Diana menggeliat seperti kucing. Tangannya memyentuh sesuatu. Dia membuka mata dan melihat wajah Alex berada begitu dekat. Diana terlonjak bangun. Alex menggerutu. Tangannya menangkap tubuh mungil Diana dan menariknya mendekat. "Alex... lepas ih...!" Diana berusaha melepaskan diri tapi Alex mempererat pelukannya. "Hmmm... tidur yang tenang...," gumam Alex. Bibirnya bergetar menahan senyum. "Pura-pura tidur! Lepasin!" Diana meronta. Alex menggeram saat lutut Diana entah disengaja atau tidak beradu dengan bagian pribadinya. Dia membalik tubuh Diana dan memeluknya dari belakang. "Diamlah... Aku masih mau tidur...," gumam Alex. Bulu kuduk Diana berdiri. Nafas Alex berhembus di kulitnya. Diana memejamkan mata. Segala rasa yang telah ditekan kini muncul kembali. Tangannya mendekap mulut supaya tidak bersuara. Alex mendengar perubahan pada degup jantung Diana. Usahanya membuahkan hasil. "Biarkan aku menikmati lebih lama," pinta Alex. Tubuh Diana menegang. Hatinya tercekat. Tekadnya terlempar keluar jendela. Dia menyentuh lengan yang melingkar di pinggangnya. Kerinduan mewarnai wajah Diana. Alex tahu. Dia menarik Diana agar berhadapan muka. "Mau apa kamu?" Diana berusaha menjauh. "Kamu seperti anak kucing yang galak. Jangan bergerak, nanti kamu membuat tubuhku bersemangat...," goda Alex. "Aku ketiduran di sini. Aku mau kembali ke kamar." Diana masih berusaha. "Apa bedanya dengan kamar ini?" Alex terlihat senang karena Diana tak berdaya. "Tidak mau." Alex terdiam. Dia berpikir sejenak, "Kebebasanmu berharga sebuah ciuman." "Yang lain, please..." "Kamu begitu bersikeras menjauhiku?" Diana menghela nafas. Dia tidak suka saat Alex menatapnya dengan sedih. "Kamu menyebalkan," desis Diana. "Bukankah karena itu kamu menyukaiku?" Kesal dengan kepercayaan diri Alex, Diana meronta lagi. Matanya mulai berkaca-kaca. Alex melihat dan melonggarkan pelukan. Dibiarkannya Diana melarikan diri. Begitu berada di dalam kamar Diana mengunci pintu. Dia memaki dalam hati kenapa harus tertidur di kamar Alex. Jantungnya belum mau berdetak normal. Sial! Beribu sial! Diana melempar diri ke tempat tidur. Wajahnya dibenamkan di bantal dan dia menjerit. Segala usahanya untuk meredam perasaan terhadap Alex hangus dalam sekejap. Suasana hati Alex meningkat drastis. Dia melenggang ke dapur untuk mengambil minuman. Suara pintu dibanting terbuka membuatnya nyaris tersedak. Diana berdiri di ambang pintu dengan wajah kusut. Mereka bertatapan selama beberapa saat. Hening. Mendadak sebuah kesadaran menerpa Alex. Dia meletakkan gelas di tangannya dengan hati-hati. Kakinya melangkah lebar menuju Diana. Dilihatnya wajah Diana merona. Alex berhenti saat hampir mencapai ambang pintu. Dia harus memastikan sesuatu. "Kamu mau bicara?" tanya Alex dengan suara parau. Hasratnya terbersit di mata. Bibir merah muda itu terbuka tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Diana ragu. Keberadaan Alex yang begitu dekat membuatnya sulit bernafas. Alex bertaruh dengan dirinya sendiri. Dia maju selangkah. Diana tidak bergerak. Dia menunggu. Alex menangkup wajah Diana. Pipi yang merona itu masih lembap oleh airmata. Alex mencium bibir Diana dengan lembut seolah dia adalah benda yang mudah pecah. Cara Alex mencium Diana persis seperti saat mereka pertama kali bertemu. Lembut tapi dominan. Alex menjaga tangannya agar tidak menyentuh sembarangan. Dia tidak ingin Diana menjauh lagi. "Kamu tidak tahu betapa sulitnya hari-hari menjaga jarak. Aku membutuhkanmu, Princess." Alex memeluk Diana erat. Aku juga begitu, batin Diana. "Kita mulai dari awal?" "Maksudmu berkenalan lagi?" Diana mengangkat wajah. "Kalau kamu mau begitu." Alex berdehem, "Namaku Alexander. Kamu boleh panggil Alex." "Atau Vorst." Jack mendadak lewat seperti hantu perusak suasana. Diana terkikik. "Abaikan pemeran figuran itu." Alex mendorong Diana masuk ke kamar dan mengunci pintu. "Alex..." Diana tertawa geli, "Dia tahu waktu yang tepat untuk memecah keheningan." "Jack si pengganggu," gerutu Alex, "Sampai dimana kita tadi?" "Perkenalan." Diana tersenyum lebar, "Hai Alex. Namaku Diana." "Diana. Ada yang pernah bilang kalau kamu sangat cantik?" "Banyak yang bilang begitu." Diana menahan tawa. Alex terlihat seperti anak remaja sedang merayu gadis yang ditaksir. "Tapi tidak ada yang memperlakukanmu seperti aku." Alex menunduk untuk menjangkau Diana. Diana berjinjit menyambut Alex. Menjaga jarak terhadap Alex ternyata sangat melelahkan. Saat ini membuktikan bahwa mereka saling membutuhkan terlepas dari mentahnya emosi yang mendasari. Ada yang bilang bahwa dengan berselisih sebuah pasangan dapat berubah, menjadi lebih erat atau sebaliknya. Untuk saat ini Diana tidak tahu kemana hubungan mereka akan berakhir, tapi dia ingin menjalaninya ke arah yang lebih baik. Sementara itu di sebuah villa jauh di pelosok... Seorang lelaki paruh baya menggebrak meja. Wajahnya merah padam karena amarah. Segala usahanya untuk membebaskan sahabatnya, John si Jagal, dari penjara gagal total. Bahkan pengacara andalan mereka menemui jalan buntu karena terlalu banyak bukti yang memberatkan John. Semua karena bocah bernama Alexander itu! "Kudengar John menemukan kelemahan Alexander. Seorang wanita?" kata seorang lelaki gempal yang penampilannya mirip mafia Hong Kong. Kepala plontos, kemeja safari dengan tiga kancing terbuka memamerkan tato di dada, perawakan gempal. "Betul." "Bos tidak mau menyelidikinya?" tanya si kepala plontos. "Hmm... Niko, menurutmu perlukah aku turun tangan untuk menghadapi seorang anak kecil?" Lelaki plontos bernama Niko itu menyeringai paham, "Biar aku yang urus. Bos tidak perlu buang waktu yang berharga." "Pergi." Han, si lelaki paruh baya, mengibaskan tangan seperti mengusir lalat. Niko membungkuk hormat dan meninggalkan kamar Han. Sebelum pergi matanya melirik ke tempat tidur. Seorang wanita berambut merah tergolek tak sadarkan diri. Niko menyeringai. Lelaki tua ini masih perkasa, batin Niko. Han bangkit berjalan ke jendela. Pemandangan di luar villa miliknya luar biasa indah karena berada di lereng bukit. Tidak ada seorang pun yang berani bertanya apa yang terjadi di dalam villa mewah ini. Han mengusap rambutnya yang kelabu. Tubuh bagian atasnya telanjang, memamerkan rangkaian tato yang memenuhi dada dan punggung hingga lengan. Terdengar suara rintihan lembut. Ada pergerakan di tempat tidur. Han menyeringai. Wanita berambut merah itu hanyalah salah satu dari sekian banyak wanita yang melayaninya, dipaksa maupun tidak. Sepasang mata si wanita terbelalak ketakutan melihat Han berjalan mendekat. Sementara itu Niko sudah melaju ke tengah kota. Dia harus melihat dengan mata kepala sendiri seperti apa wanita yang dapat menaklukkan Alexander. Apakah wanita itu begitu luar biasa? Hari telah larut ketika Niko mencapai tujuan. Club malam milik Alexander. Beberapa bodyguard mengenali Niko. Mereka memberi kode pada Alex. Niko tahu itu. Dia tetap santai. Sebentar kemudian Alex turun menemuinya. Niko mencibir. Bocah ini terlihat sombong seperti biasa. "Sebuah kehormatan mendapat kunjungan darimu." Alex menepuk bahu Niko. "Sukses dengan bisnismu, eh?" Niko menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Asapnya dihembuskan ke arah Alex. "Keberuntungan ada di pihakku." Alex tertawa. "Dewi fortuna?" Niko menyeringai, "Kudengar kamu menemukan sang dewi?" Ekspresi Alex tidak berubah meskipun jantungnya berdebar, "Terlalu banyak wanita di sekelilingku. Kamu menginginkan yang mana?" "Kamu tahu yang mana." Hentakan musik seolah terhenti. Alex tahu saat seseorang sedang mengancamnya. Kedatangan Niko pasti ada kaitannya dengan John. "Aku tidak bisa menebak kesukaanmu." Alex menepuk bahu Niko, "Baiklah. Nikmati malam ini. Minumanmu kutraktir." Alex menyalakan korek api untuk memanggil waiter. Dia membisikkan sesuatu di telinga waiter dan berlalu. Tatapan Niko mengikuti sosok Alex sampai menghilang di balik pintu. Dia mendengus. Anak ingusan! makinya dalam hati. Apakah wanita itu sedang berada di atas bersamanya? Di ruangan kantor... Diana dapat merasakan ketegangan Alex begitu kembali ke dalam. Wajahnya keruh. Alex berdiri di depan monitor CCTV untuk mengamati Niko. Dia harus mengantisipasi jika lelaki itu bersikeras tinggal di club hingga jam operasional usai. "Alex, ada apa? Kamu tegang sekali." Diana berdiri di sisi Alex. "Kunjungan teman lama." "Oh, temanmu? Yang mana?" Alex mengeluh dalam hati, seandainya Diana tahu. Diana meraih tangan Alex yang sedingin es, "Bukan teman ya?" tanyanya hati-hati. Alex menatap Diana dengan sorot mata khawatir. Dia menggeleng. Tangannya menggenggam tangan Diana erat. Jika hanya dirinya yang berada di bawah ancaman Alex tidak takut. Kini mereka hendak menyeret Diana. Alex tidak akan membiarkan. Bajingan-bajingan tua ini sepantasnya dimusnahkan dari muka bumi. "Ada yang perlu kuketahui?" "Ehm... Kuceritakan saat pulang," kata Alex. Diana mengangguk. Saat itu Niko menatap ke arah kamera CCTV dan mengangkat gelas. "Itu orangnya?" tanya Diana. "Betul. Namanya Niko dan dia bukan orang sembarangan." Alex merasakan genggaman Diana bertambah erat. Dia gentar. "Ada hubungannya dengan John...?" Diana nyaris berbisik. "Jangan takut. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
22/02
0keren dan luar biasa
28/01
0bagus banget ceritanya, best
25/06/2025
0Lihat Semua