logo text

Bab 21 Alfaroz dan Gerion

Alfaroz dan Gerion adalah dua geng motor besar yang bermusuhan sejak dua tahun yang lalu. Alfaroz diketuai oleh Alfa dan Gerion diketuai Zidan. Alfa dan Zidan tidak pernah akur. Kekalahan Zidan dalam balapan adalah awal dari semua permasalahan diantara keduanya. Dendam dan pembalasan sudah terjadi berulang kali. Membuat keduanya terkenal badass dan badboy di sekolah masing-masing.
"Sialan!"
Zidan tersulut emosi dan mengepalkan tangannya. Ia menghampiri Risa, mengangkat tangannya di udara dan melayangkan pukulan ke Risa. Zidan tidak tahu jika gadis di depannya jago bela diri, dengan mudah Risa menghindar dan mencengkram tangan Zidan.
"Gue bukan cewek lemah seperti yang lo bilang tadi." Cengkeraman Risa semakin kuat lalu dihempaskannya dengan cepat membuat sang pemilik sedikit terhuyung ke belakang.
"Sial, gue salah duga." Zidan berdiri tegak, ia menatap Risa tanpa ragu sedikitpun, justru senyuman menyeringai yang dikeluarkannya.
"Lo ternyata lebih menarik dari dugaan gue." Zidan kembali ingin memukul Risa tapi dengan cepat di tendang oleh Alfa. Empat anggota Gerion sudah tidak berdaya melawan Alfa.
"Hahaha, lucu sekali. Lo benar-benar sudah buta oleh cinta. Tapi jangan merasa menang dulu, gue masih punya tentara yang lebih banyak." Zidan mengambil ponsel dan menelepon seseorang. Tidak berselang lama sekitar 10 orang datang menghampiri Zidan.
"Gila lo!" Alfa tidak menyangka Zidan selicik itu. Bahkan Alfa tidak bisa menghubungi anak buah nya untuk minta tolong, ponsel nya mati sejak tadi.
"Sudah gue bilang, gue mau babak belur, satu lagi, gue juga akan bikin pacar lo babak belur," ucap Zidan sambil tertawa.
“Sialan!" Alfa mengepalkan tangannya. Harga diri Alfa seolah sudah di injak-injak oleh Zidan.
"Gila!" Risa tidak habis pikir akan bertemu orang gila seperti Zidan.
"Kalian, hajar mereka!" Zidan menyuruh anak buahnya menghajar Alfa dan Risa.
Baku hantam pun terjadi, 10 lawan 2. Tentu saja Alfa dan Risa kewalahan karena tenaga mereka sudah terkuras sebelumnya. Sementara Zidan dengan tidak berakhlak nya tertawa saat Alfa atau Risa terkena pukulan.
Risa mulai kehabisan tenaga, ia juga mendapat beberapa pukulan di pipi dan tubuhnya. Saat hendak mengayunkan pukulan, tiba-tiba seseorang memukul dengan tongkat kayu dari belakang tepat di pundak kanan Risa. Gadis itu langsung tersungkur.
Risa menahan sakit di bahunya. Ia hanya bisa meringis, lalu melirik ke arah Alfa yang juga di pukul oleh beberapa orang. Alfa yang tahu Risa dipukul dengan tongkat kayu benar-benar tidak berdaya untuk menolongnya. Alfa sangat merasa bersalah pada Risa.
Zidan berdiri dan menghampiri Risa, ia menarik rambut Risa ke belakang membuat Risa menahan sakit.
"Siapa yang tadi berlagak sombong? Lo itu cuma cewek lemah!" hardik Zidan.
Zidan melepas dengan kasar tarikan pada rambut Risa. Zidan berdiri dan siap melayangkan kakinya menendang gadis itu. Risa hanya diam, ia tidak bisa berdiri untuk menghindar. Pukulan pada pundaknya membuat sekujur tubuhnya susah untuk bergerak. Risa memejamkan matanya bersiap menerima tendangan Zidan, namun tidak terjadi apapun. Risa membuka matanya, ia melihat Zidan di hajar oleh seseorang. Zidan bahkan sudah tidak berdaya begitu pula beberapa anak buahnya. Laki-laki itu menghampiri Alfa dan menghajar anak buah Zidan yang lain. Gerion kalah, mereka memilih untuk pergi dengan luka yang cukup parah di tubuh mereka. Risa mengenal laki-laki yang menolongnya, dia adalah suaminya, Revan. Risa tersenyum melihat Revan menghampirinya dan menuntunnya berdiri.
"Dasar bodoh!" Kata-kata itulah yang keluar dari mulut Revan saat menuntun Risa berdiri. Risa tidak menjawab apapun, ia hanya meringis merasakan sakit pada tubuhnya, selebihnya ia bersyukur masih hidup.
"Heh bocah tengil, lo bisa berdiri sendiri, ‘kan?" Revan berteriak pada Alfa.
Alfa dengan susah payah berdiri. Ia menghampiri Revan dan berjalan tertatih.
"Makasih!" ucap Alfa.
Alfa menatap Revan kemudian beralih ke Risa. Ia merasa bersalah pada Risa. Ia lah yang mendapatkan gadis itu mengalami luka di tubuhnya
"Jangan sok jagoan kalau lo sendiri gak bisa jagain anak orang. Menyusahkan saja!" Revan mengarahkan tubuh Risa untuk naik ke punggungnya.
"Tunggu disini, gue pesan taksi online buat lo, lain kali gak usah berantem kalau kemampuan beladiri lo masih nol!"
Alfa tersenyum sinis. Ia mengangguk dan berterimakasih pada Revan. Ia juga meminta maaf pada Risa. Sementara Risa sudah berada di gendongan Revan, ia belum mengatakan sepatah katapun.
"Gue bawa mobil." Revan berjalan menuju mobilnya.
"Makasih." Kata pertama yang keluar dari mulut Risa.
"Hm."
"Gue pikir tadi gue bakal mati disana." Risa memajukan wajahnya dan mengeratkan tangannya pada leher Revan.
Revan berhenti dan menoleh ke kiri, ia menatap mata Risa.
"Lo orang paling bodoh yang pernah gue temui!" Revan kembali menatap ke depan.
"Gue gak akan biarin lo mati, gue gak mau jadi duda secepat ini. Gue juga ... belum nikmatin lo, kok." Revan merutuki dirinya sendiri. Bicara apa dia barusan?
Risa memajukan wajahnya, menyentuh mulut revan dan menariknya, "Lambemu…."
Risa tersenyum dan melepaskan tangannya dari mulut Revan. Ia kembali melingkarkan tangannya erat di leher Revan.
"Lo mau jadi janda, huh?" Tanya Revan.
Risa tersenyum dan melonggarkan tangannya di leher Revan.
"Maaf."
Revan tersenyum kemudian kembali berjalan menuju mobilnya.
***
Revan menggendong Risa ala bridal style dan dibaringkannya tubuh Risa di kamar mereka. Risa merintih kesakitan, ia menyandarkan tubuhnya di bantal.
Revan mengambil air hangat dan obat. Revan membersihkan luka Risa dengan kain steril dan air hangat. Dengan telaten Revan membersihkan luka Risa di pipi tanpa berkata sepatah kata pun.
Risa meringis sambil memandang lekat laki-laki di depannya.
"Aduuuuh." Rintih Risa.
Revan menghentikan mengoles salep pada pipi Risa. Ia menatap datar tanpa ekspresi.
"Maaf, jangan marah, ya." Risa berkata lirih.
Revan kembali mengoleskan obat salep di luka Risa tanpa bersuara.
"Gue minta maaf," ucap Risa lagi.
"Untuk apa?" Revan selesai mengoles salep.
"Semuanya." Risa menunduk.
"Yang jelas kalau ngomong!"
"Gue bohong, pulang larut dan menyebabkan kekacauan ini," jelas Risa
"PenyePartnya?"
"Gue...gak nurut sama suami."
"Bagus, lain kali ulangi lagi dan berakhir seperti ini!" ucap Revan tegas.
"Nggak! gue minta maaf." Risa sekali lagi meminta maaf. Ia berharap laki-laki di depannya mau memaafkannya. Ia merasa bersalah pada Revan.
"Jadi?" Tanya Revan.
"Gue akan nurut kata suami."
Revan tersenyum dan memperhatikan Risa, "Baiklah, tapi gue tetap kasih hukuman ke lo, nanti setelah sembuh."
"Hah?"
"Gak mau?” tanya Revan.
Risa menggeleng. Revan memperhatikan pundak Risa. Ia pergi ke lemari dan mengambil gunting.
"Buat apa?" tanya Risa.
"Merobek sweater lo."
"Tap---"
"Nurut!" Risa terdiam. Revan menggunting bagian lengan dan pundak. Bagian pundak ke punggung agak kebawah karena luka Risa memanjang sampai punggung. Revan menelan ludahnya. Ia tetaplah laki-laki normal.
"Gue aja yang buka." Risa menyingkirkan tali tanktop dan Bra nya ke samping, agar Revan bisa mengobati lukanya.
Revan sekali lagi menelan ludahnya. Ia beberapa kali mengusap wajahnya.
Tahan Van, tahan, batin Revan.
"Kenapa? Lo gak nafsu, ’kan? Lo pernah bilang gak nafsu sama gue," tanya Risa.
"Ah, iya, Nggak kok." Revan berbohong, ia mulai membersihkan luka Risa dan mengoleskan salep.
"Ini kedua kali nya gue babak belur kayak gini." Risa tersenyum miris.
"Kedua?"
"Hm, waktu SMP, gara-gara Gavin ngelawan anak berandalan, gue bantuin dan gue ikut babak belur." Risa mengingat kebodohannya dulu.
"Hm, ternyata lo emang bodoh sejak dulu."
Beberapa kali Revan menutup matanya, ia benar-benar harus melawan sensasi aneh dalam tubuhnya. Tentu saja, ia tetaplah laki-laki normal, dan gadis di depannya ini adalah istri sahnya.
Tahan Van, Kuatkan iman, batin Revan.

Komentar Buku (814)

  • avatar
    FransiskaAde

    ditunggu kelanjutan ceritanya kak, jangan lama lama munculin bab baru nya😁

    18/06/2022

      5
  • avatar
    AisyahNur

    seruu

    18/08

      0
  • avatar
    Ratna adilaReva lia

    novelnyaa seruuuu bangettt sumpillll ihhh sukaaaa🤭🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻

    18/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru