"Gimana ini, Bu. Pernikahanku tinggal seminggu lagi, tapi biayanya masih kurang," ucap Bagus. Bagus dan Bu Welas kini tengah duduk menjaga toko di samping rumah. Sedari pagi toko miliknya dibuka, belum ada satupun pembeli yang datang. "Ibu juga bingung, Gus. Memangnya kamu nggak punya tabungan, bukanya gajimu besar? Selama kamu kerja pun nggak pernah kamu kirimin ibu uang, " ujar Bu Welas. Ada sedikit rasa kecewa dari nada suaranya. Bu Welas menatap bagus yang sedikit salah tingkah saat mendengar ucapanya. Ia merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh putra sulungnya. "Ta-tapi kan, biaya kehidupan di Kalimantan juga mahal, Bu. Bagus cuma bisa nabung sedikit-sedikit aja," ucap Bagus gugup. "Kamu nggak lagi bohongin ibu, kan?" tanya Bu Welas dengan tatapan menyelidik. "Ya nggak lah, Bu. Kalo aku ada uang lebih pasti aku kirim ke Ibu." Bu Welas masih mengamati Bagus dengan seksama, membuat putranya merasa semakin tidak nyaman. "Tenang aja, Bu. Calon mantu Ibu nanti, kan kaya. Setelah nikah Bagus akan kasih Ibu uang yang banyak," ucap Bagus berusaha mengalihkan perhatian ibunya. "Beneran?" tanya Bu Welas dengan mata berbinar. Bagus menghembuskan nafas lega karena berhasil mengalihkan topik pembicaraan mereka. "Beneran, makanya Ibu kasih Bagus uang buat nambahin biaya nikah. Itung-itung buat modal, Bu. Kalo istriku senang, pasti nanti dia akan lebih royal sama kita," bujuk Bagus. "Tapi ibu uang dari mana, Gus. Kamu liat sendiri, toko ibu sekarang sepi begini," ucap Bu Welas lesu. Matanya menyapu seluruh ruangan toko yang cukup luas. Tokonya ini menjual berbagai macam kebutuhan rumah tangga seperti sabun mandi, detergen, sampho dan lain-lain. Ada juga sandal jepit, sarung tangan, masker, alat kecantikan--meskipun tidak lengkap dan bukan merk yang mahal-- serta alat-alat kebersihan seperti sapu dan lainya. Bu Welas menghembuskan nafas dongkol melihat toko yang dirintisnya bertahun-tahun perlahan semakin sepi. Hanya tetangga dekat yang sesekali masih membeli dagangannya, itupun hanya sebatas sabun atau pasta gigi. Beberapa Rak tampak kosong dan berdebu karena ia tidak mempunyai uang untuk membeli barang baru. Barang-barang yang tersisa hanya tinggal stok lama dan hampir mendekati masa kadaluarsa. Jelas saja pembeli jadi malas berbelanja karena tidak banyak pilihan yang tersedia. Kalau saja suaminya bersedia menjual sawah warisan emaknya, ia ingin meminta bagian untuk menambah modal tokonya. Sawah milik emaknya itu terbilang luas, dan letaknya di pinggir jalan besar. Sudah pasti jika di jual akan menghasilkan banyak uang. Sayang, suaminya lebih membela Kasih dari pada dirinya. "Bu, kok malah bengong?" Sekali lagi Bu Welas menarik nafas panjang, lalu memfokuskan kembali perhatianya pada sang putra. "Ibu lagi bingung mikirin toko," ucapnya lesu. "Makanya, bujuk Bapak lagi buat jual sawah, Bu. 'Kan nanti bisa buat nambahin modal juga," rayu Bagus lagi. "Ibu udah bujukin Bapakmu dari lama, tapi kamu tau sendiri kan watak Bapakmu itu seperti apa," ujar Bu Welas kesal. "Gimana kalo kita curi aja sertifikat sawah itu, Bu, terus kita jual diam-diam. Bapak biasanya nyimpen surat penting dimana?" Bagus mencoba memberi usul. "Bapakmu bilang, sertifikatnya udah masuk notaris lagi proses balik nama," sungut Bu Welas kesal. "Coba cari dulu, Bu. Mungkin aja Bapak bohong." "Udah ibu cari ke mana-mana tetep nggak ketemu. Raja juga udah geledah kamarnya Kasih dan hasilnya nihil, malah Raja dimaki-maki Kasih karena ketahuan buka-buka lemarinya," gerutu Bu Welas. Bagus menghembus nafas dengan kasar, dongkol sekali rasanya. "Emang Ibu nggak punya tabungan lain?" "Nggak ada, udah buat daftar kuliah Raja kemarin. Ibu bayar sekalian dua semester." "Ck, terus gimana dong, Bu?" Bagus berdecak kesal. "Nggak tau, ibu juga bingung." "Ibu usahain pinjam dong, Bu. Buat biaya nikah aja, deh. Bangun rumahnya nanti aja, biar nggak kebanyakan." Bagus masih berusaha merayu ibunya agar mencarikanya sejumlah uang. "Emang kurang berapa?" tanya Bu Welas. "Nggak banyak, kok. Cuma dua puluh juta," jawab Bagus tanpa beban. Bu Welas melotot mendengar nominal yang disebutkan Bagus. Baginya uang dua puluh juta saat ini adalah jumlah yang sangat banyak. Berbeda dengan dulu, saat tokonya masih ramai dan sawah masih luas. Dua puluh juta bukan lah hal yang sulit saat itu. "Uang sebanyak itu, siapa yang mau minjemin?" "Pinjam Bank lah, Bu. Kan ada mobil, bisa buat jaminan." "Enak aja, mobil itu barang berharga keluaraga kita. Biar orang-orang tahu kalo kita masih sekaya dulu. Kalo nggak bisa bayar utang, terus mobil disita gimana? Mau ditaruh mana muka ibu," sungut Bu Welas. Baru kali ini ia merasa kesal dengan putranya. Biasanya ia selalu menuruti dan memanjakan mereka. Mungkin karena sekarang perekonomian mereka sedang sulit, jadi berpengaruh pada suasana hatinya yang jadi mudah kesal dan marah. "Ya kalo gitu, Ibu jangan sampai nggak bisa bayar utangnya, dong. Segera lunasin pas ada uang," ujar Bagus enteng. "Uang dari mana? Penghasilan bapakmu sekarang cuma dari uang pensiunan aja. Itu juga cuma cukup buat kebutuhan rumah. Ibu juga bingung mau dibayar pake apa biaya kuliah Raja tahun depan." Bagus mengacak rambutnya dengan gusar. Bagaimana ia bisa mendapat uang untuk biaya pernikahanya? Sedangkan orangtua yang biasa menjadi andalan kini juga tengah kesulitan. "Bu, perhiasan Ibu 'kan banyak, jual lah dulu sebagian buat Bagus," ucap Bagus masih belum menyerah. "Enak aja!" sentak Bu Welas marah. Bagus sampai terlonjak kaget karenanya. "Ibu kumpulin perhiasan itu bertahun-tahun, terus kamu dengan gampangnya nyuruh ibu buat menjualnya? Nggak bisa," geram Bu Welas. Ia tidak bisa merelakan perhiasan kesayanganya untuk dijual. Bu Welas memang memiliki beberapa set perhiasan dari emas yang dibelinya saat masa jaya tokonya dulu. Selain itu ia juga memiliki satu cincin berlian, cincin itu milik almarhumah mertuanya dulu. Sebenarnya bisa saja ia menjual salah satu perhiasanya untuk mendapat modal toko, tapi ia merasa sayang. Benda-benda itu merupakan senjatanya untuk pamer saat berkumpul dengan para tetangga. Jika perhiasan itu dijual, pamornya sebagai orang kaya yang di segani bisa runtuh seketika. "Perhiasan Ibu, kan banyak. Jual aja satu set buat Bagus pasti udah cukup. Tolong lah, Bu ... apa Ibu mau kalo Bagus nanti mendapat malu karena biaya nikah yang kurang?" bujuk Bagus dengan tampang memelas. Bu Welas tampak berpikir. Benar juga yang dikatakan Bagus, ia tidak bisa membiarkan putra kebanggaanya mendapat malu di hadapan mertuanya. Apa lagi sampai dihina dan dicaci maki. Baiklah, kali ini ia akan merelakan beberapa perhiasanya untuk di jual. "Tapi nanti kalo kamu udah nikah, kamu ganti perhiasan ibu, ya!" Bagus mengangguk dengan semangat. Ia senang dan lega karena akhirnya sang ibu mau menuruti keinginanya. "Pasti, Bu. Kalo perlu nanti Bagus ganti tiga kali lipat." Bu Welas tersenyum puas mendengar janji yang diucapkan putranya. Ia lalu beranjak ke kamar untuk mengambil perhiasan miliknya. Bagus dimintanya untuk menjaga toko sebentar. Sesampainya di kamar, Bu Welas langsung menuju ke brankas yang berada di rak bawah lemari. Setelah memasukan kode kunci, pintu brankas pun terbuka. Brankas yang ukuranya lumayan besar itu terlihat kosong karena isinya tidak sebanyak dulu. Hanya ada beberapa surat penting dan beberapa kotak perhiasan. Kotak-kotak berlapis kain beludru itulah tujuan Bu Welas saat ini. Ada tiga kotak berukuran sedang, yang berisikan masing-masing satu set perhiasan serta satu kotak kecil yang berisi cincin berlian warisan. Bu Welas mengambil salah satu kotak yang berukuran sedang dengan warna merah menyala. Membuka dan mengamati satu set perhiasan miliknya. Bu Welas sudah hafal di luar kepala berapa jumlah emas yang dimilikinya. Satu set perhiasan yang dipegangnya ini terdiri dari kalung+liontin, gelang, anting, dan cincin dengan motif yang senada. Total semuaya sebanyak tiga puluh lima gram. Jika dihitung dengan harga emas saat ini, total uangnya sesuai dengan yang diminta Bagus. Malah masih sisa sedikit, jadi bisa digunakanya untuk membeli perhiasan imitasi dan kebutuhan lainya. "Mau apa kamu sama perhiasan itu, Bu?" Bu Welas tersentak, lalu memalingkan muka ke arah sumber suara. "Bapak, ngagetin aja!" sungut Bu Welas. Menutup kotak perhiasanya lalu menutup pintu brankas. "Mau dibawa kemana perhiasan itu, Bu?" tanya Pak Darno saat Bu Welas melangkah sambil membawa salah satu kotak perhiasan miliknya. "Mau ibu jual." "Kenapa dijual?" "Buat bantu anakku lah, ibu ini orangtua yang bertanggung jawab. Nggak kayak Bapak yang suka lepas tanggung jawab," sindir Bu Welas tajam. "Jangan dijual, Bu. Ibu kan udah nabung lama emas itu," larang Pak Darno. Bu Welas hanya melengos sambil melirik kesal suaminya. "Udahlah, Pak. Nggak usah ikut campur kalo nggak mau bantu. Lagian ini dibeli pake uang ibu, jadi terserah ibu mau diapain!" ketus Bu Welas lalu melenggang pergi meninggalkan suaminya. Pak Darno hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan prihatin. Lelaki itu sudah kehabisan cara untuk merubah sikap istrinya yang selalu memanjakan putra mereka. _____ "Mulai sekarang kalian beli makan sendiri aja, ya. Karena saya sudah tidak lagi berlangganan catering, ini uang makan kalian untuk hari ini," ucap Bu Zahra sambil membagikan lembaran biru pada semua karyawan. Biasanya mereka memang menerima kiriman nasi kotak untuk makan siang dan makan malam. "Terimakasih, Bu." Kasih menerima lembaran biru itu dengan penuh syukur. Lima puluh ribu untuk makan dua kali, baginya tentulah nominal yang cukup besar. Jika ia berhemat, sisa uang makanya bisa ia tabung. "Tapi ingat, makanya harus gantian ya. Sebagian istirahat sebagian jaga toko, jangan bareng2 ntar nggak ada yang jaga toko," ucap Bu Zahra mengingatkan. "Baik, Bu," sahut Kasih serentak dengan teman-temanya. Bu Zahra kembali ke ruanganya, Kasih dan yang lainya pun kembali bekerja sambil berembug siapa yang lebih dulu istirahat nantinya. Setelah menemukan kesepakatan, mereka pun kembali bertugas ke posnya masing-masing. Kali ini Kasih bertugas di meja Kasir berdua dengan Susan, sedang yang lainya mengerjakan pekerjaan lainya. Kasih yang menscaning belanjaan Susan yang bertugas memasukanya ke dalam kantong plastik. Hari ini pembeli ramai seperti biasa, antrian di depan kasir pun mulai memanjang. Kasih melayani dengan ramah dan teliti, senyum tidak pernah lepas dari bibirnya. Bu Zahra selalu menekankan untuk bersikap ramah pada pelanggan, mungkin hal itu juga yang menjadi salah satu kunci tokonya ramai pembeli. "Totalnya tiga ratus dua puluh lima ribu, Bu. Ada tambahan lainya?" tanya Kasih ramah. "Nggak, Mbak. Itu aja dulu," jawab pelanggannya. "Mau isi pulsa sekalian, Bu?" Si Ibu menggeleng sambil memberikan lembaran uang sebanyak total belanjaanya. "Ini struknya, Bu. Terimakasih sudah belanja di toko kami," ucap Kasih tersenyum ramah dari balik faceshield-nya yang bening. Ibu itu mengangguk kemudian berlalu pergi. Tiba giliran seorang pemuda tampan yang berdiri di depan meja kasir. "Silahkan, Mas," tegur Kasih pada laki-laki itu yang sedari tadi hanya berdiri terpaku sambil memegang sebotol minuman ringan di tanganya. "Mas?" panggil Kasih lagi, karena laki-laki tersebut belum juga bereaksi. "Eh, i-iya, Mbak. Kenapa?" "Itu belanjaanya mau dibayar sekarang atau masih ingin beli yang lain? Mohon jangan berdiri di sini, karena antrean masih panjang." Kasih mengingatkan sambil menunjuk ke arah antrean pelanggan di belakang laki-laki itu. Laki-laki itu menoleh, seketika wajahnya terlihat malu sekaligus merasa bersalah. "Maaf, saya biar nanti saja. Silakan Ibu duluan," ujar laki-laki itu gugup lalu berpindah ke antrean yang paling belakang. "Hm, kasirnya cantik, sih. Sampe terpesona mas nya," celetuk salah satu pelanggan. Disambut dengan tawa dan sorakan pelanggan yang lain. Kasih menundukkan kepala karena malu, disikutnya Susan yang asyik bercie-cie ria di sebelahnya. Sedang laki-laki itu hanya tersenyum simpul sambil memperhatikan Kasih dari tempatnya berdiri. ____ "Lima belas ribu rupiah, Mas," ucap Kasih, saat akhirnya tiba giliran laki-laki tersebut membayar. Toko kini berangsur sepi, tidak ada lagi antrean di depan Kasir. Hanya tersisa laki-laki itu saja yang sepertinya sengaja mengambil antrean terakhir. Karena sebelumnya ia terlihat selalu memberikan tempatnya saat ada pelanggan lain yang mengantre di belakangnya. "Pake kantong nggak, Mas?" tanya Susan, melirik Kasih sambil menahan senyum. "Nggak usah, Mbak," jawab laki-laki tersebut. Kasih melotot ke arah Susan yang tidak berhenti cengengesan, lalu menatap heran pada pelangganya karena laki-laki itu masih belum membayar. "Uangnya, Mas?" "Saya nggak ditanyain soal pulsa, Mbak?" tanya pemuda itu dengan tampang polos. "Oh, Mas nya mau beli pulsa? Berapa nomornya?" "Nggak mau beli juga, sih." "Lha, terus?" "Gimana kalo saya aja yang beliin Mbak pulsa, nomornya berapa?" "Yee, modus itu, mah!" celetuk Susan lalu terkikik geli. Kasih menatap gemas pada Susan, ingin rasanya menutup mulut usil temanya itu. "Nggak usah, Mas. Saya nggak perlu," ujar Kasih jengah. "Saya Satria, Mbak," ucap pemuda itu. Kasih mengangkat kedua alisnya, ia bingung karena ucapan pemuda itu sama sekali tidak nyambung. "Nama saya Satria, Mbak," ulangnya lagi. "Oh, saya nggak nanya," ucap Kasih lempeng. Susan terbahak sambil memegangi perutnya. "Kali aja Mbak Kasih mau tau," ucap Satria seraya tersenyum manis. Satria mengulurkan selembar uang warna biru, mengambil botol minumnya, lalu beranjak pergi. "Mas, kembalianya!" seru Kasih saat Satria sudah membuka pintu. "Ambil aja, Mbak, buat beli cilok." Satria lalu pergi dengan senyum terkembang di bibirnya. Sedang Kasih hanya mengangkat bahu acuh. "Alhamdulillah, rezeki nomplok, nih!" seru Susan girang. ==========================
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
crita bagus
22/06/2023
0bagusss
07/04/2023
0ok baik
10/03/2023
0Lihat Semua