logo text

Bab 16 Menyelamatkan Kekasih

Dari tindakan Alex, John dapat mengukur betapa berharganya Diana. Dia mengelus bekas luka di wajahnya. Sebuah kebiasaan yang kerap dilakukan saat memikirkan sebuah rencana kotor. John memanggil anak buahnya.
"Ambilkan segelas air," perintah John.
Tidak sampai satu menit segelas air sudah diletakkan di meja John. Dia mengeluarkan sebotol cairan dan menuangkan beberapa tetes ke dalam gelas.
"Paksa wanita itu minum."
Anak buahnya mengangguk paham. Dia mengajak seorang lelaki lagi menuju kamar Diana.
John mengamati dari CCTV. Matanya memicing memperhatikan kedua anak buahnya masuk ke kamar Diana. Wanita itu tampat terkejut tapi menerima gelas air. Tidak disangka Diana menyiram anak buahnya. John tertawa. Tampaknya dia harus turun tangan sendiri.
Diana terheran-heran saat John muncul bersama dua orang lelaki yang disiramnya tadi. Mau apa dia?
"Apa salah anak buahku sehingga kamu menyiram mereka, Manis? Mereka hanya memberimu segelas air bukan?" John menyeringai.
"Kamu memasukkan obat..." Diana berdiri menjauh saat John mendekatinya.
Dua lelaki yang berada di belakang John bergerak cepat menangkapnya. Diana meronta dengan sia-sia. Tenaganya tidak sebanding dengan lelaki-lelaki ini.
"Seandainya kamu menurut dan minum air yang diberikan, kita tidak harus melalui kesulitan seperti ini." John mengeluarkan botol berisi cairan bening yang dibawanya. "Buka mulutmu, Anak Manis."
"Tidak!" Setelah berkata demikian Diana mengatupkan bibirnya erat-erat.
"Buka mulutnya," perintah John.
Salah satu lelaki yang memegangi Diana mencengkeram wajahnya. Diana memberontak sekuat tenaga. Pergulatan ini tidak seimbang. John berhasil menuangkan cairan bening itu ke dalam mulut Diana. John memberi tanda dan kedua anak buahnya bergegas keluar dari kamar.
Diana terbatuk-batuk. Cairan itu sudah tertelan olehnya. John memandang Diana dengan puas. Sekarang yang harus dia lakukan adalah menunggu.
Menit demi menit berlalu dalam keheningan yang mencekam. Diana heran kenapa John diam saja. Apa yang ditunggu?
"Pacarmu sudah menemukan tempat ini," kata John dengan suara setenang air. Air yang gelap dan tanpa dasar.
Diana terlihat senang mendengar perkataan John. Berarti sebentar lagi Alex akan menyelamatkannya!
"Kamu wanita yang sangat berharga baginya. Menghancurkanmu akan menghancurkannya." Senyum licik terkembang di wajah John.
Apa maksudnya?
Diana mulai merasa kepanasan. Dia melihat sekeliling. AC tetap menyala pada suhu dingin kok. Kenapa dia merasa panas? Detak jantungnya mulai tidak teratur.
"Merasa nyaman, Cantik?"
"Apa yang kamu berikan padaku..." Nafas Diana terengah.
"Sesuatu yang membuatmu merasa di surga ke tujuh." John tertawa.
Pandangan Diana mulai tidak fokus. Dia bersandar ke dinding. Kedua pahanya merapat untuk menahan rasa yang muncul. Butiran keringat bermunculan di dahi Diana.
"Aku akan membuatmu merasakan kepuasan yang tidak kamu rasakan dengan Alexander." John menarik Diana ke tempat tidur.
Diana menjerit ketakutan. Dia berusaha melarikan diri tapi John terlalu kuat baginya. Lelaki tua itu menindihnya. Diana meronta. John menyingkap pakaiannya dengan kasar. Tangan dan mulutnya menikmati tubuh Diana. Efek obat membuat Diana lumpuh. Tanpa perlawanan yang berarti John melepas celana Diana. Jari-jarinya menguak sudut yang tersembunyi. Diana menggeliat karena sentuhan tersebut.
John terhenyak lalu tertawa terbahak-bahak, "Beruntungnya aku malam ini mendapat gadis yang belum tersentuh lelaki."
Suara keributan di luar kamar membuat John berhenti bergerak. Dia bergegas turun dari tempat tidur. Tangannya baru memegang kenop pintu saat pintu itu terbuka dan menghantam wajahnya.
John memaki keras. Tangannya memegangi wajah.
Alex menghambur masuk bersama beberapa orang bersenjata lengkap. Dia melihat Diana terbaring setengah telanjang di tempat tidur. Alex bergegas menghampiri dan menutup tubuh Diana dengan selimut.
"Alex..." Diana memeluk Alex erat-erat.
"Kamu baik-baik saja." Perkataan Alex lebih kepada pernyataan daripada pertanyaan.
John berlutut di lantai dikelilingi beberapa polisi berpakaian preman dengan senjata di tangan. Wajahnya tampak keruh. Alex mengangguk pada salah seorang dari mereka dan John pun diseret keluar. Alex mengambil jalan yang benar dengan menghubungi kepolisian.
"Alex... Aku kepanasan..." Diana mencengkeram jaket Alex kuat-kuat.
Alex meraba kening Diana. Sedikit hangat, "Kita pulang sekarang. Aku akan panggilkan dokter."
"Bukan... Aku..." Diana merintih pelan, "Dia memberiku obat..."
Mata Alex melebar. Obat?
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Alex dengan cemas. Racun kah?
"Tubuhku panas... Di sini..." Diana meletakkan tangan Alex di tubuhnya. Seketika matanya terpejam saat kulit mereka bersentuhan. Desahan lembut keluar dari bibir Diana.
Alex terkesiap. Lelaki tua itu memberi Diana obat perangsang!
Tanpa menunggu lebih lama Alex berlari keluar mansion dengan Diana dalam gendongannya. Alex melajukan mobil seperti kesetanan. Dia berusaha mengabaikan suara-suara yang keluar dari mulut Diana. Alex tahu apa yang harus dilakukan.
Begitu tiba di penthouse Alex merebahkan Diana di kamarnya. Dia mengambil segelas susu dan membantu Diana menghabiskannya. Diambilnya seember air dingin serta beberapa lembar handuk untuk membasuh tubuh Diana. Perlakuan ini membantu menurunkan suhu tubuh Diana yang meningkat.
Sungguh sebuah siksaan bagi Alex melihat Diana menggeliat dan merintih kesakitan di bawah pengaruh obat. Wanita lain tidak memberi efek seperti ini terhadap dirinya.
Butuh waktu hingga efek obat tersebut mereda. Suatu saat Alex bahkan harus membopong Diana ke bawah shower. Hatinya sakit melihat Diana gemetar kedinginan, namun harus dilakukan sebelum menjurus ke hal yang lebih buruk.
Menjelang subuh Diana tidak lagi menggeliat kesakitan. Dia terbaring kelelahan dengan wajah berantakan. Alex pun dapat bernafas lega. Dia mengeringkan tubuh Diana dan merebahkannya di tempat tidur. Alex menyelimuti kekasihnya dan duduk di lantai.
Ketika Diana terbangun, dia terheran melihat Alex berada di tepi tempat tidur.
"Kenapa kamu duduk di bawah?" tanya Diana dengan suara parau.
Alex tidak menjawab. Dia hanya tersenyum. Seandainya Diana tahu dirinya juga berjuang sepanjang malam.

Komentar Buku (46)

  • avatar
    aulianrahmaaulia rahma

    bagus

    22/02

      0
  • avatar
    NdemuEfren

    keren dan luar biasa

    28/01

      0
  • avatar
    Ie Ciahua

    bagus banget ceritanya, best

    25/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru