Sesudah menyelesaikan semua kegiatannya, Ameira kini disibukkan dengan menyiapkan banyak pakaiannya untuk dimasukkan kedalam koper miliknya. Benar, Ameira malam ini akan langsung pindah ke Apartemen milik Afnan, sebenarnya Ameira masih ingin tinggal dulu bersama sang Bunda walaupun hanya satu malam sebentar. Tapi, sang Bunda tidak mengizinkannya dan harus dengan terpaksa ia pindah ke Apartemen milik Afnan malam ini juga. Dengan wajah murung setelah membereskan pakaiannya kedalam koper, Ameira menghampiri semua orang yang kini sudah berada di ruang tamu. "Kamu bantuin Ameira bawa kopernya sana" Titah Ergan yang tak lain adalah Papah Afnan. Afnan beranjak dari tempat duduknya dengan terpaksa mengambil alih koper milik gadis itu tanpa sepatah kata apapun. Ameira hanya terdiam tanpa adanya pergerakan melihat sekeliling ruangan rumahnya yang penuh dengan kenangan manis bersama sang Bunda. "Sayang.." Panggil Bunda Ameira mengalihkan semua banyangan yang Ameira ingat. "Sini!!" Ajak sang Bunda untuk mendekat kearah diamana sang Bunda berada. "Bunda ngasih pesan sama kamu, jaga diri baik-baik ya dan kamu harus nurut sama perkataan suami kamu nggak boleh ngebantah. Kalau kamu ada masalah kamu bisa cerita sama Afnan jangan sampai kamu menyembunyikan sesuatu ya sebagai suami-istri harus saling terbuka" Pesan Bunda Ameira panjang lebar. "Dan inget satu lagi kalau kalian ada kesalahan pahaman harus dibicarakan baik-baik ya, jangan pake emosi" Lanjut Bunda Ameira. "Bunda… bolehkan Bina tinggal disini malam ini aja..?" Mohon Ameira kepada Bunda nya. "Sayang tadikan Bunda udah bilang sama kamu, kalau sebagai istri itu harus nurut sama suami. Afnankan besok harus langsung masuk kuliah dan dia harus pergi lebih pagi kalau dia dirumah Bunda besok pasti kesiangan, rumah Bundakan lumayan jauh dari kampus kalian" Jelas Bunda Ameira mencoba memberi penjelasan kepada sang anak. "Lagipula Afnan tadi bilang sama Bunda dia nggak bawa baju ganti lagi jadi kamu ngerti ya, lain kali kamu boleh kok nginep dirumah Bunda" Lanjut Bunda Ameira. Ameira hanya menghela napas saat mendengar capan sang Bunda yang tidak ada kemungkinan lagi untuk dia tidur dirumanya malam ini. Kini Ameira sudah berada didepan pintu Apartemen milik Afnan setelah selama perjalanan tadi keduanya hanya saling diam tak ada obrolan apapun. Setelah memasuki Apartemen Ainan Ameira hanya melihat sekeliling ruangan yang begitu tampak Minimalis dengan nuansa warna putih dan coklat muda yang mendominasi setiap sudut ruangan. "Kita beda kamar, lo kamar sebelah Kiri gue Kanan. Oke?” Ucap Afnan tanpa panjang lebar. "Kalau lo haus ya ambil ajah tuh dapur tepat dihadapan lo" Lanjut Afnan menunjuk letak dapur yang tak jauh dari ruang tamu. Ameira hanya mengangguk dan mulai memasuki ruangan yang akan menjadi Kamarnya, Ameira mulai membereskan pakaiannya yang ada di dalam koper untuk ditata di dalam lemari Kamarnya. Saat baru memasuki ruang kamar yang didominasi dengan warna putih dan abu-abu dan terlihat begitu nyaman dengan semua barang yang tertata begitu rapih. Memang tidak begitu besar tapi saat tertata sedemikian rupa benar-benar terasa lebih nyaman bahkan lebih nyaman dari kamarya yang ada di rumahnya dulu. "Aku kira kamarnya harus aku yang beresin" Gumam Ameira yang tidak menyangka. Ameira kini tengah sibuk menata pakaiannya kedalam lemari yang sudah tersedia di kamarnya,dikagetkan dengan Afnan yang memasuki kamarnya "Ambilin Selimut yang ada dilemari paling atas" Titah Afnan sembari menunjuk slot atas lemari paling atas. Tanpa basa-basi Ameira mulai mengambilnya dengan berjinjit karena tubuhnya yang begitu pendek tidak bisa mencapai selimut yang ditunjukkan Afnan. Seharusnyakan Afnan yang mengambilnya sendiri yang jelas-jelas akan lebih mudah mengambilnya dibandingkan menyuruh Ameira. "SABINA..lo lama banget sih tinggal Ambilin Selimut doang" Ketus Afnan membuat Ameira terkaget, bukan karena bicara Afnan tapi kaget dengan panggilan yang Afnan berikan kepadanya. Ameira hanya bengong setelah Afnan memanggilnya dengan sebutan 'Sabina' ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul saat mendengar Afnan memanggil namanya dengan sebutan itu. "Malah bengong lagi" Ujar Afnan membuat Ameira tersadar kembali. "lya kak maaf, tadi Kak Afnan manggil aku Sabina?" Tanya Ameira, la takut salah dengar karena nama panggilan 'Sabina' hanya biasa digunakan oleh kedua orang tuanya. *”Ya terus siapa lagi?? nama lo Sabina kan.Bunda lo manggil lo Sabina kan?" "lya gak biasa ajah ada orang lain selain Bunda sama Ayah panggil aku pake nama tengah aku" "Jadi panggilannya khusus cuman buat orang tua lo ajah?"Tanya Afnan yang dibalas gelengan oleh Ameira menandakan kalau panggilan 'Sabina' untuknya bisa dipake siapa saja. "Tapi, Kak Afnan bisa panggil aku Ameira ajah" "Gak males, gue gak suka manggil nama lo pake nama Ameira" Jawab Afnan ketus. "Kenapa?" "Gak usah banyak nanya kaya dora deh, cepet ambil selimut tuh!" Ketus Afnan. Setelah Ameira menerima pesanan delivery milik Afnan, Ameira menaruhnya di meja makan dan kembali ke niat awalnya untuk mengambil air minum. Tiba-tiba Afnan keluar dari dalam kamarnya dan menduduki meja makan untuk mengambil pesanan delivery miliknya. "Gue gak tau lo suka makan apa jadi lo makan ajah yang ada" Ucap Afnan cuck. "Aku gak la-" Jawab Ameira terpotong saat perutnya tiba-tiba saja berbunyi. "Apa? Lo mau bilang lo gak laper? Tapi gue rasa perut lo laper tuh,makanya bunyi minta makan" Celetuk Afnan membuat wajah Ameira mulai memerah karena malu. "Ihh perutnya nggak bisa diajak kompromi banget sih" Batin Ameira. "Makan aja kali gue gak masukin Sianida ke makanan lo" "Iya aku gak berpikiran gitu kok" Jawab Ameira dengan lembut. "Ya udah lo makan gak usah banyak ngomong" Ujar Afnan dengan nada datar. Keduanya kini menikmati makanan yang dipesan Afnan, pasalnya sendari tadi Afnan benar-benar lapar dan ia tidak memiliki cadangan makanan yang tersisa karena semuanya habis oleh ketiga temannya yang selalu menghabiskan makanan miliknya. Akhirnya Afnan berinisiatif memesan delivery dan Afnan juga tidak melupakan kehadiran gadis yang kini sudah menjadi istrinya. Ya, secueknya Afnan seemosiannya Afnan dia juga tetap bisa peka terhadap orang yang ada disekitarnya, meskipun Ameira tidak terlihat lapar tapi Afnan tau gadis itu past lapar. Dan benar saja Ameira memang lapar, sebenarnya dari tadi saat membereskan pakaian dan barang-barangnya Ameira sudah mulai lapar, karena Ameira mash belum terbiasa dengan keadaan ruangan dan tempat baru saja tadi Ameira mencoba menahannya. Makanya Ameira hanya berani meminum Air bening saja karena Afnan mempersilahkannya tadi saat pertama kali datang. Untuk Selebihnya Ameira belum berani menjelajahi semua tempat yang berada didalam Apartemen milik Afnan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus
03/12
0burik
08/06/2025
0bagusss bangettt kaa semangatt teruss yaa‼️
13/05/2025
1Lihat Semua