Beranda/EMANSIPASI TIDAK BERLAKU DIKELUARGAKU/
Bab 24
Tiba-tiba saja ia merasa gelisah dan terancam saat mengetahui kepopuleran suaminya diantara para wanita. Salah satunya gadis ini. Dari gelagatnya, Kasih bisa melihat jika gadis waitress ini pun menyukai Satria.
"Lagian, asal Mbak tau aja. Pak Satria itu pacar saya, jadi dia nggak akan mau ngelirik wanita lain," bisik gadis itu dengan angkuh.
Kasih tertegun mendengar ucapan si gadis waitress. Mungkinkah apa yang dikatakan gadis itu benar? Rasanya ia ingin sekali menyangkal, tapi rasa ragu terlanjur menyusup ke hati. Lagi pula dia pun belum benar-benar mengenal Satria. Ia tidak tahu, siapa atau berapa banyak wanita yang dekat denganya di masa lalu.
Laki-laki yang bergelar sebagai suaminya itu tidak pernah bercerita apa pun tentang kisah percintaannya sebelum bertemu dengan Kasih. Mungkin saja Satria memang memiliki banyak mantan pacar dan gadis ini adalah salah satunya.
Bagi laki-laki setampan dan semapan Satria pasti mudah saja mendapatkan gadis-gadis cantik yang sesuai keinginannya. Buktinya, Kasih saja hanya dalam waktu seminggu bisa langsung jatuh cinta pada Satria.
Pasti mudah baginya menaklukan wanita, begitu pikir Kasih. Berbagai macam pikiran buruk mulai memenuhi benaknya, membuat sesak di dada. Kasih cemburu, meski ia punya kedudukan kuat karena berstatus sebagai istri Satria, tapi tetap saja ia merasa khawatir.
Khawatir jika Satria berpaling darinya. Karena Kasih sendiri sadar, jika ia bukan wanita yang menarik ... malah mungkin cenderung membosankan karena terlalu pasif dan pemalu. Sepertinya ia harus mulai merubah sifat malu-malunya yang sudah mendarah daging itu. Setidaknya, khusus di hadapan sang suami, ia harus lebih aktif dan agresif seperti kata teman-temanya.
"Hei, Mbak! Malah bengong, jangan di sini kalo mau bengong!" bentak gadis itu.
Suara si pelayan yang begitu keras membuat Kasih terkejut. Membuatnya kehilangan kesabaran. Ingin rasanya Kasih menjambak rambut gadis itu lalu menyumpal mulut cemprengnya dengan kaos kaki bau.
Namun, melihat keadaan restoran yang tengah ramai pengunjung, ia pun terpaksa mengurungkan niat. Lebih baik ia menghubungi Satria saja, untuk menghindari keributan.
"Heh, diajak ngomong, kok, malah diem aja," ketus gadis itu lagi, karena Kasih cuma diam dan justru sibuk dengan ponselnya.
"Kamu nggak kerja? Banyak pengunjung, tuh, pergi sana layanin," balas Kasih sinis.
"Aku mah, pacar bos di sini. Nggak kerja juga nggak bakal ada yang berani protes," pongah gadis itu.
Kasih hanya menatapnya lalu memutar bola mata dengan malas. Menanggapi orang angkuh dan kepedean tidak akan pernah ada habisnya. Hanya buang-buang tenaga saja.
Kasih kembali menelepon Satria untuk yang ketiga kalinya. Tersambung, tapi tak kunjung jua dijawab. Entah apa yang tengah dilakukan laki-laki itu sekarang.
"Heh, Mbak. Sombong banget diajak ngmong cuek aja! Mending kamu pergi dari sini dari pada nyepetin mata!" hardik gadis itu lagi.
Kasih memasukan ponsel kembali ke dalam tas. Rasa kesal pada gadis itu di tambah kesal pada Satria yang tak kunjung menjawab teleponya, membuat emosi Kasih semakin memuncak.
"Kamu ngusir aku?" tanya Kasih tak kalah sengit.
"Iya, nggak dengar tadi aku ngomong apa?"
"Apa hak kamu ngusir aku dari sini? Justru aku yang bisa pecat kamu sekarang juga kalo aku mau," balas Kasih.
Kasih sebenarnya malu jika harus adu mulut di tempat umum, hal itu sama sekali bertentangan dengan sifatnya selama ini. Namun, ia tidak bisa membiarkan orang lain yang bahkan tidak ia kenal terus-terusan menghinanya.
"Hahaha ngimpi ya? Emangnya kamu siapa, ngaku-ngaku bisa pecat aku segala."
Gadis itu terlihat memandang Kasih dengan sorot mata merendahkan, sikapnya bahkan semakin angkuh dan arogan. Beberapa pengunjung mulai mengalihkan perhatian pada mereka yang tengah bersitegang.
"Kamu nggak percaya? Dengan satu kata dari aku, kamu bisa dipecat sekarang juga," ucap Kasih kesal.
Namun, detik berikutnya ia menyesal. Restoran ini bukan miliknya, hanya milik suaminya. Itupun belum pasti Satria akan menuruti permintaannya untuk memecat gadis yang mengaku sebagai pacarnya itu.
Kasih menyesal karena terbawa emosi, bagaimana jika Satria tidak membelanya dan justru memihak gadis itu? Kasih pasti akan malu sekali dan gadis itu akan semakin memandang rendah dirinya.
Membayangkan hal tersebut, membuatnya merasa ketakutan. Entah kenapa emosinya hari ini sulit sekali di tahan. Apakah karena faktor cemburu?
Gadis itu menatap Kasih yang tiba-tiba terdiam. Sama sekali tidak ada rasa takut dari raut wajahnya.
"Kenapa jadi diam? Baru sadar dari mimpi ya?" cibir gadis itu sambil tertawa sinis.
"Ada apa ini ribut-ribut?"
Kasih yang tengah menunduk sambil memikirkan banyak hal, hampir terlonjak kaget saat mendengar suara yang sangat dikenalnya.
Satria muncul dari belakang si gadis pelayan, yang kini menatap Kasih dengan senyum kemenangan. Merasa yakin jika bos yang selalu dikaguminya itu, akan membelanya dan mengusir Kasih pergi.
"Tita, ada apa ini?" tanya Satria pada gadis pelayan itu, meminta penjelasan.
Sementara Kasih masih belum berani mengangkat kepalanya. Padahal ia istri dari Satria, tapi entah kenapa ia merasa takut menghadapi kemungkinan buruk yang tadi sempat muncul di benaknya. Baru saja ia bertekad untuk memperbaiki diri, meningkatkan rasa percaya diri, tapi sekarang yang terjadi justru malah sebaliknya. Belum apa-apa, Kasih sudah merasa minder duluan.
"Ini, Pak, ada wanita aneh yang tiba-tiba datang terus marah-marah katanya mau mecat saya," ucap Tita dengan suara dibuat sedih dan memelas. Berbeda dengan matanya yang melirik Kasih sinis.
Satria mengalihkan perhatiannya pada wanita yang disebutkan Tita. Wajahnya yang terlihat bingung, seketika berubah cerah saat mengenali pakaian yang dikenakan wanita tersebut. Pakaian yang sama persis dengan yang dipakai istrinya tadi pagi saat di rumah.
"Sayang, akhirnya sampai juga," ucap Satria sumringah, melewati Tita begitu saja untuk menghampiri istrinya.
Tita yang semula berakting dengan ekspresi memelas, kini wajahnya berubah shock tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Satria yang selama ini selalu dingin pada wanita, bisa terlihat sangat berbeda saat bersama wanita yang menurutnya kampungan itu.
Sementara itu, Kasih merasa lega karena Satria ternyata menyambutnya dengan suka cita. Ia pikir, akan mengalami hal buruk seperti yang ada dalam cerita-cerita online yang sering dibacanya. Datang ke tempat kerja suami, tapi malah diacuhkan oleh suami yang sibuk dengan pacarnya.
Benar-benar pemikiran konyol! Sepertinya Kasih harus berhenti membaca cerita-cerita perselingkuhan suami, agar ia tidak terus-terusan berburuk sangka pada suaminya sendiri.
"Kok, aku telepon dari tadi nggak diangkat sih, Mas?" ucap Kasih sambil melirik Tita yang tampak tidak senang.
"Oh, ya? Maaf, tadi Mas lagi maghriban di mushola. Abis, dari tadi Mas tungguin kamu nggak dateng-dateng."
"Maaf, tadi jalanan agak macet. Soalnya barengan sama jam pulang kerja. Oya, aku juga belum sholat," jawab Kasih, gara-gara berdebat dengan Tita ia jadi lupa belum sholat maghrib.
"Ya udah, ayo, Mas antar ke mushola."
Satria melingkarkan lenganya ke pinggang Kasih, menarik tubuh Kasih merapat padanya.Tita yang melihat hal itu semakin mebelalakan mata. Apalagi saat melihat Satria menatap Kasih dengan sorot penuh cinta. Seketika hatinya terbakar oleh api cemburu.
Tatapan penuh cinta seperti itulah yang ia harapkan dari Satria selama ini. Meski ia sudah melakukan banyak hal untuk mendekati Satria, ia masih belum bisa meluluhkan hati laki-laki itu. Sikap Satria padanya masih saja dingin dan cuek. Tita sendiri tidak tahu, mengapa Satria tidak pernah tertarik padanya.
Padahal ia memiliki wajah yang cantik, tubuh ideal dengan kulit putih bersih. Ia juga pintar berdandan dan selalu menjaga penampilan. Namun, Satria sama sekali tidak mau meliriknya.
Kini, saat akhirnya ia bisa melihat netra dingin itu dipenuhi dengan cinta, perasaanya justru semakin hancur karena tatapan itu tidak tertuju padanya. Melainkan pada wanita yang menurutnya tidak selevel jika harus bersaing denganya.
Tidak ... ia bahkan belum memulai persaingan, tapi sepertinya ia sudah kalah telak.
"Tita, kamu ngapain bengong di sini?" tegur Satria pada Tita yang hanya diam melihat mereka.
Kasih melirik Tita yang tersadar dari lamunannya, sepertinya gadis itu terlalu shock saat melihat kemesraannya dengan Satria.
"Ma-maaf, Pak," ucap Tita gugup, sikap angkuh dan aroganya tiba-tiba saja lenyap tak berbekas.
"Tadi kamu berbuat apa, sampai istri saya bilang mau pecat kamu?"
Tita yang menunduk seketika mengangkat kepalanya. Menatap Satria dan Kasih bergantian dengan wajah bingung.
"I-istri, siapa?"
"Ini Kasih, istri saya."
Satria berkata sambil menatap lembut Kasih. Kasih sendiri hanya tersenyum dengan wajah tersipu malu.
"Apa kamu melakukan hal itu lagi, dan mengusir istri saya?" tanya Satria dengan sorot mata dingin dan tajam.
"Ma-maaf, Pak. Saya tidak tahu, jadi saya ...," ucap Tita menggantung dengan tenggorokan tercekat.
Melihat perbedaan cara Satria memperlakukan kasih dengan dirinya, membuat dadanya disesaki dengan rasa sakit dan cemburu.
"Baiklah, untuk saat ini kamu saya maafkan karena memang tidak tahu. Tapi, lain kali saya tidak akan toleran jika kamu bersikap buruk pada istri saya lagi," tegas Satria.
"Terimakasih, Pak," ucap Tita dengan suara serak karena menahan tangis.
Kasih jadi merasa iba dengan gadis yang sedang patah hati itu, tapi sepertinya Satria tidak peduli sama sekali. Atau mungkin Satria hanya tidak menyadari perasaan Tita pada dirinya.
"Ya sudah, sana kembali kerja."
Tita mengangguk, lalu berbalik pergi dengan sedikit berlari kecil. Sesekali tanganya menghapus kasar pipi yang mulai dibasahi air mata.
"Ayo, kita ke mushola, Sayang," ucap Satria pada Kasih yang masih terdiam melihat Tita yang semakin menjauh.
Kasih hanya menurut saat Satria menggandengnya ke mushola.
_____&_____&______&
Setelah sholat, Satria mengajak Kasih ke ruanganya. Satria perlu menyelesaikan beberapa pekerjaanya yang tertunda karena seharian ini ia sibuk mengecek persiapan resepsi pernikahan mereka.
"Maaf, aku sambil kerja sebentar ya, Dek," ucap Satria sambil membuka layar laptop.
"Iya, nggak apa-apa, Mas. Maaf kalo aku jadi ganggu kamu," ucap Kasih tak enak.
"Nggak ganggu, kok. Mas malah seneng ada yang nemenin kerja."
Tidak ada pembicaraan lagi, Satria sibuk dengan laptop dipangkuanya. Sedang Kasih sibuk dengan pikiranya. Matanya terus saja menatap sang suami yang duduk di sebelahnya.
Sebenarnya ada satu set meja dan kursi untuk bekerja di sudut ruangan, tapi Satria lebih memilih untuk bekerja di sofa panjang agar Kasih tidak merasa bosan sendirian.
"Betah banget ngeliatin aku, segitu gantengnya ya?" ucap Satria memecah keheningan.
"Dih, GR!" gerutu Kasih, lalu mengalihkan tatapanya dengan kikuk.
Satria tersenyum simpul sambil menutup layar laptop lalu meletakanya di meja. Sudah tidak berselera untuk bekerja.
"Kok, udahan? Emang udah selese, Mas?" tanya Kasih heran.
"Nggak bisa fokus kerja kalo di sebelah ada kamu," jawab Satria dengan senyum yang membuat jantung Kasih berdebar kencang.
Ingat Kasih, ini saatnya untuk aktif, agresif! Jangan lari, jangan nolak, jangan malu! ucap Kasih dalam hati, berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri.
Kasih menatap Satria yang juga tengah memandanginya. Satu detik, dua detik, tiga detik ... detik keempat Kasih berpaling dengan pipi merona merah. Tidak sanggup lagi menahan debaran jantungnya ynag semakin menggila.
"A-aku ke kamar kecil dulu, Mas," gugup Kasih seraya berdiri.
Tanpa di duga, Satria justru menarik kuat Kasih hingga gadis itu jatuh terduduk dipangkuanya.
"Mau kabur, ya?" tanya Satria seraya mengerling jahil.
"Nggak, kok."
Satria semakin mengeratkan kedua lenganya yang melingkari Kasih, hingga tubuh mereka semakin merapat.
"Aku kangen banget sama kamu, Dek," lirih Satria.
Kasih pun merasakan hal yang sama. Sudah seminggu lebih mereka tidak punya waktu yang cukup untuk menghabiskan waktu bersama karena kesibukan Satria.
"Maaf kalo aku sering ninggalin kamu sendirian. Aku berusaha buat mempercepat persiapan resepsi."
"Nggak papa, Mas," ujar Kasih, menatap wajah Satria yang jaraknya hanya beberapa inchi dari wajahnya. Untuk beberapa saat mereka hanya diam dan saling menatap satu sama lain.
"Sayang,"
"Hm?"
"Mas boleh liat rambut kamu?" tanya Satria dengan lembut.
Tubuh Kasih menegang, inikah saatnya?
"Cuma liat aja, kok, janji nggak akan macem-macem," bujuk Satria.
"Ya udah, nggak usah kalo emang kamu belum siap," sambung Satria lagi saat melihat Kasih hanya diam dengan wajah tegang.
"Nggak apa-apa, kok, Mas."
Kasih menelan ludah dengan susah payah untuk membasahi kerongkonganya yang tercekat. Dengan tangan gemetar, ia meraih jarum pentul di bawah dagunya. Selama ini ia belum pernah menampakan surainya pada laki-laki lain selain anggota keluarganya, karena itu ia merasa malu dan gugup.
"Biar aku saja," ucap Satria saat melihat Kasih kesusahan menarik jarum pengait karena tanganya terus bergetar.
Sret.
Dengan satu tarikan kecil, jarum pengait tersebut lepas dengan mudah. Membuat jilbab segi empat dengan bahan satin yang licin itu, seketika meluncur jatuh menyisakan rambut hitam yang sebagianya tertutupi dalaman jilbab.
Satria menarik lepas dalaman jilbab tersebut, lalu mengurai rambut Kasih yang terikat. Rambut Kasih yang lurus dan panjang sampai ke punggung itu, langsung tergerai indah saat ikatanya terlepas. Membuat Satria terpesona dengan keindahanya.
Perlahan jemarinya mulai menelusup membelai setiap helaian rambut panjang Kasih dari pangkal hingga ujungnya.
"Cantik," ucap Satria seraya mencium ujung rambut yang tengah digenggamnya.
Kasih tersenyum dengan pipi merona semerah apel. Meski masih menahan rasa malu, tak urung hatinya kini dipenuhi oleh bunga-bunga yang bermekaran karena pujian Satria.
Namun, detik berikutnya ia justru merasa kesal. Entah kenapa, mendengar kata cantik telah kembali memantik emosi yang semula sempat teredam.
"Gombal, yang di luar juga cantik, tuh," sindir Kasih sinis.
"Di luar, siapa?" tanya Satria dengan dahi mengernyit.
"Mantan kamu lah, atau malah masih pacaran?"
Satria menatap Kasih yang merajuk dengan eskpresi bingung. Ia sama sekali tidak mengerti kemana arah pembicaraan istrinya.
"Maksud kamu apa sih, Dek?"
"Pacar kamu juga cantik, tuh."
Satria tampak diam berpikir sebentar, sesaat kemudian ia akhirnya mengerti.
"Oh, maksud kamu si Tita?"
