Beranda/EMANSIPASI TIDAK BERLAKU DIKELUARGAKU/
Bab 19
"Masak apa, Bu?" tanya Kasih pada Bu Rahma yang tengah menyiangi sayuran.
"Ini mau bikin tumis selada sama balado ikan tongkol. Kamu tolong goreng krupuknya ya," ucap Bu Rahma.
Kasih pun dengan senang hati membantu Ibu mertuanya menyiapkan sarapan pagi ini. Selepas sholat subuh berjamaah tadi, Kasih langsung menuju dapur sedang Satria kembali ke kamarnya.
Diam-diam Bu Rahma memperhatikan Kasih yang tengah menggoreng kerupuk, dari ekor matanya. Tepatnya memperhatikan kepala menantunya yang tertutup kerudung. Kerudung yang di pake gadis itu terlihat kering, tanpa ada tetes air sedikitpun.
Hm, pagi ini nggak keramas. Bakalan nunggu lama nih, buat dapet cucu, gerutu Bu Rahma dalam hati.
Wanita paruh baya itu memang sudah sangat ingin memiliki cucu. Selama ini ia merasa begitu kesepian tinggal di dalam rumah sebesar ini hanya berdua dengan Satria. Belum lagi, Satria sering kali keluar kota untuk mengecek restorannya.
Meski begitu, ia maklum. Kasih dan Satria baru sebentar mengenal satu sama lain. Pasti perlu waktu untuk beradaptasi dan mendekatkan diri, terlebih lagi Kasih itu tipe gadis yang pemalu. Mau tidak mau Bu Rahma harus bersabar menunggu.
Akhirnya, karena di kerjakan berdua masakan pun selesai dengan cepat. Pukul setengah enam, makanan sudah siap di meja makan. Bu Rahma dan Satria memang terbiasa sarapan lebih awal, karena mereka harus membuka warung pagi-pagi.
Tak Jarang mereka bahkan sarapan di warung sekalian agar tidak kesiangan karena sudah banyak pelanggan yang menunggu mereka. Untuk memburu waktu agar pelangganya tidak terlalu lama menunggu, biasanya Bu Rahma belanja sayur sore hari di pasar yang jam operasinya mulai dari sore hingga malam.
Saat warung sepi setelah jam makan siang, Bu Rahma menggunakan waktunya untuk memotong dan membersihkan sayuran serta mempersiapkan semua bahan yang akan diolah esok hari, lalu menyimpanya di dalam kulkas. Jadi, saat pagi-pagi ia sudah bisa langsung memasaknya.
"Panggil suamimu, Nduk. Kita sarapan sekarang," ucap Bu Rahma.
"Iya, Bu."
Kasih berjalan menuju kamarnya, tapi setibanya di kamar ternyata Satria tidak berada di sana. Kasih lalu beranjak ke ruangan di sebelah Kamar.
Tok, tok, tok.
Kasih mengetuk pintu, setelah mendapat jawaban dari dalam ia lalu melangkah masuk.
"Mas, sarapan udah siap," ucap Kasih.
Satria yang tengah fokus pada layar laptop di meja kerjanya, mendongak dan tersenyum.
"Ok, sebentar aku selesein ngecek laporan dulu," ucapnya lalu kembali fokus.
Kasih memperhatikan sekelilingnya dengan takjub. Ruangan kerja ini sama luasnya dengan kamar tidur mereka, interiornya pun hampir sama. Bedanya hanya tidak ada ranjang untuk tidur.
Ruangan ini hanya berisi satu set sofa dan meja kerja, serta sebuah kursi berlengan di sudut ruangan yang dilengkapi dengan lampu khusus untuk membaca. Ada juga lemari kecil tempat menyimpan pakaian Satria, jika terpaksa menggunakan kamar mandi di ruang kerja.
Sisi ruangan di isi dengan rak-rak yang berjejer rapi berisikan banyak buku-buku dan file dokumen kerja.
"Mas suka baca buku?"
"Suka banget," jawab Satria singkat tanpa mengalihkan fokusnya dari layar laptop.
"Aku boleh ikut baca nggak?" tanya Kasih penuh harap.
"Boleh, baca aja sampai kamu puas."
Kasih berjalan dengan riang mendekati rak buku yang berderet-deret sepanjang dinding ruangan. Memperhatikan satu persatu buku yang tertata rapi. Bukan hanya buku bisnis dan motivasi, buku seri ilmu pengetahuan, buku tentang agama hingga novel dan komik pun ada.
Kasih sampai menggelengkan kepalanya berulang kali karena kagum. Dari pada disebut ruang kerja, ruangan ini rasanya lebih tepat disebut sebagai perpustakaan mini. Bagi orang yang hobi membaca, tentu ruangan ini pasti terasa seperti surga.
Seperti Kasih yang memang suka sekali membaca terutama novel dan komik bergenre misteri. Dulu saat masih sekolah ia adalah pengunjung tetap perpustakaan. Karena tidak punya teman, ia pun sering menghabiskan waktu istirahatnya dengan membaca berbagai macam buku di perpustakaan.
Saat tengah asyik melihat-lihat, matanya menangkap deretan novel berseri yang menjadi favoritenya. Novel terjemahan yang di tulis oleh Agatha Christie--seorang penulis fiksi kriminal dari inggris--tentang seorang detektif belgia bernama Hercule Poirot. Detektif genius yang unik dan nyentrik.
Matanya berbinar melihat deretan judul yang kebanyakan belum pernah dibacanya. Seri detektif Poirot memang ada banyak, sampai puluhan jumlahnya. Dan Satria sepertinya memiliki seluruh koleksinya.
Bahkan ada juga seriesnya Miss Marple, perempuan tua cerdas yang berhasil memecahkan banyak misteri kasus kriminal yang juga di tulis oleh Agatha Christie.
Novel karangan Agatha Christie memanglah novel lawas yang di tulis pada tahun 1970an, tapi masih banyak diminati sampai saat ini.
Karena novel yang dinginkanya berada di rak bagian atas ia harus terus menengadah untuk memilih judul yang ingin di bacanya. Setelah beberapa lama bimbang, Kasih akhirnya memutuskan untuk memilih satu buku dengan judul 'murder on the orient express'.
Kasih sudah berjinjit hingga melompat, tapi belum bisa menggapai buku yang diinginkanya, karena letaknya terlalu tinggi. Saat ia hampir menyerah, tiba-tiba sebuah tangan terulur dan meraih buku tersebut dengan mudah.
"Bilang dong, kalo butuh bantuan," ucap Satria, mengulurkan buku tersebut pada Kasih.
Kasih yang terkejut menerima buku itu tanpa menoleh, tidak berani membalikan badan karena kini Satria berdiri sangat dekat di belakangnya.
"Ma-makasih," ucapnya gugup.
Jantung gadis itu semakin melompat-lompat saat Satria melingkarkan lengan kekarnya di perut Kasih. Satria mengecup puncak kepala Kasih, menghirup aroma sampo yang menguar lembut lalu meletakan kepalanya di pundak sang istri.
"Kamu harum banget," gumam Satria sambil memejamkan mata. Memeluk Kasih kini sudah menjadi hobi barunya.
Bulu kuduk Kasih seketika meremang, saat Satria membenamkan wajah di ceruk lehernya. Hampir saja buku yang dipegangnya terjatuh karena jemarinya tiba-tiba terasa kebas saking gugupnya.
"Ehm, Mas udah selese kerjanya?"
"Hm, udah."
"Ka-kalo gitu, kita turun sekarang. Kasian Ibu udah nunggu," ucap Kasih terbata.
Satria tidak merespon, hanya semakin mengeratkan dekapanya hingga Kasih sulit bernafas. Untung lah, sesaat kemudian Satria mengurai pelukanya.
"Ya, udah, yuk!" Satria lalu menggandeng Kasih keluar ruangan.
Bu Rahma tersenyum saat melihat anak dan menantunya muncul sambil bergandengan tangan.
"Lama banget, ngapain aja?" goda Bu Rahma.
"Tadi aku masih banyak kerjaan, Bu. Jadi, Kasih nungguin sampai selesai," jawab Satria.
Kasih dengan cekatan mengisi piring suami dan mertuanya dengan nasi dan lauk. Setelah itu baru mengisi piringnya sendiri. Ketiganya pun mulai menyantap sarapan dengan nikmat.
"Gimana, Nduk? Kamu krasan disini?" tanya Bu Rahma setelah mereka selesai makan, kini tinggal menikmati potongan buah sebagai pencuci mulut.
"Ibu ini, orang baru semalem disini udah ditanyain betah apa nggak," sahut Satria sambil memasukan potongan melon ke dalam mulutnya.
"Ya nggak apa-apa, kan? Justru kesan pertama itu yang paling menentukan."
"Iya deh," cibir Satria.
Kasih tersenyum melihat perdebatan ibu dan anak tersebut.
"Kamu suka di sini, Nduk?"
"Suka, Bu," jawab Kasih sopan.
"Udah pasti kerasan dia, Bu. Semalam aja tidurnya pules banget. Kalo nggak betah, pasti nggak bisa tidur," ledek Satria.
Kasih jadi tersipu mendengar ledekan Satria. Semalam ia memang tidur sangat pulas, sampai-sampai telat bangun jika tidak dibangunkan Satria. Padahal biasanya ia susah tidur jika berada di tempat asing atau baru.
Tapi saat di rumah ini, ia bisa langsung tertidur dengan pulas. Entah karena kasurnya yang begitu empuk, atau karena pelukan Satria yang terasa nyaman. Mungkin juga karena Kasih merasa aman dan terlindungi saat bersama Satria. Hingga dia bisa melupakan semua beban dan masalahnya.
"Alhamdulillah kalo kamu kerasan, ibu jadi tenang," ucap Bu Rahma tersenyum.
"Oya, nanti ibu tinggal di warung aja, ya. Capek kalo bolak-balik," lanjutnya lagi.
"Lho kok, gitu, Bu? Emang kenapa?" protes Satria.
"Kamu 'kan udah ada yang urus, jadi Ibu mau dagang aja. Lagian, kalian perlu banyak waktu berdua, biar Ibu cepet punya cucu."
Uhuk. Uhuk! Kasih tersedak semangka yang tengah dikunyahnya. Satria segera mengulurkan segelas air dan menepuk punggung Kasih dengan lembut.
"Pelan-pelan, Nduk," ucap Bu Rahma.
Kasih mengangguk dengan wajah memerah.
"Nikah aja baru semalem, udah ditodong cucu aja," gerutu Satria.
"Ya kan, nggak ada salahnya berharap. Benar kan, Nduk?"
Kasih mengangguk dan tersenyum. Sebenarnya ia tidak keberatan untuk memberi mertuanya seorang cucu, hanya perlu menunggu. Karena ia membutuhkan waktu untuk menyiapkan mental.
"Ibu doakan saja yang terbaik," jawab Kasih diplomatis. Dari pada salah jawab, nanti malah bikin masalah.
"Pasti, dong. Ibu akan selalu doakan kalian."
"Tapi hari ini ibu belum mulai dagang, kan? Aku nggak bisa bantu, lho, kan mau ke KUA," ujar Satria.
"Kasih juga nggak bisa bantu, karena harus masuk kerja."
"Kamu di rumah aja, Yang. Aku udah hubungin Susan buat mintain kamu izin," ucap Satria.
"Tapi, Mas_"
"Satria bener, kamu di rumah aja sama ibu hari ini. Besok ibu baru buka warung, si Surti nanti sore datang dari kampung, jadi kalian nggak perlu bantu di warung," potong Bu Rahma.
"Tuh, di rumah aja temenin Ibu. Lagian nanti abis selesai urusan di KUA, aku mau ngajak kamu belanja." Satria menimpali.
"Iya, Mas." Kasih akhirnya menurut.
"Oya, Sat. Ibu penasaran, kemarin kamu ngomong apa sama aki-aki itu? Kok, bisa dia langsung bersedia mundur?" tanya Bu Rahma.
Kasih juga penasaran dengan hal itu. Dari kemarin ia mau bertanya, tapi malah lupa sampai Bu Rahma membuatnya teringat akan hal itu.
Satria melahap potongan melon terakhir, mengunyah lalu menelanya sebelum menjawab pertanyaan Bu Rahma.
"Waktu pertama aku lihat kakek itu, aku emang ngerasa pernah ketemu dia sebelumnya. Setelah beberapa lama akhirnya aku ingat, kalo aku pernah ketemu dia di warung sate temenku dua tahun lalu."
Satria berhenti sejenak, untuk meneguk air minumnya di gelas. Kasih dan Bu Rahma masih setia menunggu ceritanya.
"Ibu ingat Daniel, temenku yang punya warung sate?"
Bu Rahma tampak berpikir, berusaha mengingat orang yang di sebutkan Satria.
"Oh, Daniel temen SMA kamu yang dulu sering main ke sini? Anaknya juragan sate?"
"Iya, Daniel yang itu. Pas dulu aku masih merintis usaha, aku kan sering main ke warungnya. Sekedar tanya kiat-kiat berbisnis yang baik. Nah, disitu lah aku ketemu Juragan Karta."
"Terus?" tanya Kasih penasaran.
"Saat itu Daniel dan Juragan Karta sedang ribut. Juragan Karta yang saat itu jadi suplier daging kambing di warungnya, melakukan penipuan dengan cara mencampur daging kambing segar dengan yang hampir busuk. Hingga membuat Daniel merugi.
Saat itu, Daniel dan keluarganya melaporkan Juragan Karta ke polisi. Tapi, Juragan Karta malah melaporkan balik keluarga Daniel dengan tuduhan pencemaran nama baik. Daniel yang saat itu tidak punya uang untuk melawan, akhirnya hanya bisa pasrah saat dipaksa untuk berdamai," jelas Satria panjang lebar.
"Haduh, kejam banget itu aki-aki kolot," ujar Bu Rahma sambil menggelengkan kepalanya.
"Juragan Karta juga terkenal sebagai rentenir di kampungku," sambung Kasih.
"Memang banyak tindakan melanggar hukum yang dilakukan kakek tua itu. Desas-desus terakhir yang aku dengar, katanya Juragan Karta juga pengedar. Entah kenapa dia selalu lolos dari hukum," imbuh Satria lagi.
"Ih, ngeri. Untung kamu nggak jadi nikah sama dia, Nduk. Aduh, ibu nggak bisa bayangin gimana menderitanya kamu nanti kalo jadi istrinya," ucap Bu Rahma.
"Iya, Bu. Terimakasih Ibu sama Mas Satria udah nyelamatin aku dari kakek tua itu," ucap Kasih tulus.
Bu Rahma menepuk tangan Kasih dengan lembut.
"Oya, Sat. Harusnya kemarin kamu laporin aja dia ke polisi. Kan ada rekaman itu, yang bisa jadi bukti kuat."
"Aku sih, penginya gitu, Bu. Tapi ...," ucap Satria sambil melirik Kasih.
Bu Ratna menatap Kasih, detik berikutnya tersentak sambil menutup mulut. Wanita itu lupa, jika Ibu kandung Kasih sendiri terlibat dalam kejadian kemarin. Jika juragan Karta di penjara, ibunya pasti akan ikut terseret juga.
Sebagai anak, Kasih tentu tidak ingin melihat ibunya di penjara. Walaupun sang Ibu sudah melukainya begitu dalam.
"Maaf, Nduk. Ibu nggak bermaksud_" ucap Bu Rahma dengan raut menyesal.
"Nggak apa-apa, Bu. Sejujurnya aku juga benci perbuatan Ibu kemarin. Tapi gimanapun juga, beliau tetap ibu kandungku. Meski benci, aku nggak bisa membiarkanya menderita jika di penjara," ucap Kasih sendu.
"Kamu memang anak yang baik, Nduk. Nggak cuma cantik wajahnya tapi juga hatinya," puji Bu Rahma, menggenggam erat tangan Kasih.
"Udah nggak usah nangis. Yang penting kamu udah bebas sekarang. Kamu aman disini," ucap Satria mengusap air mata yang mengalir di pipi Kasih.
"Makasih, Mas. Makasih, Bu," ucap Kasih tersenyum.
***
"Duh, yang abis ditinggal anak gadisnya. Sekarang jadi belanja sendiri, deh," ucap Bu De, menyindir Bu Welas yang tengah memilih sayur.
Saat ini ibu-ibu tengah berkumpul di gerobak sayur Pak Dono, termasuk Bu Welas. Rutinitas setiap pagi yang biasa dilakukan Kasih, kini terpaksa dilakukan sendiri karena Kasih sudah pergi.
"Makanya, Ibu-ibu ... kalo punya anak gadis itu di jaga baik-baik. Bukanya malah dijebak dan difitnah, sekarang ditinggal pergi jadi repot sendiri, deh."
Bu De masih terus menyindir Bu Welas yang sedari tadi berusaha mengabaikanya.
"Iya ... padahal anaknya cantik begitu, tapi malah dijodohin sama aki-aki kolot cuma demi uang," sambung seorang ibu yang lain.
"Haduh, namanya juga orang udah gila harta ya begitu. Ngakunya kaya, tapi anak sendiri aja mau dijual demi dapat uang, miris!" kata Bu De lagi, disambut dengan anggukan dan bisik-bisik ibu-ibu yang lain.
Pak Dono yang sudah terbiasa dengan tingkah mereka hanya diam menyimak sambil sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan Bu Welas masih berusaha acuh sambil terus memilih sayuran, meski dalam hatinya sudah panas terbakar.
"Padahal Mbak Kasih itu baik lho, penurut, kalem, soleha ... tapi kok ya, ibunya malah kelakuanya kayak demit gitu," ucap Bu De.
Menyanjung Kasih begitu tinggi, seakan-akan ia mengenal dekat gadis itu. Bu Fitri yang mendengar sanjungan Bu De pada Kasih hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil mengusap dada.
Mungkin dia lupa jika kemarin Bu De sendiri pun mempercayai fitnah yang Bu Welas ucapkan. Bahkan sampai mencaci maki Kasih sedemikian rupa. Lidah memang tak bertulang, bisa di bolak-balik sesukanya.
"Heh, gembr*t! Jaga mulutmu itu, ya. Siapa yang kamu bilang demit, hah?" bentak Bu Welas garang.
"Ya Sampean, lah. Emang siapa lagi? Sampean itu emang pantes dapat julukan ibu paling kejam se-kampung ini. Atau malah se-indonesia raya ini?" ejek Bu De dengan mimik muka yang membuat jengkel orang.
"Apa kamu bilang? Aku ibu paling kejam? Emangnya aku ngapain? Di luar sana, masih banyak lagi ibu yang lebih kejam. Ibu yang suka menganiaya anaknya, itu kamu sebut apa? Bahkan banyak ibu-ibu yang membuang dan membunuh bayinya sendiri cuma karena anak itu terlahir diluar pernikahan.
Kalo aku kejam, aku sudah membuang anaku ke sungai begitu dia lahir. Tapi aku tidak melakukan itu, justru aku merawat dan membesarkanya. Emangnya salah kalo sekarang aku mengharap balasan? Lagian kalo dia nikah sama orang kaya pun dia sendiri juga yang menikmati," ucap Bu Welas panjang lebar membela diri.
"Halah, Bu. Kasih kan, dari kecil yang ngerawat neneknya," balas Bu De tak mau kalah.
"Tetap saja aku punya andil dalam merawat dan membesarkanya. Selama ini juga aku nggak pernah memukulnya sama sekali. Kejam dari mana coba?"
"Tapi kan, sampean sering mencaci maki Kasih. Bahkan sampai memfitnahnya seperti kemarin."
"Cuma begitu aja, apanya yang kejam? Kejam itu kalo aku siksa terus aku bunuh," ujar Bu Welas tanpa rasa bersalah.
Ibu-ibu yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepala dengan prihatin.
"Asal sampean tahu, Bu. Lidah itu kadang bisa lebih tajam dari pada pedang sekalipun. Kata-kata pedas sampean selama ini, pasti malah melukai Kasih lebih dalam dibanding jika sampean memukulnya," ujar Bu De sok bijak.
Tanpa mau berkaca jika selama ini lidahnya juga sama tajam dan pedasnya. Namun, ucapan Bu De tersebut sepertinya cukup menohok Bu Welas, hingga membuat wanita itu bertambah murka.
"Tau apa kamu tentang hidupku! Nggak usah ikut campur. Kamu sendiri bukan ibu yang baik, meninggalkan anak kandungmu dengan orang tua. Sedangkan kamu sibuk mengurus anak orang lain!" balas Bu Welas telak.
Bu De memang punya anak dari pernikahanya yang pertama. Dan anaknya itu ia kirimkan untuk tinggal bersama orang tuanya di kampung halamanya.
Sementara di sini, ia ikut suami ke duanya untuk merawat anak sambung mereka. Dari cerita yang beredar, Bu De alias Bu Rina menelantarkan anak kandungnya demi bisa hidup enak bersama keluarga barunya.
"Kenapa jadi ngurusin hidupku?" sungut Bu De dengan muka merah karena emosi.
"Makanya, nggak usah sok ikut ngurusin hidup orang kalo hidupmu sendiri nggak mau diganggu," cibir Bu Welas, bergegas membayar belanjaanya lalu meninggalkan kerumunan.
Bu De yang mendapat balasan menohok hanya bisa diam menahan jengkel saat ibu-ibu yang lain mulai sibuk berbisik membicarakan dirinya.
____
Bu Welas duduk sendirian di ruang tengah. Pak Darno pergi setelah sarapan, sedang Raja masih belum bangun dari tidurnya. Anak itu, semenjak lulus sekolah dan kuliah secara daring jadi semakin malas.
Setiap hari jika tidak keluyuran dan tidak ada tugas kuliah, kerjanya hanya begadang setiap malam. Tidur saat menjelang subuh dan terbangun saat matahari sudah tinggi.
Pak Darno sampai bosan menasihatinya. Percuma juga menasihati Raja, karena Bu Welas selalu membelanya hingga kebiasaan buruk putranya itu tidak pernah bisa berubah.
Kembali lagi pada Bu Welas yang kini tengah menatap layar televisi. Meski terlihat sedang fokus menonton acara televisi, tapi hati dan pikiran Bu Welas sebenarnya sedang memikirkan hal lain.
Tepatnya mengingat kembali masa lalu yang membuatnya memiliki kepribadian seperti sekarang ini. Luka dan trauma yang dialaminya dulu pasti sangat dalam, hingga masih membekas sampai saat ini meskipun puluhan tahun telah berlalu.
Tiga puluh tahun yang lalu, sifat dan kepribadian Bu Welas sama sekali berbeda dengan sifat dan kepribadianya saat ini. Sama seperti namanya Welas Asih, Bu Welas memiliki sifat yang lembut dan penuh kasih sayang.
Lahir dari pasangan petani yang memiliki lahan cukup luas, membuat kehidupan keluarga Bu Welas cukup makmur. Bu Welas yang anak tunggal, tumbuh menjadi gadis cantik kembang desa yang ramah dan baik.
Kecantikan, kelembutan dan kebaikan hatinya banyak memepesona pemuda di sekitar kampung tempat tinggalnya. Bu Welas bahkan terkenal hingga ke kampung-kampung lain.
Sejak beranjak remaja, sudah banyak pemuda yang datang melamarnya. Zaman dulu memang masih banyak sekali praktek pernikahan di bawah umur.
Banyak orang tua yang lebih memimilih untuk menikahkan anak gadisnya di usia remaja dari pada menyekolahkanya. Pemikiran mereka yang kolot, menganggap bahwa anak perempuan tidak perlu bersekolah terlalu tinggi.
Bagi mereka, bisa baca dan menulis pun sudah cukup. Di kampungnya masih menganut kepercayaan jika perempuan lebih rendah derajatnya dari laki-laki.
Padahal jauh sebelum itu, perihal emansipasi wanita sudah disuarakan dan diperjuangkan oleh pahlawan nasional R.A Kartini. Meski begitu, sepertinya paham tersebut belum sampai ke kampung Bu Welas, atau mungkin sudah sampai tapi orang-orangnya saja yang abai? Entahlah.
Namun, orang tua Bu Welas yang mempunyai pemikiran cukup modern, memiliki prinsip yang berbeda. Bagi mereka anak perempuan pun punya hak untuk mendapatkan pendidikan yang sama seperti laki-laki.
Karena itulah, meski mereka selalu dicibir oleh tetangga, mereka tetap menyekolahkan Bu Welas sampai ke jenjang SMA. Bu Welas sebenarnya akan terus bersekolah sampai perguruan tinggi, jika saja bapaknya tidak meninggal karena sakit.
Setelah bapaknya meninggal, kehidupan mereka mulai menurun. Ibunya tidak sanggup menggarap sawah mereka yang cukup luas itu sendirian. Mereka hanya mampu menggarap seadanya saja untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Untuk menjual lahan pun, rasanya sayang. Karena dari sanalah satu-satunya sumber penghasilan mereka berasal. Saat itulah, datang lamaran dari Pak Darno.
Darno Sasmitro, putra tunggal orang terkaya di kampung mereka yang bahkan katanya masih keturunan ningrat. Orang tuanya memiliki sawah berhektar-hektar, juga pabrik pengrajin tahu-tempe terbesar di kabupaten. Produksi tahu milik keluarga Sasmitro sudah terkenal, bahkan pemasaranya sampai keluar daerah.
Pak Darno yang saat itu baru pulang dari menempuh pendidikannya di Jogja, jatuh cinta pada kecantikan Bu Welas. Ia pun meminta orangtuanya untuk melamar gadis cantik primadona kampung itu.
Meski awalnya mereka tidak setuju, tapi akhirnya orang tua Pak Darno pun mengalah. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa saat putra tunggal mereka mengancam akan pergi dari rumah jika tidak bisa menikahi gadis pujaanya.
Singkat cerita, Bu Welas yang juga jatuh cinta pada kegagahan Pak Darno pun menerima lamaranya. Ibunya pun bangga, karena sang anak gadis di lamar oleh keluarga konglomerat kaya yang terpandang.
Tanpa mereka sadari jika pernikahan ini nantinya akan menjadi awal tragedi yang menghancurkan kehidupan si gadis kembang desa hingga merubahnya menjadi orang yang sama sekali berbeda.
****
Apakah yang terjadi? Tunggu di episode selanjutnya ya 😁🙏🙏
Betewe, ada yang suka novelnya Agatha Christie juga, nggak?Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (29)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
crita bagus
22/06/2023
0bagusss
07/04/2023
0ok baik
10/03/2023
0Lihat Semua