"Belakangan Nona Diana terlihat lebih pendiam. Apa yang kamu lakukan terhadap dia, Vorst?" cetus Jack dengan nafas terengah. Dia baru sparring dengan Alex. "Menurutmu begitu?" tanya Alex hati-hati. Sudah tiga malam Diana tidur di kamarnya sendiri dan Alex tersiksa dengan insomnia. Jack tidak melanjutkan. "Apakah ayahnya menghubungi?" tanya Alex lagi. "Belum." "Seperti apa ayahnya?" "Pebisnis yang hebat." "Bicaralah lebih banyak! Sepertinya kamu banyak bicara saat ngobrol dengan Diana!" tukas Alex kesal. Jack tertawa, "Hei, kamu cemburu?" Alex bangkit, "Ayo, satu ronde lagi!" "Tenang Vorst! Tidak semua orang punya stamina gila sepertimu!" Jack terus tertawa. Alex pun melampiaskan emosinya pada samsak. "Setahuku Pak Ben berencana untuk mencari calon suami yang cocok bagi putri semata wayangnya," kata Jack. "Apa??" Alex menoleh dengan sengit. "Kamu tahu kan keluarga konglomerat? Menjodohkan anak-anak mereka untuk memperkuat jaringan bisnis?" Alex terdiam. Matanya menatap ufuk langit. Dirinya memang tidak bisa dibandingkan dengan anak konglomerat, tapi setidaknya dia bisa menghidupi seorang Diana dan anak-anak mereka. Tunggu dulu! Kenapa berpikir tentang anak? Menikah saja belum. Alex mengusap wajah. Belakangan ini pikirannya berjalan sendiri. "Kalau kamu benar peduli, berjuanglah sebelum terlambat. Jangan menyesal di kemudian hari." Ada sebersit duka dalam suara Jack. Alex menyadarinya, "Apa yang terjadi?" Jack tersenyum. Sebuah senyum yang selalu digunakan untuk menyembunyikan emosi dalam hati, "Istri dan anakku." Perlahan Alex duduk kembali di sebelah Jack. "Kelompok petarung ilegal yang memungutku sejak kecil tidak terima aku hendak berhenti. Mereka menculik istri dan anakku yang masih bayi. Saat aku berusaha melawan, mereka dihabisi. Pak Ben berhasil menolongku, tapi istri dan anakku sudah tiada." Rahang Jack mengeras. "Maafkan aku." "Tidak apa. Itu sudah lama terjadi." Jack menghantam bahu Alex dengan telapak tangannya, "Tapi kisahmu baru akan dimulai, Vorst." Bibir Alex menyunggingkan senyum, "Berikan alamat rumah orangtuanya." Tawa Jack membahana. Tangannya terus menepuk-nepuk punggung Alex. "Ya atau tidak??" Alex mendelik kesal. "Maaf teman, aku masih setia pada Pak Ben." Alex menggerutu. "Ayo turun. Perutku lapar setelah adu banteng denganmu!" ajak Jack. Sambil menggumam tidak jelas Alex bergerak mengikuti Jack. Dia membiarkan Jack memporak-porandakan dapur. Alex melihat pintu kamar Diana masih tertutup. Apakah dia masih tidur? Tidak ingin berpikir lebih banyak Alex masuk ke kamarnya untuk mandi. Guyuran air dingin menyapu ketegangan di ototnya yang sudah bekerja keras. Alex memejamkan mata di bawah derasnya air. Pikirannya berkelana pada Diana. Dilihatnya wanita itu sedang terlelap di tempat tidur. Kulit putihnya tampak kontras dengan pakaian tidur berwarna biru tua yang dikenakan. Alex tersentak. Matanya terbelalak. Dia melihat Diana di tempat tidur! Jantungnya berdebar kencang. Apa yang terjadi? Apakah khayalan telah mengambil alih pikirannya?? Tangannya mematikan keran air. Pikirannya berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Alex mengeringkan tubuh dan mengenakan celana panjang. Rasa penasaran membuatnya ingin mencoba lagi. Bagaimana tadi caranya? Alex memejamkan mata dan memfokuskan pikiran pada Diana. Seketika dia melihat sosok mungil itu di tempat tidur. Alex mencoba mendekat. Berhasil! Alex mencoba mengulurkan tangan dan menyentuh lengan Diana. "Mmhh..." Diana menggeliat. Alex membuka mata. Dia kembali di kamarnya sendiri. Bingung dan senang bercampur dalam pikiran Alex. Dia mencoba sekali lagi dan sekejap dirinya berdiri di sisi tempat tidur Diana. Apakah semua ini hanya ada dalam pikirannya? Alex menunduk dan mencium pipi Diana. Terasa sangat nyata. "Mmmh... Siapa...." Kelopak mata Diana bergerak-gerak. Perlahan Diana tersadar. Matanya terbuka perlahan. Dia bermimpi Alex ada di kamarnya. Apakah dia begitu merindukan lelaki itu sampai memimpikan six packs-nya? Diana menggeliat seperti kucing. Dilihatnya matahari sudah terik. Saatnya bangun. Jack masih sibuk di dapur saat Diana dan Alex keluar berbarengan. Mereka langsung bertatapan penuh arti. Diana memalingkan wajah terlebih dulu dan melanjutkan perjalanannya ke sumber aroma makanan yang menggoda. Alex melihat Diana memakai pakaian tidur berwarna biru tua. Tadi bukan khayalan! "Huh, kalian lebih kompak dari yang kukira." Jack tertawa. "Apa sih...," gerutu Diana. Alex menggerakkan jari telunjuknya seperti mengiris leher. Dia tidak ingin mood baiknya dijatuhkan oleh ledekan Jack. Jack meringis. Sambil memperhatikan makanan di piring otak Diana sibuk. Mimpi barusan terasa sangat jelas. Penampilan Alex dalam mimpi barusan bahkan sangat mendetil dan persis dengan sosok yang duduk di sisinya sekarang. Diana mendengus, cuma kebetulan! "Hari ini kita libur," kata Alex singkat. Diana tertegun, "Oh. Tidak masalah." "Kamu sudah mulai tua, Vorst. Masa sparring sebentar saja sudah kelelahan? Jarang olahraga?" ejek Jack dengan senyum polos. "Aku bisa melayanimu sepanjang hari sampai besoknya lagi. Berminat?" Alex melayangkan tatapan setajam belati ke arah Jack. Jack mengangkat kedua tangan. "Ngomong-ngomong Vorst itu nama keluarga?" tanya Diana. Sejak tempo hari dia mendengar nama itu terus disebut oleh Jack tapi belum sempat menanyakannya. "Ya betul. Itu nama kakekku, dari bahasa Belanda yang berarti 'raja'." Tatapan Alex seketika melembut. Jack menahan tawa tapi malah terdengar seperti mengorok. Dia tidak terbiasa melihat Alex menatap dengan lembut. Diana benar-benar telah menaklukkan si petarung jalanan nomor satu! Alex menoleh perlahan tapi dengan aura mencekam. Lelaki satu ini benar-benar merusak suasana! "Alex, mau ngobrol di dalam?" sela Diana. "Mari." Alex mendahului masuk ke kamar. Diana menyusul dan menutup pintu di belakangnya. Alex bergerak cepat mengunci pintu. Diana bersandar di pintu, terdesak oleh gerakan Alex. "Kamu sudah menghindariku selama tiga hari." Alex berbicara dengan pelan namun mengandung kecaman. "Aku sedang berpikir." Diana menatap Alex dengan berani. "Apa yang kamu pikirkan? Bolehkah aku mengetahuinya?" Alex mendekatkan wajah. Kagum melihat Diana menantangnya. "Tentang kita," lirih Diana. "Lanjutkan," kata Alex dengan lembut. Jarinya memainkan rambut Diana. Diana memejamkan mata, "Beri aku waktu untuk berpikir tentang hubungan kita." Banyak hal yang dapat terjadi, rintangan, halangan, semua yang akan muncul jika kita hendak melangkah maju, lanjut Diana dalam hati. "Diana...," panggil Alex lembut, "Aku mengerti." Diana membuka mata perlahan. Ternyata airmata sudah menggenang di garis matanya yang indah, siap mengalir setiap saat. "Jika kamu menginginkannya, aku akan berjuang. Kamu tahu aku lelaki yang selalu menepati janji, kan?" tutur Alex. Ibu jarinya menangkap sebutir airmata yang bergulir di pipi Diana. "Aku tahu...," sahut Diana lirih. "Beritahu aku kalau kamu sudah memutuskan." Alex tersenyum, "Sekarang, bolehkah aku menciummu?" Pertanyaan Alex mengingatkan Diana akan saat mereka pertama kali berada di penthouse. Saat itu Diana masih melihat Alex sebagai lelaki dari dunia yang berbeda. Diana mengalungkan kedua lengannya di leher Alex. Kakinya berjinjit supaya dapat menjangkau tinggi. Alex merengkuh tubuh mungil di hadapannya dengan erat. Bibir mereka menyatu dalam hasrat yang terbendung selama beberapa hari. Alex mengangkat Diana ke tempat tidur. Hari ini dia akan melampiaskan kerinduan. Ciuman yang lembut perlahan meningkat penuh hasrat. Diana berusaha mengimbangi dominasi Alex. Tangannya mencengkeram rambut lelaki itu. Dibiarkannya Alex mendengar suara-suara tidak pantas keluar dari bibirnya. Memangnya lelaki saja yang boleh menunjukkan hasrat? Hari ini Alex mengajak Diana ke pantai. Susah payah Diana berhasil membujuk Jack untuk tinggal di penthouse. Dia ingin menikmati suasana tanpa ada yang membuntuti. Menyusuri pantai dengan jari-jari bertautan layaknya sepasang kekasih. Angin semilir membuat rambut Diana melambai. Melihat tanggul pemecah ombak dirinya teringat akan keisengan Alex mendorongnya ke laut. Diana melirik Alex. Wajah lelaki itu tampak santai. Diana teringat pada mimpinya. "Aneh, tadi aku memimpikanmu," kata Diana, "Aku jarang bermimpi saat tidur." Alex tersenyum, "Mungkin karena tiga hari tidak bertemu." Diana tersipu. Memang tiga hari terakhir dirinya menghindari Alex, tapi langkah itu dilakukan supaya Diana dapat berpikir dengan baik tanpa intervensi. "Aku juga merindukanmu." Alex menarik Diana ke dalam pelukannya. Sangat terasa bahwa dia membutuhkan kehadiran Diana. "Kamu bisa tidur?" tanya Diana. "Tidak bisa. Cuma kamu yang membuatku tidur nyenyak, Princess," keluh Alex. Hati Diana tersentuh, "Ya sudah. Nanti malam aku bersamamu." Saking senangnya Alex menciumi wajah Diana. "Alex! Ini di tempat umum loh!" Diana terkikik geli, kedua tangannya mendorong Alex mundur. "Kamu benar. Kita punya waktu semalaman...," bisikan Alex begitu menggoda. Wajah Diana memerah. Pikirannya sudah membayangkan bermesraan dengan Alex. "Atau mau pulang sekarang?" Tatapan Alex menjadi gelap. "Kita kan baru sampai..." Alex tertawa, "Baiklah. Aku bisa menunggu." "Kamu pernah memimpikanku?" "Hmmm...." Alex menimbang apakah perlu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Diana menendang kerikil. "Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya," kata Alex jujur. "Jika terjadi lagi aku akan menceritakannya padamu." "Apa? Tentang mimpi?" "Ya." Alis Diana berkerut. Mimpi seperti apa yang perlu dijelaskan? Sepertinya serius. "Mau kesana lagi?" Alex menunjuk ke ujung tanggul yang menjorok ke laut. "Tidak mau!"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
22/02
0keren dan luar biasa
28/01
0bagus banget ceritanya, best
25/06/2025
0Lihat Semua