Libur panjang pun tiba. Hal ini sudah di nanti-nantikan Keisya sejak mos. Ya, meskipun dirinya harus rela untuk tidak melihat Jendra setiap hari. Tapi Keisya tetap santuy, jika ingin mengunjungi doi, kan, tinggal pergi ke rumah Satrio. Sore hari ini, Keisya memutuskan untuk pergi berkunjung ke rumah Satrio. Kangen. Ya bukan hanya kangen dengan Jendra loh ya, kangen dengan semuanya. Sepertinya sudah lama sekali tidak mengunjungi rumah Satrio. Gadis itu pergi bersama Fathan. Kebetulan ayahnya itu mendapat jatah libur hari ini. Keisya sudah duduk manis di samping kursi penumpang dalam mobil di samping kursi pengemudi yang di duduki ayahnya. Perjalanan tidak terasa karena Keisya sedari tadi fokus bermain game di ponselnya. Tenang, ini bukan game online, hanya game offline karena paketannya sedang habis. Ingatkan Keisya untuk minta di belikan paketan nanti. Kedua ayah-anak itu keluar dari dalam mobil. Fathan hanya memarkir mobilnya di depan gerbang rumah Satrio, karena gerbang itu tidak muat untuk masuk mobil. "Ayo ayo kita masuk!" Seru Fathan seraya membuka pagar. Keisya melangkah masuk mengikuti ayahnya. Namun gadis itu sesekali mencuri-curi pandangan ke rumah sebelah. "KEISYA!" Keisya tersentak kaget. Dilihatnya Syiha dari arah datangnya mobilnya tadi dengan sebuah kantung kresek di tangannya. Keisya tebak gadis itu habis pergi dari warung. Fathan juga berhenti berjalan dan menatap Syiha heran. "Siapa kes?" "Temen aku, ayah masuk duluan aja ya, nanti aku nyusul," Fathan meng-oke kan. Pria itu berjalan masuk ke dalam rumah Satrio lebih dahulu. "Kenapa?" Keisya beralih menatap Syiha yang berada di luar gerbang. "Enggak hehe. Panggil doang, soalnya udah lama enggak kelihatan." Syiha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Keisya melipat mulutnya kedalam. Gadis itu ragu-ragu ingin bertanya. Matanya sesekali mencuri-curi pandang ke rumah Syiha. "Eum..." "Kenapa? Cariin abang aku yaa?!" Keisya gelagapan sendiri. Terciduk sudah dirinya. "Enggak! Enggak! Orang aku lagi lihatin itu tuh!" Kilahnya. "Halah! Udah ketahuan banget! Aku udah sering nemuin modus kaya gini," Keisya menunjukkan cengirannya. Waduh, berarti saingannya banyak yah. Pikirnya. "Dimana?" Syiha menyerit. "Apanya?" "Dia," Syiha mengangguk sembari tersenyum menang. "Oh Jendra, bilang yang jelas dong! Gak usah malu-malu kambing! Kalo kamu mah aku restuin!" "Syutt! Jangan kanceng-kanceng! Nanti ada yang denger," "Eh udah ya, aku mau masuk. Bye!" Keisya berlari kecil masuk menyusul ayahnya. Syiha hanya geleng-geleng kepala, gadis itu tengah salting rupanya. ••• Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, namun rumah Satrio masih ramai dengan gelak tawa yang menggelegar. Disana sedang ada kumpul keluarga kecil-kecilan. Keisya, Fathan, Satrio, dan Genta tengah bermain monopoli di ruang keluarga. Ranti dan Devin, adik Satrio hanya menonton, Ranti juga menyiapkan berbagai jenis camilan yang sudah di beli Satrio di mini market depan. Satrio, si raja monopoli itu mukanya masih bersih. Keisya dengan kedua bapak-bapak di samping nya, mukanya sudah penuh dengan bedak. Jika ada salah satu dari mereka yang kalah, Satrio tak segan-segan meraup sekepal bedak dan di taburkan ke muka orang yang kalah itu. Genta saja sampai geregetan, ingatkan Genta untuk tidak memberikan Satrio uang bulanan lagi. Sekarang, permainan selesai. Fathan tengah membujuk putrinya untuk kembali ke rumah mereka, namun Keisya tetap kekeuh menolak. Gadis itu ingin tetap tinggal di rumah Satrio, menginap. Ramai katanya. "Enggakk! Keisya enggak mau pulang! Ayah aja sana pulang, aku nginep disini!" Keisya mengerucutkan bibirnya lucu. "Ih mau tidur dimana disini! Kamarnya udah penuh semua! Iya enggak sat?" Fathan memberikan kode lewat alisnya kepada Satrio. Namun cowok itu sudah terlanjur ngantuk. "Hah? Enggak! Kamar aku kan gede, Keisya bisa gelaran di bawah," Fathan menepuk keningnya. Satrio ini tidak bisa di ajak kompromi! "Tuh kan! Lwe!" Keisya menjulurkan lidahnya. "Udah pulang aja sana kamu! Tante enggak terima tamu untuk malam ini!" Usir Ranti. Keisya menatap melas ke arah tantenya itu. "Plis tan!" Gadis itu menelungkupkan tangannya di depan dada. "Enggak enggak enggak! Pulang sanaa! Ayah kamu cari anak baru aja! Emang mau?!" "ENGGAK NO WAY! TIDAK TIDAK!" Keisya menyilangkan tangannya. "Syutt! Jangan teriak-teriak udah malem!" Genta melerai. "Udah sana pulang!" "DASAR KELUARGA PELIT!" teriak Keisya lagi. "Hush! Jangan teriak-teriak!" Ingat Genta lagi. "Yaudah aku pulang! Ayo yah kemon! Bye assalamualaikum!" Keisya mengambil tasnya. Lalu mengecup punggung tangan Ranti dan Genta bergantian. "Gue pulang yah! Assalamualaikum!" Pemit Fathan. Selepas keluar dari gerbang rumah Satrio. Bayang-bayang mata Keisya menangkap sebuah bayangan seorang cowok jangkung. Dari sebelah rumah Satrio. Maklum, jika malam hari mata nya kurang jelas melihat. Namun lama-kelamaan bayangan itu berubah menjadi sesosok pemuda tampan yang sudah sangat Keisya hapal. Jendra. "Assalamualaikum om!" Pemuda itu tiba-tiba memberi salam pada Fathan. Ayah Keisya itu menyerit bingung. "Waalaikumsalam, kamu kenal saya?" Maklum, Fathan ini sudah lumayan berumur, ya meskipun ketampanannya tidak mengurang. "Jendra om, yang ketemu sama om waktu itu di market mall." Jawab Jendra ramah. Keisya tersenyum kecil tanpa di sadari kedua lelaki itu. Calon menantu dan mertuanya.. pikir gadis itu terkikik kecil. Keisya juga bersyukur karena ia akhirnya mengikuti ayahnya pulang. Jika tidak, mungkin Keisya tidak akan bertemu Jendra malam ini. "Eh iya! Yang waktu itu sama pacarnya juga ya! Siapa itu nama pacarmu?" Fathan berpikir kecil. "Sya, sya siapa?" Keisya yah. Ingin rasanya Keisya berteriak pada ayahnya. Namun gadis itu masih mempunyai urat malu, apalagi ada Jendra. "Tasya om," bahu Keisya melorot turun. Gadis itu kecewa dengan jawaban Jendra. "Oh iya Tasya! Om malah pikir, Keisya!" Fathan menggaruk tengkuknya. IYA YAH AKU! Batin Keisya berteriak tidak terima. Gadis itu menggembungkan pipinya. "Ayo kita pulang cepetan! Aku ngantuk!" Moodnya turun drastis. Ternyata tidak bertemu beberapa hari membuat Jendra semakin menjengkelkan. "Ayo cepetan! Keisya membuka pintu mobilnya dan masuk duluan. Fathan menepuk pundak Jendra dua kali, "Om harap kamu peka," setelahnya pria itu menyusul Keisya memasuki mobil. "Om duluan ndra!" Fathan membuka jendela mobilnya sebelum setelahnya menjalankan mobilnya. ••• Drdtt drdtt! Keisya meraba-raba kasurnya, setelah menemukan ponselnya yang di silent, Keisya menekan tombol guna mengangkat telepon tanpa membuka kelopak matanya. Bip! "KEISYA GUE MAIN KE RUMAH LO YA!" teriakan suara melengking itu membuat Keisya menjauhkan ponselnya dari telinga. Refleks, gadis itu membuka matanya dan ikut berteriak. "ASTAGHFIRULLAH!" "Santai lur! Bye otw!" Tut.. Tut.. Nayla, gadis itu mematikan sambungan telepon seenak jidatnya. Keisya mengangkat tubuhnya duduk. Melalui kaca di atas nakas samping ranjangnya, ia melihat, maskernya retak! "NAYLAAA!!"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ka lanjut dong…😇
22/07
0baguss bangettt
11/05/2025
0kerennn
15/04/2025
0Lihat Semua