Revan menarik Risa keluar kelasnya menuju taman belakang sekolah. Sepanjang jalan, banyak mata memperhatikan mereka. Risa bisa mendengar hujatan-hujatan yang dilontarkan padanya. "Lo gak waras, ya? Lo gak lihat tatapan-tatapan penuh tanya mereka?" Risa mendengkus kesal. "Gue mau meluruskan sesuatu." Tatapan Revan tajam menusuk manik Risa. "Gak ada yang bengkok ngapain di lurusin?" ucap Risa ketus. "Gue serius." "Hm." "Lo udah denger gosip yang beredar?" tanya Revan. "Iya." Revan menghela napas pelan, kemudian mendekati Risa, "Bukan lo, ‘kan?" "Maksud, Lo?" Risa mengerutkan keningnya. Risa melotot pada Revan. Tangannya mengepal. Revan sudah sangat keterlaluan. Belum sembuh sakit hatinya, sekarang Revan menuduhnya? "Lo…." Risa tidak kuat menahan dirinya melihat laki-laki di depannya. Risa memilih untuk diam dan membelakangi Revan. Risa hendak pergi namun tangannya ditahan Revan. "Lepas!" Risa menepis tangan Revan. Risa menghadap Revan, "Lo mau apa lagi, sih? Lo mau nuduh gue? Lo keterlaluan!" Risa menahan dirinya untuk tidak menangis. "Gue cuma---" "Cukup! Terserah lo, Van. Gue gak selicik itu!" "Ris, tunggu---" "Gue benci sama lo!" Risa berlari meninggalkan Revan. Risa berlari dan menabrak seseorang. Risa melihat orang itu. "Lo gak apa-apa, Ris?" Kevin memperhatikan Risa yang mengusap air matanya. Risa nangis? Batin Kevin. "Gak apa-apa, Kev, gue pergi dulu." Risa terpaksa tersenyum. Kevin mengangguk dan menuju halaman belakang. Ia melihat Revan sedang duduk di kursi. "Lo baru ketemu Risa?" tanya Kevin. Revan mengangguk. "Lo nuduh Risa?" "Gak Kev, gue cuma memastikan, tapi dia salah paham,” bela Revan. Kevin menghela napas panjang, "Sama aja, Van. Lo terkesan sedang menuduh." "Gue bingung." Revan menerawang ke atas. "Lo tahu gak tadi Risa nangis?" tanya Kevin. Revan terkejut, "Risa nangis?" "Tadi dia nabrak gue, dan gue lihat dia nangis, gue gak pernah lihat dia nangis sebelumnya." Revan menghela napas kasar, "Gue harus gimana, Kev?" Revan mengacak rambutnya kasar. Kevin menepuk pundak Revan, "Gimana apanya? Karena semua udah tahu, ya lo terbuka soal hubungan lo dan Rindi." "Gak semudah itu, Kev." Revan menghela napas pelan. Kevin mengerutkan keningnya. Ia menatap Revan, "Ada lagi yang lo sembunyikan?" Revan tersenyum tipis, "Sorry, gue belum siap cerita." "Yaudah, mending kita cari tahu dulu siapa yang nyebarin berita tentang lo, dan juga yang neror Rindi, setelah itu lo bisa ambil langkah selanjutnya. Dan kalau bukan Risa, lo harus minta maaf." Revan mengangguk. Ia saat ini memikirkan dua gadis sekaligus yang telah dibuatnya sedih, Risa dan Rindi. *** Risa mengusap air matanya lagi. Ia terus berjalan tanpa melihat depan, sampai ia menabrak seseorang lagi. "Maaf." "Ris, lo---" Arsen mendekati Risa, menangkup kedua pipi Risa dengan tangannya dan mengangkat wajahnya yang menunduk. "Lo nangis?" tanya Arsen. Risa segera mengusap matanya. Ia benci saat dirinya tidak bisa menahan air matanya untuk jatuh. "Gue gak apa-apa, Ar. Gue pergi dulu, ya." Arsen menarik tangan Risa dan membawanya ke tempat sepi, lapangan basket. Risa dan Arsen tidak peduli dengan banyak mata yang menatapnya. Arsen meminta Risa untuk duduk. "Lo mau cerita?" "Gue tadi ngobrol sama Revan. Dia nuduh gue yang nyebarin berita dia pacaran sama Rindi." Risa menunduk, hatinya sakit. "Gue tahu dia gak suka gue, tapi bukan gue, gue gak selicik itu." "Udah ya gak usah nangis, gue kenalnya Risa itu kuat loh, gue bakal bantu buat nyari tahu siapa yang nyebarin beritanya." Arsen mengusap lembut rambut Risa. Risa mendongak menatap Arsen, "Makasih ya Ar, lo baik banget ke gue." Risa tersenyum tipis. "Hm, sama-sama Ris, senyum dong." Risa tersenyum agak kaku, "Lo kenapa sih Ar baik banget ke gue, gue kan nyesel gak temenan sama lo dari kelas 10, kita dekat baru sekarang mau lulus." "Gue---" Arsen menghela napas pelan, ia harus jujur pada Risa tentang perasaannya. "Gue suka sama lo, Ris." Arsen menatap Risa serius. Ia menahan debaran di dadanya. "Hah? Lo suka sama gu…." Risa menoleh ke Arsen. "Lo bercanda ya--" ucap Risa. "Gue serius Clarisa Anastasia. Gue suka sama lo." Arsen kembali mengusap rambut Risa. Risa tersenyum kecut, "Kenapa suka gue? gue kan gak pintar kayak lo dan tuh banyak yang menghujat gue macem-macem." "Gue gak dengar, gue tahu nya ya lo yang di samping gue ini, bukan lo yang diomongin mereka." "Makasih ya Ar, sorry, gue belum bisa jawab, ada sesuatu yang belum bisa gue ceritain ke lo, maaf." Risa menunduk. Arsen menangkup pipi Risa lagi dan mengangkat kepalanya agar mendongak menatapnya. "Gak apa-apa, kita deket begini aja gue udah seneng, siapa tahu nanti lo suka gue kan.." Arsen tersenyum. Risa ikut tersenyum. "Lepasin Ar, nanti ada yang lihat salah paham ih." Risa melotot pada Arsen. "iya, ayo masuk kelas," ajak Arsen. Istirahat kedua Vanya menemani Risa di selasar sekolah yang sepi. Risa menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu. Vanya begitu terkejut dan mengumpat kasar. Berbagai sumpah serapah ia lontarkan, bahkan ia mengabsen nama-nama hewan di kebun binatang. "Gila, sumpah, suami macam apa dia itu, gue kesel banget Ris, ah pengen gue---" "Hish, udah dong Nya, mulut lo ya ampun, di denger guru masuk BK lo." "Kesel gue." Vanya mengerucutkan bibirnya. "Rindi gimana ya?" tanya Risa. "Ngapain lo mikirin dia?" "Gadis itu kan kalem banget, diteror kayak gitu pasti syok banget." Risa menerawang ke atas. "Heh, pikirin diri lo sendiri Ris, dia itu udah di urus sama suami lo tuh dan Blue Devil. Nah lo? Sebagai istrinya malah ditelantarkan, di tuduh pula." Risa tersenyum miris. Vanya benar. Revan memang tidak peduli padanya. Dan Rindi harusnya bisa baik-baik saja, Revan pasti menjaganya. Uh kenapa hati gue sakit? "Lagian ya, tadi Rindi udah di panggil BK, karena pelakunya sudah merusak fasilitas sekolah dan memasukkan sampah di loker, pihak sekolah bakal bantu menyelidiki siapa orangnya, lo pikirin aja gimana lo sama Revan." Vanya menepuk pundak Risa. "Iya, ini gue juga lagi mikir. Eh cokelat di tas lo tadi gue mau dong Nya." Risa mengedipkan matanya. Setiap ada masalah datang, yang bisa mengembalikan mood Risa salah satunya adalah makan. "Oh itu.. Boleh." "Hm, dari siapa? ada pita-pitanya, geli gue lihatnya." Risa terkekeh geli. "Galih, gak tahu deh tu anak tiba-tiba ngasih cokelat." "Wah si kutu buku mulai beraksi, cepet juga, romantis loh, Deo ketinggalan nih." "Ngapain bawa-nama Deo, kampret!" Vanya menjitak kepala Risa. "Lo itu ya, lagi sedih tapi masih begini aja kelakuan." Vanya mencubit pipi Risa. "Lepas! Sakit, Nya!" "Iya, iya, habisnya lo gemesin jadi pengen gue cincang." "Lambemu!" Risa tertawa. Risa bersyukur saat dirinya down, Vanya selalu mendukungnya. Sahabat terbaik. *** Risa masuk ke dalam rumah hati-hati. Saat ini ia tidak mau bertatap muka atau bicara dengan Revan. Lebih baik ia menghindari suaminya itu. "Ris… " Risa menoleh, mendapati suaminya berdiri di depannya. "Gue capek, mau ke kamar." Risa mendengkus kesal. "Tunggu, kita harus bicara." Risa menghela napas kasar, "Ngomong apa?" "Pernikahan kita." Revan menatap tajam Risa.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (814)
FransiskaAde
ditunggu kelanjutan ceritanya kak, jangan lama lama munculin bab baru nya😁
ditunggu kelanjutan ceritanya kak, jangan lama lama munculin bab baru nya😁
18/06/2022
5seruu
18/08
0novelnyaa seruuuu bangettt sumpillll ihhh sukaaaa🤭🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻
18/06
0Lihat Semua