Mariah melangkah anggun dari pintu pagar menuju halaman rumah. Kehadirannya mengagetkan Olivia. “M-Mama?” Olivia yang tengah tertawa-tawa menimang kucing di teras, gegas berdiri, menuju keran air untuk mencuci tangan. Mama mertuanya itu ke rumah tanpa mengabari terlebih dahulu. Ia bahkan turun dari mobil di luar pagar. Mariah sepertinya baru pulang dari acara. Maxi dress satin silk warna bata. Satu tangan menggenggam tas branded berlogo H. Heels hitam mengkilap 15 centimeter, membawa langkah elegannya. “Mama sengaja nggak bilang mau mampir. Hari libur kan kalian pasti di rumah.” Olivia tersenyum lebar seraya menghampiri. “I-ya, Ma. M-Mama sehat?” tanya Olivia usai memeluk, dan menempelkan pipi mereka kiri kanan. “Alhamdulillah, sehat. Kalian sehat-sehat, kan?” "Al-hamdulillah." Olivia mengangguk mantap. Sembari mengajak masuk, ia menerima paper bag putih berlogo roti yang Mariah sodorkan. Mereka langsung menuju dapur. Hampir sebulan menantu mertua ini tidak bertemu. Mariah larut dengan kesibukan bisnis dan mendampingi sang suami. Sampai seminggu lalu ia merasa janggal akan sesuatu, Olivia selalu menunda pembicaraan bisnis yang sempat mereka bahas. Itu salah satu alasannya tiba-tiba ke sini. “M-Mama minum dulu.” Olivia menuangkan sari buah naga pada gelas Mariah. “Yudha mana?” Olivia menarik senyum sembari menoleh ke lantai atas, kemudian cepat beralih ke Mariah. “Ng, tadi ke kan-tor, Ma,” sahutnya ragu. “Weekend masih ngantor?” Olivia mengangguk cepat. Padahal hatinya tidak yakin, karena Yudha keluar tidak memberitahu akan ke mana. “Kalian baik-baik aja, ‘kan? Perasaan mama nggak enak akhir-akhir ini.” Mariah menatap Olivia seraya menghabiskan minumannya. “B-baik kok, Ma. Ma-ma tenang aja.” Mariah menatapnya lekat beberapa detik. Pipi kemerahan, matanya jauh lebih berbinar. Kalimat panjang Olivia juga semakin lancar. Ia bisa menduga sang menantu ini sangat patuh melakukan apa yang Andira sarankan. Sikap Olivia tampak makin luwes. Mengalihkan rasa canggung karena diperhatikan, Olivia mengambil roti yang dibawa Mariah. “Enak,” pujinya di sela mengunyah gigitan pertama. Jempol terangkat dengan kepala mengangguk-angguk. “Hem. Mama tahu roti isi sayur itu yang kamu suka.” “Makasih, Ma. Maaf-kan Ol-iv belum sempat ke rumah.” Sedikit meringis Olivia teringat janji yang belum ditepati. “Nah, itu yang mama heran. Apa yang bikin kamu sampai nggak sempat? Sibuk apa?” Olivia tersenyum simpul, sebelum menjawab. “M-Ma, maaf … Ol-live sebenarnya sudah ada kerjaan.” “Kerja? Lho, gimana usaha craft yang kita rencanain?” Olivia berusaha tenang menelan sisa roti di mulut. Keadaan ini yang sempat ia duga. Rona kecewa Mariah saat tahu harapannya, dan apa yang ia putuskan sudah berbeda. “Habis ini kita harus bicara serius. Mumpung mama lagi ada di sini.” Mariah menekan tisu pada mulut. Mengakhiri makan suguhan Olivia. Olivia mengangguk canggung. Ia mengikuti Mariah pindah ke ruang tengah. Mereka duduk bersisian pada sofa panjang. “Mm, Ma … se-sebelumnya maaf.” “Jelaskan saja kamu kerja apa?” Meski penasaran, suara Mariah dibuat setenang mungkin. Olivia memperbaiki posisi duduk, menghadap penuh pada Mariah. “Ol-live … belajar jual m-makanan, Ma ….” Mariah menatapnya lekat. “Olive, kita ‘kan mau bikin Craft. Relasi mama di bidang itu bisa memudahkanmu. Kamu mau yang khas daerah juga bisa. Pokoknya mama dukung.” “I-ni pilihan Olive, Ma ....” Menarik napas panjang, Mariah merapatkan mulut. Coba mendengarkan pejelasan Olivia kemudian. Ia ceritakan jualan Ayam Geprek di dekat pusat perkantoran. “… sudah jalan seminggu ini, Ma. Ol-live ker-“ “Ya ampun, Olive. Hentikan itu. Mama akan dukung kamu dari nol apa pun pilihan kamu. Tapi bukan jadi pedagang kaki lima.” Mariah menyela cepat penjelasan Olivia yang belum selesai. “M-Ma, ini bukan kaki li-“ Menggeleng cepat, Mariah menampakkan ketidaksetujuannya. “Menantu mama harus punya usaha yang berkelas. Pokoknya hentikan. Kita lanjutkan pembahasan sebelumnya.” Olivia mengatup bibir. Ia tahu ini akan mengecewakan. Awalnya, memang ingin mengikuti jejak bisnis mama mertua, catatan konsep lengkap seperti panduan Mariah sudah ia tulis. Namun, kejadian hari itu membuatnya mengubah arah. Ada dorongan dahsyat dalam diri untuk bisa menjadi manusia mandiri. Sebisa mungkin Olivia terus jelaskan, tetap saja Mariah mengernyitkan kening, menggeleng kepala. Ia belum paham dengan Olivia, yang memilih berjualan dibanding berbisnis yang bernilai besar dengannya. “Ol-live-“ “Sudah, sudah. Mama kira sampai sini dulu bahas itu.” Wanita berdandan tipis, dengan kulit yang masih glowing ini menghentikan kalimat Olivia. Setelah menarik napas berat Mariah mengalihkan topik. Membahas bisnisnya yang akan buka cabang di Bandung. Meski bicara dengan kalimat tenang, Mariah diam-diam memindai wajah Olivia. Ia mencari apa yang disembunyikan darinya. Pasti ini ulah Yudha, begitu pikir Mariah kemudian dalam benak. Perasaannya mengatakan, ada yang disembunyikan sang menantu. ? Flashback hari itu. Setelah Yudha mengetahui Celine bersandiwara. Bersikap baik di depan, tetapi masih merokok. Hal yang sudah ia tegur keras sebelumnya. Kalimat Celine juga bermanis-manis, padahal merencanakan sesuatu di belakangnya. Mendidih panas. Begitulah seketika otak dan hati Yudha saat itu. Merasa harga diri sebagai anak Trenggono dijatuhkan dengan jentikkan jari saja. Ia merasa dipermainkan. Meski tetap berbaik hati mengantar Celine kontrol ke dokter, sepulangnya ia tak langsung ke rumah. Namun, menuju sebuah tempat bertata ruang eksklusif. Ruang bagian dari sebuah bar, biasa ia singgahi saat pikiran kacau. Sambil menenggak minuman, matanya menatap kosong dengan kilat tajam. Otak sibuk memaki diri yang telah dibodohi wanita. Bukan hanya Celine, tapi Olivia juga. Ia tahu ibunya akan membuka bisnis untuk gadis yang tampak rapuh itu. Jemari kokoh Yudha menggenggam kuat botol, gerahamnya mengetat. Wajah polos Olivia berhasil menjerat hati orangtuanya. Bisa saja mereka menjadi korban juga. Aku nggak akan biarkan itu! Sesampai di rumah, ia menarik tangan Olivia ke lantai atas. “Kalian itu sama saja. Murahan! Jadi, kamu jangan pura-pura jual mahal, heh!” Ia katakan itu saat Olivia berontak melepaskan tangannya. Di kamar. Tubuh kurus Olivia ia dorong ke tempat tidur. “Dasar keluarga pemeras. Sampah! Demi apa aku kenal dengan orang kayak kalian. Kakaknya set*n, adiknya apalagi. Hahahaa.” Yudha meracau sembari menangkapnya yang mau lari keluar. “Kamu itu cuma bisa pakai kelemahan untuk cari muka.” Meski dadanya perih mendengar tuduhan itu, Olivia sekuat tenaga melepaskan diri. Ia tak mau disentuh Yudha dalam kondisi terlihat mabuk berat. Mulut Yudha terus meracau. Geraknya yang kurang fokus memudahkan Olivia meloloskan diri. Berusaha tak peduli Olivia lari ke pintu. Lebih baik ia meninggalkan lelaki itu sendiri, dibanding mendengar kalimatnya yang menyakiti. “Dasar parasit! Gagap dipake cuma buat dikasihani? Hahaaa. Kasian banget hidup. Mati aja skalian!” Di sela kalimatnya Yudha berkali-kali tertawa keras. Tubuhnya tertelungkup di tempat tidur. Tak sampai puluhan detik suaranya mengecil. Kemudian tersisa hanya gumaman, hingga akhirnya terdiam. Di bawah, Olivia gegas masuk kamar dengan perasaan tak karuan. Bola matanya perih. Jantung berdegup cepat. Ada nyeri merambat pada hatinya yang seperti diremas. Dianggap parasit, memanfaatkan kelemahan untuk dikasihani adalah tuduhan paling menyakitkan untuknya. Di sinilah ia berniat membatalkan rencana bisnis Craft dengan Mariah. Meski tetap bertahan di keluarga ini, ia akan berdiri di kakinya sendiri. Sebelumnya Olivia sempat berharap rumah tangganya akan membaik. Namun, sepertinya harapan itu pupus. Isi hati Yudha sudah jelas. Tidak bahagia dengan pernikahan aneh ini. Keesokan hari, saat terbangun Yudha menampakkan sikap seperti biasa. Hanya makin irit bicara, dan ke kantor tanpa menyentuh sarapan yang ia buat. Olivia pun bersikap seolah tidak ingat apa-apa. Mungkin sementara mereka butuh waktu masing-masing. Hari itu juga, gadis yang belajar tampil modis--meniru paduan gaya Andira dan elegannya Mariah—memberanikan diri keluar rumah sendiri. Ia pilih menggunakan angkutan umum. Berlatih mandiri, bertemu banyak orang baru, atau mungkin mencari teman bicara. Saat itulah sebuah jalan terbuka. Ia tak sengaja bertemu seseorang, yang sekarang menjadi temannya belajar berjualan. ? Olivia memesan taksi online. Ia turun di halaman bangunan ruko kecil nuansa warna merah hitam. Puluhan pelanggan tampak mengantri. Ada yang duduk di kursi plastik ada juga yang berdiri. Dua orang karyawan berseragam merah, dengan topi warna senada sibuk melayani pesanan. Sementara satu lelaki berkulit sawo matang tengah menerima pembayaran di meja kasir. “Hei, Liv!” “H-hai, Lan.” Usai buru-buru menyapa, Olivia masuk ke ruang belakang. Tak lama keluar dengan seragam merah. Rambut panjangnya diikat ekor kuda, keluar dari celah belakang topi. Lelaki berwajah manis di belakang meja tersenyum, melihatnya menuju ruang saji di balik gerobak merah. Bergabung dengan dua karyawan, dan langsung ikut mengerjakan pesanan. Olivia diperbolehkan kapan saja ke sini. Bukan sebagai pekerja. Ia sebelumnya izin belajar berbisnis dari Erlan. Lelaki muda yang resign sebagai karyawan Bank, demi fokus menjalankan bisnis ayamnya. “Pak Suji. Dua ayam geprek original. Dua ayam geprek sambal matah.” Seseorang yang dipanggil langsung menuju meja Erlan. Meja kasir masih satu deret dengan ruang saji. Erlan akan memanggil sesuai tulisan dalam note pesanan. Ada nama dan menu yang dipesan. Begitu pesanan selesai, note itu menempel pada wadah yang tinggal dibaca. Pelanggan mengambil, langsung bayar. Sedangkan penyaji hanya fokus membuat pesanan dengan cepat. Olivia senang ada di ruang saji. Tangannya mulai terampil. Usaha ini terlihat kecil, tapi sudah punya puluhan cabang di beberapa titik kota Jakarta, sejak Erlan franchise-kan setahun lalu. Di sini Olivia belajar meramu, menyajikan, juga mempelajari teknik yang Erlan pakai untuk usahanya. Beruntung ia kenal orang yang tak pelit ilmu. Setelah ini ia berharap bisa memulai bisnis dari nol, meski dengan modal minim. Erlan malah sudah tawarkan Olivia mengelola cabang baru, tapi ia ingin belajar dulu beberapa bulan ini. “A-ku pesan lima.” Olivia menuliskan varian toping yang ia mau. Menggantungkan di antrian kertas pesanan. “Banyak. Buat siapa, Kak Olive?” tanya karyawan di sebelahnya. “Bi-asa. Buat orang ru-mah, Rum. Mere-ka suka.” “Ih, Kak Olive ini baik banget. Tiap ke sini pasti ikut pesan juga.” Olivia tersenyum, sambil memasukkan olahan menu yang sudah jadi ke dalam kotak. “Sampe mereka bo-san, baru aku ng-gak pesan lagi, Rum.” Aurum, perempuan berwajah mungil di sebelahnya tertawa kecil. Satu teman lain ikut nyeletuk. Terkadang mereka ngobrol kecil begini sambil tangan bekerja. Meski telinga menyimak musik pop populer terkini, yang mengalun dari speaker. Pekerjaan ini cukup menghibur Olivia. Setelah mengenal banyak orang, membuat Olivia mulai kesepian saat di rumah sendirian. Padahal dulu, dirinya adalah orang yang bisa berbulan-bulan tak pernah melihat dunia luar. Jika keluar pun paling-paling ikut assisten rumah belanja ke pasar. Dan, itu yang membuatnya memilih betah di rumah. Sekarang dunianya lebih berwarna. ? Sebelum Yudha kembali dari kantor ia harus lebih dulu di rumah. Begitu sampai ia memberikan ayam pesanannya empat untuk assisten, dan satu untuknya. Yudha pulang saat malam hampir larut. Olivia seperti biasa masih menyambut Yudha layaknya seorang istri. “Aku ... minta teh panas,” ujar lelaki itu saat Olivia mengambil alih tas dan jasnya. Yudha langsung naik dengan bahu terkulai lemah. Langkahnya tak secepat biasa. Olivia menaruh tas dan jas di sofa sementara membuatkan teh. Jam menunjuk hampir angka sepuluh, assisten rumah sudah istirahat. Ia naik menuju kamar satu-satunya di lantai atas. Mengetuk sebelum masuk. Tampak Yudha baring terlentang tanpa mengganti pakaiannya. “I-ni minumnya, M-Mas.” Tak mendapat jawaban, Olivia menaruh cangkir di meja. Ia mau turun setelah menyimpan tas kerja Yudha, tapi langkahnya tertahan di dekat pintu. Kembali berbalik melihat Yudha hanya diam dengan mulut sedikit membuka. Apa dia tidur? Posisi kaki Yudha yang menggantung terlihat tidak nyaman. Olivia kembali mendekat, bermaksud memperbaiki posisinya. Namun, saat tangannya menyentuh kaki yang sudah bebas dari kaus kaki itu, kulitnya terasa panas. Ia membalik telapak, sentuh dengan punggung tangan. “Panas!” Cepat Olvia berpindah pada dahi Yudha. “M-Mas Yudha, demam …,” gumam Olivia sambil perbaiki posisi kaki Yudha. Tak lupa memasangkan bantal di bawah kepalanya. “Hmm ….” Yudha bersuara lemas tanpa membuka mata. “Mas su-dah makan?” Mendapat jawaban gelengan, gadis ini segera mengompres Yudha sebelum turun. Ia pernah dapat resep bubur nasi cepat dari Andira. Masak di panci presto, dan akan selesai dalam waktu 15 menit. Kaldu ayam sudah ia didihkan tanpa ditutup. Semangkuk nasi kemudian Olivia masukkan. Lima menit kemudian ia matikan kompor. Sementara menunggu sepuluh menit didiamkan tetap dalam presto, tanpa membuka tutup panci, ia naik untuk mengganti kompres. Lelaki itu masih tertidur. Ada erang lemah dari mulutnya. Dengan telaten, Olivia mengganti kain kompres yang terasa cepat panas. Ia sesekali membangunkan Yudha untuk minum air putih. Menit ke sepuluh, ia turun lagi, mengambil bubur yang sudah bisa disajikan. Dengan pelengkap kuah sayur di dalam mangkuk. Semua refleks dilakukan dalam gerak cepat. “M-Mas, makan dulu. Ol-live bikinkan bubur.” Melepas kain kompres, Olivia membantu suaminya duduk. Ia menyuapkan pelan bubur yang mulai hangat, sampai habis. “Mi-num obatnya, Mas.” Tablet pereda nyeri berhasil ditelan Yudha dengan patuh. Lelaki ini tak berniat membantah, tidak kuat dengan kepalanya yang memberat sejak tadi sore. Setelah perut kenyang, reaksi obat pun mulai terasa. Tubuh Yudha bisa berkeringat. Tak lama kemudian ia merasa diserang kantuk berat. Dalam buaian mimpi, perasaan pria ini dialiri desir hangat. Ia merasa tidur dipeluk bidadari. Sentuhan jemari itu lembut pada keningnya. Menggalirkan damai yang belum pernah dirasakan. Ia tak terusik, meski nyata wajah bidadari itu adalah orang yang biasa terlihat olehnya. Seseorang yang tak pernah ia perhatikan dalam durasi lama. Nggak apa. Ini beda dengan dunia nyata, gumam batinnya membela diri. Ia memilih tetap merasai hangatnya perhatian sang bidadari, hingga benar-benar dipeluk lelap.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
good
03/12
0sangat bagus
15/11
0sangat bagus dan alur cerita sangat lah manerik
20/07/2025
0Lihat Semua