Beranda/Janda Meresahkan/
Serangan dari Negara Api
Keesokan hari
Daniela melangkah lesu setelah pulang dari presentasi ke tempat calon investor. Lagi-lagi dia gagal meyakinkan investor, agar mau mengucurkan dana ke perusahaan terbarunya. Wanita itu benar-benar frustrasi, karena tidak habis pikir apa yang salah dengan aplikasinya.
“Gimana, Bu?” tanya Vania semangat ketika melihat Daniela muncul di sela pintu kaca.
Kepala yang dihiasi rambut cokelat pirang tersebut bergerak ke kiri dan kanan. Keenam karyawan lainnya ikutan kecewa. Bagaimana tidak, perusahaan saat ini masih belum mendapatkan pemasukan. Jika terus-terusan seperti ini, Daniela akan bangkrut sebelum aplikasi dirilis.
Tiba di dalam ruangan, Daniela mengempaskan diri di kursi dengan kepala menengadah ke atas. Dia menatap plafon yang dihiasi warna putih tersebut.
“Salahnya di mana sih?” erangnya tertahan.
Pandangannya turun ke tempat Zayed berdiri tak jauh dari kursinya. “Menurut kamu salahnya di mana?”
“Semua udah bagus, Bu. Mungkin investor belum yakin aja kalau aplikasi bisa laris.” Zayed berpendapat, meski tidak yakin juga. Dia tahu presentasi dan proposal yang disampaikan Daniela tadi sudah lebih dari cukup.
“Yang tadi itu investor TravelAnda loh, Zay. Dia pernah bilang akan support aku kapan aja dibutuhkan.” Daniela menegakkan tubuh dengan kening mengernyit. “Sekarang kok beda? Ada yang aneh nggak?”
Zayed berpikir beberapa detik, sebelum mengemukakan pendapat lagi. “Mungkin beliau pernah salah investasi sebelumnya, jadi takut kalau uangnya hilang.”
Daniela berdecak kemudian tertawa. “Uang ratusan juta itu nggak berarti sama beliau, Zay. Orang kaya. Hartanya nggak habis-habis tujuh turunan.”
“Aku pengin peluk kamu, tapi nggak enak dilihat yang lain,” sambung Daniela dengan wajah ingin bermanja-manja.
Tanpa menanggapi dengan kata-kata, Zayed beranjak menuju kaca lantas menutup tirai horizontal. Dia kembali mendekati Daniela dan menariknya ke dalam pelukan.
“Kalau gini nggak ada yang lihat,” ujarnya di samping kepala Daniela.
“Lihat sih nggak, tapi curiga,” balas wanita itu tertawa pelan.
Daniela menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya lagi. Beberapa hari ini, terasa begitu berat baginya. Harapan mendapatkan investor dalam waktu singkat, ternyata tidak bisa diwujudkan dengan mudah.
“Kamu selalu bisa bikin aku nyaman, Sayang,” desisnya semakin mengeratkan pelukan, “makasih udah temani aku di masa-masa sulit ini.”
“Udah kewajibanku untuk jaga dan support kamu, Sayang,” sahut Zayed mengusap bagian belakang kepala istrinya.
“Kamu nggak boleh patah semangat.” Zayed melonggarkan pelukan, sehingga bisa memandang wajah lelah sang Istri. “Mau aku bantu bikin list nama orang yang bisa jadi investor?”
Daniela tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala. “Aku cuma butuh jalan-jalan habis ini. Pusing.”
“Mau jalan-jalan ke mana? Inggris? Jerman? Amerika? Malaysia? Singapura?”
Lagi-lagi wanita itu tergelak, kemudian memukul pelan lengan Zayed. “Uangnya nggak ada, Suami. Nanti aja kalau kita udah nggak rugi lagi.”
Zayed menangkupkan kedua tangan di pipi Daniela dan mengusapnya lembut dengan ibu jari. Dia memberi kecupan kecil di bibir wanita itu bertubi-tubi.
“Aku yakin kamu bisa, Sayang. Daniela yang aku kenal pantang menyerah, gigih dan nggak kenal takut.” Zayed memandang netra cokelat kehijauan itu bergantian. “Kamu bisa bawa perusahaan ini ke puncak kesuksesan.”
Daniela menarik napas singkat, lalu mengembuskannya. “Kita bisa! Demi enam orang karyawan lain!” serunya semangat.
“Nah gitu dong.” Zayed tersenyum lebar dengan pandangan ke bibir istrinya. Ketika ingin membelai bibir ranum itu, terdengar suara ketukan dari luar.
“Maaf, Bu Daniela. Apa saya ganggu?” Terdengar suara Widodo di balik pintu.
Setidaknya ada dua orang yang berada di luar sekarang. Salah satunya bertubuh berisi. Sudah pasti itu Alex, sementara yang satunya adalah Widodo.
Keinginan untuk berciuman terpaksa harus diurungkan, karena dua makhluk absurd ingin menemui Daniela. Zayed mundur dua langkah, menjaga jarak aman.
“Masuk, Lex, Do,” suruh Daniela mengeraskan suara.
Kedua pemuda itu memasuki ruangan, kemudian melihat Daniela dan Zayed bergantian dengan tatapan penuh makna.
“Saya pikir Ibu dan Zayed lagi ….” Alex menggantung kalimatnya ketika kedua ujung jari telunjuk dipertemukan berkali-kali.
Daniela tersenyum dengan gigi rapat. Kelopak matanya mendelik ke tempat Zayed berdiri.
Ini kerjaan kamu pakai tutup tirai segala, jadi curiga ‘kan? batin Daniela.
Habis aku nggak tega lihatin muka kamu kusut kayak gitu. ‘Kan kamu sendiri yang bilang pengin peluk aku, balas Zayed melalui telepati.
“Saya salah ya, Bu? Maaf deh kalau gitu,” sela Alex ketika melihat interaksi tak biasa suami istri tersebut.
“Oh nggak. Bukan kamu, Lex.” Daniela menoleh kepada Alex dan Widodo. Pandangannya tertuju kepada amplop cokelat yang dipegang pria bertubuh tinggi kurus itu.
“Gimana? Udah ada hasil?” tanya Daniela kembali melihat ke wajah Widodo dan Alex.
“Sudah dong, Bu.” Widodo maju satu langkah, lantas meletakkan amplop di atas meja. “Ini transkrip chat-nya, Bu. Sayangnya, kami tidak berhasil masuk ke riwayat panggilan telepon di ponsel Bu Lilis.”
Wajah Daniela langsung semringah mendengar perkataan Widodo. Dengan semangat, ia mengeluarkan kertas tersebut dari amplop.
“Bener ‘kan ada bahasan tentang dokumen itu?” tebak Daniela sebelum membaca salinan cetak transkrip chat.
Widodo dan Alex mengangguk serentak membenarkan tebakannya.
“Bu Lilis ditekan, Bu. Awalnya beliau menolak, tapi diancam. Pak Julian bilang akan bikin Bu Lilis dipecat dari perusahaan jika nggak mau turuti perintahnya,” tanggap Alex.
“Bu Lilis juga nggak boleh lapor ke Ibu dengan ancaman yang sama,” tambah Widodo.
Daniela mengalihkan fokus kepada kertas yang ada di tangannya. Dia membaca perdebatan Julian dan Lilis satu hari setelah mereka bertemu di lorong.
Pak Julian: Pilihan ada di tangan kamu, Lis. Masih mau kerja dengan Daniela atau saya bikin kamu dipecat!
+62811xxxx: Silakan, Pak. Saya tidak takut. Saya tidak punya salah apa-apa selama ini.
Pak Julian: (emoticon tertawa lebar) Saya bisa cari kesalahan kamu. Lupa kalau kamu pernah kerja sama dengan bagian keuangan untuk gelapkan dana waktu ibumu sakit?
Pak Julian: Berapa puluh juta? Lima puluh juta?
+62811xxxx: Bapak jangan fitnah saya.
Pak Julian: Itu bukan fitnah, Lis. Saya dapat laporan dari orang finance. Mau saya kasih tahu Daniela?
Lilis tidak membalas lagi pesan dari Julian, hingga satu tahun setelahnya.
Pak Julian: Daniela sudah tahu kalau saya selipkan surat pernyataan pengalihan harta dan perusahaan. Kamu harus tutup mulut.
+62811xxxx: Pak Julian JAHAT!! Bu Daniela salah sudah pilih Bapak jadi suami. Saya akan laporkan ke Bu Daniela semua perbuatan Bapak!
Tilikan mata Daniela berpindah kepada tanggal pesan itu dikirim. Ternyata pada hari yang sama ketika ia tahu fakta tentang Julian. Tepatnya dua jam sebelum Daniela menghubungi Lilis.
Pak Julian: Coba saja kalau berani. Saya bikin kamu diam selamanya!
Pak Julian: Atau Ibu kamu juga, biar kalian sama-sama diam.
Napas menderu keluar dari sela hidung dan mulut Daniela bersamaan. Darahnya mendidih, seakan ingin keluar dari dalam tubuh saking panasnya.
“JULIAN KURANG AJAR!!” pekik Daniela akhirnya meledak.
Dia berdiri, bersiap keluar dari ruangan.
“Mau ke mana, Bu?” cegah Zayed menarik tangan istrinya.
“Temui Julian, trus seret dia ke penjara,” sahut Daniela kesal bukan main.
Zayed menggelengkan kepala. “Kita belum punya bukti apa-apa.”
Daniela mengangkat kertas yang ada di tangan, lalu menunjuk bagian chat terakhir. “Ini apa? Dia ancam Lilis, Zay.”
“Ini nggak bisa dijadikan bukti, Sayang.” Zayed menggenggam lembut pundak istrinya.
“Ehm … maaf,” sela Alex sebelum baper melihat sisi romantis Zayed ketika menenangkan Daniela. Pria itu meletakkan flashdisk di atas meja. “Sebaiknya Ibu dengar ini juga ya? Saya dan Widodo berhasil masuk ke ponsel Pak Julian tadi malam. Jangan tanya gimana kami bisa sadap percakapan ini, karena rahasia perusahaan.”
“Rekaman itu tidak kalah pentingnya, Bu. Mungkin bisa jadi jawaban pertanyaan Ibu belakangan ini,” imbuh Widodo.
“Kalau begitu kami permisi dulu, Bu. Silakan dilanjutkan lagi mesra-mesranya, Zay.” Alex memukul bibir sendiri ketika salah bicara. “Maksudnya silakan tenangkan Bu Daniela dengan mesra.”
Tanpa menunggu jawaban lagi kedua pria absurd tersebut langsung ngacir ke luar ruangan. Sementara Zayed hanya bisa menahan tawa melihat tingkah kedua sahabatnya.
“Aku harus pergi, Zay.” Daniela dan sikap keras kepalanya.
“Kamu pergi, terus maki-maki Julian. Kamu dituduh karena udah fitnah dia. Ancaman pencemaran nama baik nggak main-main, Sayang.” Zayed menatap serius Daniela. Dia sudah bisa memprediksi apa yang akan terjadi, jika wanita itu bersikeras pergi ke TravelAnda.
“Aku nggak akan biarkan hal itu terjadi. Paham?” tegas Zayed menunjukkan sisi dominannya sekarang.
“Tapi, aku nggak bi—”
“Nggak ada tapi, Daniela!” tukas Zayed mengacungkan jari telunjuk ke atas, “aku nggak mau kamu masuk penjara, karena pria itu.”
Kedua tangan Zayed bergerak ke pinggir kepala istrinya. “Aku tahu kamu sekarang lagi banyak pikiran. Investor, kasus Lilis dan TravelAnda. Tapi please, coba berpikir jernih, Sayang.”
“Emosi nggak akan selesaikan masalah. Yang ada menimbulkan masalah baru,” sambungnya menatap kedua bola mata cokelat kehijauan itu.
Pelan-pelan, Zayed mendudukkan Daniela di tempat semula. Dia mengusap pelan punggung wanita itu, berusaha menenangkannya. Jari panjang tersebut bergerak mengambil flashdisk yang diletakkan Alex di atas meja.
“Sekarang, kita dengarkan ini dulu. Katanya ada petunjuk lagi,” tutur Zayed.
Daniela mengangguk setuju. Akhirnya singa betina menemukan pawang yang cocok, sehingga bisa dijinakkan.
Tak lama kemudian, suara Julian mengudara melalui speaker laptop. Daniela dan Zayed memfokuskan pendengaran dengan percakapan yang diduga melalui telepon.
“Halo, Om Alam. Apa kabar?” sapa suara yang sudah jelas milik Julian.
“Baik dong. Kamu aman ‘kan?”
Daniela dan Zayed saling berpandangan mendengar suara yang sangat akrab di telinga keduanya. Tanpa berkomentar, mereka fokus lagi dengan pembicaraan Julian dan Alam.
“Aman, Om.” Julian tertawa sebelum berkata lagi. “Wah! Ternyata Om hebat juga ya, bisa bujuk investor biar nggak kasih dana ke perusahaan Daniela.”
Alam ikut tertawa renyah. “Biar mereka tahu rasa. Om hanya ingin Zayed kembali ke rumah lagi dan handle perusahaan. Itu saja.”
Dua pasang manik berbeda warna itu terbelalak mendengar perkataan Alam barusan. Mereka tidak menduga dalang di balik penolakan para investor adalah Alamsyah. Pengusaha properti yang memiliki pengaruh besar di negeri ini. Ternyata negara api sudah mulai melancarkan serangan, agar membuat musuh bertekuk lutut.
Bersambung....Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (109)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
janda merasakan
03/08/2025
0bagus bangetttt
24/06/2025
0Bagusss
23/06/2025
0Lihat Semua