Sorot mata Daniela berganti malas ketika mencantolkan tas di pundak kiri. Dia sengaja memasang tali menyilang seperti itu, karena akan menaiki motor lagi. Bisa dijambret jika menyandangnya di bahu kanan. “Justru itu jadi nilai plus. CEO yang gagal dalam pernikahan dan percintaan, pasti nggak akan main-main buka perusahaan biro cinta.” Daniela mendesah pelan. “Bukan hanya gue aja sih, tapi pendiri yang lain juga.” Wanita itu mengibaskan tangan seraya mengernyitkan wajah. “Udah ah, berangkat sekarang. Biar bisa cari kantor.” Daniela mengeluarkan ponsel dari tas, kemudian mengetikkan pesan di ruang obrolan grup yang berisikan dirinya, Yuni dan Vania. Dia mengatakan akan pergi mencari informasi tempat yang bisa digunakan untuk kantor perusahaan yang baru. Me: Nanti kalau ketemu gue share foto dan kalian bisa lihat juga. Oke? Kaki ramping mulus itu langsung bergerak menuju pintu keluar Mc.D yang mengarah ke gedung Sarinah. Sementara Zayed mengekor dari belakang sembari memperhatikan Daniela dari atas hingga bawah. Dilihat dari sudut manapun, wanita itu benar-benar sempurna. Kekurangannya hanya pada sifat yang tidak patut dicontoh; kekanak-kanakan, temperamen dan menyebalkan. “Ibu nggak mau ganti pakaian dulu?” Pertanyaan Zayed menghentikan langkah Daniela. Dalam hitungan detik tubuh indah wanita itu berputar ke belakang. “Ngapain?” “Ibu yakin mau naik motor dengan gaun kayak gitu? Sebentar lagi panas loh,” tanggap Zayed mengerling ke pakaian yang dikenakan Daniela. Mata cokelat kehijauan berkedip pelan ketika memikirkan perkataan anak ingusan ini. Zayed benar, bisa gosong kulitnya jika mengendarai motor di tengah panas terik kota Jakarta, mengenakan pakaian seperti ini. Lagi pula, ia tidak bisa mengenakan jaket pemuda itu terus menerus. Terdengar tarikan napas berat di sela hidung Daniela sebelum menjawab, “Temani gue belanja dulu ke dalam.” “Saya, Bu?” Zayed menunjuk muka sendiri heran. “Iya. Lo ‘kan udah jadi asisten gue walau belum sign kontrak.” Daniela menggerakkan jari telunjuk ke dalam daun tangan. “Ayo ikut!” Mau tidak mau, suka tidak suka, akhirnya Zayed menurut. Seumur-umur baru kali ini ia menemani wanita berbelanja. Konon katanya kalau kaum hawa berbelanja suka lama sampai berjam-jam. Itulah yang membuat pemuda bertubuh tinggi tersebut takut. “Kapan sign kontrak, Bu?” “Habis cari kantor, kita ke apartemen tadi. Gue sekarang tinggal di sana dulu sementara. Langsung sign kontrak habis itu,” papar Daniela melangkah ringan menuju tempat penjualan pakaian. “Baik, Bu.” Pandangan Daniela beredar mencari keberadaan tempat penjual pakaian yang tidak terlalu mahal. Langkah kaki berhenti saat tiba di depan stan penjual pakaian yang tidak terlalu terkenal. Lagi-lagi tarikan napas berat terdengar di sela hidung mancungnya. Dia berharap penjual tidak mengenali identitasnya. “Selamat datang, Bu Daniela. Ada yang bisa dibantu?” sapa penjaga stan tidak sesuai dengan harapan wanita itu. Daniela tersenyum samar ketika menunjuk celana jeans dan baju kemeja non formal yang ada di gantungan pakaian. Jari telunjuk lentiknya beralih ke tempat hoodie tergantung. “Saya mau yang itu, Mbak. Ada ukuran untuk saya nggak?” tanya Daniela ramah. Zayed yang melihat tingkah laku Daniela sekarang tampak begitu takjub. Dia tidak menyangka wanita itu pintar bersandiwara. Daniela menjadi sosok yang selama ini dikenal oleh banyak orang, bukan wanita menyebalkan yang dikenalnya. Pantas saja banyak yang tertipu dengan penampilan Bu Daniela. Aku sebenarnya beruntung atau apes sih terima tawarannya? batin Zayed ketar-ketir. Dia sudah bisa membayangkan bagaimana menjadi asisten seorang perempuan galak seperti Daniela. Akan sangat jelas bagaimana nasibnya ke depan. Omelan, teriakan, bentakan dan hal sejenis akan menjadi makanan sehari-harinya. Namun, ia butuh biaya agar bisa wisuda tahun ini dan keperluan penting yang dikeluarkan setiap bulan. Zayed melihat Daniela memasuki ruang ganti. Tak lama kemudian, wanita itu keluar lagi mengenakan kemeja bermotif kotak lengan panjang dipadu dengan celana jeans. Daniela tetap menawan dalam balutan busana sederhana ini. “Gimana?” Daniela menaikkan kedua alis meminta pendapat Zayed. “Oke, Bu. Cocok.” Zayed melingkarkan ibu jari dan telunjuk. Dia berharap Daniela tidak membawanya lagi berkeliling mencari pakaian lain. “Saya ambil ini ya, Mbak. Sama hoodie ini juga,” ujar wanita