Mantan Pacar

Reza tidak bisa menutupi raut kaget di wajah. Mata hitam memikatnya mengamati ekspresi Daniela yang tampak menahan amarah. Dia tidak menduga seorang wanita cantik seperti ini, diselingkuhi suami yang memiliki orientasi seks menyimpang.
“Oke. Terus?” tanggapnya berusaha santai seperti sedang menanyai orang lain. Dia tidak ingin membebani mantan pacarnya.
“Aku shock. Trus waktu Lilis datang tanya kenapa, aku nggak jawab.” Daniela jeda sebentar ketika berusaha meredam emosi. Ingatan tentang kejadian itu membuat batinnya kembali bereaksi.
“Rileks, Bu. Ibu nggak boleh emosi,” kata Zayed menenangkan.
Daniela menarik dan mengembuskan napas lagi. Mata terpejam beberapa saat ketika ia coba menenangkan diri. Setelah mulai normal, wanita itu mulai menceritakan apa yang terjadi termasuk dugaan ada campur tangan Lilis, sehingga Julian bisa menyelipkan kertas pengalihan harta.
“Jadi kamu sudah coba hubungi nomor Lilis, tapi tidak dijawab?” Reza kembali memastikan, sebelum mengetikkan keterangan berikut di laptop.
“Benar, Za. Sampai pengacaraku cari informasi, katanya Lilis udah kasih surat resign ke kantor.” Daniela menghela udara singkat ketika tubuh bersandar di punggung kursi. “Jane bilang Lilis menghilang.”
Reza mengangguk ketika jari-jari kembali menari di atas keyboard laptop. Pandangannya kemudian beralih kepada Daniela.
“Aku tidak menyangka kalau kamu pendiri sekaligus pemilik TravelAnda, Dan.” Pria itu mengambil ponsel, lantas menunjukkan aplikasi TravelAnda yang diinstal di sana. “Aku sering pakai aplikasi ini loh kalau mau pergi pakai pesawat dan kereta. Pesan hotel juga pakai TravelAnda.”
Senyum kecut tergambar di paras Daniela. “Mantan, Za. Sekarang perusahaan itu udah diambil si kampret Julian,” geramnya naik pitam.
Kedua alis Reza terangkat ke atas ketika bergidik melihat betapa menyeramkan Daniela ketika marah. Selama pacaran, wanita itu tampak manis dan tidak segalak ini.
“Makanya aku butuh kesaksian Lilis, biar bisa ambil lagi perusahaanku. Bayangkan apa yang udah aku jalani selama rintis TravelAnda,” sambung Daniela mulai mendramatisir keadaan.
Zayed yang duduk di samping hanya bisa melihat perubahan mood atasannya dengan menghela napas berat.
“Apa kamu sudah ajukan gugatan?” tanya Reza memberanikan diri.
“Gugatan cerai maksudku.” Reza menambahkan dengan cepat.
Tilikan netra elang Zayed auto berpindah kepada Reza yang tampak tersenyum lebar.
“Udah. Aku minta Jane urus semua biar kelar sebulan ini,” jawab Daniela lesu.
“Bagus!” seru Reza antusias.
Kening kedua orang yang duduk di depannya ini berkerut dengan wajah bingung.
“Maksudnya … ya bagus kalau kamu sudah urus. Kamu berhak bahagia, Dan,” jelas pria itu tertawa aneh.
“Makasih ya. Ada lagi yang mau ditanyakan?”
Daniela mendadak pusing, karena tadi malam kurang tidur. Ditambah lagi setelah mengadakan perjalanan jauh. Wanita itu juga tidak bisa tidur di sepanjang jalan, karena memikirkan di mana Lilis berada. Bagaimanapun juga, Lilis telah bekerja dengannya selama bertahun-tahun. Entah apa yang membuat sekretarisnya tega berkhianat seperti ini?
“Untuk sementara cukup. Kamu istirahat dulu, Dan. Sepertinya kurang sehat,” tanggap Reza.
Zayed memiringkan kepala, agar bisa melihat wajah Daniela dengan benar. Reza benar, Daniela tampak pucat.
“Oke. Kalau gitu aku permisi dulu. Telepon aja kalau ada yang mau ditanyakan lagi,” ujar Daniela kemudian berdiri.
Ketiga orang tersebut berjalan menuju pintu keluar gedung. Reza berdiri di dekat pintu seraya melihat wajah Daniela lagi.
“Aku akan kabari kamu kalau ada perkembangan.” Reza tersenyum manis membuat Zayed ketar-ketir.
Pemuda itu memiliki feeling yang tidak baik dengan kehadiran Reza. Dia bisa terancam gagal memiliki Daniela, jika mereka terus berinteraksi. Eh, ada apa dengan Zayed? Kenapa ingin memiliki Daniela? Haha!
“Makasih ya, Za. Aku tunggu informasi berikutnya,” pungkas Daniela sebelum berpamitan kepada mantan tiga bulannya itu.
Zayed dan Daniela segera beranjak menuju kendaraan. Setelah duduk di dalam mobil, pemuda itu mengamati paras bosnya.
“Ibu pucat,” cetusnya khawatir. Tanpa aba-aba punggung tangannya sudah menempel di kening Daniela.
“Gue cuma kecapekan aja. Jangan lebay deh,” sungut Daniela dengan sorot mata protes, “pulang yuk! Biar lo bisa cepat pulang ke rumah juga. Kasihan Nyokap lo dari tadi malam sendirian.”
Kepala yang dihiasi rambut model layered itu bergerak ke atas dan bawah. Seulas senyum tampak menghias paras tampan Zayed melihat Daniela khawatir dengan kondisi ibunya. Wanita seperti ini yang ia cari.
***
Keesokan hari,
“Agenda hari ini temui Ibu Cindy untuk tanda tangan kontrak apartemen. Setelah itu ke kantor baru, cek persiapan.” Zayed membacakan jadwal Daniela hari ini. Kegiatan wanita itu masih belum padat, karena kantor belum beroperasi.
“Oke. Berangkat sekarang. Vania dan Yuni nanti nyusul ke kantor,” sahut Daniela menyandang tas.
Kondisi wanita itu tampak jauh lebih baik dari kemarin. Ada rona di wajahnya, tidak ada lagi yang namanya pucat. Zayed juga bisa melihat Daniela kembali bersemangat.
“Gue berangkat dulu ya, Vani,” pamit Daniela berteriak, agar bisa terdengar oleh Vania.
“Iya. Gue habis makan siang ke kantor ya, Dan,” balas Vania meningkatkan volume suara.
Tak lama kemudian kedua orang berbeda usia itu beranjak ke luar flat. Mereka harus bergegas pergi, karena Cindy ada meeting setelah tanda tangan.
“Sepupu lo keren juga ya sebagai marketing,” komentar Daniela ingat bagaimana penampilan Cindy ketika bertemu dua hari lalu.
“Kak Cindy emang modis, Bu,” tanggap Zayed singkat ketika menekan tombol turun.
Daniela menyipitkan mata sebentar. “Tapi kalau dilihat-lihat kayak sosialita deh, Zay. Blazernya branded, kalau gue tebak sih keluaran Executive. Tas LV asli dan sepatu Christian Louboutin asli juga.”
Sebagai sosialita, Daniela tahu persis barang-barang bermerk dengan satu kali pandang. Dia sendiri sudah mengoleksi berbagai jenis barang, mulai dari pakaian, perhiasan, sepatu hingga tas keluaran bermacam merek.
“Ternyata jadi marketing properti bisa kaya juga ya?” sambung Daniela berdecak kagum.
Pintu lift terbuka, sehingga Zayed tidak merespons hingga beberapa detik.
“Mungkin begitu, Bu. Fee gede mungkin ya?” Suara tawa aneh keluar dari sela bibir tipis pria itu.
“Tahu gitu mending gue kerja jadi marketing properti aja kali ya? Nggak perlu stress pikirin perusahaan, apalagi sampai ketemu sama si Julian kampret,” celotehnya bersandar tubuh dengan malas di dinding lift.
Zayed hanya nyengir kuda mendengar celotehan Daniela barusan. “Saya senang lihat Ibu back to normal lagi,” ujarnya mengalihkan pembicaraan.
“Emangnya gue selama ini abnormal?” ketus Daniela memutar mata jengah.
“Nggak gitu. Ibu selalu suuzan deh.”
Pintu lift terbuka ketika mereka tiba di basemen parkiran. Daniela melemparkan kunci kepada Zayed, sebelum pemuda itu mencapai pintu penumpang.
“Silakan masuk, Ibu Daniela terhormat.” Zayed menirukan cara supir membukakan pintu untuk atasan mereka.
Daniela tergelak seraya berdecak. Dia langsung duduk di dalam mobil dengan pandangan masih kepada pemuda yang sekarang sedang menutup pintu penumpang. Tilikan netra cokelat kehijauan miliknya terus bergerak mengawasi Zayed, hingga duduk di kursi kemudi.
“Gimana kondisi Nyokap lo?”
“Ya, kayak biasa, Bu. Masih belum ada perkembangan.”
“Semoga cepat sembuh ya,” harap Daniela sungguh-sungguh.
Suasana menjadi hening ketika kendaraan jenis sedan tersebut meninggalkan area basemen apartemen. Daniela kembali menoleh kepada Zayed yang fokus mengemudi.
“Kenapa Ibu lihatin saya?” tanyanya melirik dengan raut bingung.
“Nggak. Penasaran aja sih kenapa cowok seganteng lo nggak punya cewek. Emang nggak ada cewek yang deketin lo?” pancing Daniela masih mengamati Zayed.
“Kalau yang deketin banyak, Bu. Tapi saya nggak punya waktu buat pacaran.”
Bibir Daniela maju ke depan ketika kepala mengangguk. “Bener juga ya. Waktu lo tersita buat kerja dan kuliah.”
Zayed bergumam membenarkan perkataan Daniela barusan.
“Beneran nggak pernah pacaran?” selidiknya lagi.
“Ehmmm … kalau pacaran sih dulu pernah, Bu. Waktu SMA. Cinta monyet.”
“Sama kayak gue dan Reza dong?”
Tarikan napas berat terdengar di sela hidung Zayed ketika mendengar Daniela menyebutkan nama Reza.
“Ya kurang lebih. Nggak berkesan juga.”
“Emang kalian nggak pernah ciuman?” Daniela kembali mengajukan pertanyaan bernada penasaran.
Zayed menggelengkan kepala. “Ibu sendiri sama Pak Reza pernah ciuman?”
Daniela menggoyangkan kedua tangan seraya menggelengkan kepala. “Pegangan tangan aja nggak pernah. Gue itu dulu cupu banget. Makanya Reza sampai pangling lihatin gue waktu ketemu di depan lift.”
Iras wajah pemuda itu mendadak datar. Tatapannya kini fokus melihat jalan raya, tanpa tahu lagi bagaimana ekspresi Daniela sekarang.
“Zay,” panggil wanita itu berhasil menarik perhatian Zayed lagi kepadanya.
“Ya?”
“Ngomong-ngomong. Lo nggak pernah deh cerita tentang Bokap. Apa udah almarhum juga sama kayak Bokap gue?”
Pertanyaan yang dilontarkan Daniela barusan nyaris membuat Zayed menginjak rem dadakan. Pegangan di roda kemudi langsung erat ketika teringat dengan sang Ayah.
Bersambung....
Yuk, Kakak-kakak semua. Bantu dukung novel ini dengan memberikan review positif dengan bintang 5. Masuk ke dalam penilaian lomba juga soalnya. ^^

Komentar Buku (109)

  • avatar
    AjaYuni yuni

    janda merasakan

    03/08/2025

      0
  • avatar
    AndikDikayul

    bagus bangetttt

    24/06/2025

      0
  • avatar
    Jihan Anggita

    Bagusss

    23/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru