Risa akhirnya mengikuti Revan masuk ke kamarnya. Risa tidak punya pilihan lain daripada ia harus tidur di luar. Keadaan tubuhnya sangat lelah saat ini, yang ada di pikiran Risa sekarang adalah kasur. Revan menatap malas pada Risa, ia bahkan tidak pernah mengijinkan dirinya untuk tidur berdua di ruangan yang sama dengan seorang gadis, termasuk Nadia sekalipun. Saat ini, Revan tidak punya pilihan lain, ia tidak mungkin membiarkan Risa tidur di luar. Ini juga kesalahannya karena meminta Risa untuk ikut ke rumah ibu yang di jambret sehingga mereka pulang larut. Kalau seandainya ini terjadi waktu dulu, mungkin Revan tidak akan membiarkan Risa masuk ke kamarnya, mengingat mereka adalah musuh bebuyutan yang tidak menyukai satu sama lain. Apakah Revan mulai khawatir dengan Risa? Entahlah. "Aaah kasur." Risa menggulingkan tubuhnya ke kanan dan kiri. Ia begitu bahagia bisa merebahkan tubuhnya ke kasur. Revan menatap jengah ke gadis itu. Ia membiarkan saja Risa menguasai kasurnya. "Lo mau kemana?" tanya Risa "Menurut, Lo?" Balas Revan sambil mengambil baju di dalam koper. "Mandi,” Jawab Risa. "Pake nanya," ucap Revan ketus. "Dih nanya doang." Risa mendengkus sebal. "Pertanyaan lo gak mutu,” sahut Revan. "Terserah gue." Risa kembali memeluk bantal di sampingnya. Revan tidak menghiraukan ocehan Risa lagi, ia segera masuk ke kamar mandi. Sementara Risa berusaha untuk tidur, namun matanya enggan tertutup. Ia mengumpat dan mendudukan tubuhnya. Ia merasa tidak nyaman karena tubuhnya lengket, seharusnya ia mandi dulu, ganti baju, setelah itu tidur. Risa melihat Revan keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan kaos abu-abu dan celana pendek, tangannya mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Risa melongo menatap Revan. Astaga, kenapa ganteng dan seksi. Aduuuh otak jangan mikir aneh-aneh dong, batin Risa. Revan melirik Risa, ia risih dengan ekspresi gadis itu menatapnya. "Kenapa? Lo kagum sama gue?" tanya Revan. Lamunan Risa buyar, ia segera menatap ke arah lain. "Jadi orang jangan kepedean, gue natap nyamuk. Nyamuk!” Risa akting menepuk nyamuk di udara. "Absurd," Ucap Revan Gue ngapain dah, beneran bodoh gue, mana ada nyamuk di hotel, batin Risa. "Nih pakai baju gue, daripada lo gak bisa tidur." Revan melempar bajunya ke arah Risa. Risa mengambil baju Revan, "Gue pakai daleman apa dong?" pertanyaan bodoh yang tiba-tiba keluar dari mulut Risa. Revan menaikkan sebelah alisnya. "Mau pakai punya gue juga?" "Mana bisa.” "Yaudah gak usah pakai,” jawab Revan. "Hah, dasar mesum,” sahut Risa. "Pertanyaan lo gak mutu!" ketus Revan. "Bodo amat, gue yang nanya, kenapa lo yang repot." Risa mendengkus kesal. Revan menatap jengkel ke arah Risa, kemudian melangkah mendekati gadis itu. Ia mengarahkan kepalanya mendekat ke arah Risa. "Apa?" tanya Risa. Revan tersenyum smirk, "Mandi sana, lo bau." Risa melolot ke arah Revan, sementara cowok itu berjalan menjauh. Risa memalingkan mukanya dan beranjak menuju kamar mandi. Revan tersenyum kemudian mengambil segelas air minum. Risa keluar dari kamar mandi, ia melihat Revan duduk di kasur sambil memainkan handphone nya. Risa melihat dirinya sendiri, kaos dan celana Revan kebesaran di tubuhnya karena memang Risa memiliki tubuh yang ramping dan kurang tinggi. "Gue tidur dimana?" Risa melirik jam dinding sekarang pukul 00.45 WIB. "Sama gue." "Hah?" "Pake nanya! lo boleh tidur dimana aja, kecuali kasur,” tegas Revan "Ck, sungguh terlalu,” gerutu Risa. "Mau tidur sama gue?" tanya Revan. "Ogah!" Risa merinding. Revan menarik selimut dan merebahkan dirinya ke kasur tanpa mengucapkan selamat tidur kepada Risa. "Dasar tidak peka!" Risa meraih bantal dan mencari tempat berbaring yang nyaman. Risa bersyukur lantai kamar hotel dialasi karpet, ia bisa tidur disana. Beberapa menit kemudian ia terlelap. *** Cahaya matahari masuk ke dalam kamar hotel melalui jendela, tirai kamar sudah terbuka sejak pagi buta. Risa membuka matanya, ia terduduk dan merenggangkan tangannya. Ia ingat ini kamar Revan. "Kok gue tidur di kasur?" Risa melihat sekitar, ia mencari keberadaan Revan. Beberapa saat kemudian, ia melihat Revan keluar dari kamar mandi. Astaga pagi-pagi udah bikin jantungan. Kenapa jadi cakep amat kalau habis mandi. Sadar Ris! Risa menggelengkan kepalanya. Revan yang melihat tingkah Risa hanya menghela napas panjang. "Revan, kok gue tidur di kasur?" "Lo jalan sambil tidur,” ucap Revan. "Masa, iya?" "Hm." "Trus lo tidur dimana?" "Sebelah lo," ucap Revan santai. "Lo serius?" "Hm." "Lo ngapa-ngapain gue, ya?" tanya Risa. Revan menghela napas berat, "Dengar ya, pertama gue gak napsu sama lo, kedua lo yang ngapa-ngapain gue." "Hah?" emang beberapa kali gue mengagumi tubuhnya yang bagus, tapi masa gue grepe-grepe es Revan pas lagi tidur, arggghh, batin Risa. "Gak percaya!" Celetuk Risa. "Terserah lo." Risa menggelengkan kepalanya, "bodo amat." Risa segera beranjak ke kamar mandi. Revan ingin tertawa namun ia tahan. Revan teringat tadi malam, ia melihat Risa tidur di karpet bawah. Timbul perasaan tidak enak, jadi ia menggendong Risa dan membaringkannya di kasur, sementara ia sendiri tidur di karpet bawah. Tok... tok... tok... Suara seseorang mengetuk pintu kamar Revan. Ia segera menuju ke pintu dan membukanya. Ia melihat Nadia berdiri di sana, gadis itu langsung saja nyelonong masuk ke kamar Revan. "Lo dan Risa gak apa-apa ‘kan?" "Gak apa-apa,” Balas Risa. "Risa mana?" tanya Nadia. "Mandi." "Maaf, semalam gue tidur nyenyak banget, gak tahu lo telepon." "Iyaa, gak apa-apa, Nad, " jawab Revan. Nadia tersenyum. Hubungan kakak dan adik itu memang seperti itu. Nadia dan Revan terlihat baik-baik saja, namun mereka tidaklah dekat. Mereka jarang menghabiskan waktu bersama, Revan sibuk dengan urusannya sendiri begitu pula Nadia. Tidak ada adegan pertengkaran kecil antara kakak dan adik. Tidak ada kegiatan saling cerita, curhat dan sebagainya. Mereka tinggal satu rumah tapi seakan terasa jauh. Nadia berusaha untuk dekat dengan Revan sebagaimana hubungan kakak dan adik, namun Revan menutup diri dan keras kepala. Risa keluar kamar mandi, ia girang melihat Nadia sudah berada di kamar Revan. "Kak Nadia ..." Risa langsung duduk di sebelah Nadia. "Hah, lo gak apa-apa, ‘kan?" Nadia mengamati Risa. "Gak apa-apa, Kak. Ayo ke kamar, gue pengen ganti baju banget kak." "Baju Revan?" Risa mengangguk. Nadia melirik ke arah Revan yang duduk di kursi memainkan handphone nya. Tidak biasanya dia mau berbagi kamar dengan seorang gadis, apalagi meminjamkan bajunya, batin Nadia. Risa dan Nadia segera beranjak menuju kamar mereka. *** Nadia memoles blush on pada pipi Risa dan tidak lupa memoles lipstik merah pada bibirnya. Ia juga menata rambut Risa sedikit bergelombang. Nadia ingin sekali mendandani Risa dan saat inilah waktu yang tepat. "Lo cantik banget, Ris,” puji Nadia. "Masa sih, Kak? Aku malu nih." Nadia mengangguk dan memberikan baju kepada Risa. "Pakai ini,” titah Nadia. Risa mengambil baju yang diberikan Nadia. Blouse dan rok? Risa akhirnya memakai baju itu, tentu saja ia tidak enak pada Nadia kalau menolak. "Ris ..." Panggil Nadia Risa menoleh. Cekreeeek Nadia mengambil foto Risa. "Apaan sih, kak Nad?" "Cantik banget sumpah." Nadia menunjukkan pada Risa. "Ini beneran gue, Kak?" Nadia mengangguk kemudian mengirim foto kepada Risa dan Revan. Revan masih mengamati foto Risa yang di kirim Nadia. Timbul semburat merah di pipinya, ia akui Risa cantik di foto itu. Revan menggelengkan kepalanya pelan, ia segera menata debaran di dadanya. Revan mendengar suara notifikasi chat masuk. Segera ia buka handphone nya kembali dan melihat chat masuk itu. Chat itu ternyata dari Rindi. Rindi [Lagi apa?] Revan [Mau berangkat jalan-jalan] Rindi [Yaudah, selamat bersenang-senang ya😊] Revan [Lo juga, mau dibawain oleh-oleh apa?] Rindi [Apa aja.] Revan [Oke. Bersenang-senanglah juga disana.] Rindi [Iyaa] Revan tersenyum, ia berharap Rindi juga menikmati liburannya, ia tidak ingin gadis itu bersedih lagi. Andai saja ia dan Rindi bisa bersama saat ini, sayangnya Revan belum berani menunjukkan ke publik bahwa ia dan Rindi memiliki hubungan. Mereka memang sepakat menyembunyikan kedekatan mereka dengan berbagai alasan. Revan memijat pelipisnya, ia berjalan ke meja dan minum air putih. Handphone nya berbunyi lagi, ia lihat itu chat dari Nadia. Dia memberitahu dirinya dan Risa berangkat lebih dulu, dan meminta Revan menyusul. 30 menit berlalu, Revan memeriksa handphone nya dan ada chat dari seseorang. Risa [Revan...] Revan [Dimana?] Risa [Hatimu] Revan [??] Risa [Kepencet] Revan [Dimana?]
Risa [Toko bunga di sebelah kanan Hotel] Revan [Oke] Risa [Gue cantik!] Revan [??] Risa [Duh Gusti typo] Risa menepuk jidatnya sendiri. Gue ngapain sih, kenapa jadi bucin? Astaga. Risa memasukkan handphone nya ke dalam tas. Kemudian, ia menghampiri Nadia. Revan tersenyum membalas chat Risa. Ia bahkan tidak mengerti, mood nya bertambah hanya dengan membaca chat gadis itu. Revan menggeleng, bahkan seharusnya ia tidak boleh berada di keadaan ini. Ia dan Rindi memang dekat, tapi sejauh ini Revan pun belum secara resmi mengatakan bahwa ia mencintai gadis itu. Tiba-tiba saja mereka dekat. Revan juga berjanji akan melindungi gadis itu. *** Risa dan Nadia berada di depan toko bunga menunggu Revan. Nadia membeli buket bunga, ia mendadak harus bertemu dengan temannya. Temannya meminta Nadia untuk berkunjung ke rumahnya. "Kemana sih, Revan? lama banget,” gerutu Nadia. Risa hanya mengangkat bahunya, ia dari tadi bergerak tidak nyaman. "Lo kenapa?" Nadia menaikkan sebelah alisnya. "Duh kak, gak biasa pakai rok sependek ini, kan biasanya kalau sekolah roknya di bawah lutut,” jelas Risa. "Gak apa-apa, lama-lama terbiasa kok, ini juga gak pendek banget, diatas lutut pas, beneran lo cantik pakai baju begini." Nadia tersenyum, "Aduh Revan kok belum datang juga." "Ah iya, gue aja sampai sekarang masih belum nemuin cara gimana masuk ke hatinya Revan, lo pasti tahu kan gue dan Revan emang gak ada masalah apa-apa, tapi kita seperti sangat jauh." Nadia tampak murung membahas hubungan dengan adiknya itu. "Jangan khawatir, Kak. Es batu kalau di beri kehangatan lama-lama mencair juga kok, kak Nadia harus jadi lebih hangat biar bisa masuk ke hatinya." Risa tersenyum. "Apa gue bisa? Padahal dulu waktu kecil kita begitu dekat,” Kenang Nadia. "Pasti bisa." Risa menepuk pundak Nadia dan dibalas senyuman, "Kalau sulit masukin aja ke dalam microwave." Risa dan Nadia tertawa. "Ngetawain apa?" Risa dan Nadia berhenti tertawa karena kaget, tiba-tiba Revan sudah berdiri di samping mereka. "Risa ngelawak." Nadia kembali tertawa. Revan menatap Risa begitu pula dengan Risa. "Hahahaha." Risa memaksakan diri untuk tertawa. "Van, lihat Risa, cantik, ‘kan?" tanya Nadia. Revan menatap malas ke arah Risa, "Hm, mirip ondel-ondel." "Hah?" Nadia melongo mendengar jawaban Revan. Risa menghela napas panjang, ia tahu Revan tidak mungkin memujinya. "Lo emang ya gak bisa muji dikit aja, punya mulut jujur amat." Risa mendengkus sebal. "Bukannya lebih baik jujur?" tanya Revan "Iya, tapi ya masa gak bisa muji sedikit, aja?" Risa menatap sebal Revan. "Suka-suka gue,”, jawab Revan. "Yang benar saja!" Risa memutar bola matanya malas. "Protes?" tanya Revan. "Gak, males ngomong sama lo,” jawab Risa. Nadia tersenyum, ia mengambil handphone nya dan memotret dua remaja yang sedang bertengkar di depannya. Gue yakin suatu hari nanti Risa bisa mencairkan hatinya Revan, batin Nadia. "Udah ya bertengkarnya, gue mau ngomong nih. Hm maaf, gue gak bisa ikut kalian, gue harus ketemu sama teman, udah lama gak jumpa, gue di minta ke rumahnya,” jelas Nadia. "Mau kita temenin, Kak?" ucap Risa. "Gak usah Ris, ini kan mendadak, kalian senang-senang aja ya, gue udah pesen taksi online buat gue dan kalian, taksi gue udah datang, gue pergi dulu ya." Nadia melambaikan tangan dan berjalan ke arah taksinya. "Kita mau kemana?" tanya Risa. Revan menatap Risa, "Ke toko oleh-oleh aja." "Ide bagus,” Balas Risa. "Tumben gak protes?" tanya Revan. "Berisik! Please gak usah mancing buat berdebat,” ucap Risa. "Hm." Risa dan Revan naik takai yang di pesan Nadia. Mereka meminta bantuan kepada sopir taksi untuk mengantar mereka ke pusat oleh-oleh terlengkap. Sesampainya di pusat oleh-oleh, Risa dan Revan langsung mencari barang-barang yang akan mereka bawa pulang. Risa membeli beberapa kaos yang akan ia berikan pada Vanya, Gavin, Arsen dan mungkin untuk Revan juga. Ia juga membeli gelang dan pernak pernik lainnya untuk Nadia, orang tua, adik Vanya, dan tante Rani. Sementara Revan melihat beberapa model gelang yang ada di sana, ia ingin memberikan gelang pada Rindi. Revan mencari keberadaan Risa, ia melihat gadis itu, namun tatapannya beralih pada seseorang di belakang Risa. Laki-laki itu memakai kacamata dan terlihat culun. Laki-laki itu beberapa kali mencuri pandang ke arah Risa. Ia juga memegang handphone dan sepertinya diam-diam mengambil foto Risa dari belakang. “Risa...!" Revan mengeraskan suaranya. Risa langsung menoleh. Revan memperhatikan laki-laki di belakang Risa tadi tampak gugup dan menyembunyikan handphone nya di saku celana, dia juga langsung menoleh pura-pura memilih kaos yang terpajang di dekatnya. Revan melangkah ke arah Risa. Tanpa ijin terlebih dulu, Revan segera menarik tangan Risa dan berjalan menjauh dari laki-laki itu. "Ngapain tarik-tarik, sih?" protes Risa. Revan berhenti, "Gue mau minta tolong." "Apa?" "Pilihin gue gelang!" Risa memutar bola matanya bosan, "Yaudah mana?" Revan menunjuk tempat bermacam-macam gelang yang tersusun rapi. "Untuk Rindi?" tanya Risa dan Revan mengangguk. Risa memeriksa beberapa model gelang dan ketemu, "Nih, cocok buat Rindi, warna pastel sesuai dengan Rindi yang manis dan kalem." Revan mengangguk, ia mengedarkan pandangan ke segala arah mencari sosok laki-laki mencurigakan tadi. Ia melihat laki-laki itu dari kejauhan, dia tampak melihat ke arah Risa. Penguntit, ya? batin Revan. "Buat Nadia sekalian,” pinta Revan. "Nih, warna yang manis, warna tosca, cocok buat kak Nadia yang stylish, udah ‘kan?" tanya Risa. "Satu lagi, buat... teman gue,” ucap Revan. "Gimana orangnya?" tanya Risa. Revan menaikkan sebelah alisnya, "Hmm, orangnya petakilan. " "Cewek atau cowok?" "Cewek. " Risa mengerutkan keningnya, siapa teman Revan? Ah peduli amat, batin Risa. "Nih, udah, ‘kan?" Risa memilih gelang warna merah untuk teman Revan yang katanya petakilan. "Ayo bayar!" Risa mengikuti langkah Revan menuju kasir. Lagi-lagi Revan mendapati laki-laki berkaca mata tadi menatap Risa dari kejauhan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (814)
FransiskaAde
ditunggu kelanjutan ceritanya kak, jangan lama lama munculin bab baru nya😁
ditunggu kelanjutan ceritanya kak, jangan lama lama munculin bab baru nya😁
18/06/2022
5seruu
18/08
0novelnyaa seruuuu bangettt sumpillll ihhh sukaaaa🤭🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻
18/06
0Lihat Semua