Bab 4 Kebahagiaanmu Yang Utama

Ranti melangkahkan kakinya perlahan menuju area parkir kendaraan roda empat yang terlihat cukup lengang. Untuk pertama kalinya, Ranti melangkahkan kakinya menginjak di sini.  Sungguh tak pernah terbayangkan di benaknya jika akhirnya dirinya menjadi bagian dari sebagian orang yang terpaksa harus berhubungan dengan kantor ini. 
Kantor Pengadilan Agama Kota Pangkalpinang. Tulisan itu jelas terpampang di bagian depan bangunan yang baru saja ditinggalkan Ranti. Tak ada yang dapat mengubah pendiriannya. 
Gugatan cerai sudah dilayangkannya pada sang suami, yang sebentar lagi akan menjadi mantan. Tak peduli apa pun yang didengarnya. Tekad Ranti sudah bulat. Dirinya ingin berpisah. 
Jika ada yang bertanya, apakah kehidupannya akan jauh lebih baik setelah ini maka jawabannya hanya satu. Berpisah dengan suaminya belum tentu membuat keadaan lebih baik. Namun jika dirinya memilih tetap bertahan, jawabannya sudah sangat pasti. Tidak akan baik, itu sudah sangat jelas sekali.
Perkara gugatan sudah didaftarkan, tentu saja Ranti menjadi pihak penggugatnya. Butuh waktu paling cepat tiga bulan untuk mengakhiri biduk rumah tangganya ini. Tak apa, asalkan semuanya dapat diakhiri. Ada banyak tahapan yang harus dilewati mereka setelah ini. Kehadiran dirinya dan Bayu akan ikut menjadi penentu kelancaran proses perceraian mereka nantinya.
Ranti melajukan kendaraannya dengan perlahan. Kondisi jalan pagi ini memang cukup ramai. Penunjuk waktu di pergelangan tangan kirinya menunjukkan tepat pukul sepuluh pagi. 
Putaran roda empat kendaraannya diarahkan ke Jalan Ahmad Yani. Tujuannya saat ini adalah kantor ekspedisi mereka yang selama ini memang di bawah kendali Bayu. Ranti jarang ikut campur tangan dengan urusan di kantor itu selama ini. Dari awal usaha itu dijalankan, Ranti memang berniat menjadikan usaha ekspedisi itu sebagai usaha suaminya saat keluar dari balik jeruji besi.
"Siang, Bu Ranti."
Ranti tersenyum saat mendapatkan sapaan dari salah satu kurir yang baru saja keluar dari kantor. Pintu mobil baru saja ditutupnya saat sapaan itu terdengar. 
"Siang juga. Bagus kan namanya? Maaf, saya kadang lupa."
Ranti memang tak terlalu mengenal pegawai di sini. Hanya sesekali saja menampakkan dirinya di kantor ini jika memang untuk urusan yang mendesak menemui Bayu di sini.
"Iya, Bu. Bagus. Saya jalan dulu, Bu. Paketan banyak yang harus diantarkan. Nanti Ibu akan setiap hari kan ke sini?"
Ranti mengernyitkan dahi saat mendengar pertanyaan itu. Setiap hari, apa maksudnya?
"Bapak tadi sudah pamitan. Katanya sementara mau ke luar daerah untuk pengembangan usaha. Bapak tadi sudah pesan, semua urusan nantinya akan berurusan dengan Ibu. Bapak mau buka usaha dimana memangnya, Bu?"
Lagi-lagi Ranti mengernyitkan dahinya. Bayu berpamitan kepada para pegawai mereka? Mau ke luar daerah untuk pengembangan usaha mereka? Apakah itu hanya alasan saja atau memang benar adanya?
Ranti memang berniat menemui Bayu hari ini. Bukan untuk mengambil alih usaha yang memang awalnya diurus secara utuh oleh dirinya. Ranti ingin menyerahkan kartu ATM kepada Bayu. Kartu ATM itu selama ini memang diperuntukkan untuk operasional usaha ekspedisi ini. Ranti tetap akan membiarkan Bayu mengurus usaha ekspedisi mereka, bukan ingin mengambil alihnya.
"Kenapa tak bertanya kepada Bapak langsung, Gus?"
Ranti mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang membuat dirinya sempat terperanjat tadi. Tak mungkin Ranti akan berterus terang untuk mengatakan bahwa dirinya tak tahu apa-apa terkait rencana laki-laki yang menjadi ayah keenam anaknya itu. Mungkinkah Bayu memilih meninggalkan kota ini karena keputusan dirinya semalam?
"Bapak bilang tanyakan saja kepada Ibu. Aneh Bapak dan Ibu ini. Ya sudah, Bu. Saya pamit dulu, mau jalan."
Bagus memakai jaket dan helmnya. Menghidupkan kunci kontak pada kendaraan roda duanya.
"Hati-hati!" 
Hanya kalimat itu yang mampu diucapkan Ranti saat pikirannya berkecamuk tak menentu. Terkejut sekaligus bingung atas perkataan pemuda yang baru saja pamit padanya itu. Benarkah apa yang dikatakan Bagus tadi?
Melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti membuat Ranti kembali berpapasan dengan beberapa orang kurir yang sepertinya siap menjalankan tugas mereka. Wajah mereka tampaknya menyimpan kesedihan. Apa yang telah terjadi?
"Bu Ranti, kenapa menyusul Bapak?"
Ranti menolehkan kepalanya saat mendengar pertanyaan itu. Sosok wanita yang baru menikah tiga bulan yang lalu itu tampak sedang tersenyum ke arah Ranti. Anindya, wanita yang sejak awal usaha ekspedisi ini berjalan sudah bergabung bersama mereka. Ranti sangat mengenalnya karena secara langsung menerima lamaran wanita itu dulunya.
"Bapak ada di dalam?" tanya Ranti sembari berjalan mendekati Anin, sapaan wanita itu sehari-hari.
Tampak Anin sangat menghormati Ranti. Wanita muda itu meraih tangan kanan Ranti dan menciumnya dengan takzim.
"Ada. Sedang pamitan dengan pegawai lainnya. Bapak kok mendadak, Bu? Usaha apa lagi yang mau dibuka Bapak? Bukankah usaha Bapak dan Ibu sudah banyak di sini?"
Ranti memilih tersenyum. Dirinya pun bingung harus berkata apa karena memang tak tahu apa-apa. 
"Itu keputusan Bapak, Anin. Ibu juga kurang paham."
Hanya jawaban itu yang mampu Ranti berikan. Dirinya pun tak paham keadaan yang sedang terjadi saat ini. 
"Bapak dimana, Nin?"
Ranti memilih menuntaskan pertanyaan yang menumpuk di kepalanya saat ini. Bertemu dengan laki-laki itu harus segera dilakukannya.
"Di ruangan Bapak. Sedang membereskan barang-barang beliau sepertinya. Ibu mau dibuatkan minuman?"
Ranti menggelengkan kepalanya.
"Tak usah. Makasih, Nin. Ibu ke dalam dulu ya!"
Ranti melangkah kembali. Kali ini menuju lantai dua bangunan yang memang diperuntukkan untuk istirahat dan menerima tamu selama ini.
Perlahan Ranti membuka pintu kaca yang terletak tak jauh dari tangga. Pengaturan ruangan di lantai dua ini tak pernah berubah sejak dulu.
Bagian lantai yang bertemu langsung dengan tangga dibiarkan terbuka tanpa penyekat. Satu set sofa diletakkan di sana. Dua pot tanaman lidah mertua dengan ujung runcing ada di antara sofa itu. Lebih menempel pada dinding tepatnya. Satu pot bunga tulip dari bahan lateks menghiasi bagian tengah meja kaca. Satu toples kecil permen beraneka warna dan rasa terletak di sebelahnya. 
"Masih ada yang perlu ditanyakan, Nin?" 
Derit pintu yang terbuka tak membuat laki-laki itu membalikkan tubuhnya. Ranti menarik napas dalam-dalam. Mungkin Bayu menduga Anin yang telah membuka pintu itu.
Ranti memperhatikan gerakan tangan Bayu yang sibuk memilah-milah dokumen dari dalam lemari yang ada di hadapannya. Posisinya yang membelakangi pintu masuk membuat laki-laki itu tak menyadari sosok yang telah membuat pintu itu berderit.
"Anin, bisa bantu saya ...."
Kalimat itu menggantung saat Bayu membalikkan tubuhnya. Mulutnya menganga saat menyadari sosok yang telah memasuki ruangan itu. Hanya sesaat, akhirnya Bayu berhasil menguasai dirinya kembali.
"Ada yang masih perlu kita bicarakan, Dek?"
Tubuh Bayu kembali berputar. Kembali menekuri berbagai kertas di hadapannya.
Ranti mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi yang ada di depannya. Meja kerja menjadi pembatas dirinya dan Bayu saat ini. Tak ada suara sesaat di antara mereka.
"Abang mau pergi kemana?"
"Apakah kamu peduli dengan kehadiran Abang?"
Ranti menghela napas panjang. Kalimat itu benar-benar menohoknya.
"Abang berpikir aku tak peduli lagi pada Abang?"
Bayu masih sibuk dengan kertas-kertas di tangannya. Beberapa lembar dimasukkan laki-laki itu ke dalam map yang berbeda.
"Hanya kamu yang tahu jawabannya."
"Aku hanya ingin kepastian atas perkataan Anin tadi."
"Tak ada kepastian setelah keputusanmu kemarin, Dek."
Ranti tahu kalimat itu jelas menggambarkan kekecewaan laki-laki yang sampai saat ini masih resmi menyandang gelar suaminya itu. Belum ada kata talak yang diucapkan Bayu untuk dirinya. 
"Bang, kita harus bicara baik-baik."
Akhirnya Bayu membalikkan tubuhnya. Laki-laki itu berdiri memandang tajam wanita yang ada di hadapannya.
"Sejak kapan kita tak bicara baik-baik?"
Ranti diam. Inikah buah hasil keputusannya kemarin?
"Abang belum jawab pertanyaanku. Abang akan pergi?"
Bayu menyunggingkan senyumnya. Lantas mendudukkan tubuh di kursi yang berseberangan dengan Ranti.
"Bukankah itu yang kamu inginkan, Dek? Abang pergi dari kehidupanmu."
Ranti merasa anak panah itu tepat menghujam dadanya. Sakitnya luar biasa.
"Bagaimana anak-anak jika Abang pergi jauh dari mereka?"
"Harusnya itu yang kami pikirkan sebelum membuat keputusan kemarin. Tak apa, Abang tak ingin terus menekanmu. Bagi Abang, kebahagiaanmu yang utama. Walaupun itu artinya Abang harus pergi dari kehidupanmu. Abang ikhlas."
Ranti tak mampu lagi mengurai kata. Semuanya akan kembali berputar pada satu kalimat yang sama. Keputusan kemarin.
Netra Ranti mulai menghangat. Namun dirinya berusaha kuat. Bukankah ini merupakan keputusannya? Tak ada yang memaksa. 
Tatapan mata Ranti memindai isi ruangan. Tak ingin bertemu dengan mata tajam laki-laki yang ada di seberangnya itu. Meja pembatas di antara mereka terlalu kecil, tak cukup lebar bagi Ranti untuk memisahkan jarak mereka.
Seprai yang menutup kasur ukuran single di ruangan ini menarik perhatian Ranti. Tak rapi dengan satu sarung yang jelas amat dikenalnya. Tempat tidur ini memang dulu disediakan Ranti untuk beristirahat, melepas penat karena banyaknya aktivitas. Ruangan ini sifatnya pribadi, bukan untuk menerima tamu. Hanya orang tertentu saja yang sering memasuki ruangan ini.
"Abang tidur di sini semalam?"
Bayu menarik napas dalam-dalam lantas membuangnya dalam sekali hembusan.
"Kami pikir Abang akan pulang ke rumah Ibu? Lima belas tahun kita bersama dan kamu ... tak pernah memahami suamimu sendiri."
Ranti semakin merasa tersudut. Tapi apalagi yang dapat dilakukannya?
"Aku hanya ingin memberikan ATM ini pada Abang. ATM ini khusus untuk ekspedisi ini."
Bayu menatap istrinya dalam-dalam. Tak mengerti jalan pikiran wanita yang sangat dicintainya itu.
"Untuk apa?"
"Aku akan tetap membiarkan pengelolaan ekspedisi ini pada Abang."
"Abang yang justru akan mengembalikan pengelolaan ekspedisi ini padamu. Abang akan mencari pekerjaan lain. Hanya saja Abang mohon maaf ... mungkin untuk sementara tak bisa menafkahi anak-anak dan juga dirimu, Dek. Abang mohon waktu sampai dapat pekerjaan baru. Mohon pengertiannya juga jika nafkah yang Abang berikan nantinya tak sepadan, tak cukup untuk kalian. Yang jelas, Abang akan tetap bertanggung jawab kepada kalian."
"Bang ... bukan seperti ini yang aku mau."
Ranti merasa wajahnya memanas. Mencari pekerjaan lain? Mungkinkah bagi Bayu dengan usianya yang tak muda lagi, dengan latar belakang masa lalunya sebagai seorang koruptor? Ranti sangat tahu, saat ini pun Bayu tak memegang uang tunai dalam jumlah yang banyak. Semua kartu ATM ada di tangan Ranti. Karena itu Ranti ingin memberikan salah satunya kepada laki-laki itu. 
"Sama sepertimu, Abang juga sudah membuat keputusan. Kamu pikir hanya kamu saja yang dapat membuat keputusan?"
Kalimat itu benar-benar menikam jantung Ranti. Laki-laki yang selama ini selalu bertutur lembut akhirnya menunjukkan ketegasannya. Dirinyakah yang menjadi pemicunya?
"Abang titip anak-anak! Jangan khawatir, Abang tak akan pergi ke luar daerah. Itu hanya alasan Abang kepada para pegawai saja. Tak mungkin Abang akan mengumbar aib rumah tangga kita tentunya. Jika kamu mengizinkan, Abang akan menemui anak-anak sesekali. Itu pun jika kamu izinkan. Jika pun tak kamu izinkan, tak mengapa. Abang tak akan memaksa. Abang sangat mengerti dan paham, kami sangat tahu apa yang terbaik untuk anak-anak kita."
Nyeri. Rasa itu jelas menyergap ruang hati Ranti.
"Aku sudah mendaftarkan gugatan. Mungkin Abang akan mendapatkan panggilan beberapa hari ke depan."
"Alamat surat ditujukan kemana? Kabari saja jika sudah ada kabar nantinya, Abang akan datang."
Tak ada perlawanan. Tak ada perdebatan. Berbeda dengan keadaan tadi malam. 
"Dokumen-dokumen ini sudah Abang pilah-pilah. Tak akan menyulitkan bagimu untuk mencari sesuatu yang diperlukan nantinya. Tanyakan pada Anin jika ada hal yang tak jelas. Pada Abang pun tak apa, jika kamu masih sudi tentunya.
Bayu membereskan tasnya. Sarung bermotif kotak yang tergeletak di atas kasur dirapikannya. Seprai yang berantakan pun dirapikannya.
"Kita keluar bersama, agar tak menimbulkan kecurigaan Anin dan teman-temannya."
Ranti meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sesulit inikah kehidupan yang harus dijalani mereka? Ini baru sehari. Bagaimana setelah seminggu, sebulan, atau setahun nantinya? Bagaimana setelah ketok palu nantinya?

Komentar Buku (49)

  • avatar
    nira wth

    putus aja

    08/05/2025

      0
  • avatar
    HasibuanErna

    Emang klw kita sudah sakit hati,emang gitu,udah pasrah,dan nggk mau di ganggu,maunya sendiri,dan meratapi nasih

    13/03/2025

      0
  • avatar
    Virraa Nurlaily

    keren

    05/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru