudian menundukkan kepala agar bibirnya sejajar dengan telinga Alam. “Aku pastikan, Julian akan mendekam di penjara dengan tuduhan berlapis.”
“Ah ya. Aku lupa dengan perusahaan ini.” Zayed menegakkan lagi tubuh, lalu memasukkan kedua tangan ke saku celana. Kepalanya terangkat melihat ruangan yang besar itu. “Sebentar lagi perusahaan ini juga akan hancur. Udah berapa banyak kasus yang Papa tutupi selama ini?”
“Zayed! Jaga ucapanmu!” tegur Alamsyah meradang.
Zayed tertawa lepas melihat wajah Alam sekarang. Memerah, kesal dan marah luar biasa. “Papa harus terima konsekuensi atas perbuatan sendiri.”
“Tuhan nggak tidur, Pa. Suatu saat Papa pasti akan terima balasan dari kekejaman Papa terhadap Mama.” Zayed mengepal erat kedua tangan di samping tubuh menahan amarahnya. Setiap kali ingat bagaimana Alam menduakan Soraya, ia selalu meradang. Emosi menjadi berlipat-lipat, nyaris tidak bisa dibendung.
“Papa akan buat kamu menyesal, karena sudah khianati Papa!” ancam Alam mendengkus keras, “kamu lupa kalau Papa bisa bikin perusahaan Daniela hancur dengan sekali sentil?”
“Sebelum hal itu terjadi, aku yang akan hancurkan Papa terlebih dahulu!” Tiba-tiba suara lembut tapi tegas menyela pembicaraan ayah dan anak tersebut.
Kepala yang dihiasi rambut tipis itu menoleh ke samping kanan. Mata hitam kecil Alam menyipit ketika menangkap kehadiran Qory, putri sulungnya di sela pintu.
“Qory? Apa-apaan ini?” Alam menatap tak percaya putrinya.
Qory tersenyum lebar ketika melangkah tepat ke samping adiknya. “Kenapa? Papa kaget?”
Pria paruh baya itu shock luar biasa melihat putri yang selama ini menurut perkataannya, berubah dalam hitungan singkat. Apalagi wajah Qory sekarang tidak bersahabat.
“Papa pikir aku masih dukung Papa, setelah tahu apa yang Papa lakukan sama Mama?” Qory menggelengkan kepala. “Dari awal pun, aku nggak pernah setuju Papa nikah lagi. Apalagi sampai singkirkan Mama dengan cara kejam kayak gitu.”
“Jangan lupa Mama kalian yang minta Papa ceraikan,” kilah Alam tidak mau disalahkan.
Qory memegang tangan Zayed ketika tahu adiknya ingin berkata. “Mama nggak punya pilihan lagi, Pa. Jangan limpahkan kesalahan kepada Mama!!”
“Papa yang salah. Begitu tahu Mama sakit dan nggak bisa layani Papa dengan baik di tempat tidur, Papa cari wanita lain. Setelah itu pura-pura nggak tahu penyakit Mama, agar Papa nggak disalahkan dengan perceraian kalian,” cecarnya dengan napas sesak menyadari sifat kejam yang ada pada diri sang Ayah.
“Papa jahat! Papa kejam! Nggak punya perasaan!” sambung Qory terisak.
Untuk pertama kali, ia melepaskan semua yang tertahan selama ini. Sebelumnya, Qory masih ingin bersikap baik, karena berpikir bisa menyelamatkan harta keluarganya, agar tidak jatuh ke tangan istri kedua Alam. Namun, kenyataan pahit yang baru ia ketahui pada hari kematian sang Ibu, membuatnya tidak bisa lagi menahan diri. Puncaknya adalah hari ini.
“Kalian ….” Alam mengunjuk Qory dan Zayed bergantian.
“Kenapa? Emangnya Papa aja yang bisa sandiwara?” Zayed tertawa singkat. “Baru sadar kalau Kak Qory selama ini nggak pernah benar-benar berpihak sama Papa?”
Alam sungguh murka dengan kedua darah dagingnya ini. “Lihat saja, kalian akan menyesal telah mengkhianati Papa.”
Qory tertawa keras tidak peduli bisa menarik perhatian karyawan yang ada di lantai itu. “Aku udah bilang sama Papa. Sebelum Papa sentuh Zayed dan istrinya, aku yang akan bikin perusahaan ini hancur.”
“Papa dan istri muda Papa itu nggak akan dapat apa-apa lagi.” Sudut bibir Qory terangkat ke atas ketika mengeluarkan ID card dari saku blazer.
“Aku mengundurkan diri dari perusahaan ini. Sampai jumpa di pengadilan nanti,” pungkasnya melempar ID card secara asal, lalu menarik tangan Zayed keluar dari ruangan.
Tanpa menoleh lagi ke belakang, kakak beradik itu terus melangkah meninggalkan Alam yang masih shock dengan pengkhianatan Qory, juga Linda yang tak kalah terkejut mendengar pertengkaran mereka. Mereka berdua memasuki lift yang akan mengantarkan ke basemen.
“AAAA!!” pekik Qory tak percaya, “kakak tadi ngapain, Dek? Ngelawan Papa, ‘kan?”
Zayed mengangguk di sela rasa bingung.
“Harusnya dari dulu Kakak lakukan itu. Papa pikir uang bisa selesaikan semuanya?” Qory geleng-geleng kepala.
“Kakak serius resign dari perusahaan?”
Qory mengangguk tanpa ragu. “Kakak udah punya ini,” katanya memperlihatkan flashdisk yang baru dikeluarkan dari saku blazer.
“Harusnya Kakak udah lakukan ini dari dulu, tapi nggak berani. Kakak ngerasa cemen banget, Dek. Padahal Kakak yang harusnya lindungi keluarga kita, sebagai anak pertama,” lanjut Qory dengan wajah menyesal.
Zayed menggeleng tidak setuju. “Kakak udah berusaha lakukan yang terbaik.”
Wanita itu menarik napas panjang. “Walau risikonya Kakak nggak bisa nikah ya, kalau Papa nggak mau jadi wali,” komentar Qory terdengar jenaka.
Pria itu merangkul bahu kakaknya lembut. “Tenang aja, Kak. Aku yang akan jadi wali nikah Kakak nanti.”
“Bener juga ya.” Qory tersenyum puas. Dia tidak pernah merasa selega ini sekarang.
“Rencana Kakak apa?”
“Kasih ini ke polisi biar bisa diselidiki.” Wanita itu menggoyang-goyangkan flashdisk yang diberi gantungan tersebut.
“Trus, Kakak mau keluar juga dari rumah?”
“Iya dong. Mana mau Kakak tinggal di rumah lagi?” Senyum manis tergambar di paras Qory. “Kakak boleh tinggal di rumah Mama nggak?”
“Boleh dong, Kak. Aku dan Daniela nggak tinggal di sana, setelah Mama meninggal.”
“Oya? Kalian tinggal di mana sekarang?”
Zayed mengembuskan napas pendek. “Di apartemen yang disewa dari Kak Cindy.”
“Masih apartemen Papa dong?”
Pria itu mengangguk singkat dengan wajah mengernyit. “Dua bulan lagi sewanya habis. Aku rencana mau pindah sama Daniela. Mudah-mudahan sih perusahaannya udah bisa diambil lagi.”
Kening Qory berkerut bingung. “Maksudnya TravelAnda?”
“Iya.”
“Sebentar!” Qory menghadap sepenuhnya kepada Zayed sebelum pintu lift terbuka. “Jadi TravelAnda nggak dikasih sama Daniela ke Julian?”
Kepala yang dihiasi rambut layered undercut itu bergerak ke kiri dan kanan. “Julian ambil alih dengan cara ilegal. Dia selundupkan kertas pengalihkan harta di dokumen kantor.”
Pintu lift terbuka, sehingga mereka bergerak keluar bersama-sama. “Kapan kejadiannya?” tanya Qory setelah tiba di luar lift.
“Tahun lalu kalau nggak salah.”
“Tahun lalu?” gumam wanita itu menghentikan langkah ketika berpikir.
“Jangan-jangan waktu Julian datang ke rumah ya?”
“Julian pernah datang ke rumah?” Raut wajah Zayed yang bingung sekarang.
Qory mengangguk sekali. “Anterin Kakak ke tempat Daniela, Dek. Ada yang mau Kakak katakan.”
“Apa?”
“Nanti aja biar ceritanya nggak diulang-ulang.” Tanpa memberi aba-aba, Qory menyeret lagi tangan adiknya menuju parkiran mobil. Ada hal penting yang ingin ia bicarakan dengan Daniela sekarang.
“Pakai mobil Daniela aja, Kak. Aku tadi pakai mobilnya,” ajak Zayed balik menarik tangan sang kakak.
Wanita itu mengangguk setuju, kemudian bergerak ke mobil BMW milik adik iparnya. Dia duduk di kursi penumpang, sementara Zayed di kursi kemudi.
“Kakak kenapa bisa ke ruanganku sih tadi?” Zayed membuka percakapan setelah tiba di luar gedung.
“Kakak lihat berita kamu dan Daniela. Trus langsung ke ruangan kamu karena khawatir,” sahut Qory bersandar di kursi, “kalian ngapain ke klinik? Daniela sakit?”
Zayed tersenyum malu-malu meong. “Daniela hamil, Kak.”
“Oya? Hamil?” cetus Qory semangat, “Kakak mau jadi tante dong.”
Pria itu mengangguk singkat seraya garuk-garuk kepala. Sebuah tepukan terasa di lengan kiri, membuat Zayed kembali memalingkan paras ke kursi penumpang.
“Kakak nggak sangka loh kamu bakalan nikah sama cewek yang usianya jauh lebih tua.” Qory berdecak sebentar. “Berapa jarak usia kalian?”
“Empat belas tahun.”
“Gila!” serunya dengan mata melebar.
“Nggak ada yang gila atas nama cinta, Kak. Semua rasional.”
“Kok bisa sih? Di luar sana banyak cewek muda dan cantik loh,” komentar Qory geleng-geleng kepala.
“Yang muda dan cantik memang banyak, Kak. Tapi yang kayak Daniela nggak ada.”
“Iya, maksudnya apa yang bikin kamu bisa seyakin itu buat nikahi dia?” Qory benar-benar penasaran. Dia sudah menahan diri untuk tidak bertanya sejak tahu Zayed menikah dengan Daniela.
“Aku hanya merasa lengkap ketika sama dia, Kak.”
“Itu aja?”
Zayed mengangguk tanpa ragu. “Intinya, dia yang bisa lengkapi kekuranganku. Dia juga wanita yang aku cari. Cinta sesederhana itu.”
Qory manggut-manggut paham. “Ternyata kamu tumbuh dewasa ya, Dek. Kakak bangga!”
Kendaraan jenis sedan yang dikemudikan Zayed terus melaju menuju gedung tempat perusahaan Daniela berada. Pria itu tidak bisa mengabari sang Istri terlebih dahulu, karena ponsel masih ada di tangan Alam. Dia sudah tidak peduli lagi dengan ponselnya, karena masih bisa membeli yang baru nanti.
Tiba di gedung, dia melapor terlebih dahulu ke resepsionis, agar Qory bisa mendapatkan akses masuk. Setelahnya, mereka bergerak naik ke atas.
“Zayed!” sapa semua orang yang ada di kubikel serentak.
Dhini, Alex dan Widodo langsung berdiri melihat Qory datang.
“Ada Kak Qory juga,” gumam Widodo tersenyum kepada kakak sahabatnya.
Ketiga trio absurd segera menyapa Qory, karena sudah kenal lama dengan wanita itu. Sementara duo absurd lainnya, Yuni dan Vania, masih ada di ruangan Daniela. Selesai bertegur sapa dengan ketiga sahabatnya, Zayed langsung mengajak Qory ke ruangan CEO.
Zayed mengetuk pintu, sebelum terdengar suara istrinya menyahut dari dalam. “Apa saya menganggu, Bu?” ucapnya menyelipkan kepala di sela pintu.
Daniela langsung berdiri dan berjalan mendekat, lalu memeluk erat suaminya. “Kamu ke mana aja sih? Aku nggak bisa telepon kamu,” lontarnya setelah pelukan melonggar.
“Handphone-ku masih sama Papa, Sayang.”
Raut wajah manja Daniela langsung berubah, setelah melihat seorang wanita anggun berdiri di belakang Zayed.
“Aku bawa Kak Qory ke sini. Katanya ada yang mau dibicarakan, mengenai Julian dan TravelAnda,” info Zayed membuat Daniela menatap Qory tak percaya.
Bersambung....

Komentar Buku (109)

  • avatar
    AjaYuni yuni

    janda merasakan

    03/08/2025

      0
  • avatar
    AndikDikayul

    bagus bangetttt

    24/06/2025

      0
  • avatar
    Jihan Anggita

    Bagusss

    23/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru