Beranda/EMANSIPASI TIDAK BERLAKU DIKELUARGAKU/
Bab 26
[Bu, aku butuh uang]
Pesan Bagus pagi ini, membuat sekujur tubuh Bu Welas panas dingin. Ia yang semula sangat lapar setelah selesai memasak sarapan pagi, kini tiba-tiba merasa sangat kenyang.
Selera makanya hilang lenyap tak bersisa, padahal di meja makan sudah tersedia sayur sop bersama tempe dan ayam goreng lengkap dengan sambal terasi yang begitu mengugah selera.
[Uang buat apa?] balas Bu Welas, lalu menghenyakkan tubuhya ke kursi di ruang makan. Tak lama kemudian, balasan pesan dari Bagus kembali masuk ke ponselnya.
[Buat bangun rumah lah, Bu. 'Kan kemarin Ibu belum ngasih.]
Bu Welas manarik nafas dalam, lalu menyentaknya dengan kasar. Uang. Lagi-lagi uang yang diminta oleh Bagus. Putra sulungnya itu, hanya menghubungi dirinya saat sedang butuh uang saja.
Selebihnya, Bagus tidak pernah menghubungi Bu Welas untuk menanyakan kabar, atau hanya sekedar basa-basi. Bahkan saat menikah pun, Bagus tidak mengizinkan ibunya untuk ikut. Janji untuk mengirim video pernikahanya pun, tidak pernah terpenuhi sampai sekarang. Padahal sudah hampir sebulan Bagus menikah.
Jika Bu Welas bertanya dan menagih janjinya, Bagus selalu mengelak dengan berbagai alasan. Bahkan seringkali pesan-pesan dari Bu Welas hanya dibaca saja oleh Bagus, tanpa berniat untuk membalasnya.
[Bu, gimana? Kok, nggak bales?]
[Ibu lagi nggak ada uang] tulis Bu Welas, lalu mengirimnya.
[Tapi aku butuh uangnya, Bu. Usahain, lah.]
[Emang butuh berapa?]
[Nggak banyak kok, Bu. Cuma lima puluh juta.]
Bu Welas melotot begitu membaca pesan balasan dari Bagus, tanganya sektika bergerak memijat kepalanya yang tiba-tiba dihantam rasa pening. Lima puluh juta? Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu!
[Jangan ngawur kamu, Gus. Lima puluh juta, apanya yang sedikit? Lima juta aja ibu nggak punya!] balas Bu Welas geram.
[Ya, Ibu pikir gimana lah caranya. Pinjam kek atau jual perhiasan lagi aja. Pokoknya aku mau uang itu segera.]
Bu Welas hampir membanting ponselnya karena emosi.
[Bisa-bisanya kamu ngomong seenak jidatmu. Perhiasan Ibu yang kemarin aja belum kamu ganti, sekarang kamu mau nyuruh ibu jual perhiasan yang lain? Nggak, itu nggak akan pernah terjadi!] balas Bu Welas panjang lebar.
Bu Welas mengetik pesanya dengan mata melotot dan nafas memburu karena emosi, kalau saja Bagus ada di depanya sekarang pasti sudah dia teriaki secara langsung.
[Gimana mau ganti, Bu. Aku aja masih numpang sama mertua, mereka belum mau percaya sama aku buat ngelola perusahaan kalo rumahnya belum jadi. Makanya, Ibu kirimin aku uang segera. Biar cepet jadi rumahnya]
[Nanti kalo mereka udah percaya sama aku, terus aku diberi kuasa penuh di perusahaan tambang mereka, aku ganti semua uang Ibu. Bahkan nanti aku kasih lebih banyak.]
Bu Welas mulai bimbang setelah membaca pesan balasan dari Bagus. Dalam benaknya sudah terbayang banyaknya uang jika Bagus menguasai perusahaan tambang milik mertuanya.
Namun, dari mana ia bisa mendapat uang sebanyak itu? Menjual dua set perhiasanya yang tersisa? Sudah pasti tidak akan cukup. Atau menjual satu-satunya cincin berlian miliknya?
Ah, padahal dulu ibu mertuanya memiliki begitu banyak perhiasan. Namun, hanya cincin berlian itu saja yang berhasil diambilnya. Semuanya sudah Pak Darno jual untuk melunasi hutang. Hutang untuk biaya perawatan Bu Welas saat depresi.
[Tapi ibu dapat uang sebanyak itu dari mana? Perhiasan ibu aja nggak akan cukup sampai lima puluh juta]
[Ibu usahain lah, Bu. Nanti kalo Bagus jadi direktur perusahaan tambang, ibu juga kan yang nikmatin hasilnya.]
[Ibu usahain, tapi ibu nggak janji bisa dapat uangnya atau nggak] balas Bu Welas.
Pada akhirnya Bu Welas kembali terbujuk dengan rayuan Bagus. Sekarang ia harus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak lima puluh juta. Pada siapa ia harus meminta pertolongan? Sedangkan untuk minta tolong pada suaminya sendiri, ia tak punya nyali.
Pak Darno pasti akan marah besar jika mengetahui Bagus kembali meminta uang. Namun, untuk membiarkan dan bersikap masa bodoh pada Bagus pun, Bu Welas tidak akan tega. Mana mungkin ia tega membiarkan sang putra kesayangan dipandang rendah oleh mertuanya di Kalimantan.
Tapi bagaimana caranya ia mendapat uang sejumlah itu dengan cepat? Untuk kesekian kalinya Bu Welas menghembuskan nafas kasar, merutuki takdir yang mulai tidak berpihak kepadanya.
"Ibu kenapa, pagi-pagi udah mecucu begitu?" tanya Pak Darno heran.
"Bapak mau sarapan sekarang?" tanya Bu Welas, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lainya. Tujuannya tentu untuk mengalihkan perhatian sang suami.
"Nggak, Bu. Dibungkus aja, bapak mau sarapan di sawah. Sama yang buat makan siang sekalian," ucap Pak Darno sambil duduk di kursi.
Bu Welas memperhatikan Pak Darno yang memang sudah siap dengan baju dinasnya. Belakangan ini memang Pak Darno selalu berangkat ke sawah lebih pagi.
Padi yang ditanamnya mulai menguning, makanya perlu berangkat awal untuk menghalau burung-burung pipit yang banyak hinggap di rumpun padinya yang ranum.
Tanpa banyak bicara, Bu Welas mulai membungkus nasi beserta lauk untuk di bawa suaminya ke sawah dengan kertas pembungkus makanan. Khusus untuk sayur sop di tempatkan pada wadah box plastik.
"Ini udah siap, Pak," ucap Bu Welas setelah menyusun makanan dan sebotol besar air ke dalam keranjang yang terbuat dari rotan.
Pak Darno meletakan cangkir kopi yang hanya tersisa setengahnya, lalu berdiri dan meraih keranjang tersebut.
"Kalo gitu, bapak berangkat sekarang, Bu."
"Nggak dihabiskan dulu, Pak, kopinya?"
"Nggak, nanti kesiangan."
Selepas Pak Darno pergi, Bu Welas kembali pusing memikirkan cara untuk mendapatkan uang yang diminta Bagus. Kalau saja kemarin ia berhasil menikahkan Kasih dengan juragan Karta, ia pasti sudah bisa hidup enak sekarang. Tokonya pun kembali hidup karena dapat suntikan modal.
Sayang, semua rencana yang disusun matang-matang malah gagal total. Kasih pergi dibawa pemuda miskin itu, kini tinggal dirinya meratapi nasib karena tidak punya uang serta menjadi bahan gunjingan tetangga.
Hal itu membuat Bu Welas geram dan rasa bencinya terhadap Kasih semakin menjadi-jadi. Bagi Bu Welas, Kasih lah yang menjadi sumber penderitaan yang sejak dulu. Padahal sudah susah payah ia membesarkan anak itu, sekarang sudah besar bukanya membalas budi malah jadi pembangkang.
Bu Welas merasa jika para tetangganya sudah mulai tidak menghargai dirinya setelah keributan kemarin. Apa lagi, saat teman-teman grup arisanya tahu jika kini ia tak lagi sekaya dulu. Mereka yang biasanya merasa segan dan hormat padanya, kini mulai meremehkanya.
"Welas, aku dengar kamu sampe mau jual anak gadismu gara-gara udah nggak punya duit?" tanya Sandra, beberapa hari yang lalu saat mereka berkumpul.
Meski tergabung dalam satu grup, Sandra dan Bu Welas ini sebenarnya selalu bersaing dan saling sindir. Mereka adalah rival sejak bertahun-tahun yang lalu.
Dulu Bu Welas sering meremehkan suami Sandra yang bekerja sebagai guru honorer di sekolah yang dipimpin Pak Darno. Namun, saat Pak Darno pensiun beberapa tahun yang lalu, justru suami Sandra yang diangkat untuk menggantikan.
Seperti tengah membalas semua rasa sakitnya, Sandra tidak pernah melewatkan waktu sedikitpun untuk menyindir Bu Welas dengan kata-kata pedas pada setiap pertemuan mereka. Apa lagi, saat mendapat kabar yang menghebohkan seperti saat ini.
"Siapa yang bilang begitu?" tanya Bu Welas tajam.
"Udahlah, Welas. Nggak usah ngelak, semua orang disini juga sudah tau, kok," ucap Sandra sinis, seraya membenahi rambutnya yang disanggul anggun dengan gaya kemayu.
Kebaya modern warna pink dengan lengan pendek yang dipakainya, terlihat sangat pas dibadanya yang ramping, meski usianya tak lagi muda. Ya, dress code pertemuan mereka hari ini adalah kebaya. Karena bertepatan dengan acara hajatan khitan cucu Dariah.
Bu Welas sendiri memakai kebaya brukat berwarna kuning emas dan rambut bersanggul tinggi. Wajahnya yang masih menampilkan sisa-sia kecantikan masa muda, terkadang membuat teman-temannya merasa iri.
"Benar itu, Bu Welas. Saya juga awalnya nggak percaya, lho. Tapi kata sodara saya yang tinggal satu desa dengan Bu Welas, berita itu memang benar. Soalnya sodara saya juga ikut nonton waktu itu. Ih, Kok, Bu Welas tega gitu sama anaknya," sahut Nurlela.
Nurlela ini umurnya yang paling muda diantara member grup lainya. Dan dulu orang yang paling dekat dengan Bu Welas, tapi sekarang saat Bu Welas terpuruk Nurlela lebih memilih berdekatan dengan Sandra.
"Waduh, kamu kejam banget, Welas," timpal Dariah.
Wanita bertubuh subur dengan kebaya warna krem dan kerudung dengan warna senada. Sang pemimpin grup ibu-ibu sosialita se-kelurahan.
Dariah ini, suaminya adalah seorang peternak ayam sukses di desanya. Dirinya sendiri juga mempunyai toko pakaian yang cukup besar di kota. Kekayaanya yang cukup melimpah, membuat dirinya didapuk sebagai pemimpin kelompok dan terus bertahan selama bertahun-tahun.
Dulu, Bu Welas pernah juga memimpin grup yang diikutinya ini, tapi hanya satu tahun saja. Kebanyakan para anggotanya tidak suka dengan sifatnya yang semena-mena saat menjadi pimpinan.
"Aku nggak pernah jual anak, aku cuma mau jodohin dia sama orang kaya," kilah Bu Welas ketus.
"Tapi, kan, orang kaya itu ngebayar kamu supaya bisa nikahin anak gadismu itu. Namanya apa coba kalo bukan jual anak, sewain anak gitu?" tukas Sandra lalu diakhiri dengan tawa sinis.
Tangannya yang penuh dengan perhiasan emas, dikibas-kibaskan hingga terdengar suara gemerincing dari gelang-gelangnya yang saling beradu.
"Iya betul, apa lagi kata sodaraku itu laki-lakinya udah tua bangka kolot, gitu. Iih, aku mikirnya aja merinding," sahut Nurlela, tubuhnya yang dibalut kebaya berwarna ungu terlihat bergidik.
"Ya ampun, Welas ... Welas. Mbok, ya mikir dulu kalo mau jodohin anak. Mentang-mentang pengin kaya, aki-aki pun disodorin ke anak gadis sendiri. Ya, mana mau, lah. Mending kalo ngebet banget pengin kaya, kamu aja yang nikahin itu aki-aki kolot," sambung Sandra, yang disambut gelak tawa anggota yang lain.
Bu Welas menatap tajam Sandra yang masih belum berhenti tertawa. Wanita itu sepertinya sangat puas karena berhasil mempermalukan Bu Welas.
"Diam kalian semua! Kalian pikir, kalian hebat sampe berani menghinaku, hah?" bentak Bu Welas dengan wajah merah padam. Dadanya mulai naik turun menahan emosi.
Beberapa orang yang masih tertawa, seketika diam saat mendengar bentakanya.
"Emangnya kamu sehebat apa sampai nggak mau dihina? Udah miskin aja masih sombong," cibir Sandra, sama sekali tidak terpengaruh dengan kemarahan Bu Welas.
"Kamu itu yang belagu, baru dikasih harta sedikit aja udah lupa daratan. Kampungan."
"Aku belagu wajar, karena aku kaya. Suamiku punya jabatan, penghasilanya gede. Kalo kamu, apa yang mau disombongin?" balas Sandra dengan nada tinggi.
"Kamu tau apa soal hidupku. Hartaku banyak, nggak akan abis juga sampai tujuh turunan."
Bohong, tentu saja. Namun, harga diri Bu Welas jauh lebih penting dari pada sebuah kebohongan. Apa pun akan dilakukanya, demi untuk menjaga harga diri dan martabatnya.
"Hahaha, harta mana yang kamu maksud?" Sandra mengamati penampilan Bu Welas sambil tertawa sinis.
Bu Welas saat ini memang tidak berpenampilan secetar biasanya. Perhiasan pun hanya satu set yang dipakainya.
"Maksud kamu, perhiasan emas yang seuprit ini? Haha, liat nih perhiasanku. Baik jumlah dan modelnya, banyak dan bervariasi. Nggak kayak kamu, perhiasan cuma semacem itu doang."
Sandra mengibaskan kedua tangannya yang dipenuhi gelang dan cincin dengan berbagai ukuran dan model. Tak lupa juga menunjuk lehernya yang dilingkari dua buah kalung besar sekaligus lengkap dengan liontinya yang juga berukuran besar. Sudah seperti toko emas berjalan saja.
"Sorry, ya. Perhiasan begitu juga aku punya banyak. Aku cuma nggak mau pamer kayak kamu, dasar norak!" sengit Bu Welas.
"Hahaha, nggak mau pamer apa emang nggak punya?" ledek Sandra.
Sementara kedua wanita itu berdebat, anggota grup yang lainya hanya diam menyimak sambil mengunyah cemilan. Pertengkaran Bu Welas dan Sandra sudah seperti tontonan gratis untuk mereka. Mereka sudah lelah untuk melerai, karena hal ini pasti terjadi di setiap acara. Lebih mudah untuk membiarkan sampai mereka lelah sendiri.
"Haha, cuma emas aja udah nggak level buatku. Aku punya berlian. Kamu nggak punya, kan?" sombong Bu Welas dengan senyum jumawa.
Biasanya Sandra tak berkutik jika dia sudah menyebut berlian, karena Bu Welas tidak pernah melihat rivalnya itu memakai perhiasan dari berlian. Sehingga Bu Welas merasa masih tetap unggul. Namun, saat ini sepertinya hal itu sama sekali tidak berpengaruh lagi pada Sandra.
"Cincin berlian yang selalu kamu banggakaan itu? Cuma punya berlian seupil aja sombong. Nih, kalo emasku di gabung semuanya, jumlahnya pasti bakal melebihi harga berlianmu itu. Aku bahkan sanksi, itu berlian asli apa bukan."
Sandra menatap remeh Bu Welas sambil menyilangkan tangan di dada. Sikap angkuhnya berhasil membuat pertahanan emosi Bu Welas jebol. Harga dirinya terluka.
"Jal*ng! Berani kamu menghinaku, hah!" bentak Bu Welas.
Bergerak maju lalu dengan cepat menarik rambut sanggul Sandra dengan kedua tanganya.
"Argh, dasar gil*! Lepaskan aku!" pekik Sandra kesakitan. Rambutnya yang sudah ditata rapi selama berjam-jam di salon, kini kusut dan berantakan akibat ulah Bu Welas.
Bu Welas terus memaki dan menarik rambut Sandra dengan kuat, tak peduli pada teriakan Sandra yang kesakitan. Sambil meringis menahan sakit, Sandra berusaha melepaskan rambutnya dari cengkeraman Bu Welas. Tubuhnya sampai tertarik membungkuk karena tarikan yang begitu erat. Setelah berusaha cukup lama tapi belum juga terpelpas, Sandra akhirnya membalas ikut menjambak rambut Bu Welas. Gantian sekarang Bu Welas yang berteriak kesakitan. Jadilah mereka saling jambak sambil terus memaki dan berteriak.
"Gimana ini, Bu? Pisahin apa nggak?" bisik Nurlela pada Dariah yang duduk di sampingnya.
Dariah yang sedang asyik mengunyah dodol, mengamati sekelilingnya. Acara khitan cucunya memang sudah lama berakhir, jadi suasana pun sudah sepi. Tidak Ada tamu lagi selain grup arisanya.
"Pisahin aja, Bu. Kasian itu, mereka udah kesakitan tapi belum mau ada yang ngalah," bisik Nanik yang duduk di samping kanan Bu Dariah.
"Udah biarin aja, toh mereka cuma saling menyakiti sendiri. Nanti, kalo mereka udah membahayakan orang atau barang-barang sekitar, baru kita pisahin," jawab Dariah cuek, lalu kembali mengunyah potongan dodolnya yang ke tiga belas.
Anggota yang lain pun mengangguk setuju. Mereka kembali menonton Bu Welas dan Sandra yang masih jambak-jambakan, sambil menikmati hidangan. Sesekali bahkan ada yang bersorak menyemangati keduanya untuk terus bertarung layaknya siaran gulat di TV.
Mereka membiarkan pertarungan itu sampai sejam lebih, hingga saat keduanya mulai berguling membentur meja dan kursi barulah mereka memisahkan Bu Welas dan Sandra.
Bu Welas pun pulang kerumah dengan luka lebam di wajah dan tubuhnya. Belum lagi, rambutnya yang kusut masai membuatnya terlihat semakin menyedihkan.
Namun, itu semua tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan susana hatinya yang buruk, emosi, dongkol, kesal, marah bercampur menjadi satu.
Lihat aja, akan aku buktikan kalo aku masih kaya dan terhormat. Akan aku bungkam mulut mereka hingga mereka tidak bisa menghinaku lagi, ucap Bu Welas dalam hati pada saat itu.
Namun, bagaimana cara membungkam mulut orang-orang yang mencibirnya jika ia tidak memiliki uang? Bahkan saat ini ia dibuat pusing oleh Bagus yang meminta uang sebanyak lima puluh juta!
Bu Welas meremas rambut nya yang diikat asal, mencoba untuk meredam rasa pening yang mencengkeram kepalanya.
"Ibu kenapa, kusut banget keliatanya?"
Bu Welas mendongak dan mendapati putra bungsunya sudah duduk di kursi dengan pakaian rapi. Tumben sekali sepagi ini Raja sudah bangun dan berpakaian rapi. Biasanya pemuda itu masih bermalasan di balik selimut tebalnya.
"Lho, anak ibu udah ganteng aja. Mau kemana, ada kuliah?" tanya Bu Welas dengan senyum mengembang.
"Nggak, cuma ada janji sama temen. Makan dong, Bu, aku laper."
Raja menyerahkan piring kosong pada Bu Welas. Meski sudah kuliah, Raja maunya dilayani oleh Bu Welas. Bahkan sekedar untuk menuang air ke gelas pun, anak itu akan menyuruh ibunya. Bu Welas sendiri dengan senang hati melakukan segala perintah putranya, tanpa pernah mau mengajari Raja untuk mandiri.
"Ini makan yang banyak, Nak."
Bu Welas mengusap lembut kepala Raja lalu duduk kembali di kursinya. Memandangi Raja yang makan dengan lahap, membuatnya merasa senang.
"Ibu nggak makan?" tanya Raja setelah menghabiskan makananya.
"Nggak, ibu lagi nggak nafsu makan."
"Ibu kenapa, sih? Keliatanya murung banget?"
"Ibu nggak apa-apa, cuma pusing karena nggak punya uang," ucap Bu Welas gusar.
"Oh, masalah duit, tho."
Raja mengangguk-angguk paham, lalu tanpa di duga ia mengeluarkan dompet dan mengambil seluruh isinya.
"Nih, Bu. Tiga juta buat, Ibu," ucap Raja sambil tersenyum jumawa.
Bu Welas menatap uang yang disodorkan Raja dengan kening berkerut. Lalu menatap Raja dengan penuh tanda tanya.
"Buat ibu? Kamu dapat uang dari mana, Nak?"
Raja menggaruk kepalanya yang tidak gatal, salah tingkah.
"Em, itu, Bu. Aku kan suka main game, Nah, kemarin ikut kompetisi game online. Aku menang, terus dapat uang banyak, deh."
Bu Welas menatap Raja dengan mata berkaca-kaca, putra bungsunya kini bisaberi uang dari hasil keringatnya sendiri. Sungguh dadanya kini dipenuhi dengan rasa haru dan bangga.
"Masya Allah, anak ibu hebat banget. Ibu banggak sama kamu, Raja. Makasih ya, Nak."
Bu Welas berdiri lalu memeluk anaknya dengan erat.
"Iya, Bu. Tapi, ibu harus kabulin satu permintaan Raja," ucap Raja setelah menarik nafas lega karena bu Welas percaya dengan ucapanya.
"Apa itu?"
"Ibu izinin aku buat ke jogja selama tiga hari."
"Kapan?"
"Sekarang, ini mau berangkat. Makanya aku udah rapi," jawab Raja.
"Kamu mau ngapain di sana? Sama siapa aja?"
"Ya mau latihan main game lah, Bu. Sama temen-temen satu team. Soalnya mau ada kompetisi lagi dan hadiahnya lebih besar, Bu."
"Benaran?" tanya Bu Welas dengan mata berbinar bahagia.
"Iya beneran. Nanti kalo aku menang, Ibu aku kasih jatah lima juta," bujuk Raja lagi.
"Wah, ibu mau banget. Tapi kuliah kamu gimana?"
"Gampang, kan kuliahnya masih daring, Bu."
"Oh, ya bener juga. Ya udah, kamu boleh ke Jogja sekarang. Tapi kamu disana harus hati-hati, ya. Jangan lupa buat terus ngasih kabar," ucap Bu Welas dengan ekspresi cemas.
Raja bersorak senang. Sebelumnya ia sudah bertekad akan mengamuk jika tidak diberi izin pergi ke Jogja. Tak di sangka, ternyata mudah sekali mengelabui Bu Welas jika ada uangnya.
"Iya, tenang aja, Bu. Tapi, kalo bapak nanyain gimana, Bu?"
"Udah nggak usah dipikir, bapak biar jadi urusan ibu. Yang penting kamu fokus aja latihan main game nya biar bisa menang."
"Siap!" ucap Raja sambil menghormat ala-ala tentara.
Raja lalu beranjak ke kamarnya untuk bersiap-siap, didiringi tatapan mata Bu Welas yang menyiratkan kebanggan. Tanpa ia sadari, jika putranya sudah melangkah terlalu jauh ke jurang dosa yang terdalam.
****
Tetap ikutin kisahnya ya, 😁🤗🤗🤗 terimakasih semuanya 🙏🙏🙏🙇♀️🙇♀️
****Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (29)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
crita bagus
22/06/2023
0bagusss
07/04/2023
0ok baik
10/03/2023
0Lihat Semua