"Mama tau dan mama merasakan hal apa yang selama ini kamu risaukan, Mira." Dengan kedua tangan yang saling meremas, Mira mencoba tetap santai dengan mencoba melempar pandangan, menatap pemandangan yang tersaji di balik kaca mobil. Namun ternyata itu tak berhasil, rasa gelisah di hati malah kian menjadi-jadi rasanya. "Pak, bisa cepetin mobilnya lagi, nggak?" Seorang supir yang sedang memegang kendali akan stir pun segera mengangguk tanpa tanya ketika mendengar permintaannya. Well, meskipun pada kenyataannya kecepatan mobil sudah ditambah, akan tetapi tetap terasa lambat bagi Mira. Belum lagi, deretan kata demi kata yang Mama Janu katakan tadi saat di telepon yang kini terngiang-ngiang tanpa berniat mau pergi—membuat ia rasanya ingin menghilang sekarang juga dari sini dan sampai di sekolah dengan cepat. "Kamu sudah membacanya, kan? Mama harap dengan itu, kamu juga berhenti merisaukan hal-hal yang tidak perlu itu." Menggigit bibir bawahnya. Tidak, tidak bisa. "Kamu harus percaya Mira, kebenaran itu benar adanya." Meneguk ludah. Sorot netra sayunya yang nampak lelah karena tak mampu terpejam dua malam ini, melirik kecil pada buku catatan disamping. Rematan di kedua tangannya terlepas, begitu salah satunya terulur meraihnya dengan jari-jemari yang agak bergetar. Menarik nafas, Mira menyiapkan oksigen sebanyak mungkin untuk kembali membacanya—entah yang sudah ke berapa kalinya—masih berharap isi tulisan yang tertera disana berubah, namun sayangnya tidak sama sekali. Semuanya tertulis, tentangnya. [Hal. 01] Catatan Janu Dwi Maharga: Rupanya cewek berdasi biru yang gue lihat di sekolah sebelah waktu itu bareng Rendi sama Mark, namanya Miracle Ajidarma. Nama yang cantik, secantik pemiliknya. Sesuatu yang berada didalam sana kembali berdegup kencang. Demi apapun, Mira tak menyangka. Bagaimana bisa sosok yang selama ini begitu dingin, nyatanya lebih dulu mengenalnya, bahkan sebelum ia mengenyam bangku SMA. Sungguh sulit untuk ia percaya. [Hal. 02] Catatan Janu Dwi Maharga: Ternyata dia biasa dipanggil Mira. [Hal. 03] Catatan Janu Dwi Maharga: Miracle Ajidarma. Dia istimewa, ajaib juga hebat disaat yang sama. Ketika membacanya untuk pertama kali, Mira dibuat tidak mengerti namun sekarang tentu tidak. Sebab, di halaman selanjutnya terdapat sebuah jawaban yang membuat tanda tanya di benaknya terhapus. [Hal. 04] Catatan Janu Dwi Maharga: Dia istimewa, karena bisa buat gue nggak bisa mengalihkan pandangan saat melihatnya kali pertama. Dia ajaib, karena bisa buat jantung yang selama ini gue ragukan fungsinya, berdetak di luar kendali cuma karena sorot sayu di kedua matanya. Dia hebat, karena bisa buat gue yang nggak mau ribet repot-repot jadi pengutit cuma karena terlalu pengecut buat ngajak dia kenalan. Tidak tahu. Mira tidak tahu perasaan seperti apa yang cocok untuk menggambarkan sesuatu yang kini tengah ia rasakan. Semua terasa bercampur, sulit untuk ditelaahnya. Ia masih terus lanjut membaca, walau dengan pikiran yang melayang entah kemana. [Hal. 05] Catatan Janu Dwi Maharga: Gue nggak tau kapan pastinya gue berani benar-benar muncul di hadapannya. Tapi sebelum hal itu terjadi, gue akan mempersiapkan sesuatu yang gue butuhkan sebelum melangkah lebih jauh. Gue mau tau hal banyak tentang Mira, bukan cuma dari luar tapi dari dalam pun juga. [Hal. 06] Catatan Janu Dwi Maharga: Mira punya sepupu yang deket banget sama dia. [Hal. 07] Catatan Janu Dwi Maharga: Ternyata Mira sama dengan sepupunya. Banyak bicara. Tapi hal itu hanya ditunjukan pada orang yang dia anggap dekat. Selebihnya? Dia kalem, tapi nggak bisa dibilang pendiam. [Hal. 08] Catatan Janu Dwi Maharga: Gue nggak tau apa alasan dia keliatan sering sendiri, kalo nggak lagi sama sepupunya. Tapi gue tetap mendukung itu, dari pada bergaul dengan orang disekitarnya? yang kenyataannya nggak benar-benar tulus sama dia, mereka cuma ngelirik nama belakangnya 'Ajidarma' [Hal. 09] Catatan Janu Dwi Maharga: Unik. Gimana bisa dia nggak suka mendapat ucapan selamat ulang tahun sekaligus ulang tahunnya dirayain? Ok. Kalau Tuhan beneran ngasih gue kesempatan buat saling kenal sama Mira, gue akan jadi orang pertama yang gak ngasih ucapan dan hadiah saat hari ulang tahunnya. Karena dia, nggak suka. [Hal. 10] Catatan Janu Dwi Maharga: Gue nggak tau kenapa orang-orang itu bisa bertahan liat gimana saat Mira bertingkah menggemaskan. Kalo gue jadi mereka, gue mungkin udah marah dan ngamuk. Marah, karena kesel bayangin kalo sesuatu yang nggemesin itu bukan cuman gue seorang yang bisa nikmatin. Ngamuk, karena gue nggak berani sekedar cubit pipinya atau memeluknya. Padahal dia lagi gemes-gemesinnya. [Hal. 11] Catatan Janu Dwi Maharga: Hari itu, saat hari kelulusannya. Bukannya sibuk berfoto ria, gue liat Mira malah duduk di belakang sekolah. Asik sendiri makan sekotak bolu. Gue tau, dia emang sesuka itu sama yang namanya bolu. Jadi pengin beliin dia bolu, tapi tunggu. Memangnya gue berani ngelakuin hal itu? [Hal. 12] Catatan Janu Dwi Maharga: Tersenyum menurut gue itu buang-buang tenaga. Makanya gue hampir nggakgak pernah mau ngelakuin. Sampai-sampai bikin bukan cuma Bang Jaendra nyebut gue kanebo kering karena hal itu. Gue nggak peduli. Gue emang pernah ngerasa seneng tapi gak sampe bikin gue senyum. Tapi pagi ini beda, tepatnya hari pertama gue resmi jadi anak SMA, gue senyum.Gue seneng, sampe bingung gimana caranya nunjukin rasa seneng gue selain senyum—setelah tau, fakta kalo cewek yang selama ini gue amati dari jauh ternyata, berangkat ke sekolah yang sama dengan gue. Mengalihkan tatapan kedua matanya sejenak dari membaca buku catatan di pangkuan, Mira memejamkannya, menghirup udara banyak-banyak ketika rasa menyekik terasa di dada. Ada jeda beberapa saat yang kemudian adalah matanya kembali terbuka, mulai membacanya lagi. Dimana halaman yang sekarang ia buka, merupakan tulisan terakhir yang tertera disana. [Hal. 13] Catatan Janu Dwi Maharga: Rendi bilang gue goblok setelah denger alasan gue gebukin anak orang pas pulang sekolah. Kita berdua bahkan sampe nonjok muka satu sama lain.Gue nonjok Rendi karena nggak terima pas mulutnya yang selalu bener itu bilang, kalo gue nggak berhak kesel apalagi gebukin cowok-cowok yang deketin Mira. Rendi nonjok gue karena kesel sama gue yang selalu ngelak pas dia ajuin pertanyaan itu. Pertanyaan yang sama seperti yang udah pernah dia tanyain beberapa kali. Gue kenal Rendi udah tiga tahun. Dan gue tentu tau orang kaya apa dia. Tapi kali ini gue benar-benar nggak ngerti apa yang ada dipikirannya. Heran liat gelagat dia yang kenapa tetap kukuh nunggu jawaban itu keluar dari mulut gue sendiri? Padahal tanpa gue jawab pun, gue ngerti kalo dia sebenernya pasti udah tau jawabannya. Kalo gue, emang suka sama Mira. Banget malah. *** Suasana kantin sekolah nampak sepi. Hal itu disebabkan karena ini masih terlalu pagi, cukup mustahil untuk membuat siswa-siswinya nongkrong disini karena kebanyakan dari mereka tentu masih tinggal di rumah masing-masing. "Nu, gue balik ke kelas sekarang, ya." Pertanyaan dari satu-satunya gadis yang berada di meja yang diisi oleh enam pemuda itu tak hanya yang sedang ditanyai menolehkan kepala, semuanya pun dibuat ikut serta. "Gue anterin." Balasan dari Janu membuat cebikan di bibir Jean tercipta. "Terserah." Yang setelahnya adalah Jean yang segera beranjak pergi. Janu sudah bersiap akan menyusul tetapi, Haikal yang tadi asik berebut kuaci bersama Aji menahan pemuda itu. "Yak, Janu. Mau kemana lo? Itu bakso nggak lu abisin dulu?" "Nggak." "Heh!" Suara Haikal yang agak keras itu bukan hanya membuat Aji yang tadi asik mengambil kuaci sebanyak mungkin untuk disimpan di kantung celana, berhenti—tetapi Ale, Rendi, dan Adinata yang sedang bermain game di ponsel masing-masing pun juga. Haikal berkaca pinggang walau sebelum melakukannya pemuda itu sempat mendelik kecil ke arah Aji yang ketahuan diam-diam mengambil kuaci miliknya. "Mentang-mentang nggak cari duit, beli makanan nggak diabisin!" Hanya tatapan datar yang Janu layangkan pada Haikal sebelum pemuda itu melenggang pergi tak peduli. Belum terlalu jauh langkah Janu, suara Rendi terdengar. "Nu," panggil Rendi setelah tadi pemuda itu sempat mem-pause game yang tadi dimainkan. Sementara yang sedang dipanggil memang menghentikan langkah, namun terlihat tak berniat membalikan badan yang mana membuat Rendi berinisiatif mendekat. "Kenapa?" "Apa?" "Kenapa lo Nggak biarin aja Jean pergi ke kelasnya sendiri?" "Nggak bisa." Rendi terkekeh. "Gue tau lo khawatir. Tapi, kalo lo terus-terusan begitu, emangnya lo nggak takut seseorang yang berdiri disana ..." telunjuk pemuda itu menunjuk sosok Mira dari kejauhan yang entah sejak kapan gadis itu ada disana. "Salah paham?" Janu nampak membasahi bibir bawahnya sekilas sebelum menoleh, tak lagi mengikuti arah telunjuk Rendi. "Kenapa dia harus salah paham?" Hanya senyum penuh arti yang Rendi tunjukan sebagai respon. Ada jeda beberapa saat sebelum Janu menatap Rendi tepat dan berkata, "Nggak bakal." "Lo, yakin?" "..." "Emangnya lo udah bilang sama Mira kalo ..." Rendi menjeda ucapannya hanya untuk menikmati sebentar bagaimana sorot tajam yang penuh amarah kini menyelubungi kedua mata Janu. "..." "Jean itu ..." "Rendi." Janu memperingati. Rendi terkekeh, setelahnya adalah dengan santai pemuda itu kembali membuka mulut. Meski bukan melontarkan kalimat yang sesungguhnya ingin dikatakan. Tetapi Rendi tahu bila tanpa mengatakan secara gamblang pun, Janu mengerti makna kalimat apa yang diucapkannya tersebut yang serupa bisikan saking pelannya. "Jean itu, biar bagaimana pun dia seorang perempuan, Nu." ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (37)
RamliAlwiyah
bagusss
20/05/2025
0
Putri
baguss
06/05/2025
0
AprilianiRaina
bagus bnget ceritanya apalagi karakter janu yg dingin kaku ga bisa me ekspresi kan dirinya sama mira, love bngett deh🤗
bagusss
20/05/2025
0baguss
06/05/2025
0bagus bnget ceritanya apalagi karakter janu yg dingin kaku ga bisa me ekspresi kan dirinya sama mira, love bngett deh🤗
04/04/2025
0Lihat Semua