Mendengar ucapan suaminya, amarah Kasih semakin meningkat tajam.
"Oh, jadi kamu ngakuin kalo dia pacar kamu? Terus pas aku bilang cantik kenapa kamu langsung kepikiran dia. Berarti menurut kamu dia emang cantik gitu?" sungut Kasih kesal.
Satria sampai melongo melihatnya, Setengah bulan lebih mereka saling mengenal baru pertama kali ini Satria melihat Kasih marah-marah.
"Kamu lucu banget, sih, kalo marah-marah gini," ucap Satria gemas sambil mencubit kedua pipi istrinya.
"Udah nggak usah ngalihin pembicaraan. Jadi, benerkan dia pacar kamu?"
"Bukan, Dek. Emang kata siapa?"
"Dia sendiri yang bilang."
"Oh, itu cuma pura-pura, kok. Dulu banyak kenalan atau pelanggan yang deketin aku. Nah, si Tita ini nawarin bantuan buat menghalau mereka dengan pura-pura jadi pacarku gitu. Aku sih, nggak terlalu ambil pusing saat itu. Asal nggak ganggu kerjaan dan privasiku.
Dan setelah kita nikah, aku yang sibuk terus dari kemaren , jadi lupa ngasih tau dia kalo aku udah punya kamu. Jadi, dia nggak tau kalo kamu itu istriku. Maaf ya, Dek?" jelas Satria panjang lebar.
"Oh, jadi banyak perempuan yang ngejar kamu, Mas? Dan mereka semua pasti cantik-cantik, kan?"
"Mungkin, aku nggak terlalu perhatiin mereka. Buat aku, kamu yang paling cantik," ucap Satria sambil menarik hidung Kasih, gemas.
"Halah, gombal. Bukanya Tita juga kamu bilang cantik?"
"Kapan aku bilang gitu?"
"Tadi, pas aku bilang cantik, kamu lagsung kepikiran dia. Berarti kamu ngakuin kalo dia cantik, kan?" tukas Kasih keki.
"Itu 'kan karena kamu bilang pacarku. Jadi, aku ingetnya si Tita," ucap Satria dengan sabar.
"Berarti bener dia pacar kamu, Mas?" sentak Kasih marah, metranya kini mulai berkaca-kaca.
"Bukan, Sayang. Kan, tadi aku bilang cuma pura-pura."
"Bohong!"
"Beneran, Dek. Kamu kenapa, sih? Cemburu, ya?" tanya Satria sambil menahan senyum.
"Emang kenapa kalo aku cemburu, nggak boleh? Aku ini kan, istrim_"
Cup. Sebelum Kasih menyelesaikan kalimatnya, Satria keburu membungkamnya dengan sebuah kecupan.
"Aku seneng kamu cemburu, tapi jangan sekarang. Aku kan lagi kangen, masa kamu malah marah-marah," ucap Satria lembut.
"Maaf," lirih Kasih sambil menunduk. Ia pun tak mengerti kenapa tidak bisa menahan emosi.
"Hari ini boleh lebih jauh, kan?" tanya Satria.
"Maksudnya?" tanya balik Kasih dengan bingung.
"Yah, pokoknya kamu bilang stop aja kalo merasa nggak nyaman."
"Maksudnya ap_"
Satria kembali membungkam mulut Kasih dengan bibirnya. Kali ini bukan hanya bibir yang menjadi sasaranya, tapi juga leher jenjang Kasih yang tampak menggoda dengan kulit kuning langsatnya.
Kasih berjengit saat merasakan tangan Satria mulai menelusup ke balik bajunya. Ada rasa ingin menolak, tapi terkalahkan dengan gelanyar aneh yang timbul akibat sentuhan Satria. Tak dapat dipungkiri, meski hatinya takut, tapi tubuhnya justru bereaksi sesuai naluri.
Ketika suasana semakin memanas, Satria membopong Kasih menuju pintu di sebelah meja kerja yang ternyata adalah kamar pribadinya. Kasih hanya bisa pasrah saat Satria mencumbunya tanpa jeda.
Namun, di saat detik-detik yang menentukan, Satria justru berhenti dan tertegun.
"Kayaknya, kita emang harus nunggu sampai resepsi, deh," ucap Satria sambil menahan senyum.
"Kenapa?" tanya Kasih bingung. Bangun lalu mengikuti arah pandangan Satria. Detik berikutnya Kasih langsung menutup rapat gamisnya yang sudah setengah terbuka.
"Maaf," ucap Kasih, menutup wajahnya menahan malu.
"Nggak apa-apa, Sayang. Kamu ada bawa 'itu' nggak?"
Kasih menggeleng, masih dengan wajah tertutup telapak tangan.
"Ya udah, ke toilet wanita milik karyawan aja, disana selalu tersedia beberapa pack," ucap Satria sambil mengusap lembut rambut istrinya.
"Mas nggak marah?" tanya Kasih takut.
"Nggak, lah. Mana mungkin aku bisa marah sama kamu."
Satria mengecup kening Kasih, lalu bangkit dan merapikan kemejanya yang berantakan. Kasih pun melakukan hal yang sama.
_____&______&______
"Kamu bisa ke toilet sendiri, kan? Yang di deket mushola itu. Mas pesan makanan dulu buat kita," ucap Satria.
Kasih hanya mengangguk lalu bergegas menuju toilet yang ditunjukan Satria. Dalam hati ia menggerutu dengan kesal. Padahal ia sudah susah payah menyiapkan mental, tapi tamu bulanannya malah datang tanpa di undang.
Pantas saja hari ini ia mudah sekali emosi, ternyata memang karena pengaruh hormon kewanitaanya.
Sesampainya di toilet, Kasih segera mengambil pembalut yang tersedia di dekat wastafel lalu bergegas memakainya. Setelah selesai, ia pun segera kembali ke restoran.
"Udah?" tanya Satria begitu Kasih mendatanginya.
Kasih mengangguk lalu duduk dihadapan suaminya.
"Kamu mau makan apa, Dek. Tadi aku pesenin kamu Sop buntut sama kayak aku. Mau itu aja apa ganti yang lain?"
"Itu aja, Mas. Aku suka, kok," jawab Kasih datar.
"Minumnya jus jeruk, gimana?"
"Iya," jawab Kasih singkat.
"Mau pesan dessert nggak? Es krim di sini populer banget, lho."
"Boleh."
Satria mengerutkan kening, seraya menatap wajah Kasih yang terlihat kesal.
"Kenapa, Dek? Kamu kecewa karena kita nggak jadi_"
"Stop, Mas! Jangan ngomong macem-macem," potong Kasih panik sambil melirik kanan kiri, takut pengunjung lain mendengarkan obrolan mereka.
Melihat kepanikan Kasih, tidak membuat Satria ikut cemas. Ia justru terkekeh senang dengan tingkah sang istri yang menurutnya lucu dan menggemaskan.
"Nggak usah kecewa, Sayang. Masih banyak waktu buat kita untuk melakukanya. Nanti akan aku buat kamu kewalahan," goda Satria sambil memainkan alisnya.
Sayangnya, Kasih sama sekali tidak merespon. Mata Kasih justru terlihat fokus pada seseorang yang duduk tidak jauh dari meja mereka.
Seorang remaja laki-laki terlihat tengah menyantap makanan bersama dengan seorang wanita dewasa, yang meskipun dandananya seperti anak muda masa kini, tetap saja tidak mampu menutupi usia yang sesungguhnya.
Sebenarnya wajar saja, seorang remaja makan di restoran bersama dengan wanita dewasa. Bisa saja orang-orang mengira jika mereka adalah ibu dan anak.
Namun, saat acara makan itu diselingi dengan kemesraan dan tingkah manja dari keduanya layaknya sepasang kekasih, tentu itu akan menimbulkan persepsi yang lain. Apa lagi, saat melihat penampilan wanita itu yang tidak sesuai dengan usianya.
Dress pendek model sabrina yang ketat menampilkan lekuk tubuhnya yang seksi. Kulitnya terlihat masih mulus, putih dan bersih bahkan diusianya yang tak lagi muda, menandakan jika ia adalah wanita berada yang selalu menjaga penampilan.
Belum lagi barang mewah dan bermerk yang dipakainya, semakin menguatkan kesan jika ia adalah wanita dengan banyak harta.
Kasih sebenarnya tidak pernah peduli dengan urusan orang lain. Masalahnya adalah, remaja laki-laki yang begitu cueknya bermesraan di tempat umum dengan wanita dewasa itu adalah, adiknya.
Raja, tampak tidak malu menggenggam, merangkul dan bahkan sesekali mengecup pipi wanita itu. Wanita yang bahkan seumuran dengan ibunya.
****
Maaf telat up, kemarin anak saya demam 😣🙏🙏🙏Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (29)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
crita bagus
22/06/2023
0bagusss
07/04/2023
0ok baik
10/03/2023
0Lihat Semua