itu membuat Zayed menatap tidak percaya. Sesimple itukah seorang Daniela ketika berbelanja? Bukankah seorang sosialita akan mencari pakaian branded dari satu toko ke toko lain, sampai menemukan yang benar-benar cocok? “Dua ini langsung saya pakai ya, Mbak. Tolong tag-nya dicopotin,” pinta Daniela memindahkan rambut ke bahu kiri. Pelayan tadi membantu Daniela melepaskan label pakaian yang dibeli, agar bisa dilakukan scan harga. Setelahnya mereka berjalan menuju kasir. Wanita itu juga meminta pelayan untuk memasukkan gaun yang dikenakan tadi ke dalam kantong. “Wah, saya tidak menyangka Bu Daniela sangat rendah hati. Sampai mau belanja di sini,” puji pelayan menyerahkan satu kantong berisi hoodie dan gaun. “Mbak bisa aja. Saya doakan tokonya laris ya,” balas Daniela kembali tersenyum ramah. Setelah membayar tagihan, Daniela segera beranjak ke luar dari bagian pakaian. Tempat tujuannya sekarang adalah stan aksesoris. Dia butuh ikat rambut, agar rambut panjang berwarna maroon itu tidak berantakan. “Ini satu berapa, Mbak?” Daniela mengangkat sebuah ikat rambut besar berwarna hitam. “Dua puluh ribu, Bu,” balas penjaga stan. “Makasih,” ucap Daniela setelah menyerahkan uang dua puluh ribu. Dia segera mengikat rambut dengan rapi. “Beres, ‘kan?” Daniela menyeringai kepada Zayed yang diam berjalan di belakang. “Sekarang berangkat. Bisa kesiangan nanti.” Wanita itu kembali memimpin langkah di depan. “Sepatu Ibu juga sepertinya harus diganti,” komentar pemuda itu membuat Daniela mendelikkan mata. *** Dua pasang mata menatap Daniela penuh selidik ketika berada di dekat pintu flat bernomor 404. Vania dan Yuni meminta penjelasan sang Sahabat dengan keberadaan seorang laki-laki muda yang ada di sampingnya. “Gue ceritakan di dalam aja ya,” kata Daniela tersenyum aneh. Dia membuka sepatu kets berwarna putih yang baru saja dibeli tadi. Yup, walau sempat mengomel di awal, akhirnya wanita itu menuruti saran dari Zayed. Meski penasaran dengan pria yang bersama dengan wanita itu, Vania dan Yuni bergerak memasuki flat juga. Mereka kembali menyipitkan mata seraya menahan diri untuk mengajukan pertanyaan. Apalagi Daniela pulang dengan mengenakan pakaian berbeda, tidak seperti berangkat tadi. Vania masih ingat dengan gaun yang dikenakan sahabatnya tadi pagi. Daniela berdiri di depan Vania dan Yuni yang kini telah duduk. Dia menunjukkan sikap seperti seorang siswa yang siap diinterogasi oleh guru, setelah melakukan kesalahan. “Perkenalkan ini Zayed.” Daniela mengulurkan tangan ke arah Zayed sebentar. “Sorry gue skip cerita bagian dia ke kalian waktu itu.” “Waktu itu kapan?” Vania menaikkan dagu ketika bertanya kepada Daniela. “Ya waktu gue tahu kalau Julian gay.” Daniela nyengir kuda ketika memberi jeda. “Jadi waktu gue nangis di depan restoran, kebetulan Zayed ada di sana. Dia lihat gue, trus anterin gue pulang.” Yuni mengangkat telunjuk, kemudian diarahkan kepada Daniela dan Zayed bergantian. “Kalian udah lama kenal?” Zayed menggoyangkan kedua tangan seraya menggeleng tegas. “Nggak, Bu. Saya baru ketemu sama Bu Daniela di sana,” jelasnya jujur. “Kok sampai bisa anterin pulang?” Kali ini Vania yang bersuara. Daniela mendesah pelan. “Bisa nggak bahas ini nanti aja? Gue masih ada perlu nih sama Zayed.” “Perlu apa?” Pertanyaan dengan nada interogasi diajukan oleh Yuni. “Lo kemarin suruh gue cari asisten pribadi, ‘kan?” Wanita berambut pendek itu mengangguk cepat. “Nah udah ketemu nih. Zayed yang bakal jadi asisten gue.” “What??” lontar Vania dan Yuni bersamaan dengan tatapan seragam, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Daniela barusan. “Emang anak ingusan kayak gini bisa dipercaya?” cicit Yuni menunjuk Zayed. “Umur saya dua puluh empat, Bu. Bukan anak ingusan lagi,” tanggap Zayed keberatan. “Diam lo! Gue lagi ngobrol sama Daniela,” balas Yuni sangar. Zayed auto bergidik ketika sadar telah masuk ke kandang singa sekarang. Ada tiga orang singa betina yang siap menerkamnya. Pantas saja aura ketika memasuki flat ini terasa begitu menyeramkan. Pemuda itu mulai bimbang untuk meneruskan rencana bekerja sebagai asisten Daniela. Berada di sini kurang dari lima belas menit saja sudah membuatnya ketakutan, apalagi jika menghabiskan waktu seharian? Bersambung....
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
janda merasakan
03/08/2025
0bagus bangetttt
24/06/2025
0Bagusss
23/06/2025
0Lihat Semua