Sharing Room

Meninggalkan kegalauan memikirkan kamar hotel, Daniela dan Zayed sepakat menikmati hidangan yang telah tersedia. Mereka makan dengan lahap tanpa bersuara. Hanya bunyi peraduan sendok-garpu dengan piring dan gelas yang terdengar.
“Udah berapa lama gue nggak kesini? Ada kali setahunan ya?” gumam Daniela setelah menandaskan semua menu makanan. Dia mengelap pinggir bibir terlebih dahulu menggunakan tisu.
“Saya dong, udah lama banget.” Zayed pantang kalah. Dia bersandar di kursi, karena kekenyangan.
Daniela manggut-manggut, kemudian melihat lagi kepada asistennya. “Lo sendiri mau nggak sharing room sama gue?”
Pertanyaan itu dilontarkan setelah Daniela berpikir matang-matang. Dia tidak punya pilihan lagi. Mustahil membiarkan Zayed tidur di mobil sendirian. Pria itu harus mengemudi ke Jakarta besok pagi, sehingga harus dalam kondisi fit.
“Hah?” Mata elang Zayed berkedip pelan.
Wanita itu mengalihkan pandangan ke tempat lain seraya memindahkan rambut ke belakang. “Nasib gue dan mobil kesayangan gue ada di tangan lo besok. Bahaya nyetir kalau tubuh lo sakit-sakit, gara-gara tidur di mobil.”
Zayed menelan ludah ketika membayangkan apa yang akan terjadi jika tidur dengan Daniela di kamar yang sama, bahkan mungkin di ranjang yang sama.
“Jangan mikir aneh-aneh deh. Gue juga belum pernah tidur sama cowok di kamar hotel, maksudnya yang bukan suami ya,” jelas Daniela meluruskan.
“Kondisinya sekarang itu urgent. Terpaksa,” tegasnya menambahkan, “so, lo mau nggak?”
Terdengar tarikan napas berat dari sela hidung bangir pemuda itu. “Saya juga belum pernah, Bu,” desisnya nyaris berbisik.
Daniela menahan diri sekuat tenaga agar tidak tertawa. Di zaman edan seperti ini, masih ada laki-laki seperti Zayed? Wah! Luar biasa!
“Ya udah, Bu. Tapi kita coba tanya langsung ke pihak hotel dulu, kali aja ada kamar yang kosong. Murah juga saya nggak masalah,” sahut Zayed akhirnya setuju walau tetap memberi opini. Sebisa mungkin ia tidak tidur dengan Daniela dalam satu kamar. Bahaya jika hal itu terjadi. Haha!
“Oke.” Daniela melirik piring kosong yang ada di depan Zayed. “Lo udah kelar, ‘kan?”
Pemuda itu mengangguk singkat.
“Kita pergi sekarang. Hotelnya deket sini kok,” serunya seraya berdiri. Daniela berjalan ke kasir dan membayar semua tagihan.
Zayed sebenarnya merasa malu, karena sejak tadi siang Daniela yang membayarkan makanannya. Namun ia masih belum bisa berbuat banyak, karena baru mendapatkan pekerjaan tetap. Dia berjanji akan mentraktir wanita itu ketika gajian bulan berikutnya, karena gaji bulan ini digunakan untuk membayar wisuda dan biaya pengobatan rutin sang Ibu.
Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di hotel yang dimaksud. Ternyata hotelnya bersih walau harga terjangkau. Oleh karena itulah, Daniela memilih tempat ini untuk menginap. Sebenarnya ada penginapan lain yang lebih murah, tapi kurang bersih. Wanita itu enggan tidur di tempat yang jorok.
“Selamat malam, Ibu dan Bapak. Ada yang bisa dibantu?” sapa petugas resepsionis pria yang bertugas pada malam hari.
“Saya barusan pesan kamar di TravelAnda. Atas nama Daniela Jovanka,” balas Daniela seraya menunjukkan reservasi di aplikasi TravelAnda, kemudian menyerahkan KTP (Kartu Tanda Penduduk).
Resepsionis melihat pesanan terlebih dahulu dan mencocokkan dengan data pemesanan yang ada di tools khusus hotel.
“Pemesanan atas nama Ibu Daniela Jovanka, satu Deluxe King Room.” Resepsionis kembali mengulangi sesuai dengan data yang dipesan oleh Daniela.
“Benar, Mas.” Daniela bergumam sebentar. “Kamarnya masih ada lagi nggak, Mas? Buat ponakan saya.”
Zayed ingin melayangkan protes ketika mendengar Daniela menyebutnya dengan kata ponakan. Namun niat itu diurungkan, khawatir petugas hotel curiga dan berpikir mereka akan check-in dengan niat buruk.
“Maaf, Bu. Kebetulan kamar yang lain sudah penuh. Ada rombongan kantor yang menginap di sini,” ucap resepsionis ramah.
Bibir berisi milik Daniela maju ke depan. Dia menoleh ke samping kanan belakang, tempat Zayed berdiri.
“Tuh, Tante bilang juga apa. Kamu sih ngeyel, minta kamar sendiri.” Mata cokelat kehijauan Daniela mendelik nyalang. “Pakai malu segala tidur satu kamar sama Tante.”
