logo text

Kejutan yang Tidak Disangkakan

“Kok udah lemes, Mas? Baru aja masuk loh.”
“Maaf, Sayang. Aku lagi kecapekan.”
“Yah, baru aja udah keluar.”
“Maaf. Aku banyak pikiran, jadinya nggak konsen.”
Alasan-alasan itulah yang kerap dikatakan oleh Julian setelah gagal memuaskan kebutuhan biologis Daniela di tempat tidur. Wanita itu selalu berusaha untuk memaklumi dan berpikiran positif. Barangkali memang itulah penyebab sang Suami tidak pernah tangguh di ranjang.
Napas keras keluar bersahut-sahutan di sela hidung ramping nan mancung milik Daniela. Emosi yang sejak tadi ditahan akhirnya meledak. Dia tidak bisa menahan diri lagi, sehingga apapun barang yang ada di sana sudah mencium kerasnya dinding dan lantai kamar.
“Julian binatang. Brengsek. Sialan!!!” makinya bertubi-tubi.
Kedua tangan turun di sisi tubuh saat napas tersengal-sengal akibat luapan lahar panas di dalam tubuh. Tilikan netra cokelat kehijauan yang kembali basah beralih melihat lemari.
“Dia pasti simpan sesuatu di sini. Foto sama pasangan sejenisnya atau apalah,” racau Daniela beranjak menuju lemari.
Dadanya terasa sangat panas, begitu juga dengan darah yang mengalir di tubuh sekarang. Tangan ramping itu langsung bergerak membuka laci yang ada di lemari pakaian Julian. Kelopak mata tiba-tiba menyipit ketika menemukan amplop tebal berwarna cokelat.
“Apa nih?” gumamnya mengambil benda berbentuk persegi.
Baru saja ingin membuka amplop, tiba-tiba suara seseorang terdengar histeris di luar kamar.
“WHAT THE HELL!! Maling? Ada maling.” Nada suara bas itu terdengar panik.
“INI GUE!!!” teriak Daniela dengan wajah menyeramkan seraya meremas berkas yang ada di tangan.
“Astaga, Sayang. Ada apa ini? Kenapa pakaianku dikeluarkan?” tanya Julian terkaget-kaget.
Daniela membuang napas besar dengan tatapan nyalang. “Ada apa lo bilang. Hah?!”
Julian terkejut bukan main sehingga mata bulatnya membesar sempurna, ketika melihat botol pelumas yang sudah hancur. Gel yang berada di dalam tumpah ruah mengenai dinding. Dia kembali mengalihkan pandangan kepada Daniela.
Wanita itu sedang menyeka rambut panjang ikalnya ke belakang sebelum melangkah maju. “Lo tanya ada apa?”
Pria itu menelan ludah begitu mendapati Daniela memegang dokumen yang selama ini dirahasiakannya.
“Sekarang gue tanya, lo dari mana?”
“Sayang, tenang dulu,” bujuk Julian tahu istrinya sedang marah sekarang.
“DIAM!! Jawab pertanyaan gue! Dari mana lo barusan?”
Bibir Julian terbuka sedikit dengan tatapan masih melihat dokumen tersebut. “Sini dulu amplopnya ya,” pintanya baik-baik.
“Apa ini lebih penting dari pertanyaan gue???!!!” sergah Daniela lantang sehingga suara lengkingnya menggema di seluruh ruangan.
“A-aku tadi ‘kan udah bilang. Makan sama Pak Broto.”
“Bohong!!” tuding wanita itu dengan raut wajah menyeramkan.
“Lo makan sama pasangan sejenis lo, ‘kan? Ayo ngaku!!”
“Astaga, Sayang. Apa maksud kamu?” Julian pura-pura terkejut mendengar tuduhan yang dilayangkan istrinya. Dalam hati ia bertanya-tanya bagaimana Daniela tahu dirinya memiliki orientasi seks menyimpang?
“Restoran Mandar, Kota Kasablanka. Lo baru aja makan di sana sama cowok bertubuh gendut. Orang yang lo pacari sebelum nikah sama gue.” Daniela mendengkus kemudian menunjuk mata sendiri, sebelum diarahkan kepada Julian. “Gue lihat dengan mata kepala sendiri kalian di sana.”
Jarinya menyentuh kasar telinga yang dihiasi anting mutiara kecil tersebut. “Gue juga dengar dengan jelas apa yang kalian bicarakan.”
Napas Daniela terasa dangkal, sehingga membuat dada naik turun.
“Aku udah nunggu tiga tahun, Beib. Masa disuruh tunggu lagi? Kurang sabar apa coba?”
“Ambil seluruh hartanya, setelah itu hidup kita terjamin.”
Daniela mengulangi kalimat yang dilontarkan oleh pasangan sejenis suaminya. Suara wanita itu nyaris tercekat saat mengatakan dialog kedua.
Jari telunjuk kiri Daniela bergerak ke arah pintu keluar. “Sekarang keluar dari rumah gue!” suruhnya pelan. Tenaganya terkuras habis akibat emosi ini, sehingga tubuh ramping terduduk di pinggir tempat tidur.
Dia tidak mau melihat wajah Julian lagi. Muak, itulah yang dirasakannya saat ini. Perut Daniela terasa seperti diaduk-aduk, sehingga menimbulkan rasa begah.
“Cepat berkemas! Jangan sampai gue lihat muka lo lagi di rumah ini, setelah kembali dari kamar mandi,” titahnya sebelum berlari ke kamar mandi.
Daniela langsung berhenti di depan wastafel saat isi perutnya berdorongan ingin keluar dari tubuh. Membayangkan Julian bercinta dengannya, setelah berhubungan badan dengan pasangan sejenis, membuat makanan yang dikonsumsi beberapa jam lalu berdesakan naik ke kerongkongan.
Akhirnya ia memuntahkan seluruh isi makanan di wastafel hingga perut kembali kosong. Daniela menaikkan pandangan dan melihat pantulan wajah di kaca berukuran kecil tersebut. Apa yang dikatakan Zayed tadi benar, wajahnya kusut dan berantakan. Maskara yang dikenakan telah berlepotan di kelopak mata bagian bawah.
Rambut berwarna maroon yang biasa tertata rapi dan ikal di bagian ujung, kini tidak beraturan. Daniela menampung air sebelum berkumur-kumur, agar sisa rasa asam yang ada di mulut hilang. Matanya terpejam sesaat, lalu terbuka lagi. Sebisa mungkin ia mencoba menenangkan diri, karena khawatir kerutan akan muncul di wajah.
Memasuki usia 38 tahun, kulit akan gampang sekali berkerut. Jika berpikir keras saja mampu membuat garis halus muncul, apalagi ketika emosi seperti ini.
“Tenang, Dan. Jangan biarkan si brengsek itu bikin wajah lo tua. Ingat, gampang naik darah bisa bikin kerutan di kulit lo bertambah,” bisik Daniela berusaha menenangkan diri.
Seberapa besar usahanya untuk mengenyahkan lahar panas di dalam tubuh, sebesar itulah napas yang meluncur di sela bibir. Eh, apa hubungannya ya? Haha!
“Gue jadi janda lagi dong,” risiknya was-was.
“Jangan takut jadi janda lagi, Bu. Toh Ibu walau janda tapi masih meresahkan.”
Penggalan kalimat yang diucapkan oleh Zayed saat mereka masih ada di parkiran restoran tadi kembali melintas.
“Sialan tuh anak,” rutuknya kembali bercermin di wastafel.
Daniela membasuh muka, lalu mengelap sisa make-up yang ada di wajah dengan tisu. Tilikan netra cokelat kehijauan miliknya mengitari setiap jengkal indera yang ada di paras tirus itu. Kecantikan paripurna dan alami kini bisa dilihat dengan saksama.
Usia Daniela memang sudah menginjak angka 38, tapi secara fisik dia terlihat awet muda. Kulit kencang dan tidak ada bintik hitam atau tanda penuaan di sana. Dia tampak seperti wanita berusia akhir dua puluhan. Jika menikah lagi, ia masih layak mendapatkan cinta dari brondong lain.
Terdengar tarikan napas dalam sebelum tubuh Daniela berputar ke arah pintu kamar mandi. Kepala mengangguk setelah kembali meyakinkan diri untuk mengakhiri pernikahannya dengan Julian.
Namun wanita itu tersentak saat melihat pakaian Julian masih tergeletak tak beraturan di lantai. Sementara sebuah koper berwarna oranye miliknya, sudah standby di dekat pintu kamar. Pandangannya beralih kepada pria yang duduk tenang di pinggir tempat tidur sembari memegang amplop yang diambil Daniela dari lemari.
“Gue ‘kan udah bilang, segera keluar dari rumah ini sebelum gue ke sini lagi!!” berang Daniela dengan emosi kembali tersulut.
Julian tersenyum licik ketika menggelengkan kepala. “Bukan aku yang keluar, Sayang.” Dia menunjuk ke arah Daniela. “Tapi kamu. Rumah ini dan seluruh aset yang kamu punya adalah milikku.”
“What??” Daniela menatap tak percaya. Dia mendengkus kesal sebelum tertawa pelan. “Otak lo belum konslet, ‘kan? Masih waras?”
“Helooo … rumah ini milik gue. Sertifikat atas nama gue. Begitu juga dengan perusahaan!” tutur Daniela merasa lelah, “udah deh. Keluar sana, gue capek banget. Nggak ada tenaga buat debat sama lo.”
Daniela mengibaskan tangan dengan gerakan mengusir.
Julian berdecak berkali-kali masih dengan wajah penuh seringai. Dia mengeluarkan berkas yang ada di dalam amplop, lalu mengambil sertifikat rumah. Pria itu berdiri dan beranjak ke dekat Daniela.
“Baca ini, Sayang. Sertifikat ini asli. Rumah ini adalah milikku. Begitu juga dengan perusahaan dan aset lainnya.” Julian menunjukkan beberapa sertifikat dan dokumen kepemilikan yang sudah berganti nama.
“Palsu! Kertas-kertas yang lo tunjukkan itu palsu!” tuduh Daniela tidak terima.
Julian tertawa keras. “Itu asli. Kamu udah tanda tangan, Daniela.”
Kening wanita itu berkerut bingung. Kepalanya langsung menggeleng.
“Duh … duh … duh, Sayang. Makanya lain kali sebelum tanda tangan berkas, dibaca dulu. Jadi nggak tahu ‘kan kalau ada kertas nyasar di sana,” ledek Julian kembali tergelak.
Daniela terpaku mendengar perkataan pria yang masih berstatus sebagai suaminya ini. Untuk kedua kali, ia mendapatkan kejutan lagi hari ini. Bukan hadiah, melainkan petaka. Jika perkataan Julian benar, maka bersiaplah keluar dari rumah yang dibangun dengan keringat sendiri.
Bersambung....
Jangan lupa follow akun ini untuk dapat notifikasi update bab terbaru ya. ^^

Komentar Buku (109)

  • avatar
    AjaYuni yuni

    janda merasakan

    03/08/2025

      0
  • avatar
    AndikDikayul

    bagus bangetttt

    24/06/2025

      0
  • avatar
    Jihan Anggita

    Bagusss

    23/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru