Niko masih duduk di meja yang sama saat dia melihat karyawan club mulai 'mengusir' pengunjung yang enggan pulang. Matanya melirik ke arah pintu ruangan Alex. Dua bodyguard masih berdiri tegap disana, ditambah lagi ada seorang lelaki yang berjas turut berdiri di samping salah satu bodyguard. Niko memicingkan mata. Sebentar lagi dia akan melihat kebenaran. Alex memutuskan tidak ada gunanya bersembunyi. Dia tidak pernah takut pada apa pun dan Alex yakin dapat melindungi Diana. Apalagi ada Jack bersama mereka. Pintu terbuka. Niko melihat Alex keluar diikuti seorang wanita muda bertubuh mungil. Dari jarak jauh Niko dapat melihat bahwa wanita itu cantik dan dari penampilannya jelas bukan wanita penggoda. Lelaki berjas di sisi pintu ikut turun bersama mereka. Pengawal pribadi si wanita kah? Niko beranjak. Dia melangkah perlahan ke dasar tangga. Tatapannya bertemu dengan Alex. "Perkenalkan aku dengan dewi-mu." Niko menyeringai. Matanya mencari-cari wajah wanita yang tertutup tubuh Alex. "Huh, tidak ada keperluan untuk mengenalkan kalian." Alex tertawa. "Hei, jangan begitu dengan teman lama. Kamu perkenalkan wanitamu, aku akan perkenalkan punyaku." Niko ikut tertawa. Alex menggenggam erat tangan Diana, "Wanita mana yang tahan denganmu?" "Sama denganmu, Adik. Aku tidak menyangka ada wanita yang kau simpan lebih dari satu kali." "Aku tidak menahanmu. Malam sudah larut dan semua orang sudah meninggalkan tempat ini." Suara Alex tenang namun mengandung ancaman. Niko sedikit terhenyak. Bocah ini mengancamnya? "Baiklah. Aku tidak akan memaksa." Niko bergeser menepi, "Sampai bertemu, Adik." Alex berjalan melewati Niko. Tangannya menarik Diana ke sisi tubuhnya. Niko tidak dapat melihat wajah Diana dengan jelas. Tidak penting. Dia sudah mendapat kepastian. Gestur Alex menunjukkan bahwa wanita muda itu sangat berharga. Niko menjilat bibir. Dia bersemangat memikirkan apa saja yang dapat dilakukan terhadap tubuh mungil itu. Di dalam mobil... Alex melihat wajah Diana pucat. Penampilan Niko memang membuat orang biasa takut. "Tidak lazim melihat orang itu muncul di tempat umum," kata Jack. "Kamu termasuk orang penting karena dikunjungi Niko secara khusus." Alex tidak menjawab. Dia lebih khawatir dengan Diana. Alex segera melajukan mobil menembus malam. Dari spion Alex dapat melihat sosok Niko berdiri mengamati mereka. "Lupakan orang itu. Dia tidak dapat berbuat macam-macam selama ada aku," kata Alex. "Tidak kusangka ternyata kamu sehebat itu, Vorst. Aku tidak salah memilih tempat menginap." Jack tertawa. "Perlu kuingatkan berapa sewa kamarmu per hari?" cetus Alex. "Kutarik kata-kataku barusan. Kau tuan rumah yang kejam," keluh Jack. Alex menyeringai. Diana terdiam sepanjang perjalanan pulang. Tiba di penthouse... Semua orang menuju kamar masing-masing, melakukan ritual pembersihan diri sebelum beristirahat. Diana berendam di bathtub. Aroma sabun cair membantunya rileks. Hatinya masih dilanda rasa takut. Dia masih ingat sepasang mata Niko menatapnya seperti binatang kelaparan yang melihat daging segar. Benaknya pun terasa seperti binatang. Apakah Alex tidak melihat isi pikiran Niko? Tadi dia tampak tenang. Pintu kamar mandi diketuk. "Aku masuk," kata Alex. Diana panik. Dia mendekap tubuhnya di bawah air, "Tunggu! Jangan masuk!" seru Diana. Pintu terbuka perlahan dan Alex masuk tanpa suara. Matanya menghindar menatap air. "Kamu lama sekali di sini, kupikir ada apa-apa." Alex duduk di samping bathtub tanpa berusaha melihat. "Aku tidak apa-apa... Tunggulah di luar..." Wajah Diana merah padam. Alex tersenyum. Diana masih malu padahal dia sudah melihat semuanya. "Bagaimana kalau aku bergabung denganmu?" "Tidak boleh!" seru Diana. Alex menahan tawa, "Baiklah. Jangan lama-lama, Princess... Kalau tidak aku akan masuk lagi." Begitu Alex keluar Diana menghembuskan nafas panjang. Lega. Dasar lelaki kurang ajar, batin Diana. Beberapa saat kemudian Diana sudah mengeringkan tubuh. Dia keluar dengan berbalut handuk. Tidak disangka Alex duduk menunggu di tempat tidur. Diana mengira Alex sudah kembali ke kamarnya. "Ada apa? Kok masih di sini?" tanya Diana was-was. Takut mendadak diterkam. "Mau ngobrol sebentar." "Kamu tunggu di luar sih, aku belum pakai baju." Melihat Alex tidak bergerak, Diana melemparnya dengan pakaian yang dia tarik dari lemari. Alex menangkap dengan sigap. "Mau kubantu memakainya?" goda Alex. "Keluar sana! Kalau tidak kamu insomnia hari ini!" ancam Diana. Alex pun keluar dari kamar Diana. Dia memilih untuk menunggu di ruang tengah. "Apa yang mau dibicarakan?" tanya Diana. Dia tampak segar mengenakan setelan baju tidur berwarna krem. Rambutnya yang basah dibiarkan tergerai. Pipinya merona karena tatapan Alex. "Mengenai Niko. Lelaki yang di club tadi." "Kenapa dia?" Diana menarik kursi ke sebelah Alex. "Aku mau membagi situasinya denganmu." "Oke." "Sejauh yang kuketahui dia dan John serta beberapa orang lainnya bernaung di bawah orang yang sama bernama Han," tutur Alex. Wajahnya tampak serius. "Aku berada di pihak yang berlawanan dengan mereka." Diana mendengarkan dengan baik. Nama John membangkitkan kenangan teramat buruk. "Kelompok mereka menguasai dunia malam. Setiap pendatang usaha baru ditekan supaya tunduk dan menyetor sejumlah uang, jika tidak akan terjadi sesuatu yang sangat buruk. Aku tidak lolos dari tekanan mereka." Diana bergidik. "Mereka memandang remeh diriku. Mereka tidak menyangka aku melawan. Mengalahkan orang yang sombong jauh lebih mudah." "Apakah mereka membalas?" tanya Diana. "Tidak pernah ada kesempatan, hingga kamu muncul dalam hidupku." "Oh." Diana mendekap mulut. Dia dapat menebak kelanjutan perkataan Alex. "John melihatmu sebagai titik kelemahanku. Dia tidak salah." "Benarkah? Tapi aku bukan siapa-siapa!" "Kamu pacarku, Princess. Mereka tahu aku akan berbuat apa saja untuk melindungimu." Hati Diana gentar, "Apa yang akan terjadi?" "Selama kita bersama tidak ada yang perlu ditakutkan. Ditambah lagi ada Jack. Kami tidak akan membiarkan seorang pun menyentuhmu."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
22/02
0keren dan luar biasa
28/01
0bagus banget ceritanya, best
25/06/2025
0Lihat Semua