Tangannya bergerak menunjuk ke pangkal paha Zayed, sebelum kembali berujar, “Tante loh yang suka ganti popok kamu waktu masih bayi. Kalau kamu BAB (Buang Air Besar) juga Tante yang bersihkan,” sambungnya membuat wajah pemuda itu memerah.
Astaga! Daniela, lo ngomong apa sih? Udah senewen ya, gara-gara pikirkan TravelAnda? gerutu batinnya.
Wanita itu kembali menoleh ke arah resepsionis yang sedang menahan tawa. “Biasa, Mas. Ponakan zaman now. Suka malu kalau tidur sama Tante sendiri. Padahal dulu kalau tidur suka dipeluk,” celotehnya lagi agar meyakinkan resepsionis kalau Zayed adalah keponakannya.
“Saya juga begitu, Bu. Agak risih kalau tidur satu kamar sama Tante, jadi maklum adeknya juga begitu,” tanggap pria berusia akhir dua puluhan itu.
Strategi berhasil, batin Daniela girang.
“Ini kunci kamar Ibu. Jika butuh extra bed, akan saya bantu,” tawar resepsionis kemudian.
“Kalau tambah extra bed berapa, Pak?”
“Seratus lima puluh, Bu.”
Daniela tersenyum seraya menggeleng. “Nggak usah, Pak. Pakai yang udah ada aja. Tempat tidurnya juga king size,” tolaknya tidak ingin mengeluarkan uang lagi.
“Kamarnya ada di lantai dua paling ujung lorong ya, Bu. Jika ingin sesuatu, bisa hubungi line phone nomor 202,” pungkas resepsionis menyerahkan kunci.
Tanpa menunggu lama lagi, wanita itu segera beranjak menuju lantai dua. Zayed menyusul di belakang dengan hening. Dia benar-benar kagum dengan akting sang Atasan barusan. Dengan wajah cantik seperti itu, seharusnya Daniela bisa menjadi pemain film tanpa repot-repot memikirkan perusahaan.
“Ibu kenapa nggak jadi pemain film atau sinetron aja sih?” komentar Zayed setelah mereka hampir tiba di depan pintu kamar yang disewa.
“Males. Lebih enak jadi pengusaha,” cicitnya jutek.
“Bukannya jadi pengusaha lebih capek, Bu?”
Daniela menyerahkan kunci, pertanda Zayed yang harus membuka pintu. “Lo nggak tahu dunia entertainment itu gimana sih? Ada berapa banyak kasus pelecehan seksual di sana?”
Zayed menatap bingung, karena sangat jarang membaca berita online apalagi televisi. Tangannya terus bergerak membuka kunci kamar, sehingga ruangan yang didominasi warna putih terlihat begitu saja.
“Artis sekelas Hannah Alrashid aja kena, apalagi gue yang remahan,” papar Daniela ketika melangkah ke dalam kamar.
Ya, dunia entertainment memang kejam. Masih belum ramah dengan artis perempuan. Kekerasan seksual masih kerap terjadi, entah hanya sekedar disentuh atau sampai ke tempat tidur. Hannah Alrashid mewakili sekian banyak korban pelecehan, sampai memperjuangkan hal ini hingga sekarang. Menurutnya pemerintah harus memperhatikan juga masalah ini, agar tidak berkelanjutan. (Keterangan lebih lanjut bisa dilihat di IG @hannahalrashid).
Pemuda itu mengangguk paham, setelah mendengar penjelasan Daniela barusan. Dia meletakkan tas yang ditenteng di bawah kaki meja minimalis. Ternyata kamar ini cukup besar, tidak sekecil yang ia pikirkan. Tempat tidur juga luas sehingga mustahil mereka berdekatan.
Daniela melepaskan cardigan yang dikenakan, sebelum mengeluarkan pakaian yang akan dipakai malam ini.
“Gue mandi dulu ya. Gerah nih, sekalian ademkan pikiran,” seloroh wanita itu membuat perhatian Zayed teralihkan ke arahnya.
“Iya, Bu. Saya setelah Ibu aja,” sahutnya singkat.
Zayed berdiri lagi setelah mengeluarkan pakaian ganti. Dia duduk di pinggir tempat tidur, karena tidak ada sofa di kamar ini. Sesaat kemudian ia menghubungi sang Ibu untuk memastikan keadaannya. Embusan napas lega meluncur, karena Soraya baik-baik saja.
Sepuluh menit kemudian, terdengar bunyi pintu kamar mandi dibuka dari dalam. Daniela muncul mengenakan satu setel pakaian yang cukup menggugah selera. Hotpant satu jengkal di atas lutut dan tanktop. Tampak senyum kecut di paras wanita itu.
“Sorry, gue cuma bawa ini buat pakaian ganti. Gue nggak biasa tidur pakai baju panjang-panjang gitu,” tuturnya nyengir kuda.
Ujian apa yang akan dilalui malam ini, ya Tuhan? keluh Zayed di dalam hati.
Bersambung....

Komentar Buku (109)

  • avatar
    AjaYuni yuni

    janda merasakan

    03/08/2025

      0
  • avatar
    AndikDikayul

    bagus bangetttt

    24/06/2025

      0
  • avatar
    Jihan Anggita

    Bagusss

    23/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru