logo text

Chapter 5_ Tergores kenangan

Hanny meraih tangan Bu Murti dan menciumnya takzim, kebiasaan itu sudah dilakukannya sejak Bu Murti tinggal bersama mereka, karena bagi Hanny, Bu Murti adalah orang tua dan Nenek bagi Dion.
“Mandilah dulu, Nak, Ibu sudah masak sayur asem kesukaanmu ada peyek kacang juga.”
“Wah ... jadi langsung lapar perutku, Bu,” seru Hanny seraya merangkul Bu Murti dan mereka masuk langsung menuju meja makan.
“Mama, tadi Mama bawa apa?”
Rupanya Hanny lupa kalau tadi sudah janji sama Dion untuk membongkar apa yang dibawanya, maklumlah kalau Bu Murti sudah membuatkan sayur asem, perut yang sudah penuh pun akan terasa keroncongan.
“Oh iya, Mama lupa, Sayang,” ujar Hanny lalu membongkar belanjaan yang tadi dibawanya, semua sayuran dan keperluan dapur langsung dibawa oleh Bu Murti, sedangkan Dion senang sekali mendapatkan jajanan kesukaannya.
“Mama, gajian?”
Hanny tertawa mendengar celoteh anak sekecil itu mengucapkan kata gajian. Seingatnya tak pernah mengucap kata “gajian” di depan Dion.
“Gajian? Adek tahu gajian dari siapa?”
“Raisa, Ma. Kata Raisa, Kalo mamanya gajian, Raisa suka dapat jajan.”
“Raisa? Raisa siapa?”
“
“Raisa itu anak penghuni blok depan, biasa ketemu kalo Ibu lagi belanja sayur, Adek ikut Ibu belanja, Raisa juga ikut neneknya belanja. Kadang Ibu biarkan dulu Adek sama Raisa main di taman. Ibu juga bisa sambil mengobrol sama neneknya Raisa,” Bu Murti yang baru kembali dari menyimpan sayuran menjelaskan siapa itu Raisa.
“Oohh, jadi sekarang Adek sudah punya teman baru, nih?”
“Iya, Ma, Adek sekarang punya teman baru.”
“Adek, senang?”
“Senang, dong, Ma.” Jawabnya sambil mengangkat jempol dan tertawa, senangnya hati Hanny melihat anaknya selalu ceria.
“Nak, Ayo kita makan dulu, Adek juga belum makan. Tadi katanya tunggu Mama, biar makan sama-sama.” Bu Murti mengajak untuk makan sama-sama.
Hanny gegas membereskan belanjaannya dan beranjak menuju ruang makan karena perutnya sudah sangat kelaparan.
Mereka duduk bertiga di meja makan dengan menu masakan yang sederhana tapi cukup membuat perut kenyang dan tentu saja sehat. Hanny sangat bersyukur dengan keadaan ini, mereka tidak kelaparan dan ada tempat yang layak untuk berteduh serta melepas lelah.
Selesai makan, mandi, dan Mengganti baju dengan pakaian rumah, Hanny duduk santai di depan televisi. Bu Murti di teras sedang menyiram bunga yang ditanamnya sendiri, kemarin Hanny sempat membelikannya bunga anggrek dan Bu Murti sangat menyukainya.
“Ma, kita jalan-jalan ke taman, yuk,” Dion yang terlihat sudah mandi dan rapi menghampiri ibunya.
Sebenarnya Hanny sedikit malas untuk keluar, tetapi tak ada salahnya menemani Dion jalan-jalan sore ini, toh, tidak setiap hari juga bisa menemaninya bermain.
“Mama ganti baju dulu, Adek tunggu sebentar, ya,” pintanya seraya bangkit dan berlalu untuk berganti pakaian.
Setelah mengganti pakaian dan sedikit berhias Hanny segera menemui Dion, tak tampak anak itu di ruang tengah, mungkin dia menunggu di depan, pikir Hanny. Sepertinya anak itu sudah tak sabar ingin segera pergi jalan-jalan.
“Dek ....”
“Iya, Ma, ayo kita berangkat, Ma.”
Semangat sekali Dion, padahal hanya akan berjalan-jalan di sekitar taman yang tak jauh dari rumah saja.
“Bu, Hanny ajak Dion jalan-jalan ke taman sebentar, ya,” pamitnya pada Bu Murti yang masih asyik dengan tanamannya.
“Hati-hati, Nak, jalan dari depan situ ambil belok kanan saja, ya, jangan ambil jalan lurus, Ibu enggak mau nanti kamu digangguin para lelaki yang suka nongkrong di ujung gang situ.” Bu Murti memberikan wejangan sebelum Hanny dan Dion berlalu, terenyuh hati Hanny melihat ketulusan dan kasih sayang yang Bu Murti berikan kepadanya walaupun di antara mereka tidak ada hubungan darah.
Dengan riang sepanjang jalan menuju taman Dion terus saja berceloteh, terkadang langkahnya sedikit berlari kecil ketika ada kupu-kupu atau capung yang terbang di dekatnya, terkadang juga diam terpaku melihat apa yang menarik perhatiannya.
‘Semoga kamu tetap ceria seperti ini, Nak, dan Mama akan berusaha semampu Mama untuk membahagiakanmu hingga kamu dapat meraih apa yang menjadi rasianmu.’ Hanny memanjatkan harap dalam hatinya.
Di depan sana sudah terlihat taman yang menjadi tujuan mereka, cukup ramai juga. Di ujung taman sebelah kiri banyak ditemui penjual makanan kecil yang sepertinya hanya di area sebelah kiri itulah mereka diperbolehkan untuk berjualan, sementara di area lainnya hanya khusus untuk para pengunjung dan arena main anak-anak.
Dengan riang Dion berlari dan langsung menuju area permainan perosotan yang hanya ada satu orang anak sebayanya saja yang sedang bermain di situ dan Hanny memilih untuk duduk di salah satu bangku taman yang kosong seraya memperhatikan Dion bermain dan sesekali berteriak meminta Dion untuk lebih berhati-hati.
Tak terasa sudah hampir satu jam Hanny menemani Dion bermain di taman ini dan waktu sudah semakin sore, kudatangi Dion untuk segera mengajaknya pulang.
“Sayang, sudah sore, ayo kita pulang,” ajak Hanny pada buah hatinya
“Dion, kan, masih mau main, Ma,” sedikit merengek Dion saat tahu ibunya mengajak pulang.
“Tapi sebentar lagi sudah mau magrib, Nak, kita pulang, ya, Mama janji nanti Mama temani Dion main lagi kalau Mama libur kerja, ya,” bujuknya lembut.
Dion melihat sekeliling, yang ada hanya tinggal berapa anak sebayanya saja yang masih berada di taman itu. Hatinya masih sangat ingin bermain-main tapi memang hari sudah hampir gelap. Akhirnya dengan berat hati Dion mau juga diajak pulang walau agak sedikit merajuk.
***
Secangkir cokelat panas menemani Hanny malam ini, embusan angin seakan menggiring ingatannya pada apa yang terjadi sore tadi di super market, pertemuannya dengan Dave sore tadi, menghadirkan rasa yang lain di hati Hanny. Rasa yang entah sudah berapa lama Hanny tak pernah merasakannya lagi.
Lamunannya jauh melayang pada saat di mana dulu ia jatuh cinta pada laki-laki yang kini bergelar Ayah untuk Dion, Mas Hadi. Saat itu, Hanny begitu yakin melabuhkan hati dan cintanya pada seorang Hadi yang dengan mantap meminta pada kedua orang tuanya, besarnya cinta Hadi untuknya saat itu mampu mencairkan rasa tak percaya pada laki-laki setelah sebelumnya Hanny sempat mengalami patah hati yang teramat dalam.
Awal pernikahan, madu itu lebih manis dari yang pernah ia rasa sebelumnya, impian pernikahan yang bahagia benar-benar dirasakannya, Hanny sangat bahagia ditambah lagi kejutan di bulan kedua pernikahan, Allah memberikan kepercayaan padanya dengan cara menitipkan janin dalam rahimnya. Terasa lengkap sudah kebahagiaan sepasang pengantin baru itu.
Hanny menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan, bayangan masa lalu yang entah kenapa tiba-tiba hadir di saat Hanny tak sedikit pun memikirkan hal itu. Kandasnya bahtera rumah tangga bersama Hadi menciptakan luka yang teramat dalam, hingga Hanny nekat meninggalkan kota kelahirannya. Tanpa ia sadari ujung kedua mata telah basah, pandangannya mulai mengabur tertutup air asin yang siap tumpah.
Gegas Hanny mengusap air mata yang terlanjur membasahi pipinya, menarik napas dan mengukir senyum di bibirnya seraya berucap lirih “Apa pun yang telah Mas Hadi lakukan padaku, terima kasih, aku ikhlas memaafkan walau tak kan pernah melupakan.”

Komentar Buku (101)

  • avatar
    AnekaDeFrozz

    lanjutkan

    16/08

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus menarik , pelajaran hidup kalo mengenal orang selidiki dulu ..

    21/07

      0
  • avatar
    TiniWartini

    bagus Thor, lanjut....

    29/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru