Beranda/Aku Miskin, Tapi Bohong!/
Piyama Hello Kitty
Hari ini aku pulang kerumah dengan terlambat karena harus menemani Mamaku terapi di rumah sakit. Alhamdulillah perkembangan Mama sudah semakin membaik. Bahkan untuk berjalanpun sudah mulai normal tanpa bantuan tongkat maupun harus berpegangan pada tembok lagi.
“Ngelayap kemana aja kamu hari ini, jam segini baru pulang,” sambut Ibu dari depan pintu masuk.
“Maaf, Bu tadi aku harus menemani majikanku ke rumah sakit untuk kontrol,” jawabku sekenanya. Aku tidak berbohong bukan memang aku menemani Mama untuk kontrol dan terapi hari ini.
“Halah alasan. Pasti kamu mau menghindar dari kerjaan rumah ini kan, Babu,” ujar Mbak Sinta berusaha mengompori Ibu.
Aku heran sekali dengan sepasang ibu dan anak ini. Dimana ada Ibu pasti ada Mbak Sinta seolah-olah mereka itu kembar dan selalu bersama. Lengkaplah sudah, mertua tukang nuduh dan ipar yang tukang kompor. Maksudku tukang ngomporin Ibu mertua untuk memarahiku ya bukan tukang kompor yang untuk memasak itu.
“Bukan begitu maksudku, Mbak,” bantahku.
“Sudahlah gak usah alasan. Sekarang juga kamu bereskan rumah ini dan ingat kamu gak boleh makan maupun istirahat sampai rumah ini bersih dan rapi,” perintah Ibu.
Ku edarkan pandanganku pada seisi rumah ini. Sungguh rumah ini lebih layak di sebut tempat sampah dari pada rumah hunian. Bungkus makanan ringan berserak di meja dan lantai bahkan ada beberapa yang masih memiliki remahan yang berhambur di lantai. Kulit buah yang bercecer sampai ke dapur. Sisa bahan makanan teronggok di dapur. Piring kotor ada di tempat cucian piring, meja makan bahkan ada yang di ruang tamu. Baju kotor berserakan.
Sungguh tidak habis pikir dengan penghuni rumah ini. Di rumah ini tidak ada bayi maupun anak kecil tapi bisa sampai rumah seperti kapal pecah. Apa mereka-mereka tidak bisa sedikit saja melakukan hal yang lebih bermanfaat dari pada mengacaukan rumah.
Ku lirik jam dinding pada ruang tengah yang sudah menunjukan pukul sembilan malam. Apa mereka bercanda menyuruhku membersihkan semua ini dan tidak boleh istirahat sebelum semuanya selesai. Ini sudah malam dan aku sudah capek. Bahkan tak ku lihat batang hidung Bang Dirga saat ini. Mungkin Bang Dirga sudah tidur dengan nyenyak saat ini.
Aku bergegas mulai nembereskan sampah di rumah ini. Membuang yang tak perlu ke tempat sampah dan mencuci semua piring dan gelas yang kotor. Merendam baju dan menyapu. Biarlah aku tidak akan mengepel maupun mencuci untuk saat ini. Badanku sudah pegal dan ingin istirahat. Biarpah besok mereka memarahiku asal badanku tetap sehat. Aku tidak boleh sakit dan membuat Mamaku khawatir. Itu hanya akan memperlambat penyembuhannya dan memperlambatku untuk keluar dari rumah ini.
Aku berjalan menuju kamarku melewati kamar Bang Dirga. Benar saja dugaanku Bang Dirga sudah tidur dengan pulasnya. Lihatlah dia sekarang. Tidur tengkurap dengan dengkuran yang keras dan iler yang merembes membuat peta buta di bantal. Iuh gelinya aku melihat pemandangan ini. Tak ku sangka Bang Dirga yang sangat menjaga penampilannya bisa ileran juga saat tidur. Untuk pintu kamarnya sedikit terbuka jadi aku bisa mengetahui kebiasaan Bang Dirga yang sesungguhnya.
Aku berbaring pada kasur keras dengan bantal yang juga keras dan selimut yang telah usang. “Selamat tidur princess rasa Babu. Semoga besok harimu menyenangkan,” ucapku pada diri sendiri.
¤¤¤¤¤
Duak duak.
“Babu keluar kamu!”
Duak
“Heh Babu!”
Aku terlinjak kaget mendengar gedoran pada pintu kamarku. Ku lihat jam dan astaga aku kesiangan hello. Ini sudah jam setengah tujuh kawan-kawan dan aku baru bangun. Aku menepuk jidat dan bergumam “gara-gara semalam ini pasti tidur terlalu larut dan bangun kesiangan,” sungguh ini kebiasaanku di rumah dahulu.
“Babu bangun. Ini udah siang. Mana sarapan kita,” teriak Mbak Sinta dari luar kamarku.
Aku bergegas keluar kamar dan ku dapati Mbak Sinta yang tengah berkacak pinggang menatapku.
“Aku kesiangan, Mbak,” ujarku sambil nyengir.
“Cepat buatkan sarapan untukku!. Sebentar lagi aku telat,” titah Mbak Sinta.
Aku kasih tahu ya, Mbak. Di perusahaan Intan Peemana itu kalau Mbak Sinta berangkat sekarang saja sampai sana hanya bisa pas itupun jika tidak terjebak macet. Apalagi kalau harus nunggu aku masak lalu sarapan. Mau berangkat jam berapa wahai kakak iparku tersayang.
Ih jadi kesel deh sama kelakuan kakak iparku ini. Jadi pengen cubit ginjalnya atau gak sentil otaknya. Kok yo gak bisa ngitung kira-kira telat gak telatnya kapan.
Dengan buru-buru alu bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan yang kesiangan untuk suamiku dan keluarganya. Menantu idaman bukan? Setiap hari bangun pagi hanya untuk membuat sarapan dan membersihkan rumah serta tidak pula untuk bekerja. Aku ini wanita langka asal kalian tahu dan wanita langka itu perlu di lestarikan dengan cara di sayang. Tapi dasar keluarga ini memang tidak pintar jadinya menyianyiakan menantu sepertiku.
“Kopiku mana, May?” Tanya Bang Dirga saat baeu keluar dari kamarnya seraya mengucek matanya.
“Sebentar, Bang ku buatkan,” jawabku seeaya menyiapkan kopi untuk suami langkaku.
Sungguh rasanya ingin tertawa sambil jungkir balik saat aku melihat Bang Dirga saat ini. Iler yang masih menempel dengan piyama hello kitty yang belum pernah aku lihat sebelumnya sejak menikah dengannya lebih dari enak bulan lalu. Serta apa yang di pakainya?. Sendal bulu-bulu dengan dua telinga kelinci di atasnya serta dengan wajah warna pink. Sungguh imut sekali Bang Dirga saat ini. Sungguh berbanding terbalik dengan gayanya selama ini yang terlihat garang dan sangat jantan. Iuh. Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (236)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Bagus banget alur ceritanya
21d
0Bagus
11/11
0baguss
06/07/2025
0Lihat Semua