"Bagaimana Shi Fu? Apakah semakin jelas hari ini?" Seorang lelaki tua berpostur tinggi gagah bertanya. "Masih seperti kemarin, Paman Lao Hu. Namun menurut perhitungan beberapa minggu ke depan naga itu akan bersinar cerah dan kita dapat menemukan posisi jelasnya. Hari ini saya lihat masih ada awan putih yang melindungi dari penglihatan dunia luar," tutur seorang lelaki tampan yang dipanggil Shi Fu, atau guru dalam bahasa Mandarin. Lelaki tua yang dipanggil Lao Hu, mengepalkan tangan menggebrak meja. "Tidak boleh melewatkan kesempatan seperti ini! Awasi terus!" bentak Lao Hu pada semua orang yang hadir di ruangan. "Baik, Lao Hu!" Semua orang berteriak serempak, kecuali Shi Fu muda tadi. "Kalau sudah tidak diperlukan saya mohon diri." Shi Fu muda mengatupkan tangan di depan dada. Benar-benar gestur penuh hormat. "Antarkan Shi Fu Li keluar." Lao Hu melambaikan tangan. "Baik!!" Semua orang lagi-lagi serempak berteriak. Dua orang lelaki tegap mengantar Shi Fu Li sampai ke mobilnya. Dia langsung melajukan mobil itu pergi. Bagi orang lain panggilannya adalah Shi Fu, karena dia adalah seorang praktisi mistik terkenal di negaranya. Bagi dirinya sendiri dia adalah Li Wei, seorang putra tunggal dari keluarga terpandang dan kaya-raya. Uniknya setiap generasi hanya memiliki seorang anak tunggal lelaki, tidak pernah wanita, maka pasangan untuk mereka pun dipilih dengan hati-hati supaya darah keluarga Li tetap murni. Dua hari yang lalu si tua Lao Hu mengundangnya untuk membaca penyebab kematian kerabat yang bernama Han. Sepengetahuan Lao Hu kerabatnya ini memiliki ilmu tinggi sehingga tidak ada yang dapat mengalahkan. Siapa sangka malah menemui kematian yang tragis? Saat melakukan penghitungan Li Wei terkejut. Dia menemukan sebuah bintang yang selama ini dicari oleh keluarga Li sebagai pasangannya. Tentu saja dia menyimpan semuanya dari Lao Hu. Tujuan lelaki tua itu adalah balas dendam. Namun jika Li Wei dapat memanipulasi, Lao Hu akan membantunya memperoleh bintang itu. Semalam Li Wei merapalkan ilmu penerawangan dan melihat bahwa wanita yang dia cari dilingkupi awan putih, menghalangi pandangannya. Li Wei kagum karena ada orang yang berilmu tinggi di luar sana. Dia sungguh tidak sabar untuk bertemu mereka. Sementara itu di penthouse Alex... "Bayangkan saja kalian sedang melakukan percakapan video call, kamu bayangkan Alex sedang duduk di hadapanmu, tarik dia, panggil dia," tutur Mikaela lembut. Diana mengernyit. Butiran keringat terbentuk di dahinya. Mikaela sudah menyuruh Alex duduk di atap untuk latihan ini. Diana mendorong pikirannya untuk bekerja keras melebihi kapasitas. Merasa dirinya mulai goyah, Diana kembali mengatur nafas. Dia mulai dari awal lagi, memunculkan bayangan Alex dalam pikiran. Membayangkan lelaki yang dicintai duduk di hadapannya. Diana terkesiap. Jantungnya berdegup kencang. Alex... Alex yang sedang duduk di atap menoleh. Ada yang memanggil namanya. Teringat Diana yang sedang berlatih di bawah, Alex pun memejamkan mata. Pikirannya lebih peka dalam hal mendengarkan, maka Alex dengan mudah menemukan suara Diana. Dalam kegelapan suara itu tampak seperti benang cahaya yang melayang di udara. Alex mengulurkan tangan ke arah benang cahaya itu dan merasa kesadarannya ditarik ke satu arah. Mereka kini duduk berhadapan dalam wujud spiritual, atau roh. Diana membuka mata, dia terkejut melihat Alex yang berada di hadapannya. "Alex?" tanya Diana heran. "Kamu berhasil, Princess. Aku masih duduk di atap." Alex menyeringai. "Oh, berarti ini bukan dunia nyata?" "Sepertinya bukan. Kalau tidak suasananya tidak akan sehening ini." "Benar juga...." Diana tersenyum. "Laporan dulu sana." "Oke. Segera turun ya," pinta Diana. Perlahan Diana menutup mata. Ketika membukanya lagi sosok Alex sudah lenyap. Diana melihat sekeliling, hanya ada Mikaela. "Bagus, Nak." Mikaela memeluk putrinya. "Tidak terlalu lelah lagi, kan?" "Iya, tidak lelah." Saat itu Alex berlari turun. Dia langsung memeluk Diana dengan erat. "Baiklah. Kita istirahat dulu. Kalian ngobrollah sesuka hati." Mikaela tersenyum penuh makna. "Ih, Mama...." Wajah Diana merona. "Mamamu penuh pengertian," goda Alex. Waktu berlalu dengan cepat, tidak terasa sudah satu minggu... Diana sedang menatap bayangan dirinya di cermin. Dia berputar ke segala sisi dengan wajah aneh. Hal ini tidak luput dari perhatian Alex. "Kamu sudah cantik, Istriku," goda Alex. "Hmm...." Alex bangkit menghampiri Diana, "Ada yang aneh?" "Sepertinya aku tambah gemuk...," keluh Diana. Alex tertegun. Baginya Diana masih tampak menarik. Matanya mencoba menemukan apa yang membuat wanita itu resah, tapi tidak ada. "Ini loh, pakaianku tambah sempit." Diana menarik-narik legging yang dipakainya. "Oh ya? Aku tidak melihat ada yang aneh." Alex sedikit membungkuk untuk memperhatikan area yang dimaksud sang istri. Lekukan tubuhnya masih menggairahkan. "Kamu mah...," keluh Diana lagi. "Apakah ini cara baru untuk menggodaku? Karena sepertinya berhasil." Alex menyeringai. "A...pa?" Alex memeluk Diana dari belakang dan menciumi lehernya dengan liar. "Ah, aku sedang tidak berminat." Diana berusaha melepaskan diri. "Kamu tidak usah bergerak, Princess. Biar aku yang bekerja." Tidak terdengar protes dari mulut Diana. Beberapa saat kemudian sepasang anak manusia itu sudah bergumul sesuai peran masing-masing. Mereka mengakhiri dengan berpelukan nyaman. "Satu minggu makan masakan mama benar-benar bikin aku tambah gemuk." Diana bersandar nyaman di dada Alex. Dia senang mendengarkan suara detak jantung yang menenangkan. "Aku suka dengan apa yang kulihat," goda Alex. "Benar?" "Benar, Princess." "Aku butuh membakar kalori. Hari ini latih aku beladiri ya?" pinta Diana dengan mata berkaca-kaca. "Kamu meminta seperti itu bagaimana aku bisa menolak?" Alex mencubit hidung Diana perlahan. Diana meringis. Sore hari Alex dan Diana sudah sibuk berlatih di atap. Diana mengejar target di tangan Alex dengan pukulan dan tendangan, hampir semuanya tepat sasaran. Suara keras ditimbulkan saat anggota tubuh beradu dengan target. Keringat membanjiri tubuh Diana. Nafasnya mulai berat. Alex memberi waktu istirahat. "Wow, sudah lama tidak latihan... Nafasku tidak kuat...." Diana terengah. "Tinggal dibiasakan saja." "Cederamu bagaimana? Masih sakit?" "Sudah aman." "Musuhmu terlalu menakutkan. Semoga tidak ada lagi yang seperti Han," desah Diana. Alex termenung. Menurut Mikaela akan ada lagi yang seperti Han, bahkan mungkin lebih kuat. "Makanya mama terus melatih kita ya...." "Kamu takut?" Alex membelai rambut Diana. "Takut, tapi setidaknya kita sudah bersiap-siap." "Ini baru istriku." Alex tersenyum lebar. Diana menyandarkan kepala di bahu Alex, kedua lengannya melingkar di pinggang lelaki itu. Alex pun merangkul wanita mungilnya dengan erat. Diana menghela nafas, "Seandainya waktu bisa berhenti...." "Aku berharap waktu bisa berputar balik. Aku akan kembali ke masa saat kita bersatu untuk pertama kalinya dan membawamu pergi dari semua kekacauan ini." "Benar juga ya." Diana tertawa. "Aku tidak bisa merasakan kehilangan lagi." Saat itu juga rasa sakit dan kesepian dalam hati Alex meluap ke permukaan. Diana mengernyit. Dia bersiap menerima beban hati Alex. "Maaf, aku tidak sengaja." Alex menyadari ketidaknyamanan istrinya. "Biarkan mengalir padaku, jangan ditahan." Diana mencengkeram kaos Alex karena rasa sakit yang masuk ke hati begitu pekat. "Diana." "Percaya padaku." Diana menatap lelaki yang dicintainya. Lelaki yang selalu menolongnya keluar dari bahaya, dia yang begitu kuat namun memendam sebuah luka besar yang menganga di hati. Alex terdiam. Air mata Diana mengalir tanpa dapat dihentikan. Tangannya menyentuh dada Alex, tempat sumber rasa sakit tersebut. Dia mengatur nafas dan memejamkan mata. "Bicaralah, Alex... Tentang kenanganmu...," lirih Diana. "Tidak banyak, hanya perasaan kehilangan, dendam, sakit hati." Diana membiarkan semua mengalir ke dalam dirinya. Perlahan, sedikit demi sedikit, kabut gelap itu dibuangnya bersama hembusan nafas. Lambat-laun tekanan di dada mereka menjadi ringan. "Selesai...." Diana bersandar di dada Alex. Jantungnya masih berdebar kencang tapi semua beban yang ada sudah lenyap. Alex pun merasa lebih baik. "Terima kasih, Princess." Alex mencium dahi Diana penuh kelembutan. "Hmm...." Diana mulai mengantuk. Dirinya lelah secara fisik dan mental. Semilir angin membelai tubuh Diana, menghantarnya menuju alam mimpi. Semuanya gelap, dan gelap. Dari kejauhan muncul sosok asing. Sosok itu mendekat dan mengamati dirinya. 'Kamu?' tanya sosok asing itu dengan logat yang berbeda. Kemudian seekor harimau putih besar muncul dari belakang mereka. Seringai memperlihatkan sepasang gigi taring yang putih dan tajam. Sepasang mata semerah darah seolah ingin menelannya bulat-bulat. 'Aku akan menemukanmu dan menjadikanmu milikku.' Sosok asing itu berkata. Tangannya menjangkau ke depan. Diana terbangun dengan rasa takut yang teramat sangat. Mimpi buruk! Mimpi yang benar-benar aneh! Alex ikut terkejut. "Mimpi buruk?" tanya Alex. Dia segera melihat apa yang terjadi dalam pikiran Diana. "Orang itu mencariku. Mereka mencariku." "Jangan takut, kamu aman di sini." Alex memeluk Diana untuk memberikan rasa aman. Sementara itu di bawah. Mikaela duduk di tempat tidurnya dengan wajah suram. Dia menghela nafas dengan berat. Orang-orang itu memiliki kekuatan yang hebat. Entah berapa lama lagi mereka dapat bersembunyi.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
22/02
0keren dan luar biasa
28/01
0bagus banget ceritanya, best
25/06/2025
0Lihat Semua