Beranda/OLIVIA, Istri Gagap yang Tak Diinginkan/
Bab 29 Hari Baru
"Oh, a, itu Papa. Temenin Papa makan," jelas Olivia sempat tergagap karena sedikit kaget.
"Papa sudah tidur?"
"Barusan sudah mau tidur."
"Kamu nginap di sini?" Pertanyaan kaku Erlan. Di antara mereka baru ini pertama interaksi langsung setelah tahu sebagai saudara seayah.
Olivia melanjukan langkah ke dapur. "Kayaknya enggak, Mas. Saya besok masih harus kerja."
"Mau pulang sekarang?" ternyata Erlan mengikuti langkahnya.
"Iya." Olivia memasang senyum, mencoba bersikap sebiasa mungkin. Walaupun ia merasa canggung.
"Boleh," Erlan menggantung kalimat. "Boleh kita bicara sebentar?" pintanya kemudian.
"Sekarang, Mas?"
"Iya. Kalau kamu tidak keberatan."
"Ng, gimana kalau besok aja, Mas. Sepulang kantor saya bisa. Atau di jam makan siang juga ada waktu."
Tampak sesaat Erlan berpikir. "Oke. Besok sore sepulang kamu dari kantor. Kita chat saja di mana lokasinya. Kamu masih simpan nomorku bukan?"
Olivia melirik ponsel di tangannya. "Ng, maaf, Mas. Ini kartu baru. Nomor lama semua nggak ada."
"Oh, aku juga pakai nomor baru. Sebut nomormu, biar aku misscall."
Jadilah keduanya bertukar nomor.
"M, Mas. Besok sama kak Rania juga, ya. Biar kita skalian makan bareng."
"Olive, ini bukan tentang Rania. Aku Cuma mau bicara tentang kamu, dan aku." Suara Erlan terdengar tegas, dan itu membuat Olivia mengiyakan.
Mereka berdua saudara tidak mungkin Rania cemburu. Atau Hans salah paham lagi? Tidak. Olivia menggeleng sendiri saat duduk di belakang kemudi mobilnya.
Entah firasat apa yang dirasakan Hans sampai menghubunginya. Dering ponsel menyentak Olivia yang siap menjalankan mobil.
"Assalamualaikum. Ya, Hans?"
Lelaki di seberang sana terdengar baru bangun tidur.
"Waalaikumsalam, Sholeha Cantik. Seger banget suaranya? Belum tidur?"
"Ini lagi di rumah Papa Abizar, baru mau pulang."
"Hah? Lo ketemu sama Bang Erlan?"
"Nggak masalah kali, Hans? Dia kan kakak aku."
Hans mengecilkan suaranya. "Sorry bukan itu maksud gue."
"Sudah ya, aku mau fokus nyetir."
"Oh, oke. Hati-hati. Besok pagi-pagi gue ke rumah."
"Tumben pake bilang?"
"Hee, gue kasian aja lo kaget lagi. Tiap gue muncul di rumah lo langsung syok gitu. Yaudah gue tutup. Hati-hati di jalan."
Sepulang dari terapi saat itu hubungannya memang semakin baik dengan Hans. Seperti teman akrab yang saling berbagi obrolan ringan. Hans sudah bertemu Saka, mereka langsung akrab dan main bola bersama saat bertemu.
Hans juga banyak tahu tentang kehidupan dan membantu pekerjaan Olivia. Meski tanpa diminta. Ya, hubungan mereka sebatas itu, meski beberapa karyawan Olivia baper melihat kebersamaan mereka.
Si pemilik usaha tambang besar peninggalan orang tua, juga pebisnis retail muda, mau bantu mendesain ruang gallery Olivia. Pemuda itu punya banyak kebisaan, kerjanya juga cekatan.
Hans itu juga pelindung utama Rania, meski sudah menikah dengan Erlan ia berdiri di garda terdepan jika Rania disakiti.
"Yakin lo mau membesarkan Saka sendiri?"
"Sementara ini iya. Kenapa enggak? Aku biasa sendiri, Hans. Oh, apa kamu mau menawarkan diri jadi bapaknya?" tanya Olivia setengah bercanda.
Lelaki itu tertawa renyah menanggapi. "Gak akan. Gue sadar diri nggak cocok buat elo."
"Kata siapa?"
Ia berdecak. "Lo berhak dapat yang lebih baik, Olive."
"Minder? Kamu ngerasa nggak baik? Janganlah jadi aku yang dulu!"
"Bukan gitu. Gue memang nggak pantas buat elo. Udah, itu aja alasannya."
"Oya? Bukan aku lho yang bilang, Hans."
"Haa, ya iyalah. Kan barusan gue yang bilang." Keduanya tertawa ringan sesaat.
Bukan Olivia bermaksud menembak Hans untuk melamarnya, tapi Olivia suka mencandai Hans tentang perempuan. Selama kenal dekat ia belum pernah tahu siapa kekasih pria gondrong ini. Ada beberapa yang menyukai, tetapi Hans selalu punya alasan tidak mau terima satu pun.
Penasaran saja. Apa Hans ini normal?
"Saka, sini!" Suara Hans memanggil Saka yang baru keluar dari dalam rumah. Anak itu mengucek mata, rambutnya berantakan. Tidurnya tadi nyenyak lagi, setelah sebentar terbangun karena Olivia salat Subuh.
"Eh, anak Bunda sudah bangun." Panggilan baru dirinya yang Saka belajar sebut begitu.
"Nda ... Aka akit pelut." Anak itu menggelayut pada dekapan Olivia.
"Mau pup?"
"Hu'uh." Saka mengangguk.
"Eh, di sini rupanya. Ayo, biasa pagi-pagi ke kamar mandi dulu." Simbak datang mendekati Saka.
"Iya, rutinitasnya udah nagih tuh," canda Hans sambil mengacak kepala Saka.
"Om Ans angan pulang, ya? Aka au ain ola."
"Ma-u ma-in bo-la," ajar Olivia agar Saka tak biasa memenggal huruf saat bicara.
"Aka mau main sama Om."
"Nah, pinter bicaranya." Olivia tahu jika Saka sebenarnya bisa bicara tanpa cadel.
"Oke, Saka. Om tunggu di sini." Tos ujung kepalan tangan Hans beradu dengan Saka, sebelum anak iu berbalik masuk ditemani simbak.
Hans menyeruput kopi susu yang Bibi suguhkan tadi. Mereka berdua ini di halaman samping rumah, duduk di kursi santai dengan meja persegi dari kayu, tepat menghadap lapangan kecil berumput karpet, juga tanaman bunga warna-warni di sisi taman itu. Rumah yang akhirnya dibeli oleh Trenggono dan diberikan pada Olivia sebagai hasil dari jerih payahnya pertahankan bisnis Mariah.
Olivia tak pernah meminta bayaran untuk itu, ia hanya menjalankan tugas semampunya. Namun, kata Trenggono dari pemasukan bulan lalu naik 20 persen. Ia sungguh tak menyangka itu.
"Lo sudah kelihatan sukses mendidik Saka. Anak itu makin manis saja sikapnya," ucap Hans memecah keheningan sesaat tadi.
"Masih belajar, Hans. Aku mau masa kecil Saka bahagia, seperti anak lainnya."
Hans menatap gadis berkerudung hitam itu sekilas, ada senyum di bibirnya. "Baru belajar aja gitu, apalagi kalau udah ahli."
"Aamiin. Moga Olivia ini makin hari makin baik."
"Doain gue juga."
"Oke. Kamu minta didoain apa?"
"Bisa dapat jodoh secepatnya."
Mendengar itu Olivia jadi semringah. "Alhamdulillah. Ternyata kamu mikir nikah juga, Hans. Semoga segera bertemu. Gadis baik yang akan jadi istri dan ibu yang baik buat anak-anak kamu nantinya."
Hans mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. "Gue yakin kalo itu doa lo pasti terkabul."
"Aamiin."
Setelah ngobrol sebentar, Saka keluar lagi dengan membawa bubur kacang hijau di gelas khusus miliknya yang bertutup.
"Aka mau makan sama Nda."
"Oke, makan di dekat bunda, tapi Aka suap sendiri, ya?"
"Oke!" Jempol Saka terangkat memancing senyum lebar Hans.
"Habis makan kita main. Wah, om bisa kalah ini. Kan habis makan Saka jadi kuat."
"Hehee. Ok asti alah."
"Pas-ti ka-lah," koreksi Olivia segera diikuti Saka, dan anak itu bisa menyebut kata itu sama. Usia Saka hampir tiga tahun, anaknya cepat tanggap dan suka bertanya. Sudah terlihat pintarnya.
Setelah makan Saka dan Hans bermain di lapangan. Sementara Olivia masuk rumah bersiap ke kantor.
*
"Di mana?"
"Masih di kantor, Mas."
"Bisa ketemu saat makan siang saja?"
"Nggak bisa, Mas. Ini mau keluar sebentar, trus nanti ke workshop juga. Bukannya kita janjian sore?"
"Oh, yasudah. Nanti sore saja kalau kamu sibuk."
Setelah mengakhiri telepon Olivia sejenak terdiam menatap layar ponselnya. Ada apa dengan Erlan? Ketemu berdua mau bicara apa? Olivia lumayan merasa tak nyaman, tapi ini hanya akan sekali setelahnya ia harap Erlan datang bersama Rania. Mungkin saja ini untuk suatu hal penting. Entah apa itu.
Olivia diantar sopir menuju kantor pengacara Charles. Mereka sudah dibuatkan janji oleh Abizar, dan ternyata ia sudah ditunggu.
"Mbak Olivia Azzahara?"
"Iya, Pak."
"Mari, ikut saya." Lelaki berkepala plontos mengantarkannya ke ruangan nuansa cream dan perabotan berupa meja, lemari, dan kursi berbahan kayu jati coklat kehitaman.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (91)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
good
03/12
0sangat bagus
15/11
0sangat bagus dan alur cerita sangat lah manerik
20/07/2025
0Lihat Semua