Petang berlalu disambut oleh gelapnya malam. Harapan itu benar-benar sudah kandar. Orang yang katanya akan memesan dua lusin itu, tidak kunjung membalas pesan. Kutarik nafas dalam-dalam, rasa kecewa yang seperti itu nyatanya jauh lebih terasa sakitnya. "Belum rezeki. Anggap saja sebagai mengasah kesabaran diri." Aku hanya bisa menghibur hati. Seperti yang sudah disepakati, aku pun siap-siap untuk menemui Mas Faisal. Besar harapanku agar Mas Angga pulang agak lambat hari itu. "Mas, aku sudah siap-siap nih. Aku sudah jalan sama Bilqis. Buruan ya, jangan lama-lama. Nanti Mas Angga keburu pulang." Setelah mengirim pesan itu, aku melangkah keluar rumah, tidak lupa mengunci pintu. Melangkah ke luar pekarangan kontrakan. Kemudian berjalan menyusuri tepian jalan yang lumayan ramai dan macet. Harap-harap cemas. Antara harapan dan juga kecemasan. Aku berharap pertemuan dengan Mas Faisal bisa membuahkan hasil cuan. Namun, aku juga cemas kalau sampai Mas Angga tahu mungkin dia tidak akan mengampuni. Mobil Mas Faisal pun sudah tampak di depan mata. Tanpa melihat keadaan, aku langsung membuka pintu dan masuk ke mobil. "Semua baik-baik saja kan, Rum?" tanya Mas Faisal, setelah aku masuk dan duduk di belakang. "Iya, baik kok, Mas!" "Mengantarnya sesuai patokan kan, Bu?" tanya Mas Faisal terdengar seperti driver. Mas Faisal tersenyum. "Iya, Pak!" sahutku menanggapi candaan recehnya. "Mas mau aja sih menjadi supir pribadi kamu. Kemana-mana bisa berdua, dan jadi sering melihat wajahmu." Senyum Mas Faisal belum juga memudar. "Kamu ada-ada saja, Mas!" Aku tidak mau menanggapi terlalu dalam. Takut saja ada sengatan di antara kami yang akan membuat tak nyaman. Kami sudah punya pasangan masing-masing. Aku tidak mau merusak hubungan begitu saja. "Bercanda kok, Rum. Untuk mencairkan otak yang hampir beku karena habis rapat." Saat itu Mas Faisal sudah menjadi seorang pemuda yang kaya raya. Mendadak menjadi pimpinan perusahaan yang diwariskan oleh orang tuanya. Mas Faisal yang hanya anak satu-satunya tentu saja menurut. Padahal, walaupun usaha sendiri aku yakin Mas Faisal bisa sukses dengan jalan yang ditempuh. Mas Faisal memiliki usaha toko serba serbi namanya. Aku kurang tahu pasti, karena sejauh komunikasi dengannya Mas Faisal jarang bercerita. Karena aku hanya diam seribu bahasa, Mas Faisal kembali membuka obrolan yang lain. "Gimana bisnis online kamu, Rum? Hari pertama apa sudah ada bakal calon pelanggan?" Mas Faisal menoleh sebentar, setelahnya dia kembali fokus ke jalanan yang lumayan padat. "Begitulah, Mas." Aku menjawab dengan nada putus asa. "Kok gitu. Masih hari pertama loh, Rum. Kamu harus semangat dan menyiapkan mental atas resiko yang ada. Selain itu kamu juga harus tahu." "Tau apa, Mas?" tanyaku penasaran. "Harus tau resiko duka yang akan ditanggung ketika jualan online." "Apa saja itu, Mas?" tanyaku antusias. "Dengar ya, Rum. Kamu simak baik-baik kuliah gratis dari Mas." "Resiko ditipu, diberi harapan palsu, resiko pelanggan komplain, menyita banyak waktu untuk membalas chat dari pelanggan. Masih banyak lagi, hanya itu yang Mas ingat." Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari Mas Faisal. Kemudian langsung menyimpulkan, bahwa pelanggan yang di lampung itu adalah salah satu resiko jualan online. Itu baru awalnya, kedepannya tentu mungkin akan ada lagi yang seperti itu. "Kamu benar, Mas." Tanpa sadar aku pun terkesan curhat. "Apa kamu sudah mengalami resiko dari salah satu itu, Rum?" tanya Mas Faisal. Dia terlihat begitu penasaran. Aku pun berniat untuk menceritakan semuanya. Paling tidak agar sesak di dada berkurang. "Iya, Mas." Aku menjawab singkat sekaligus menganggukkan kepala. "Kamu yang sabar ya, Rum. Mas yakin, usaha online kamu pasti akan berkembang cepat. Karena kamu adalah wanita kuat dan hebat. Kamu harus percaya, bahwa kamu bisa." "Iya, Mas. Aku harus semangat agar semua berjalan lancar. Belasan menit berlalu, kami pun sampai di kafe. Kuedarkan pandangan ke sekitar, lumayan banyak pengunjungnya. Aku dan Mas Faisal pun segera masuk. Mengambil tempat di pojokan kafe. "Kamu di sini dulu, Rum. Mas mau pesan minum dulu." Aku mengangguk. Melempar pandangan ke sekeliling ruangan yang berakhir di jalanan. Kendaraan banyak lalu lalang, sehingga membuatku ingat akan Mas Angga. Apakah dia sudah pulang? Untuk mengurangi rasa was was, aku menelepon Mas Angga. Untunglah panggilanku dia jawab. "Halo, Rum. Ada apa?" tanya Mas Angga di ujung panggilan. "Kamu sudah pulang, Mas?" tanyaku to the point. "Belum, Rum. Sepertinya Mas akan lambat pulang. Ada sedikit pekerjaan yang wajib diselesaikan." "Baiklah. Kamu hati-hati ya, Mas." Aku berpesan pada Mas Angga, sebelum panggilan pun kami akhiri. Lega rasanya! Mas Faisal pun sudah kembali. Dia langsung menjatuhkan bokong di kursi yang ada di hadapanku. Mungkin, maksudnya agar ngobrolnya lebih enak dan serius. "Angga sudah pulang, Rum?" "Belum, Mas. Katanya dia ada pekerjaan yang harus selesai hari ini juga." "Oh begitu. Itu artinya kamu sudah sedikit tenang kan?" tanya Mas Faisal memastikan. "Udah, Mas," jawabku singkat. Pesanan kami pun sudah sampai ke meja. Dua gelas kopi panas yang wangi sudah ada di hadapan mata. Asapnya mengepul ke udara kemudian hilang. Aku lumayan terkejut melihat harga yang ada di daftar menu. Padahal hanya secangkir kopi panas dibandrol dengan harga 27.000 satu cangkir. Jika dibikin di rumah tentu uang segitu akan dapat banyak kopinya. "Gimana kabar Bilqis, Rum? Sepertinya sudah lebih baik ya." tanya Mas Faisal terlihat perhatian. "Baik, Mas. Sudah mulai membaik," jawabku terus terang. "Baguslah, Rum. Ya sudah, biar tidak membuang waktu kita bahas berita utama aja ya," ujar Mas Faisal tersenyum. "Iya, Mas. Aku juga takut terlambat pulang nantinya." Hening sejenak, Mas Faisal meneguk kopinya. Aku pun melakukan hal yang sama, karena sudah ditawarkan Mas Faisal. Kopi hitam pekat itu terasa nikmat di lidah. Perpaduan pahitnya rasa kopi dengan manisnya rasa gula pun dapat memanjakan lidah, siapapun yang meminumnya. Selain itu, ada rasa berbeda dari kopi itu. Mungkin juga itulah ciri khas si kopi. Pantas saja dijual dengan harga sekian, yang menurut orang miskin sepertiku termasuk harga yang tinggi. Selesai meneguk kopi hangat, Mas Faisal pun meminta agar aku dikirimkan gambar-gambar produk. Secepat mungkin aku mengambil ponsel, dan mengirimkan pada Mas Faisal, kecuali model setelan cewek yang dua lusin. Entah kenapa saat itu aku enggan mengirimkan foto itu. Setelah aku kirimkan foto, Mas Faisal pun meminta waktu sebentar untuk memilih barang apa saja yang akan dia pesan. Sekian puluh menit berlalu, Mas Faisal pun memintaku untuk merekap pesanannya. Masing-masing model pun dia pesan satu lusin. Jantungku menjadi berdebar-debar karena merasa sangat bahagia. Namun, setelahnya terbesit di pikiran untuk apa Mas Faisal membeli pakaian anak-anak? Sedangkan dia belum dikaruniai anak dari pernikahannya dengan Mbak Ayu. "Pesanan sebanyak itu untuk apa, Mas?" tanyaku penasaran. "Untuk dijual lagi, Rum. Mas cuma mau bantu seseorang di kantor," jawab Mas Faisal lirih. Siapa seseorang yang dia maksud, aku tidak mau ingin tahu terlalu jauh. "Kalau nanti barangnya habis, akan Mas pesan lagi ke kamu," ucap Mas Faisal lagi. Aku hanya mengangguk. Ternyata rezeki memang tidak akan tertukar. Harapan yang sempat pudar, kembali bangkit. Hari pertama jualan online, aku sudah mendapat pelanggan pertama, dan dia adalah orang yang selalu ada di belakangku. "Mas transfer tiga juta dulu. Nanti di rumah kamu hitung total dan ongkirnya." "Loh, kok pakai ongkir?" tanyaku penasaran. "Iya, Rum. Paketkan saja ke kontrakannya. Mas tidak mau orang itu tahu. Besok akan Mas kirimkan data lengkap pengirimannya." Aku pun mengangguk. Siapakah orang yang Mas Faisal maksud? Tanpa terasa, sudah sekian jam kami mengobrol. Obrolan kami pun tidak hanya seputar bisnis, melainkan juga tentang hubungan pribadi. Mas Faisal sempat cerita kalau dia mulai lelah, melihat sikap istrinya. Ingin dia menyerah tetapi untuk melakukan itu dia belum punya celah. Akhirnya Mas Faisal pun memilih untuk tetap bersabar. Aku turut prihatin mendengar cerita Mas Faisal. Tidak banyak yang bisa aku lakukan, selain hanya menyuruhnya bersabar, demi keutuhan hubungan kedua orang tua mereka. Setelah urusan selesai, Mas Faisal kembali mengantarku ke kontrakan. Karena sudah lumayan malam, dia pun mengantar sampai depan jalan utama. Semua itu agar aku tidak terlalu jauh berjalan. Sementara Bilqis sudah terlelap tidur di gendongan. "Hati-hati ya, Rum. Mas pulang dulu," ucap Mas Faisal tersenyum. Aku mengangguk dan membalas senyumnya. Pada saat memasuki halaman kontrakan, jantungku jadi berdebar-debar. Apalagi ketika melihat pintu sudah terbuka. Belum sampai aku ke ambang pintu, muncul bayangan Mas Angga menghampiri. Dia langsung menatapku dingin. "Dari mana kamu, Rum?" tanya Mas Angga. Aku diam, terus melangkah masuk langsung ke kamar; merebahkan tubuh mungil Bilqis. Sedangkan Mas Angga terus berjalan mengekor di belakangku. "Kenapa diam saja? Jawab, Rum!" ucap Mas Angga dengan suara yang mulai meninggi. Menandakan dia mulai tersulut emosi. "Aku …." "Kamu pasti ketemu Faisal brengsek itu kan?" cecar Mas Angga, dan itu memang benar. "Iya, Mas." "Cih! Pantas ada notifikasi uang masuk ke rekening. Uang apa itu, Rum?" Mas Angga semakin marah, tatapannya begitu tajam menusuk. "Dia beli dagangan kita, Mas." Aku menunduk tidak berani menatap Mas Angga, karna sudah tertangkap basah. Bodohnya aku meminta Mas Faisal transfer ke rekening Mas Angga. "Jual produk atau jual diri?" Apa? Mas Angga menuduhku seperti itu? Hatiku terasa sakit seperti dibanting dari ketinggian lima puluh meter. Mengalah atau berperang?
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (178)
RahayuDwi
sangat bagus.. bener2 menyentuh hati
26/12
0
SofyanAfika
bacan ini sakat bagus
05/07/2025
0
syaputri00aisyah
bgus bngt tpinya crtany Mlah ngen gantung😓😭, pls adain season 2 pls, msih ga bisa move on😓😓
sangat bagus.. bener2 menyentuh hati
26/12
0bacan ini sakat bagus
05/07/2025
0bgus bngt tpinya crtany Mlah ngen gantung😓😭, pls adain season 2 pls, msih ga bisa move on😓😓
04/07/2025
0Lihat Semua