logo text

Bab 28 Penyergapan!

Han menampar Niko dengan punggung tangannya. Wajah Niko tersentak ke samping. Dia tidak berani menatap Han karena sepasang mata lelaki tua itu menyorotkan kematian.
"Kau kalah dengan anak kecil dan masih berani menampakkan diri di hadapanku?" Suara Han sedingin es.
Niko diam saja. Aura Han masih terlalu kuat untuk dilawan meskipun fisiknya sudah mulai dimakan usia.
"Kesempatan kedua." Han mengacungkan dua jari di depan hidung Niko, "Jika gagal lagi kamu tahu akibatnya."
"Ya Bos!"
Han mengibaskan tangan dengan ekspresi jijik seolah mengusir lalat. Laporan Niko membuat hatinya kesal. Han yang kesal harus mencari pelampiasan. Malangnya nasib wanita yang mendapat giliran untuk melayani hari ini.
Belasan tahun yang lalu seorang pemuda bernama Alexander Vorst menghancurkan sebagian bisnisnya dengan cara yang tak terpikirkan, melibatkan pihak berwajib dari dalam dan luar negeri. Han kehilangan separuh kekayaan dan bawahan.
Han meludah.
Pemuda itu kini telah menjadi orang yang diperhitungkan. Sayang sekali Alexander membiarkan dirinya terbuka untuk kelemahan. Wanita. Hanya seorang wanita. Itu sudah lebih dari cukup bagi Han.
"Pembalasan lebih kejam, Nak. Semoga kamu siap." Han tertawa bengis.
Menghadapi secara frontal mengakibatkan kerugian di pihaknya. Niko harus menggunakan cara yang sedikit lebih elegan. Tetap saja berbau teror dan penculikan, hanya saja lebih berliku.
Niko memerintahkan anak buahnya untuk terus memata-matai pergerakan Alex dari jarak aman. Mereka harus tahu kebiasaan Alex hingga detil.
Waktu berlalu...
Dua minggu digembleng oleh Alex membuat tubuh Diana lebih bugar. Kini dia dapat berlari tanpa terengah. Pukulan dan tendangannya juga lebih bertenaga, meskipun tidak dapat membuat Alex terjatuh. Refleks Diana mulai terbentuk.
Hal tambahan yang disukai Alex adalah tubuh Diana jadi lebih padat pada bagian tertentu.
Sore ini Alex mencoba sparring dengan Diana. Dia hanya akan menangkis tanpa membalas. Diana berdebar. Jack berselonjor di sofa sambil mengunyah kacang.
"Bayangkan kamu berada di jalanan. Tidak ada peraturan, tidak ada batas waktu. Lawanmu ingin melumpuhkanmu dengan cepat sehingga tidak ada waktu berpikir," tutur Alex.
Diana bersiap. Alex bergerak terlalu cepat bagi Diana. Tubuh mungilnya nyaris terbanting ke lantai kalau tidak ditahan Alex.
Mereka berhadapan lagi. Kali ini Diana menyerang lebih dulu. Pukulannya dengan mudah dihindari Alex. Begitu kuda-kudanya kembali kokoh Diana mengayunkan lutut ke perut Alex. Ditangkis dengan sukses.
"Ayo Diana... Aku di sini," goda Alex.
Terpicu adrenalin gerakan Diana menjadi lebih tangkas. Dia berhasil mendorong Alex dengan bahunya dan melayangkan siku dari sisi berlawanan. Alex menyeringai senang.
"Teruskan!" seru Alex.
Diana mulai terengah.
Alex menghentikan sparring sebelum Diana jatuh pingsan. Mereka menjatuhkan diri di sofa. Jack harus beringsut berbagi tempat.
"Lumayan untuk dua minggu." Jack memberi jempol untuk Diana.
"Siapa dulu dong pelatihnya," goda Diana.
Alex tertawa, "Melatihmu tidak sesulit yang kukira. Kamu berbakat."
"Betul. Bahkan jika aku yang melatih—"
"Jangan coba-coba!" potong Alex.
Jack mengangkat dua tangan, "Wow, tenang Vorst! Aku tidak akan merebut pacarmu!"
Diana tertawa lepas, "Kalian sudah gila. Sudahlah, aku mau mandi dulu. Silakan lanjut ngobrol." Diana bangkit dan berjalan ke pintu.
"Aku ikut." Alex melompat bangun menyusul Diana.
"Bagus. Bagus sekali!" gerutu Jack keras-keras, "Seolah kalian tidak cukup bermesraan setiap hari!"
"Diamlah kau!" teriak Alex.
"Tinggallah aku sendiri, si Jack Tua yang malang." Jack menyanyikan nada asal-asalan.
"Cari istri, kau, duda kesepian!"
Segenap ketegasan dibutuhkan Diana untuk mencegah Alex membuntutinya ke dalam kamar mandi. Pada akhirnya mereka mandi di kamar mandi masing-masing.
Baru saja Diana keluar dari kamar handphonenya berdering. Nomor tak dikenal. Siapa gerangan? Alex yang mendengar bunyi itu mendekati.
"Siapa?" tanya Alex.
Diana mengangkat bahu.
"Halo?" Diana menjawab panggilan tersebut.
"Halo, dengan Diana Hartanto?" kata seorang lelaki.
"Iya betul."
"Anda putri dari Benyamin Hartanto?"
"Betul."
"Benyamin dan istrinya mengalami kecelakaan mobil dan tidak sadarkan diri. Harap Mbak bisa ke rumah sakit untuk mengidentifikasi."
Jantung Diana berhenti berdetak selama sedetik, "Baik, rumah sakit mana?"
Lelaki peneleponnya menyebutkan salah satu rumah sakit di kota tempat tinggal orangtua Diana.
Alex cemas melihat wajah Diana yang memucat, "Ada apa?"
"Papa mamaku kecelakaan mobil dan sekarang ada di rumah sakit."
Jack mengerutkan alis.
"Kamu tahu tempatnya?" tanya Alex.
Diana mengangguk.
"Kita ke sana sekarang." Alex menyambar kunci mobil dan jaket.
Diana dan Jack mengikuti langkah Alex ke lift. Mereka meluncur turun ke parkir mobil basement.
Dalam perjalanan Jack mencoba menelepon ke rumah Ben tapi tidak ada yang mengangkat. Apakah mungkin karena sekarang sudah jam satu pagi? Beberapa nomor yang dihubungi Jack juga tidak menjawab.
Insting Jack mengatakan ada yang tidak beres. Tangannya mencolek Alex diam-diam. Alex melirik dari spion dan mengangguk. Mereka berdua merasakan hal yang sama, tapi demi Diana yang sedang panik keduanya memilih diam.
Dalam hitungan jam mobil tiba di rumah sakit yang dimaksud. Diana segera lari ke bagian informasi. Jack menyusul ketat. Alex sedikit tertinggal karena harus mengamankan mobil.
"Dimana Benyamin dan Mikaela Hartanto?" tanya Diana pada resepsionis.
"Sebentar." Si resepsionis melirik gelisah, "Mbak keluarganya?"
"Iya, saya anaknya."
"Mereka ada di ruang ICU di lantai empat."
Diana berlari ke lift.
"Pak, hanya keluarga yang boleh masuk!" seru si resepsionis pada Alex dan Jack yang mengikuti Diana.
Mereka bertiga masuk dalam lift kosong. Alex dan Jack bertukar pandang. Diana berdiri dengan gelisah. Lift terbuka di lantai empat dan Diana berlari keluar.
"Diana, pelan-pelan." Alex menarik lengan Diana. Dia curiga melihat koridor rumah sakit yang terlalu lengang.
"Aku mau lihat apakah—"
Suara tawa jahat menghentikan kata-kata Diana. Niko dan anak buahnya muncul dari berbagai sudut. Jebakan!
Spontan Alex menarik Diana ke belakang. Jack menjaga di sisi berlawanan.
"Di sini kita seimbang, Nak. Ini bukan teritorialmu," kata Niko pada Alex. "Serahkan gadis cantik itu."
"Langkahi dulu mayatku." Suara Alex setenang mata badai.
Jack menyeringai. Matanya mengunci orang-orang yang muncul dari arah belakang.
"Kamu yang memilih jalan sulit. Jangan salahkan aku jika kamu tidak keluar dari sini hidup-hidup." Niko mengangkat tangan.
Suasana langsung kacau. Anak buah Niko serempak menyerang. Alex mendorong Diana ke tembok sehingga dia dan Jack melindungi di depan. Untunglah Diana bukan tipe wanita yang menjerit karena panik, jadi telinga mereka aman.
Satu persatu anak buah Niko terlempar keluar arena. Urat menonjol di pelipis Niko. Matanya berkedut marah. Kenapa dua anak muda ini tidak dapat dilumpuhkan?
"Mundur!!" bentak Niko.
Anak buah Niko yang tersisa segera mundur. Wajah mereka menampakkan rasa takut bercampur kelegaan.
Alex menyeringai melihat Niko maju.
Niko menunjuk Alex.
"Vorst, kamu yakin bisa mengalahkannya?" tanya Jack dengan suara pelan.
"Serigala tua sudah kehilangan cakarnya. Tenang dan lihat saja. Jangan lengah," kata Alex.
"Alex, hati-hati...." Suara Diana bergetar.
"Aku akan membawamu keluar dari sini, Princess." Alex mengerling.
Alex maju. Seringai tidak meninggalkan wajahnya yang tampan. Niko mengeluarkan sebilah belati. Alex tahu Niko bukan lawan enteng. Dia pernah berhadapan dengannya dulu. Tubuh Niko yang gempal menyimpan kekuatan dan kecepatan tak terduga.
Niko menerjang dengan bentakan keras yang biasanya digunakan untuk mengguncang nyali lawan. Alex tidak terpengaruh. Sabetan belati dihindari dengan mulus. Alex menghantam pinggang Niko sekuat tenaga. Udara terdorong keluar dari paru-paru Niko. Kaki Alex menendang bagian sisi lutut, membuat Niko terhuyung.
Jack menonton dengan penuh emosi. Tangannya meninju udara. Sebaliknya Diana menonton dengan horor. Rasanya seperti sedang duduk di baris terdepan penonton arena MMA, Mixed Martial Arts.
Suara sirine terdengar di luar rumah sakit. Niko memanfaatkan setengah detik kelengahan Alex dengan mendorongnya ke tembok. Belati melintang di wajah Alex, nyaris menyentuh kulitnya. Kedua petarung adu kekuatan dengan nyawa taruhannya. Alex meninju ketiak Niko beberapa kali untuk melonggarkan cekikan. Belati menggores wajah Alex, harga ringan yang harus dibayar sebagai ganti nyawa.
Diana mendekap mulut melihat darah mengalir dari luka Alex. Niko tidak puas. Mendadak polisi berhamburan dari lift. Alex menarik Diana ke tangga darurat. Jack terlambat mengikuti dan ikut tertangkap. Alex dan Diana berlari turun ke lantai tiga, menerobos masuk ke kamar pasien yang kebetulan kosong. Diana menemukan baju pasien dan melemparnya kepada Alex. Dia menarik tirai menutupi tempat tidur sementara Alex berganti pakaian. Diana menemukan perban dan plester di kabinet, dengan cepat menempelkannya pada luka Alex.
Begitu polisi masuk ke kamar untuk menggeledah mereka hanya akan menemukan seorang pasien dengan perban di wajah dan seorang wanita penunggu pasien. Polisi pun melanjutkan pencarian.
Diana menghembuskan nafas lega.
Alex tersenyum geli, "Gerakanmu cepat sekali."
"Entahlah, kalau panik aku jadi kreatif."
Alex menyelipkan rambut Diana ke belakang telinganya. Tatapannya sangat lembut, berbeda dengan tadi, "Yang penting Princess-ku tidak terluka."
"Sepertinya Jack tertangkap," kata Diana.
"Dia akan bertahan hidup. Lagipula ini kota tempat tinggalnya," cetus Alex.
Diana tertawa, "Benar juga."

Komentar Buku (46)

  • avatar
    aulianrahmaaulia rahma

    bagus

    22/02

      0
  • avatar
    NdemuEfren

    keren dan luar biasa

    28/01

      0
  • avatar
    Ie Ciahua

    bagus banget ceritanya, best

    25/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru